Posted by: bachtiar hakim | March 16, 2008

PANDUAN LENGKAP MENULIS ARTIKEL, FEATURE, DAN ESAI UNTUK PEMULA (PART 1)


PANDUAN LENGKAP MENULIS
ARTIKEL, FEATURE DAN ESAI
UNTUK PEMULA

Dikutip dari hand-out F. Rahardi

PENGANTAR

Sejak tahun 1980an, sebagai penyair, wartawan dan penulis artikel di media massa nasional, saya sering diminta untuk memberi caramah dan menjadi instruktur pelatihan jurnalistik atau penulisan artikel. Meskipun waktu itu saya sudah membuat makalah bahkan juga transparan untuk OHP, namun bahan-bahan tersebut saling tidak berhubungan satu sama lain. Sebab pihak yang meminta ceramah atau pelatihan, juga sangat beragam, dengan variasi peserta yang juga sangat beraneka macam. Karenanya, bahan-bahan itu kemudian tercecer dan banyak yang hilang.
Baru pada tahun 1990an, saya mulai secara sistematis menyusun bahan-bahan yang masih tersisa dan menyimpannya, hingga setiap kali ada permintaan ceramah atau menjadi narasumber dalam pelatihan, saya selalu siap dengan materinya. Pada tahun 1997, selama satu minggu penuh, saya diminta menjadi instruktur pelatihan penulisan artikel oleh Pusat Perbukuan (Pusbuk) Depdiknas (waktu itu Depdikbud) di Cisarua. Ternyata Pusbuk belum memiliki modul, kurikulum, jadwal dan hand out. Terpaksalah saya secara buru-buru mengumpulkan bahan yang diperlukan untuk pelatihan tersebut.
Tahun 1998, saya juga diminta oleh Universitas Terbuka (UT) untuk melatih para Tutor agar bisa menuliskan bahan kuliah dengan cukup baik. Terutama untuk dipublikasikan pada penerbitan intern UT. Saya pun menambah dan menyempurnakan bahan-bahan tersebut, hingga akhirnya terkumpul cukup banyak bahan. Tahun 2001 saya diminta Majalah Hidup untuk membantu memperbaiki mutu tulisan yang dihasilkannya. Bahan-bahan yang telah saya miliki, kembali saya evaluasi, saya tambah dan kemudian saya perbaiki. Kali ini, tujuannya lebih spesifik yakni untuk perbaikan metode penulisan di sebuah majalah yang juga sangat spesifik.
Tahun 2003, ketika saya diminta melatih guru-guru sekolah oleh Pusat Bahasa Depdiknas, bahan-bahan yang terkumpul sudah sangat banyak. Namun isinya masih bersifat makro. Bukan hanya berupa modul pelatihan jurnalistik, melainkan masih berupa modul penulisan umum. Termasuk menulis makalah, surat, project proposal, kontrak kerjasama dll. yang memang banyak diperlukan oleh para pekerja kantoran. Sebab kadang-kadang pihak yang saya latih, bukan hanya media massa melainkan juga kantor-kantor umum. Tujuannya agar sekretaris dan staf administrasinya, termasuk staf akunting dan keuangan, bisa menyusun laporan, membuat konsep surat, meneliti isi kontrak dll. dengan lebih baik dari waktu-waktu sebelumnya.
Bahan yang bersifat sangat umum, akan merepotkan apabila yang dilatih spesifik ingin bisa menulis di media massa cetak. Umumnya mereka mengharapkan materi yang lebih spesifik dan praktis, yakni dibatasi hanya untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menulis artikel atau feature. Karenanya, bahan-bahan yang ada kemudian kembali saya evaluasi dan saya sortasi. Kekurangan yang masih ada saya carikan materinya, hingga akhirnya siaplah panduan lengkap yang mendekati kebutuhan untuk pelatihan jurnalistik artikel dan feature. Tentunya bahan ini pun masih tetap banyak kekurangannya, hingga harus terus diperbaiki sebagai proses pembelajaran bersama. * * *

Cimanggis, Akhir 2005

Daftar Isi

I Pendahuluan……………………………………………………………………………..hal
II Dunia Jurnalistik dan Media Massa…………………………………………….hal
III Pelatihan Jarnalistik…………………………………………………………………..hal
IV Mengenal bentuk tulisan artikel, feature dan esai…………………………..hal
V Mengenal daya tarik dan asas manfaat tulisan……………………………….hal
VI Meliput dan mengumpulkan bahan tulisan…………………………………….hal
VII Mengenal cara mulai menulis dengan 5 W 1 H………………………………hal
VIII Mengenal bahasa jurnalistik………………………………………………………..hal
IX Mengenal fotografi dan cara memotret………………………………………….hal
X Mengenal media cetak, rubrikasi dan cara mengirim tulisan…………….hal
XI Contoh Artikel dan Feature………………………………………………………….hal
XII Contoh Proposal, Jadwal dan Rencana Anggaran……………………………hal

* * *

I PENDAHULUAN

Kemajuan teknologi komunikasi selama 50 tahun terakhir, telah membawa dampak perubahan yang luarbiasa terhadap kegiatan jurnalistik di dunia. Koran yang terbit di Paris atau New York, hari ini juga edisi Asianya bisa dibaca di Jakarta seperti halnya kita membaca Kompas. Duapuluh tahun yang lalu, koran Jakarta baru bisa dibaca di Jawa Tengah atau Jawa Timur setelah pukul 12.00 tengah hari. Selain karena faktor teknologi, waktu itu juga ada pembatasan (regulasi) dari Departemen Penerangan. Namun sekarang secara serentak, Kompas dicetak di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Makasar, Banjarmasin, Palembang dan Medan. Hingga koran Jakarta itu bisa dibaca di Lubuk Pakam, Plei Hari atau Maros, bersamaan dengan saat orang Menteng membacanya.
Itu semua bisa terjadi berkat adanya teknologi komunikasi jarak jauh melalui satelit. Hingga pengiriman halaman dengan huruf dan gambar siap cetak itu bisa dilakukan dalam hitungan detik dari satu tempat ke tempat lainnya. Teknologi digital dengan komunikasi melalui satelit, saat ini juga memungkinkan seorang jurnalis yang berada di tengah hutan belantara Zaire, Brasil atau Papua bisa memotret perang, binatang buas atau pemandangan alam, dan saat itu juga dengan bantuan Notebook, Modem dan HP, gambar-ambar itu bisa sampai ke Jakarta, Tokyo, Paris atau New York. Dan saat itu juga berita berikut fotonya sudah bisa dinikmati konsumen di seluruh dunia. Baik melalui media cetak, televisi, internet maupun SMS.
Namun kemajuan teknologi yang demikian pesatnya itu, di lain pihak juga telah mengakibatkan pendangkalan berpikir di kalangan masyarakat, yang pada saat bersamaan juga menimpa para jurnalis. Dengan adanya media televisi dan internet, maka alokasi waktu dari tiap individu untuk membaca media cetak menjadi menyusut tajam. Kalau tahun 1980an orang masih tahan untuk duduk membaca koran atau majalah selama lebih dari satu jam per hari, maka tahun 2000an alokasi waktu itu rata-rata kurang dari 0,5 jam. Tuntutan untuk serba cepat dan serba instan, pada akhirnya juga telah menumpulkan daya pikir sebagian besar jurnalis kita. Sebab untuk bisa menghasilkan karya jurnalistik yang baik, tetap diperlukan waktu dan suasana kontemplatif yang cukup.

* * *

Jurnalis Indonesia, umumnya tidak memiliki latar belakang pendidikan jurnalistik di perguruan tinggi. Sebab daya tampung jurusan publisistik dari Fakultas Komunikasi di perguruan tinggi negeri maupun swasta kita, terlalu kecil dibanding dengan kebutuhan tenaga jurnalis di lingkungan media massa saat ini. Karenaya, ketika melakukan perekrutan calon jurnalis baru, media massa Indonesia hanya mensyaratkan lulusan perguruan tinggi, dengan IP tertentu, usia tertentu dll. Terhadap fakultas maupun jurusannya, PSDM perusahaan pers sangat toleran. Hingga S1 dari IPB dengan jurusan Ilmu Tanah atau dari ITB dengan jurusan Teknologi Nuklir, akhirnya berkecimpung di dunia kewartawanan. Meskipun di lain pihak, kebijakan darurat demikian terbukti mampu memenuhi kebutuhan jurnalis bagi sekian banyak media massa, dalam jangka waktu yang relatif singkat.
Karena mengetahui bahwa latar belakang para calon jurnalisnya yang sangat beragam, maka penerbitan-penerbitan besar pun menyelenggarakan program in house training secara intensif. Hingga meskipun merupakan hasil kerja instan, penerbitan besar rata-rata memiliki SDM jurnalis yang relatif lebih baik dibanding dengan penerbitan sedang dan kecil. Namun SDM media massa cetak besar yang siap pakai ini, ternyata juga menarik perhatian stasiun tivi nasional yang saat ini jumlahnya ada belasan. Hingga kemudian banyak wartawan pers senior, yang akhirnya menyeberang terjun ke media audio visual. Trend ini pun, sebenarnya merupakan hal yang positif, sebab kuantitas dan kualitas SDM jurnalis di media massa audio visual, saat ini jauh lebih memprihatinkan dibanding dengan media cetak.
Yang disebut jurnalis, sebenarnya juga mengenal strata. Ada wartawan yang kerjanya berburu berita, ada redaktur yang mengolah bahan menjadi tulisan, ada redaktur pelaksana dan pemimpin redaksi. Jabatan-jabatan struktural ini biasanya diisi oleh tenaga wartawan terbaik di media bersangkutan. Hingga profesi jurnalis di media massa besar, sebenarnya juga banyak “diganggu” secara intern oleh iming-iming jabatan struktural tersebut. Sebab imbalan untuk pekerjaan profesi di negeri ini memang masih kalah jika dibanding dengan imbalan bagi pelaksana jabatan struktural. Karenanya, banyak wartawan dengan kualifikasi sangat tinggi, akhirnya meninggalkan pekerjaan profesinya karena institusi menuntutnya untuk menjadi redaktur, redpel atau pemred.
Namun gangguan paling besar dari profesi kewartawanan di Indonesia saat ini adalah, lunturnya idealisme. Godaan untuk minta-minta atau melakukan pemerasan, tidak hanya dilakukan oleh wartawan di daerah tetapi juga di ibukota. Bukan hanya oleh wartawan dari penerbitan kecil yang miskin, melainkan juga oleh mereka yang bekerja di perusahaan besar dan prestisius. Ketika profesi jurnalis berhadapan dengan kekuasaan, tekanan masih bisa dianggap sebagai kebanggaan. Namun ketika profesi ini harus berjuang terhadap tekanan kekuasaan amplop, maka tidak ada lagi yang bisa dibanggakan. Di kalangan jurnalis pun, sekarang ada angapan, bahwa sikap yang lurus-lurus saja dan hanya mengandalkan pendapatan dari menulis, merupakan tindakan bodoh.

* * *

Dengan latar belakang semacam itu, tantangan bagi profesi kewartawanan sekarang ini menjadi semakin besar. Di satu pihak, bekal keterampilan teknis yang dimiliki oleh para jurnalis pemula sangat rendah atau nol sama sekali. Lebih-lebih mereka yang bukan berasal dari latar belakang pendidikan jurnalistik/publisistik di perguruan tinggi, dan juga tidak dipersiapkan melalui in house training oleh perusahaan pers tempatnya bekerja. Hingga kualitas teks yang ada di media massa, terutama di stasiun televisi, berada jauh di bawah standar kelayakan. Padahal, semua stasiun tivi saat ini memiliki tokoh jurnalis yang direkrut (dibajak) dari media pers. Namun tampaknya, tenaga berpengalaman ini kurang dimanfaatkan oleh media audio visual untuk pembenahan teks.
Tantangan berikut yang dihadapi oleh dunia jurnalis adalah, semakin banyak dan bervariasinya tawaran media. Tahun 1970, koran Kompas hanya terbit dengan 12 halaman. Hanya pada hari-hari tertentu koran ini terbit dengan 16 halaman. Pada waktu itu pemilik pesawat televisi baru ada satu dua di negeri ini. Stasiun televisinya juga baru ada satu dan hanya mengudara dari jam lima sore sampai tengah malam. Karenanya, di kota besar pun, halaman koran itu habis dibaca semua sampai ke iklan-iklannya. Saat ini ada belasan stasiun televisi yang sebagian besar mengudara 24 jam, sebelum ada regulasi dari pemerintah untuk membatasi siaran sampai tengah malam karena alasan penghematan energi. Semua rumah tangga punya pasawat televisi. Pelanggan koran Kompas misalnya, biasanya juga melanggan koran, majalah atau tabloid lain. Kesibukan di kota kecamatan pun, dewasa ini juga sangat tinggi. Hingga kesempatan untuk membaca, dan juga menonton televisi menjadi semakin terbatas.
Seperti telah disebut di atas, tantangan paling besar bagi profesi jurnalis saat ini adalah lunturnya idealisme. Namun gejala demikian bukan hanya monopoli jurnalis. Cendekiawan, seniman, tentara, pendidik bahkan rohaniwan pun, akhir-akhir ini semakin berat harus bergelut dengan godaan pengingkaran profesi. Hingga pada akhirnya yang paling penting bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan bagaimana memberi makna sebuah profesi sebagai panggilan hidup. Hal semacam inilah yang dalam era hedonisme sekarang, sangat sulit untuk terus dipertahankan. Namun justru perjuangan berat demikianlah yang selalu menarik untuk terus-menerus digeluti. Sebab semakin maju dan kompleks sebuah profesi, memang akan semakin banyak pula godaannya.

* * *

II DUNIA JURNALISTIK DAN MEDIA MASSA

1 Ilmu Jurnalistik

Apakah yang dimaksud sebagai ilmu jurnalistik?
Ilmu jurnalistik adalah bagian dari ilmu publisistik (to publish = publikasi). Publisistik sendiri merupakan bagian dari ilmu komunikasi. Makna jurnalistik adalah hal ihwal yang berhubungan dengan persurat-kabaran (media massa cetak = pers). Secara lebih sederhana, jurnalistik sering diartikan sebagai ilmu tentang tulis-menulis di media massa. Padanan ilmu jurnalistik adalah pengetahuan kewartawanan. Hingga jurnalis juga dipadankan dengan wartawan, yang merupakan profesi untuk memperoleh informasi guna disebarluaskan ke masyarakat melalui media massa cetak. Sekarang profesi jurnalis / wartawan tidak hanya terkait dengan media massa cetak, melainkan juga radio, televisi, kantor berita dan multi media (web site).

Di manakah kita bisa belajar ilmu jurnalistik?
Secara formal, ilmu jurnalistik bisa dipelajari di perguruan tinggi negeri maupun swasta, melalui program diploma, strata 1, 2 (magister) dan 3 (Phd. / Dr.) Umumnya jurnalistik hanya menjadi Satuan Mata Kuliah (SKS) dari jurusan publisistik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Namun ada beberapa perguruan tinggi, yang menjadikan jurnalistik sebagai salah satu jurusan di Fakultas Publisistik, bersamaan dengan Advertising dan Public Relation (PR = kehumasan).

Sejak kapankah karya jurnalistik mulai ditulis?
Karya jurnalistik mulai dibuat sejak jaman Mesir Kuno, yakni ketika kultur manusia mengenal peradaban menulis. Bentuk tulisan yang pertama berkembang adalah reportase (to report = melaporkan). Peninggalan karya jurnalistik tertua (1.500 SM), berupa manuskrip berhuruf hieroglyph di atas daun papyrus (paper = kertas) dan relief dinding batu di salah satu kuil di Mesir. Isi manuskrip adalah perjalanan seorang Raja Mesir (Fira’un) untuk menaklukkan kota Megido (sekarang Lebanon). Pada jaman Julius Caesar (Romawi, 100 – 44 SM), laporan pandangan mata dari medan perang ditulis dan dipasang secara periodik di papan pengumuman di kota. Menuliskan hasil perjalanan, juga dilakukan oleh para “jurnalis” Cina kuno yang berlayar bersama para pedagang dan penyebar agama Budha.

Sejak kapankah ilmu jurnalistik berkembang?
Ilmu jurnalistik berkembang sejak abad XV, bersamaan dengan diketemukannya mesin cetak oleh Johann Gutenberg dari Jerman. Sejak itu berkembanglah penerbitan buku. Selain buku juga terbit media berkala secara periodik dan dicetak massal untuk dijual ke masyarakat luas. Bersamaan dengan berkembangnya media massa cetak, berkembang pulalah ilmu jurnalistik.

Apakah untuk menjadi wartawan profesional, seseorang harus memiliki pendidikan formal seperti halnya dokter, pengacara, akuntan publik, pilot dan awak kapal?
Tidak harus. Siapa pun bisa berprofesi sebagai wartawan, asalkan memiliki keterampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh media massa tempatnya bekerja (wartawan tetap) dan yang akan dikirimi tulisan/foto (wartawan free lance, kontributor tetap). Jadi profesi wartawan berbeda dengan dokter, pengacara, akuntan publik, pilot dan awak kapal yang harus memiliki pendidikan khusus dengan standar internasional.

Selain melalui pendidikan formal di perguruan tinggi, di manakah seseorang bisa belajar ilmu jurnalistik?
Biasanya calon wartawan dengan pendidikan strata 1 berbagai jurusan, setelah diterima bekerja di perusahaan media massa, akan dididik (diberi bekal ilmu jurnalistik) melalui program in house training. Selain itu, cukup banyak kursus dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga swasta, yang terbuka untuk umum. Seseorang yang berminat belajar ilmu jurnalistik bisa mengikuti training-training di lembaga swasta tersebut.

2 Dunia Media Massa

Apakah yang dimaksud sebagai media massa?
Media massa atau kadang hanya disebut sebagai media, adalah peralatan (sarana) untuk menyebarkan informasi ke masyarakat. Media massa ada yang bersifat komersial (dijual dan menerima iklan). Ada pula yang bersifat non komersial dan dibiayai oleh lembaga penyelenggaranya. Biasanya media massa non komersial diselenggarakan oleh lembaga-lembaga kenegaraan, keagamaan, pemerhati lingkungan dan sosial kemasyarakatan, atau sebagai alat promosi dan PR bagi perusahaan besar. Misalnya majalah maskapai penerbangan yang ditaruh di masing-masing kursi pesawat.

Ada berapa macamkah media massa saat ini?
Saat ini kita mengenal media massa cetak, media massa radio, media massa film (bioskup), media massa televisi, kantor berita, media massa luar ruang (poster, spanduk, billboard, balon) dan multi media (internet/web site).

Media massa manakah yang paling terkait dengan pekerjaan jurnalistik?
Yang paling terkait dengan pekerjaan jurnalistik adalah media massa cetak, radio, tivi dan kantor berita. Sementara film, media luar ruang dan multi media kurang terkait dengan kerja jurnalistik secara langsung.

Media massa manakah yang paling berpengaruh saat ini?
Media massa yang paling berpengaruh saat ini adalah televisi. Sebab daya jangkau televisi sangat luas, serentak dan cepat. Nomor dua media massa cetak. Media massa radio pernah berperan sangat besar pada waktu perang dunia I maupun II. Sebab pada saat itu media televisi belum berkembang seperti sekarang. Media kantor berita biasanya hanya berbentuk buletin atau kalau sekarang berupa web site. Fokus kantor berita internasional saat ini adalah fotografi.

Mungkinkah salah satu bentuk media massa itu akan mati karena desakan jenis media yang lebih kuat?
Tidak mungkin. Sebab masing-masing memiliki kekuatan yang tidak tergantikan. Contohnya media radio yang pernah sangat berpengaruh pada era perang dunia II, kemudian surut karena terdesak media televisi pada tahun 1980an. Namun media radio kembali menemukan perannya ketika lalulintas di kota besar menghadapi masalah kemacetan. Di sinilah radio kembali memegang peranan penting dan menemukan pasarnya. Media radio cocok untuk masyarakat/orang yang sedang melakukan sesuatu hingga tidak mungkin membaca atau menonton tivi. Misalnya mereka yang sedang mengemudikan mobil, bekerja di pabrik, kebun dll.

3 Media Massa Cetak

Apa sajakah yang dikatagorikan sebagai media massa cetak?
Yang dikatagorikan sebagai media massa cetak adalah koran, tabloid, majalah, bulletin, jurnal dan news letter.

Apakah yang membedakan media massa cetak dengan buku?
Media massa cetak diterbitkan secara periodik, dengan nama penerbitan sama, diberi nomor serta tanggal terbit dan memuat isi yang bersifat faktual. Sementara buku tidak terbit secara periodik dan memuat isi yang tidak bersifat faktual.

Bagaimanakah periodisasi terbitnya media massa cetak?
Periodisasi terbitnya media massa cetak pada umumnya adalah: harian, mingguan, dua mingguan, bulanan, dua bulanan, tiga bulanan, empat bulanan, tengah tahunan dan tahunan. Media massa yang terbit harian, umumnya koran. Sementara yang terbitnya dua bulanan sampai setahun sekali umumnya jurnal. Periodisasi yang paling banyak digunakan, selain harian adalah mingguan dan bulanan. Biasanya tabloid dan majalah menggunakan pola terbit mingguan dan bulanan.

Bagaimanakah media massa cetak dibuat?
Media massa cetak dibuat dengan cara mencari dan mengumpulkan bahan, baik bahan tertulis, gambar dan foto. Pekerjaan ini dilakukan oleh para wartawan. Bahan itu diolah menjadi tulisan oleh redaksi, untuk selanjutnya ditata dalam halaman-halaman penerbitan, dibuat film dan plate lalu dicetak, untuk majalah harus dijilid dan kemudian diedarkan. Baik secara cuma-cuma maupun dijual.

Bagaimanakah media massa cetak diedarkan?
Media massa cetak diedarkan secara cuma-cuma oleh lembaga kenegaraan/pemerintahan, keagamaan, perusahaan dll. Media massa cetak yang diedarkan secara komersial, bisa dijual di agen koran/majalah (di lapak), dijual para pengasong di jalan raya, di toko buku dan dilanggan oleh konsumen. Pelanggan bisa menerima penerbitan media massa melalui jasa pos, hantaran atau loper yang dipekerjakan oleh agen.

Bagaimanakah penerbitan media massa cetak dibiayai?
Media massa cetak non komersial, dibiayai oleh anggaran lembaga yang menerbitkannya, karena akan diedarkan secara cuma-cuma. Media massa cetak komersial, dibiayai dari penjualan media massa tersebut, uang langganan dan jasa penjualan halaman untuk dipasangi iklan. Ada pula pemasukan dari advertorial (iklan dalam bentuk artikel). Media massa tertentu, juga memperoleh pendapatan dari produk pendukungnya (barang promosi). Bahkan kadang-kadang produk pendukung ini justru bisa mendatangkan pemasukan lebih tinggi.

Apakah untuk menerbitkan media massa cetak memerlukan ijin khusus?
Sebelum tahun 1998, penerbitan media massa cetak memerlukan ijin khusus yang pengurusannya sangat rumit dan berbelit serta memerlukan dana besar. Hingga pada waktu itu SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers) memiliki nilai komersial yang sangat tinggi. Setelah tahun 1998, penerbitan media massa cetak bisa dilakukan dengan bebas oleh siapa saja.

4 Wartawan, Redaktur dan Penulis Lepas

Apakah yang dimaksud sebagai wartawan, redaktur dan penulis lepas?
Wartawan, jurnalis atau reporter adalah profesi untuk memperoleh informasi dengan mendatangi sumbernya. Istilah yang dipergunakan untuk melakukan pekerjaan ini adalah meliput. Hasil liputan para wartawan, akan ditulis dan diserahkan ke redaktur untuk diseleksi, diolah lagi dan disajikan dalam bentuk tulisan di media cetak, siaran radio atau televisi. Penulis/wartawan lepas (free lance) adalah penulis berita, reportase, artikel, feature dan bentuk tulisan lain yang tidak terikat (bekerja) di satu lembaga. Penulis/wartawan lepas bisa bekerja di rumah masing-masing dan mengirimkan hasil tulisannya ke media manapun.

Ada berapa macamkah wartawan yang biasa melayani media massa?
Sesuai dengan medianya, ada wartawan media massa cetak (koran, tabloid, majalah); wartawan radio, wartawan televisi dan wartawan kantor berita. Kalau dilihat dari jenis pekerjaannya ada wartawan biasa yang pekerjaannya menulis berita dan ada wartawan foto yang pekerjaannya memotret. Dengan berkembangnya media televisi, kemudian dikenal pula reporter yang pekerjaannya mewawancarai sumber berita dan cameraman yang tugasnya mengambil gambar audio visual dari peristiwa atau sumber. Dilihat dari prestasinya, ada wartawan biasa dan ada pula wartawan senior. Yang disebut wartawan senior, bukan mereka yang sudah menggeluti profesi kewartawanan cukup lama atau usianya sudah tua, melainkan yang mampu mencapai prestasi kerja kewartawanan dan diakui oleh masyarakat.

Apakah beda wartawan dengan redaktur?
Wartawan adalah pemburu informasi di lapangan, sementara redaktur adalah juru masak yang memberi order peliputan, mengumpulkan hasil liputan dan mengolahnya menjadi tulisan. Di koran-koran besar, wartawan dikelompokkan sesuai dengan rubrik yang ditangani. Misalnya wartawan ekonomi, politik, olahraga, budaya dll. Masing-masing rubrik dikepalai oleh redaktur yang disebut desk.

Apakah yang disebut pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, redaktur pracetak dan sekretaris redaksi?
Pemimpin redaksi adalah pemegang kekuasaan tertinggi di bagian redaksi sebuah media massa. Pekerjaan utamanya adalah membuat kebijakan dan meneruskannya ke redaktur pelaksana untuk diaplikasikan pada kegiatan sehari-hari. Di koran besar, redaktur pelaksana memimpin desk yang masing-masing dibantu oleh wartawan rubrik. Selain itu ada wartawan non desk yang biasanya langsung berada di bawah redaktur pelaksana atau pemimpin redaksi. Redaktur pracetak adalah redaksi yang pekerjaannya menangani lay out penerbitan pers termasuk segi artistiknya. Di koran-koran pagi biasanya juga dikenal istilah redaktur malam. Yakni redaksi yang bertugas pada malam hari sebelum batas deadline koran untuk naik cetak. Sekretaris redaksi adalah kepala rumahtangga redaksi. Urusannya mulai dari administrasi naskah, uang transpor, honor, kegiatan rapat dll. Sekretaris redaksi bertanggungjawab langsung kepada pemimpin redaksi.

Manakah yang jenjangnya lebih tinggi: wartawan atau redaktur/redaktur pelaksana?
Wartawan dan redaksi adalah jenis pekerjaan yang berbeda. Wartawan adalah jenjang profesi. Sama dengan dosen, dokter, pengacara dll. yang jenjangnya sangat tergantung dari keahlian dan prestasinya dalam menjalankan profesi. Sementara redaktur (desk), redaktur pelaksana, pemimpin redaksi, redaktur pracetak dan sekretaris redaksi berikut para wakilnya adalah jenjang struktural. Hingga bisa saja penghasilan seorang wartawan senior dalam satu perusahaan pers, lebih tinggi dari redaktur bahkan redaktur pelaksananya. Sama halnya dengan di rumah sakit atau perguruan tinggi, yang gaji dokter spesialis atau guru besarnya lebih tinggi dari kepala bagian atau kepala jurusan.

Bagaimanakah caranya agar seseorang bisa menjadi wartawan/penulis lepas?
Caranya harus dengan menulis berita, hasil reportase, artikel feature atau bentuk tulisan lain dan mengirimkannya ke media massa. Semakin sering karya seseorang dimuat media massa, maka kredibilitasnya akan semakin baik. Namun yang bisa benar-benar menjadi wartawan/penulis lepas, dalam arti hidup dari honorarium menulis, hanyalah mereka yang sudah mampu meraih status sebagai wartawan senior.

Apakah penyair, cerpenis dan novelis yang karyanya sering muncul di media massa bisa dikatagorikan sebagai penulis lepas (free lance)?
Tidak bisa. Sebab mereka lebih lazim disebut sasterawan. Yang mereka tulis pun karya fiksi. Istilah penulis lepas, lazim digunakan hanya untuk menyebut penulis berita, artikel dan feature yang tidak terikat bekerja di satu perusahaan pers.

5 Pendidikan Menulis dan Jurnalis

Ada berapa macamkah pendidikan menulis dan jurnalis?
Pendidikan menulis (dalam arti mengarang, menyusun tulisan), sudah mulai diajarkan sejak di bangku SD. Pelajaran menulis ini terus berlanjut sampai ke jenjang perguruan tinggi. Di sini, keterampilan menulis sangat diperlukan dalam rangka menyusun karya ilmiah sebagai bagian dari tugas akhir maupun hasil penelitian. Sementara pendidikan jurnalis (kewartawanan) hanya diajarkan secara formal di jurusan publisistik atau jurnalistik di perguruan tinggi yang membuka jurusan ini, baik untuk program diploma maupun strata. Selain pendidikan formal, menulis dan kewartawanan juga diajarkan di berbagai lembaga pelatihan/training. Media massa besar, baik cetak, radio, televisi dan kantor berita juga mengajarkan keterampilan menulis dan jurnalis melalui program in house training.

Profesi apa sajakah yang terkait dengan kegiatan tulis menulis?
Profesi yang terkait dengan kegiatan tulis menulis antara lain sasterawan (penyair, cerpenis, novelis, penulis naskah drama), wartawan, kolumnis, esais, penulis teks iklan (copy writer), penulis script program radio/tivi, penulis skenario film/sinetron dan ghost writer (penulis pidato, sambutan, artikel dan buku untuk seorang tokoh).

Apakah mereka yang sudah memiliki status penulis/wartawan berarti tidak perlu belajar lagi?
Mereka yang sudah meraih predikat sebagai penulis/wartawan profesional pun tetap harus terus-menerus belajar. Baik secara formal, non formal maupun informal. Pendidikan menulis secara formal di perguruan tinggi, hanya terbatas menyangkut profesi jurnalis (non fiksi). Sementara sasterawan, tidak ada sekolah formalnya. Fakultas sastra di perguruan tinggi, hanya sebatas mengajarkan ilmu sastra. Bukan mendidik mahasiswa untuk menjadi sasterawan.

Dalam pendidikan menulis dan jurnalis, manakah yang lebih penting: belajar atau berlatih?
Berlatih jelas lebih penting. Sebab kegiatan menulis atau menjadi wartawan, lebih memerlukan keterampilan (skill) dan bukan sekadar pengetahuan. Selain dengan berlatih, skill juga akan datang secara otomatis kalau seseorang terus-menerus bekerja sambil memperbaiki diri. Keterampilan apa pun, hanya akan meningkat apabila seseorang telah memiliki “jam terbang” cukup banyak.

Mengapa informasi mengenai pendidikan tulis menulis dan kewartawanan sampai sekarang sangat jarang sampai ke masyarakat?
Sebab dunia tulis menulis memang hanya digeluti oleh sedikit orang. Kebanyakan penulis buku petunjuk praktis menulis dan kewartawanan, justru mereka yang tidak memiliki pengetahuan ilmu jurnalistik. Misalnya sasterawan yang kebetulan juga wartawan, menulis buku petunjuk untuk menjadi penulis/wartawan. Atau dosen perguruan tinggi membuat buku petunjuk praktis “Menulis Ilmiah Populer di Media Masa”. Sementara mereka yang memiliki pengetahuan jurnalistik cukup baik, jarang yang mau menyusun buku petunjuk.

* * *

III PELATIHAN JURNALISTIK

1 Tentang Modul

Apakah yang disebut sebagai modul?
Dalam pengertian umum, modul adalah standar atau satuan pengukur. Dalam konteks pendidikan, modul adalah paket atau program belajar mengajar, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai ke evaluasi terhadap dampak hasil pelaksanaan.

Ada berapa macam modulkah dalam dunia pelatihan?
Ada modul dasar, ada modul lepas dan modul lengkap. Yang dimaksud sebagai modul dasar adalah paket belajar – mengajar secara lengkap, namun hanya menyangkut garis besarnya saja. Tujuannya agar peserta didik memiliki pengetahuan dasar tentang suatu bidang, sektor atau materi yang dilatihkan. Modul lepas adalah paket belajar – mengajar secara detil dan mendalam, namun hanya menyangkut satu bagian dari keseluruhan kegiatan. Modul lengkap adalah paket belajar mengajar secara lengkap, detil dan mendalam. Biasanya yang disebut modul lengkap, adalah modul dasar ditambah dengan keseluruhan modul lepas.

Bagaimanakah kaitan modul dasar dan modul lepas dalam pelatihan jurnalistik?
Dalam kaitan pelatihan jurnalistik, yang dimaksud sebagai modul dasar adalah, peserta didik diharapkan memiliki pengatahuan dasar tentang teori jurnalistik, berikut semua bentuk tulisan di media massa dan tatakerja penerbitannya. Berarti seorang peserta didik yang mengikuti modul dasar, sudah siap untuk terjun sebagai wartawan pemula. Modul dasar cocok untuk melatih pengelola bulletin, jurnal dan penerbitan intern lainnya. Modul lepas adalah paket belajar – mengajar yang bisa berdiri sendiri, namun masih memiliki keterkaitan dengan keseluruhan paket kegiatan. Misalnya modul penulisan news, artikel, features, reportase. Modul ini dibuat berdasarkan bentuk tulisan di media massa. Bisa pula modul lepas disusun berdasarkan aspek yang akan dikerjakan dalam kegiatan kewartawanan. Misalnya modul penentuan tema tulisan, pengumpulan bahan dan peliputan, memotret, bahasa jurnalistik, pemilihan media, rubrikasi dll. Modul lepas bisa dipergunakan secara tersendiri (misalnya pelatihan meliput), beberapa modul lepas sekaligus (misalnya menulis news, artikel dan feature), bisa juga modul lepas tersebut digabung secara keseluruhan dan ditambah modul dasar hingga menjadi modul lengkap.

Bagaimanakah kaitan antara modul dasar, modul lepas dan modul lengkap dalam pelatihan jurnalistik?
Modul dasar bisa diberikan dengan alokasi waktu dua sampai 3 hari (20 sd. 30 jam efektif). Modul lepas bisa diberikan masing-masing dengan alokasi waktu sama dengan modul dasar. Kalau dalam pelatihan jurnalistik disusun 5 modul lepas, maka alokasi waktu untuk modul lengkap (lima modul lepas + satu modul dasar) adalah 18 hari atau antara 360 sd. 540 jam efektif. Untuk menghemat biaya, biasanya disusun modul dasar terlebih dahulu, baru kemudian modul lepas yang dianggap paling urgent. Setelah jumlah modul lepas dirasa cukup, baru dirangkai menjadi modul lengkap.

Apa sajakah yang harus dibuat dalam sebuah modul pelatihan jurnalistik?
Yang mula-mula harus disusun adalah, karakteristik kelompok sasaran dari pelatihan yang direncanakan. Misalnya, mereka adalah kelompok masyarakat umum, usia antara 20 sd. 40 tahun, berpendidikan perguruan tinggi (heterogen), sebagian besar sudah bekerja di berbagai bidang/sektor. Yang menyatukan mereka adalah, semuanya merupakan pengasuh bulletin/jurnal intern kelembagaan dan ingin agar media tersebut jadi lebih baik. Semuanya juga berharap untuk bisa menulis artikel di media massa umum. Dari sini kita bisa menentukan tujuan pelatihan. Dari tujuan tersebut, ketahuan bahwa yang diperlukan adalah modul dasar dengan modul lepas penulisan artikel. Dua modul ini harus dikonkritkan dengan mendata kuantitas dan kualitas peserta, kurikulum, jadwal, hand out, alat peraga, instruktur, narasumber, lokasi dan waktu palatihan. Dari data yang ada bisa disusun proposal berikut anggaran biayanya.

2 Kurikulum dan Metodologi

Apakah yang disebut sebagai kurikulum?
Kurikulum adalah kelompok mata pelajaran yang harus diberikan dalam satu program pendidikan, lengkap dengan satuan waktu yang diperlukannya.

Dalam konteks modul dasar pelatihan jurnalistik, kurikulum yang bagaimanakah yang diperlukan?
Seperti halnya dengan modul, kurikulum pun disusun berdasarkan karakteristik peserta didik, berikut kebutuhan yang mereka rasakan. Kurikulum untuk para calon wartawan koran terkemuka, tentu lebih banyak terfokus pada news dan reporting. Kurikulum untuk penulis lepas, lebih banyak terfokus ke artikel. Setelah itu baru ditentukan, materi apa saja yang harus disampaikan untuk mencapai tujuan tersebut, berapa waktu yang diperlukan dan metodologi apa yang paling tepat untuk menyampaikannya.

Apa sajakah materi minimal yang diperlukan dalam kurikulum modul dasar pelatihan jurnalistik untuk umum?
Pertama pengenalan media massa dan kegiatan jurnalistik. Berikutnya bentuk-bentuk tulisan, menentukan tema, mencari bahan/meliput, memotret, menulis dengan 5 W 1 H dan terakhir mengirim teulisan tersebut ke media massa umum. Idealnya materi tersebut disampaikan dalam jangka waktu satu minggu. Namun bisa saja dilakukan strategi hanya dua hari di kelas, kemudian latihan di rumah masing-masing untuk berkumpul lagi di kelas selama dua hari.

Apakah yang disebut sebagai metodologi?
Metodologi adalah strategi dan teknik penyampaian kurikulum kepada peserta didik, yang dilakukan oleh instruktur atau narasumber, dengan tujuan diperoleh efektifitas dan efisiensi optimal. Misalnya, kalau tujuan pelatihan adalah agar tulisan peserta didik (umum) bisa dimuat di media massa, maka metode work shop paling efektif dan efisien.

Faktor apa sajakah yang harus diperhatikan dalam menentukan metodologi?
Pertama faktor peserta. Kalau pesertanya remaja dan anak-anak, metode bermain akan lebih efektif dan efisien. Peserta ibu-ibu atau bapak-bapak, lebih cocok metode simulasi atau diskusi kelompok. Selain spesifikasi peserta, faktor jumlah juga sangat menentukan metodologi yang harus digunakan. Peserta 10 sd. 20 orang, paling tepat metodologi diskusi intensif. Jumlah 20 sd. 30 orang bisa dengan metode diskusi kelompok dan pleno. Modelnya masih model kelas. Peserta di atas 50 harus menggunakan metode ceramah. Peserta berjumlah ratusan harus memakai metode pidato. Selain peserta, waktu dan lokasi pelatihan juga harus menjadi pertimbangan dalam menyusun metodologi. Kalau waktunya pendek, maka metode ceramah dan tanya jawab labih tepat. kalau waktunya panjang, maka diskusi kelompok dan pleno lebih baik dilakukan. Selain itu juga dipertimbangkan apakah peserta menginap di lokasi pelatihan atau tidak dsb. Lokasi pelatihan di Jakarta atau kota besar lainnya, pasti memerlukan metodologi yang berbeda dibanding dengan pelatihan yang diselenggarakan di luar kota. Selain itu juga perlu dilihat faktor ruang kelas, peraga, kuantitas dan kualitas instruktur/narasumber. Dan terakhir yang paling penting adalah faktor biaya.

Mengapa pelatihan yang banyak diselenggarakan di Indonesia selama ini hanya menggunakan metodologi ceramah dan tanya jawab?
Karena penyelenggara pelatihan, umumnya terdiri dari karyawan biasa dari sebuah lembaga, yang sama sekali tidak menguasai bidang palatihan. Hingga pelatihan hanya diartikan sebagai mengumpulkan peserta di satu tempat, mengundang pembicara dengan makalahnya lalu diadakan tanyajawab dan selesai. Di Indonesia, hanya sedikit lembaga pendidikan yang benar-benar menguasai metodologi pelatihan.

3 Hand Out Pelatihan

Apakah yang disebut sebagai hand out pelatihan?
Hand out pelatihan adalah barang cetakan, kaset, DVD (Digital Video Disc), VCD (Video Compact Disc) atau bentuk-bentuk lain yang berisi materi pelatihan, sebagai acuan bagi peserta didik, instruktur maupun narasumber.

Mengapa selama ini peserta pelatihan hanya diberi makalah yang berasal dari narasumber?
Karena panitia penyelenggara pelatihan tidak tahu bahwa hand out adalah salah satu sarana pelatihan yang sangat penting dan variasi bentuknya sangat beragam.

Dalam kaitan dengan pelatihan jurnalistik, hand out apa sajakah yang diperlukan?
Pertama buku-buku tentang pelajaran dan pengetahuan tulis – menulis serta jurnalistik. Di Indonesia buku-buku demikian masih sangat sedikit. Buku tentang tulis menulis yang lengkap hampir semuanya masih berbahasa Inggris dan hanya ada di perpustakaan besar. Yang juga bisa dimanfaatkan sebagai hand out adalah bahan-bahan pelatihan intern media massa dan diktat-diktat pelajaran di jurusan publisistik dan jurnalistik perguruan tinggi.

Mengapa hand out mutlak diperlukan dalam sebuah pelatihan?
Hand out sangat diperlukan dalam sebuah pelatihan, karena ibaratnya buku pelajaran di sekolah dan perguruan tinggi. Hand out diharapkan bisa terus membantu peserta didik setelah yang bersangkutan selesai mengikuti program pelatihan.

Bisakah hand out dibuat khusus oleh panitia atau penyelenggara pelatihan untuk kebutuhan yang juga sangat khusus?
Seharusnya memang demikian. Penyelenggara pelatihan seharusnya menyusun modul, kurikulum berikut hand outnya dalam sebuah paket palatihan. Namun untuk melakukan tiga hal ini sekaligus, biayanya akan sangat mahal. Hingga bisa saja pelatihan memanfaatkan hand out berupa buku-buku, brosur, diktat dll. dari luar.

4 Alat Peraga Pelatihan

Apakah yang disebut sebagai alat peraga pelatihan?
Alat peraga pelatihan adalah benda, termasuk tumbuhan, binatang dan manusia, yang bisa membantu proses transfer informasi dari instruktur, narasumber dan hand out ke peserta didik. Benda yang biasa dijadikan sebagai peraga adalah peta, gambar, poster, foto, televisi, OHP, Slide Projector, In Focus, papan panel, papan tulis dll. Barang-barang yang tidak lazim pun, termasuk tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia, bisa dijadikan alat peraga asal efektif dan efisien.

Alat peraga apakah yang minimal harus ada dalam sebuah pelatihan jurnalistik?
Contoh koran, majalah, tabloid, bulletin, jurnal dan news letter mutlak harus ada sebagai peraga. Kemudian perangkat fotografi, hasil foto-fotonya dll. Perangkat standar yang bisa membantu sebagai peraga adalah OHP, In Fokus, slide projector, papan panel dan papan tulis.

Mengapa tumbuhan, binatang dan manusia bisa dijadikan peraga dalam pelatihan jurnalistik?
Tumbuhan, misalnya pohon-pohon atau tanaman lain di halaman lokasi pelatihan, bisa dijadikan peraga dalam mata pelajaran pengamatan lapang. Demikian pula halnya dengan binatang. Misalnya, pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan di Hotel Safari Gerden di Cisarua, bisa memanfaatkan binatang di Taman Safari sebagai peraga ketika seorang instruktur atau narasumber menjelaskan proses peliputan dan pengumpulan informasi. Manusia bisa dijadikan peraga ketika kelas sedang melakukan prektek simulasi wawancara. Salah satu panitia atau instruktur dijadikan peraga untuk simulasi wawancara.

Mengapa alat peraga penting dalam sebuah pelatihan?
Alat peraga memegang peran penting dalam sebuah pelatihan, karena bisa membantu meningkatkan prosentase informasi yang bisa ditangkap oleh peserta didik. Kalau seorang narasumber hanya membagikan makalah, kemudian berbicara lalu tanya jawab, maka informasi yang bisa ditangkap peserta didik sekitar 40%. Kalau dalam mata pelajaran menulis artikel tentang martabak telor, diundang seorang tukang martabak lengkap dengan gerobaknya untuk dijadikan peraga (diwawancarai), maka prosentase informasi yang bisa ditangkap peserta didik akan meningkat sampai 70%.

Mengapa selama ini alat peraga kurang dimanfaatkan secara optimal dalam tiap pelatihan?
Karena penyelenggara pelatihan, instruktur dan narasumber kurang memahami pentingnya peraga dalam sebuah pelatihan. Selain itu faktor biaya kadang-kadang juga menjadi kendala dalam penyediaan dan kelengkapan peraga.

Bisakah paraga justru mengganggu proses belajar mengajar dalam sebuah pelatihan?
Bisa. Misalnya, sehabis makan siang, perancang kurikulum pelatihan memasukkan jadwal pemutaran film. Sebab materi yang ada di kurikulum adalah menulis resensi film. Ketika film diputar, maka perhatian seluruh peserta didik akan tertuju ke film tersebut. Bukan pada materi palatihannya.

5 Instruktur dan Narasumber

Apakah yang dimaksud sebagai instruktur dalam sebuah pelatihan?
Instruktur adalah pemimpin pelatihan, yang tugas utamanya memberi instruksi kepada peserta didik, sesuai dengan kurikulum dan metodologi yang digunakan. Dalam satu pelatihan jurnalistik dengan peserta 20 sd. 30 orang, idealnya ada dua orang instruktur yang bekerja bergantian (dua shift) atau bersamaan (berduet).

Apakah syarat utama yang harus dipenuhi oleh seorang instruktur pelatihan?
Pertama dia harus ramah dan berkepribadian menyenangkan. Berpenampilan menarik namun tetap sopan. Mampu berbicara keras meskipun tanpa mike dan memiliki wibawa (pengaruh) agar instruksinya dipatuhi oleh seluruh peserta didik. Instruktur juga harus bisa memberi motivasi kepada peserta didik, bahwa yang paling diuntungkan dari program pelatihan ini adalaa para peserta didik sendiri.

Apakah instruktur tidak perlu menguasai materi pelatihan?
Instruktur memang harus tahu materi pelatihan yang akan diberikan melalui modul, kurikulum, metodologi dan hand out. Namun instruktur tidak perlu menguasai materi pelatihan. Sebab yang harus menguasai materi pelatihan adalah narasumber. Yang harus dikuasai oleh instruktur justru kurikulum dan metodologinya.

Apakah yang disebut sebagai narasumber dalam pelatihan?
Narasumber adalah tokoh yang diangap menguasai salah satu materi pelatihan sesuai dengan kurikulum dan hand out pelatihan. Dalam pelatihan jurnalistik maka narasumber bisa seorang wartawan profesional, fotografer, redaktur atau dosen jurnalistik di perguruan tinggi. Lebih ideal lagi kalau narasumber tersebut seorang pakar dalam bidangnya. Misalnya, narasumber untuk materi penulisan artikel, adalah seorang penulis artikel kenamaan, namun sekaligus juga tahu ilmu jurnalistik, khususnya mengenai artikel.

Apakah seorang narasumber tidak perlu menguasai metodologi pelatihan?
Narasumber tidak perlu menguasai metodologi pelatihan. Sebab yang akan menangani metodologi adalah instruktur dan panitia.

Apakah semua penulis artikel hebat (terkenal), bisa dijadikan narasumber dalam sebuah pelatihan?
Pertama, penulis tersebut harus bersedia tampil dengan mamatuhi ketentuan penyelenggara pelatihan (menyangkut honor dll). Kedua, penulis tersebut harus bisa berbicara di depan peserta dengan jelas, menarik namun tetap akurat. Ketiga, narasumber tersebut diharapkan benar-benar menguasai bidang penulisan dengan cukup baik (bukan sekadar terampil menulis).

6 Penyelenggaraan Pelatihan

Apakah yang dimaksud dengan penyelenggaraan pelatihan?
Penyelenggaraan pelatihan dimulai setelah ada modul, kurikulum, metodologi dan hand out. Dengan modal tersebut bisa disusun proyek proposal dengan anggaran biayanya. Namun yang terjadi selama ini, sebuah institusi membuat proyek proposal sederhana, diajukan dan ketika anggaran turun baru direncanakan pelaksanaan pelatihan. Yang disebut rencana pelatihan pun hanya terkait dengan kepesertaan, pelatih dan lokasi pelatihan. Modul, kurikulum, metodologi dan hand out tidak pernah terpikirkan dalam rapat perencanaan.

Dari manakah biaya penyelenggaraan pelatihan diperoleh?
Biaya pelatihan bisa berasal dari anggaran intern institusi. Baik institusi pemerintah (departemen, pemda, BUMN), lembaga keagamaan, LSM, perguruan tinggi dan lembaga penyelenggara media massa. Bisa pula biaya berasal dari lembaga donor. Terutama lembaga donor asing (UNDP, USAID, Ford Foundation, Asia Foundation, MEE dll). Namun biaya juga bisa dipungut dari peserta pelatihan sendiri. Meskipun bisa tidak 100%. Misalnya ada subsidi 25%, 50% atau 75%.

Bagaimanakah penyelenggaraan pelatihan di pemerintahan diorganisir?
Di lembaga pemerintah, baik departemen, non departemen maupun pemda, penyelenggaraan pelatihan dilakukan oleh Pimpinan Proyek (Pimpro) yang sebelum era reformasi kekuasaannya luarbiasa besar. Kontrol dari inspektorat, BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) dan BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan = Proyek) tidak pernah bisa efektif. Akibatnya penyelenggaraan pelatihan, termasuk pelatihan jurnalistik, hanyalah upaya untuk mencairkan dana proyek.

Bagaimanakah seharusnya penyelenggaraan pelatihan diorganisir dengan benar?
Di lembaga-lembaga swasta profesional, terutama di perusahaan pengelola media massa, program in house training jurnalistik dilakukan oleh unit independen yang permanen. Baik untuk melatih calon wartawan, untuk penyegaran bagi wartawan lama maupun untuk melayani pihak luar. Pelatihan intern demikian dilakukan secara reguler dengan instruktur dan narasumber intern perusahaan tersebut. Penyelenggara pelatihan jurnalistik profesional independen, juga melakukan pelatihan reguler untuk melayani perusahaan media massa maupun pihak luar. Mereka punya unit pelaksana pelatihan yang independen dengan instruktur permanen, namun tidak memiliki narasumber. Pelatihan insidental oleh lembaga swasta, biasanya dikelola oleh satu panitia. Baik panitia pelaksana maupun pengarah. Instruktur dan narasumber semuanya dari luar.

Bagaimanakah penyelenggaraan pelatihan yang dilakukan oleh panitia?
Panitia pengarah (SC), hanya bertugas menjaga agar tujuan ideal pelatihan bisa berhasil dicapai sesuai target. Panitia pelaksana (OC), bertugas melaksanakan pelatihan mulai dari menghubungi instruktur, narasumber, peserta, memilih dan booking lokasi, mendapatkan hand out dan peraga dll.

Siapakah yang lebih berkuasa dalam pelaksanaan pelatihan, instruktur atau ketua OC?
Ketua OC bertanggungjawab terhadap permasalahan teknis pelatihan. Misalnya pembagian kamar, makan, minum, snack, penggandaan materi, penyediaan peraga, penjemputan narasumber, pemberian honor, transpor panitia/peserta dll. Sementara instruktur bertanggungjawab terhadap proses pelatihan, terutama pelaksanaan kurikulum dan metodologinya. Narasumber bertanggungjawab terhadap materi pelatihan.

7 Target yang Hendak Dicapai

Kapankah terget pelatihan yang hendak dicapai ditentukan?
Terget pelatihan yang hendak dicapai, ditentukan pada saat merancang modul (kalau modulnya belum ada) atau pada saat merevisi (kalau modul lama sudah ada).

Apakah konkritnya target pelatihan yang hendak dicapai?
Misalnya saja 20 orang dosen di perguruan tinggi (……nama……), mampu menulis artikel dan 50% bisa lolos dimuat di media massa pada tahun ini. Kriteria terget harus jelas (terukur), realistis namun menantang dan ada batas waktunya. Target 20 orang menghasilkan artikel cukup jelas dan 50% (10 orang) bisa lolos dimuat di media massa pada tahun ini, sudah merupakan ukuran dan batasan. Target itu cukup realistis. Yang tidak realistis kalau tulisan seluruh peserta harus bisa lolos dimuat di media massa. Namun target 50% juga cukup menantang. Yang tidak menantang kalau misalnya hanya ditargetkan 10 atau 20%.

Apakah target itu harus dikomunikasikan ke peserta didik?
Benar. Target ini sejak awal harus dikomunikasikan ke peserta didik. Bahkan secara lebih spesifik, sejak sesi I (pembukaan) harus dideteksi, apa sebenarnya harapan peserta didik dari pelatihan ini. Sebab bisa saja target penyelenggara ternyata tidak cocok dengan harapan peserta.

Apakah dibenarkan kalau targetnya adalah terselenggaranya pelatihan dengan peserta 25 orang dari tg………….sd. tg…………..dengan narasumber………………dengan biaya Rp……….?
Tidak benar. Sebab itu semua merupakan target penyelenggara pelatihan (target panitia). Sementara yang dimaksud di sini adalah target pelatihan terhadap peserta didik. Artinya, perubahan apa yang akan dialami peserta didik setelah mengikuti pelatihan ini.

Bagaimanakah penyelenggara pelatihan dengan peserta umum bisa mengetahui target pelatihan tercapai atau tidak?
Deteksi pencapaian target pasca pelatihan, bisa dilakukan dengan monitoring, pembentukan kelompok alumni training dll. Dari sini akan dapat dengan mudah terdeteksi, apakah benar peserta didik melanjutkan menulis, mengirimkan ke media massa dan 50%nya dimuat?

* * *

IV MENGENAL BENTUK TULISAN ARTIKEL, FEATURE DAN ESAI

1 Bentuk-bentuk Tulisan di Media Massa

Apakah yang disebut sebagai Artikel?
Masyarakat luas, mengangap semua tulisan di media cetak (koran, majalah, tabloid, bulletin, jurnal dan news letter) sebagai artikel. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artikel disebut sebagai: karya tulis lengkap, misalnya laporan berita atau esai di majalah, surat kabar dsb. Dalam ilmu jusnalistik, artikel adalah salah satu bentuk tulisan non fiksi berisi fakta dan data yang disertai sedikit analisis dan opini dari penulisnya.

Apakah yang disebut sebagai features?
Feature sering diartikan sebagai tulisan khas di media massa. Dalam KBBI, entri feature tidak ada. Dalam kamus-kamus bahasa Inggris, feature diartikan sebagai: a distinctive or regular article in a newspaper or magazine. Dalam ilmu jurnalistik, features merupakan salah satu bentuk tulisan non fiksi, dengan karakter human interest yang kuat.

Apakah yang disebut esai?
Menurut KBBI, esai adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Menurut kamus Webster’s (essay) adalah: a short literary composition of an analytical, interpretive, or reflective kind, dealing with its subject in a nontechnical, limited, often unsystematic way and, usually, expressive of the author’s outlook and personality. Menurut ilmu jurnalistik, esai adalah tulisan berupa pendapat seseorang tentang suatu permasalahan ditinjau secara subyektif dari berbagai aspek/bidang kehidupan.

Apakah bentuk-bentuk tulisan lain di media massa?
Yang paling banyak dijumpai di koran dan majalah adalah berita (news). Dalam dunia jurnalistik, news dikelompok-kelompokkan lagi menjadi spot news, stright news, interpreted news, interpretative news, news story dll. Selain itu masih ada bentuk-bentuk tulisan lain seperti reportase, information story, info grafis, resensi buku/film, tajuk, resep masakan, daftar harga dll.

Apakah yang disebut sebagai News (berita)?
News atau berita adalah bentuk tulisan non fiksi berdasarkan sebuah peristiwa faktual, yang lazim disebut sebagai stright news (berita lempang atau berita langsung). Selain itu masih ada spot news (berita singkat); interpeted news (berita pendapat); interpretative news (berita dengan interpretasi); investigative news (berita penyidikan) dll.

Bentuk tulisan manakah yang paling mungkin untuk ditulis oleh pihak luar (bukan wartawan atau redaksi penerbitan tersebut)?
Yang selalu diisi oleh pihak luar adalah artikel, opini dan esai. Yang kadang-kadang juga masih bisa diisi oleh pihak luar adalah feature dan reportase. Namun bentuk tulisan Opini dan Esai lebih sulit dipelajari dibanding dengan artikel. Sementara feature juga lebih mudah dikerjakan oleh bukan wartawan dibanding dengan reportase. Karenanya, bentuk tulisan artikel dan feature paling mudah dan bermanfaat untuk dipelajari oleh kalangan bukan wartawan profesional.

2 Tentang Artikel

Apakah yang disebut sebagai artikel dalam dunia jurnalistik?
Dalam dunia jurnalistik, artikel adalah salah satu bentuk tulisan non fiksi (berdasarkan data dan fakta) dan diberi sedikit analisis serta pendapat oleh penulisnya. Biasanya, artikel hanya menyangkut satu pokok permasalahan, dengan sudut pandang hanya dari satu disiplin ilmu. Teknik yang digunakan umumnya deduktif – induktif atau sebaliknya.

Apakah beda artikel dengan interpretative news?
Interpretative news juga merupakan salah satu bentuk tulisan non fiksi yang juga diberi opini oleh penulisnya. Namun kalau sebuah artikel sudah bisa ditulis hanya dengan bahan data dan fakta, maka interpretative news harus berdasarkan peristiwa faktual. Kalau artikel bisa ditulis oleh siapa saja, maka interpretative news biasanya hanya ditulis oleh intern wartawan atau redaktur dari penerbitan bersangkutan.

Apakah beda artikel dengan opini dan kolom?
Dalam pengertian sehari-hari, artikel, opini, kolom bahkan juga esai dianggap sama dan bisa saling dipertukarkan tempatnya. Dalam dunia jurnalistik, opini dibedakan dengan artikel karena dalam opini, pendapat pribadi (buah pikiran) si penulis lebih diutamakan. Sementara dalam artikel, pendapat pribadi si penulis biasanya dikemukanan dalam bentuk analisis atau data dan fakta tandingan, yang berbeda dengan data dan fakta yang dijadikan bahan tulisan. Dengan adanya analisis serta data dan fakta tandingan itu, pembaca artikel diharapkan bisa mengambil kesimpulan sendiri. Kolom adalah artikel, opini, esai atau tulisan lain oleh penulis tetap, yang diberi ruang (rubrik) yang tetap pula.

Apakah beda artikel dengan esai?
Dalam dunia jurnalistik, esai merupakan bentuk tulisan yang paling sulit. Meskipun dalam KBBI esai hanya disebut sebagai: karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. KBBI memang mewakili pendapat umum masyarakat yang menganggap esai sama dengan artikel, opini dan kolom. Padahal esai merupakan artikel yang dalam menganalisis, si penulis mengambil angle dari beberapa disiplin ilmu, dengan subyektifitas yang khas dari penulisnya. Hingga penulis esai yang baik, dituntut untuk memiliki minat serta pengetahuan yang luas, dengan kepribadian yang khas.

Secara konkrit, bagaimanakah biasanya sebuah artikel ditulis?
Artikel paling mudah ditulis dengan metode induksi atau deduksi. Dalam metode induksi, penulis berangkat dari sebuah contoh khusus, misalnya kasus korupsi untuk membuat kesimpulan yang bersifat umum tentang gejala korupsi. Dalam metode deduksi, penulis menggunakan cara kebalikan dari induksi, yakni menggunakan sebuah gejala umum untuk membuat kesimpulan terhadap contoh khusus. Misalnya, penulis menunjukkan bagaimana amburadulnya pengaturan lalulintas di suatu tempat, lalu gejala umum tersebut digunakan untuk menyimpulkan bahwa sebuah contoh kecelakaan lalulintas merupakan akibat dari gejala umum tersebut.

3 Tentang Feature

Apakah yang disebut sebagai feature?
Kalau entri artikel sudah masuk dalam KBBI, maka entri feature masih belum ada. Meskipun demikian, di depan telah disebutkan bahwa feature dalam kamus-kamus bahasa Inggris diartikan sebagai tulisan khas (dengan karakter yang kuat) yang dimuat secara reguler di surat kabar atau majalah.

Apakah yang membedakan feature dengan berita (stright news maupun interpreted news) dan artikel?
Berita lebih mengutamakan fakta dan data aktual (berdasarkan sebuah peristiwa aktual) yang ditulis secara lempang tanpa opini (stright news); dengan opini dari luar si penulis (intrepreted news) maupun opini dari si penulisnya (interpretative news). Artikel ditulis berdasarkan data dan fakta (belum tentu peristiwa faktual), diberi analisis dan opini (berupa fakta dan data tandingan) dari si penulis. Feature merupakan tulisan berdasarkan data dan fakta peristiwa aktual, namun meterinya diseleksi yang lebih menekankan segi human interest.

Ada berapa jenis featurekah yang selama ini dikenal dalam dunia jurnalistik?
Ada puluhan jenis feature. Mulai dari feature tentang manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, alam, sejarah, anthropologi, luar angkasa, hantu-hantu.

Apakah tema-tema berdasarkan bidang/sektor kehidupan bisa diangkat sebagai feature?
Bisa. Misalnya bidang sosial, politik, budaya, ekonomi dll. Sektornya mulai dari kesenian, pemerintahan, perdagangan dll. Namun dalam mengangkat bidang, sektor maupun komoditas yang lebih konkrit menjadi sebuah feature, penulis akan menekankan segi manusianya, binatangnya, tumbuh-tumbuahnya atau alamnya. Bukan menekankan segi permasalahannya. Hal yang terakhir ini lebih tepat diangkat menjadi artikel atau esai.

Secara konkrit, bagaimanakah sebuah feature ditulis?
Misalnya ada kecelakaan pesawat terbang. Stright newsnya adalah berita tentang kecelakaan tersebut. Kemudian ada interpreted news dari maskapai penerbangan, pabrik pesawat, aparat perhubungan, pihak keluarga korban dll. mengenai kecelakaan tersebut. Ada lagi artikel dari seorang pakar cuaca yang mengulas kecelakaan tersebut dari aspek buruknya cuaca pada saat peristiwa terjadi. Feature yang bisa ditulis antara lain: 1 Mengenai istri/anak pilot yang menjadi korban; 2 Pacar pramugari yang juga menjadi korban; Petugas SAR yang tanpa kenal lelah membantu mengumpulkan jasad para korban dll. dengan menekankan segi human interestnya.

4 Tentang Esai

Apakah yang disebut esai dalam dunia jurnalistik?
Kata kunci pada bentuk tulisan esai adalah adanya faktor analisis, interpretasi, dan refleksi. Karakter esai, umumnya non teknis, non sistematis, dengan karekter dari penulis (unsur subyektifitas) yang menonjol.

Apakah beda esai dengan artikel dan opini?
Beda esai dengan artikel dan opini adalah, esai lebih mengutamakan faktor analisis secara individual. Sementara artikel lebih mengutamakan analisis dengan bantuan teori atau disiplin ilmu tertentu. Pada bentuk tulisan opini, pendapat pribadi penulis (bukan analisis) lebih diutamakan.

Benarkah semua penulis artikel dan sasterawan mampu menulis esai?
Pertama-tama tidak semua wartawan dan sasterawan mampu menulis artikel dan feature. Kedua, tidak semua penulis artikel, feature dan sasterawan mampu menulis esai. Hanya sedikit wartawan dan sasterawan yang mampu menjadi penulis esai. Sebab bentuk tulisan ini termasuk yang paling sulit dikuasai. Namun penulis esai, hampir selalu bisa menulis artikel dan feature dengan cukup baik.

Mengapa esai merupakan bentuk tulisan yang paling sulit untuk dikuasai penulis?
Tingkat kesulitan esai, terutama disebabkan oleh karakternya yang non teknis dan non sistematis. Hingga kekuatan esai hanyalah tertumpu pada daya analisis, refleksi dan karakter pribadi si penulis. Karenanya, teknik menulis esai dari seseorang, akan sulit untuk dipelajari dan ditiru oleh penulis lain. Sementara teknik menulis artikel dan feature dari seorang penulis kenamaan, bisa dipelajari dan ditiru oleh penulis pemula.

Bagaimanakah persyaratan agar seseorang bisa menjadi penulis esai yang baik?
Seorang peulis esai, dituntut memiliki tingkat kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual di atas rata-rata. Seseorang yang cerdas secara intelektual, lebih cocok untuk menjadi penulis artikel. Mereka yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual dan emosional tinggi lebih pas menjadi penulis feature dan opini. Kalau kecerdasan intelektual dan emosional itu ditambah dengan kecerdasan spiritual dan pengetahuan serta wawasan luas, maka dia bisa menjadi penulis esai yang baik.

5 Struktur Berita, Artikel, Feature dan Esai

Apakah yang dimaksud sebagai struktur tulisan dalam dunia jurnalistik?
Yang dimaksud sebagai struktur tulisan dalam dunia jurnalistik adalah susunan, bangunan atau pola dari tulisan tersebut. Misalnya, pada umumnya struktur berita adalah piramida () terbalik  (bagian yang runcing berada di bawah).

Mengapa struktur berita berupa piramida terbalik?
Piramida terbalik mengibaratkan bahwa bagian yang besar (isinya banyak, penting); berada di bagian atas. Makin ke bawah, bentuk piramida tersebut makin mengecil dan meruncing. Ibaratnya, makin ke bawah volume berita tersebut makin sedikit, sementara isinya juga menjadi kurang penting. Dalam kenyataan, isi sebuah berita sama saja. Misalnya, kalau di bagian atas dalam satu alinea terdiri dari 6 kalimat dan 30 kata, maka di bagian bawah bisa saja satu alinea malahan berisi 8 kalimat dengan 40 kata. Namun, kadar kepentingan dan kepadatannya (variasi informasi yang terkandung di dalamnya), justru lebih sedikit.

Bagaimanakah dengan struktur artikel dan feature?
Artikel dan feature tidak berbentuk piramida terbalik melainkan balok sama besar yang memanjang dari atas ke bawah (  ). Bentuk demikian dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa dalam artikel maupun feature, bagian yang paling atas, sama pentingnya dengan yang di tengah maupun yang di bawah.

Bagaimanakah detil komponen struktur artikel dan feature tersebut?
Secara umum, semua tulisan selalu terdiri dari judul (bisa dengan atau tanpa anak judul) , nama penulis (bisa di atas bisa di bawah, bisa tidak ada), summary (ringkasan) atau etalase/intro; lead (kepala tulisan), body dan ending.

Apakah yang dimaksud dengan summary dan lead dalam artikel/feature?
Banyak penulis bahkan redaktur penerbitan yang sulit untuk membedakan antara summary atau etalase atau intro dengan lead atau kepala tulisan. Summary, etalase atau intro, hanya dimaksudkan untuk “daya tarik awal” setelah pembaca melihat judul dan juga foto (dalam feature). Fungsi ini tidak terlalu penting jika dibanding dengan lead atau kepala tulisan. Dalam News, lead memuat sekaligus semua informasi (what, who, when, where, whay dan how = 5 W 1 H) dalam satu alinea. Misalnya: Tadi malam pukul 22.30 WIB (when), telah terjadi kecelakaan lalulintas (what), di jalan tol Jagorawi (where). Kecelakaan tersebut terjadi antara (how) bus penumpang dengan truk gandengan (what). Dalam kecelakaan ini sebanyak 10 orang tewas dan belasan lainnya luka-luka (how). Diduga kecelakaan terjadi karena bus tersebut mengalami pecah ban (why), dst.
Dengan hanya membaca lead sebuah berita, seorang pembaca sudah bisa tahu seluruh isi berita secara garis besar, tanpa harus melanjutkan membaca seluruh berita. Dalam artikel dan feature, fungsi lead adalah, untuk membuat pembaca tidak bisa berhenti membaca sebelum tulisan selesai. Hingga fungsi lead tersebut justru untuk memberikan daya tarik, namun harus dibatasi hingga tidak semua informasi tuntas dalam sebuah lead. Karena fungsinya yang demikian penting, lead dalam artikel dan feature sering diibaratkan seperti serve dalam badminton, voley atau tenis.

Bagaimanakah tepatnya struktur sebuah esai?
Sebagai sebuah tulisan, esai juga menuntut adanya jusdul, etalase, lead, body dan ending. Namun struktur secara keseluruhan tidak seketat dan sebaku pada artikel dan feature. Justru karena tidak adanya kebakuan tersebut, maka sebuah esai dari penulis kenamaan, sulit untuk dipelajari dan dicontoh oleh penulis pemula. Karakter esai yang non teknis dan non sistematis menjadi kendala untuk membakukan struktur penulisannya.

6 Metode Induktif dan Deduktif dalam Artikel

Seberapa pentingkah data dan fakta dalam sebuah artikel?
Data dan fakta merupakan materi yang paling penting dalam sebuah artikel. Sebab tanpa data dan fakta yang kuat, maka artikel akan berubah menjadi opini. Misalnya, ketika terjadi sebuah kecelakaan lalulintas hebat yang menewaskan puluhan siswa SMU, maka seorang penulis artikel yang baik akan segera membuka file tantang kecelakaan lalulintas yang memakan korban cukup banyak, jenis kendaraannya, jumlah korbannya, lokasi dan waktu kejadiannya, penanganannya oleh pihak yang berwajib dll. Dengan data-data tersebut, si penulis artikel bisa membuat analisis sederhana dan menyimpulkan, apakah kecelakaan lalulintas di negeri kita selama sepuluh tahun terakhir ini meningkat atau menurun? Kalau meningkat mengapa? Kalau menurun mengapa? Sebab tekanan utama pada penulisan artikel adalah pada pertanyaan mengapa dan bagaimana.

Apakah penulisan artikel mutlak harus menggunakan metode induktif/deduktif?
Tidak harus. Bahkan sebenarnya tidak pernah ada pedoman baku bagaimana seharusnya sebuah artikel ditulis. Selain metode induktif deduktif, bisa pula digunakan metode thesis – antithesis dan sinthesis. Bisa pula dengan metode pengajuan pertanyaan 5 W 1 H yang akan dibahas lebih rinci pada bab VII dan VIII, khususnya tentang alinea.

Mengapa metode induktif/deduktif menjadi populer?
Karena metode ini paling mudah diterapkan bagi para pemula. Misalnya, ketika terjadi bencana tanah longsor (contoh kasus = hal khusus), semua pihak pasti segera mengkaitkannya dengan penggundulan hutan dan perusakan lingkungan (gejala umum). Metode berpikir induktif ini juga bisa dibalik menjadi deduktif. Pertama kita kemukakan gejala penggundulan hutan dan perusakan alam dengan bergagai data dan faktanya, dari gejala umum ini, kita tarik kesimpulan pada contoh-contoh khusus yang sangat spesifik namun cukup kuat. Misalnya perubahan iklim makro, pemanasan global dll.

Apakah menulis artikel perlu latar belakang, tujuan, permasalahan dst?
Metode penulisan ilmiah dengan latar belakang, tujuan, kerangka pikir, permasalahan, pemecahan permasalahan, kesimpulan dan saran dsb, tetap bisa digunakan dalam menulis artikel. Namun dalam mengemukakan latar belakang misalnya, tetap harus digunakan data dan fakta aktual. Misalnya kalau kita menggunakan metode deduktif, kerusakan hutan dan lingkungan yang kita jadikan sebagai latar belakang, harus disertai dengan fakta dan data yang jelas, lengkap dan akurat. Analisis dan opini yang disampaikan pun, harus berupa data. Misalnya, kita bisa mengatakan bahwa perusakan hutan dan alam akan berakibat pada kerusakan seluruh ekosistem seperti telah terjadi di negara A, B dan C. Hingga kita perlu melakukan penghijauan dan reboisasi seperti telah dilakukan oleh negara D, E dan F yang dulu hutannya pernah rusak tetapi pulih kembali.

Bolehkah dalam menulis artikel kita hanya menggunakan pernyataan umum?
Tidak boleh. Sebab artikel demikian pasti akan ditolak oleh redaktur penerbitan yang bonafid. Misalnya kita menyebut bahwa: “Akhir-akhir ini telah terjadi penggundulan hutan dan perusakan alam secara membabibuta oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab dst.” Pernyataan tersebut sangat umum dan dangkal karena tidak disertai dengan fakta dan data. Beda kalau misalnya kita sebutkan bahwa: “Tahun ini sekian juta hektar hutan primer telah ditebang habis oleh pengusaha HPH di provinsi A, B, C dan D. Dibanding dengan tahun lalu, angka penebangan ini telah naik empat kali lipat dst.

7 Faktor Human Interest dalam Feature

Apakah yang disebut sebagai human interest?
Human interest bisa diartikan sebagai rasa kemanusiaan. Hingga feature yang disebut sebagai tulisan yang menekankan segi human interest dimaksudkan sebagai tulisan yang menekankan segi yang bisa menyentuh rasa kemanusiaan pembacanya.

Mengapa segi human interest paling diutamakan dalam sebuah feature?
Karena berita (news) sudah ditampilkan dengan lugas dan dengan bahasa yang sangat formal. Dalam artikel, fakta dan data juga harus dianalisis dengan serius dan diberi opini yang juga harus serius. Agar pembaca media cetak tidak bosan, maka diperlukan sebuah bentuk tulisan yang menekankan segi human interest. Itulah sebabnya segi ini paling diutamakan dalam feature. Dalam perkembangan lebih lanjut, berita pun bisa dikembangkan menjadi news feature, feature reporting, feature story dll. Bahkan dalam perkembangan lebih lanjut, feature juga melahirkan bentuk tulisan yang lebih baru (generasi baru) yang disebut sebagai How To Do It Article (HTDI). Cabang jurnalisme yang pertamakali memperkenalkan bentuk tulisan ini adalah jurnalisme kedokteran/kesehatan pada abad XVI dan XVII.

Apakah segi human interest tersebut sudah melekat pada meteri tulisan, atau merupakan kreasi penulisnya?
Segi human interest dalam sebuah feature, harus benar-benar faktual (berupa fakta nyata) yang melekat pada materi (bahan) tulisan. Keterampilan penulis hanya dituntut untuk menyeleksi dan mengolah bahan-bahan tersebut, hingga ketika telah menjadi tulisan dan disampaikan ke pembaca, akan bisa menyentuh perasaan. Kalau segi human interest tersebut merupakan hasil imajinasi atau keterampilan berpikir si penulis, maka tulisan tersebut merupakan fiksi, bukan feature.

Apa sajakah yang bisa dikatagorikan sebagai human interest?
Yang bisa dikatagorikan sebagai human interest antara lain: masalah percintaan; perjalanan/perjuangan hidup manusia, hewan, tumbuhan maupun alam (gunung api, bintang); kelahiran/kematian; penderitaan (misalnya derita TKI yang disiksa majikan di LN); ketabahan/ketegaran dalam menghadapi cobaan/godaan dll.

Apakah feature dengan tema penderitaan bisa digunakan untuk menjelek-jelekkan pihak yang mengakibatkan penderitaan tersebut?
Bisa, namun feature tersebut akan menjadi feature propaganda. Nilai sebuah feature propaganda, akan lebih rendah dibanding dengan feature yang benar-benar hanya menceritakan penderitaan seseorang atau sekelompok orang. Sebab yang harus geregetan, marah dsb. adalah pembaca media massa, setelah membaca feature tersebut. Bukan penulisnya.

8 Kekuatan Individu dalam Esai

Apakah kekuatan individu penulis hanya dipentingkan dalam penulisan esai?
Kekuatan karakter individu penulis, diperlukan dalam semua bentuk tulisan, mulai dari news, reportase, artikel dan feature. Namun bentuk-bentuk tulisan tersebut memiliki teknik dan sistematika yang jelas. Karenanya, penulis yang tidak terlalu kuat pun, tetap bisa menghasilkan news, reportase, artikel dan feature yang baik. Dalam esai, kekuatan individu lebih diperlukan karena tidak bakunya teknik dan sistematika.

Apakah yang disebut kekuatan individu dalam penulisan esai?
Yang dimaksud sebagai kekuatan individu, terutama adalah faktor tingkat kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang di atas rata-rata. Namun kekhasan dari masing-masing individu akan sangat menentukan kualitas esai yang dihasilkan. Karakter khas yang kuat ini diperoleh bukan karena faktor teknik melainkan karena muncul dari dalam diri si penulis.

Dari manakah penulis esai memperoleh kekuatan karakter individunya?
Kekuatan karekter individu, bukan diperoleh dari pendidikan formal, melainkan dari kekayaan pengalaman hidup, bacaan yang luas dan lingkungan pergaulan yang beragam. Meskipun faktor genetik, juga ikut pula mempengaruhi kekuatan karekter individu seseorang. Namun tanpa kekayaan pengalaman, luasnya bacaan dan variasi pergaulan, karakter dasar serta pendidikan formal belum merupakan jaminan kekuatan individu seseorang.

Apakah skil (keterampilan) juga diperlukan dalam penulisan esai?
Skil tetap diperlukan dalam penulsan esai, namun hal tersebut bukan merupakan faktor utama. Sebab apabila skil yang diutamakan, maka esai yang dihasilkan justru akan merosot kualitasnya. Sebab esai justru diharapkan tidak dihasilkan sebanyak artikel, feature dan lebih-lebih news.

Apakah esai memiliki bobot lebih tinggi dibanding artikel dan feature?
Esai tidak bisa dibandingkan dengan artikel dan feature, sebab masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Artikel lebih berfungsi untuk mengajak pembaca memahami suatu pokok persoalan. Feature digunakan untuk menggugah rasa human interest pembaca. Sementara esai bermanfaat untuk melakukan refleksi dan perenungan. Meskipun fungsi tiga bentuk tulisan ini berbeda, honorarium yang akan diterima oleh penulisnya sama.

* * *

About these ads

Responses

  1. Bapak/ Mas punya atau nggak koleksi karya ilmiah laporan hasil penelitian? kalu punya bagi-bagi dong, untuk nambah pengalaman. Kirim ke email a ya!
    sebelumnya trim

  2. Mas, Mas, saya mo minta tolong neh…
    Punya file2 tentang menulis resensi film g?
    Kalau punya kirim lewat email saya y! saya sangat butuh buat refrensi skripsi.
    Trmkasih sblmnya.
    Smg 4JJI membalas kebaikan Mas..

  3. [...] http://bachtiarhakim.wordpress.com/2008/03/16/panduan-lengkap-menulis-artikel-feature-dan-esai-untuk… Panduan Lengkap Menulis Artikel, Feature, Dan Esai Untuk Pemula (Part 1) [...]

  4. ass w2. perkenalkan saya mahasiswa penyuluhan di yogya.
    Bolehkah saya mendapatkan informasi tentang standard teknis media papan panel ?,
    terima kasih

  5. Ass Mas, maaf kalo saya ganggu tapi boleh ga saya minta tolong. saya lagi dapat tugas esai ttg dampak internet. kalo boleh saya munnta contohnya ya mas..trima kasih

  6. perbanyak lagi imformasi jurnalistiknya !
    semoga sukses

  7. mas saya mau minta tolong nih…
    saya lagi dapet tugas membuat artikel ilmiah tentang perkembangan lembaga2 negara seperti lembaga kepresidenan atau lembaga Majelis permusyawaratan rakyat…
    kl punya sih..saya minta referensinya…
    artikel saya jg harus disertai daftar pusaka yg berisi UUD 1945,konstitusi RIS 1949 dan UUDS 1950 ditambah lima buku rujukan…
    ditunggu yah mas bantuannya….
    terima kasih sebelumnya…

  8. mas.. ada artikel tentang Perkembangan media Massa, dari jaman dulu sampai saat ini ga…tolong kirim ya…

  9. Artikel dan blognya menarik, salam kenal

  10. Salam,
    Mas Bachtiar Hakim

    Terima kasih Anda mendistribusikan tulisan komprehensif ini di blog Anda. Sebelum saya membaca sumber tulisan itu, yakni “Dikutip dari hand-out F. Rahardi”, saya mengira tulisan berjudul “Panduan Lengkap Menulis Artikel, Feature, dan Esai:…” itu karya Anda. Ternyata dari buku F Rahardi, yang terbit 2006, oleh penerbit Kawan Pustaka, Depok, dengan ISBN 9797571289.

  11. Sore mas! sebelumnya maaf ya mas klw mengganggu. Mas, saya lagi ada tugas kuliah disuruh buat press release dan resume ttg press release. Nah, di resumenya itu saya ingin menjelaskan juga ttg piramida terbalik, tp sya gak pnya gmbr prmda terbliknya mas, bs tolongin ga mas? thx before ya mas.

  12. sangat menarik..saya pemula yang ingin menekuni dunia tulis menulis. semoga bermanfaat. tahnk U very much !

  13. Mohon ijin mengambil artikel PANDUAN LENGKAP MENULIS ARTIKEL, FEATURE, DAN ESAI UNTUK PEMULA (PART 1-4)

    untuk bahan belajar.

    terima kasih

  14. ass…,perkenalkan nama saya anggara…
    saya minta contoh proposal media house jurnal karena saya ada tugas mata kuliah manajemen penerbitan humas…makasih
    kirim via email:anggara_gokil86@yahoo.com

  15. BUNG, THANKS YA TUK ILMU- NYA. BERMANFAAT BANGET.

    NAMA SAYA PANJI
    SALAM KENAL…

  16. Alhamdulillah banyak sekali manfaatnya bagi saya yang ingin mengetahui dunia tulis menulis. Thanks tuk ilmunya, semoga Allah memberikan pahala yang berlipat untuk anda.

  17. pak,tolong bantu aku donk buat artikel tentang aids n haiv…

    aku nggak tau cara bagaimana cara membuat artikel dengan benar.
    mohon sangat bantuannya…

  18. good………

  19. panduan menulis yang sangat keren….Alhamdulillah..dengan membacanya saya banyak mendapat ilmu yang tidak saya dapatkan sebelumnya…
    kalau ada artikel atau tulisan-tulisan yang sangat menarik, kirimkan ke email saya yach….!!!

    Thank’s so much….

  20. good!!! at least, kita punya dasar-dasar jurnalisti sebelum ikut pelatihannya. thank bang/kang.banten.

  21. MATUR NUWUN KANG YOOO..

  22. Assalamu’alaikummmmmm….

    Thanx bangets yoooo…

    Panduan na keren.. two thumbs 4 u!!!
    Kegalauanku terjawab sudah. (n_n)
    Btw, aku Copas sebagian,, nda papa kan??? buat belajar.
    syukron jiddan mas…

  23. wahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh………………….bagues tenan……………….

  24. salam kenal,
    Tulisan mas berguna banget untuk saya, tapi tolong donk mas, saya sekarang mengajar tehnik menulis untuk siswa saya. saya bingung juga dengan penjelasan mas yang penjang lebar,,, tapi tanpa contoh saya kelimpungan untuk membedakan perpedaan antaraartikel, esay,opini,feature,kolom,tajuk rencana dll y mas jelaskan di atas. bisa gak ya mas kirimi saya contohnya masing-masing agar saya dapat menjelaskan ke siswa saya secara tepat.terima kasih

    • @ yesi : kalo butuh contoh yg banyak, ada di buku-buku yg saya review. kalo mau, bisa nitip beli bukunya disini. btw, Lokasi di mana? selamat mengajar

  25. Saya penulis. Hijau Biru-Jejak Langkah adalah webs yang menurut saya yang paling OK dalam memberikan pembelajaran menulis.Kelebihannya adalah membahas struktur bahasa Indonesia. Karena bahasa erat hubungannya dengan pikiran. Pikiran adalah ide atau pengetahuan.
    Lanjutkan, Bung ! (Rizal Bustami)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: