Posted by: bachtiar hakim | March 16, 2008

PANDUAN LENGKAP MENULIS ARTIKEL, FEATURE, DAN ESAI UNTUK PEMULA (PART 3)


VIII MENGENAL BAHASA JURNALISTIK

1 Ragam Bahasa Indonesia

Apakah yang disebut sebagai bahasa jurnalistik?
Bahasa Jurnalistik adalah ragam bahasa yang dipergunakan oleh dunia persurat-kabaran (dunia pers = media massa cetak). Dalam perkembangan lebih lanjut, bahasa jurnalistik adalah bahasa yang dipergunakan oleh seluruh media massa. Termasuk media massa audio (radio), audio visual (televisi) dan multi media (internet). Hingga bahasa jurnalistik adalah salah satu ragam bahasa, yang dibentuk karena spesifikasi materi yang disampaikannya.

Apakah ada ragam bahasa lain?
Ragam bahasa dibedakan sesuai dengan cara penyampaiannya, yakni ragam bahasa lisan (percakapan sehari-hari) dan tulis (surat kabar, buku, surat menyurat, penulisan undang-undang dll). Ragam bahasa juga dibedakan karena spesifikasi pelaku dan suasana penyampaiannya. Yakni ragam bahasa baku (bahasa resmi/formal) dan non baku (remaja, slank, dialek dll). Terakhir, ragam bahasa juga bisa dibedakan karena spesifikasi materi yang disampaikannya (bahasa hukum, kedokteran, militer, pertanian, dagang, jurnalistik dll). Jadi, bahasa jurnalistik termasuk katagori ragam bahasa tulis, baku maupun non baku).

Apakah ada ragam bahasa ilmiah, ilmiah populer dan bahasa populer?
Tidak ada. Sebab arti kata ilmiah adalah memenuhi kaidah ilmu pengetahuan. Sementara populer (populis) berarti dikenal oleh masyarakat luas. Tulisan ilmiah, bisa saja sekaligus sangat populer. Teori Relativitas Einstein misalnya, sangat ilmiah tetapi sekaligus juga sangat populer. Demikian pula halnya dengan teori Big Bangnya Stephen Hawking. Sebaliknya, tulisan yang tidak ilmiah, juga belum tentu menjadi populer. Banyak tulisan di media massa cetak yang sangat tidak ilmiah, misalnya cerita tentang hantu, gosip artis, dll. ternyata tidak sepopuler ulasan ilmiah berupa analisis ekonomi, keuangan, politik dll. yang ditulis oleh para pakar di media yang sama.

Bukankah yang dimaksud sebagai populer adalah, karena sebuah tulisan mudah dimengerti oleh masyarakat luas?
Pengertian ini pun tidak benar. Sebuah tulisan akan mudah dimengerti orang banyak, kalau penulisnya terampil menggunakan bahasa Indonesia ragam tulis. Bukan karena penulisnya menggunakan teknik menulis populer. Sebab teknik menulis populer, sebenarnya tidak pernah ada. Tulisan Prof. Mubyarto dari UGM tentang Ekonomi Pertanian misalnya, jelas sangat ilmiah. Namun tulisan tersebut mudah sekali dicerna oleh kalangan awam, karena Mubyarto terampil menggunakan Bahasa Indonesia ragam tulis. Demikian pula halnya dengan tulisan ilmiah Prof. Andi Hakim Nasution dari IPB, Prof. Bambang Hidayat dari ITB dan Prof. Fuad Hasan dari UI. Semua profesor tadi tetap menghasilkan tulisan ilmiah, namun juga tetap mudah dicerna oleh kalangan awam, karena tingkat keterampilan menulis mereka yang tinggi. Bukan karena tulisan tersebut bernama ilmiah populer. Sementara tulisan para wartawan baru (yang baru belajar menulis) di media massa yang cukup ternama pun, seringkali sulit untuk dimengerti oleh pembacanya karena ia belum terampil menulis. Karenanya, pengkategorian bahasa menjadi ilmiah, ilmiah populer dan populer adalah sesuatu yang salah kaprah. Sesuatu yang salah, tetapi dimengerti sebagai kebenaran oleh masyarakat banyak.

Apakah benar bahwa ragam bahasa jurnalistik termasuk non baku (populer)?
Tidak benar. Sebab sebagian besar tulisan di koran terkemuka, menggunakan ragam bahasa baku. Namun tulisan pada rubrik remaja di koran yang sama bisa menggunakan ragam bahasa non baku. Di televisi, ragam bahasanya bisa lebih variatif. Warta berita akan menggunakan ragam bahasa baku (bahasa tulis yang dilisankan = dibaca). Bahasa pada acara sinetron remaja, pasti menggunakan ragam non baku (bahasa gaul).

Apakah ragam bahasa baku lebih baik dan benar dibanding dengan ragam bahasa non baku?
Tidak benar. Bahasa yang baik dan benar adalah yang komunikatif (mudah dipahami). Bahasa menjadi tidak baik dan tidak benar kalau digunakan oleh dan untuk kalangan yang tidak cocok, dalam suasana yang tidak cocok dan untuk membahas materi yang tidak cocok pula. Misalnya, bahasa Indonesia dialek Tegal, Madura atau Batak, baik dan benar kalau digunakan oleh para pelawak, dalam acara lawak untuk lucu-lucuan. Tetapi akan menjadi tidak baik dan tidak benar kalau digunakan oleh guru besar, pejabat pemerintah, hakim dll. dalam acara formal untuk membahas permasalahan yang juga formal. Anak-anak SMU yang berbicara dengan bahasa gaul dengan sesama teman mereka, adalah baik dan benar. Tetapi akan menjadi tidak baik dan tidak benar kalau bahasa tersebut digunakan untuk membuat karya tulis yang merupakan tugas dari sekolah.

Apakah bahasa jurnalistik lebih populer (lebih mudah dipahami) dibanding dengan bahasa dalam karya sastra?
Tidak benar. Bahasa dalam karya sastra yang baik, juga sangat mudah dipahami bahkan sangat enak dibaca. Yang benar, karya jurnalistik ada yang mudah dipahami (enak dibaca) dan ada pula yang sulit dipahami. Karya sastra pun demikian. Tulisan Pramudya, Rendra, Putu Wijaya dan Arswendo, sangat mudah dipahami dan enak dibaca. Sementara ada beberapa sasterawan yang karyanya memang sulit dibaca dan dipahami.

2 Ejaan

Apakah yang dimaksud dengan ejaan?
Ejaan adalah tatacara penulisan huruf, kata, kalimat, tanda baca, berikut pemenggalan dan penggabungannya dalam suatu bahasa.

Mengapa ejaan diperlukan dalam bahasa tulis dan bukan dalam bahasa lisan?
Karena dalam bahasa lisan, proses komunikasi akan terbantu oleh warna suara (garang, lemah-lembut), intonasi (keras, pelan), frekuensi (cepat, lambat); mimik pembicara (sedih, gembira); gerak tubuh dan keseluruhan suasana saat peristiwa bahasa dilangsungkan. Hingga dengan kalimat tidak sempurna pun, komunikasi bisa berlangsung dengan baik dalam ragam bahasa lisan. Misalnya, dua orang sahabat di suatu kantor, pada jam 12.00 bertemu di lorong toilet. Salah seorang mengatakan: Makan. Lalu yang seorang lagi menjawab: Ayo. Komunikasi hanya dengan dua kata itu sudah bisa berlangsung dengan baik, dan dua orang sahabat itu lalu berjalan ke kantin untuk makan siang. Tetapi dalam bahasa tulis, kata makan dan ayo tersebut tidak punya arti apa pun, kecuali sebelumnya diawali dengan narasi tentang: keberadaan dua orang sahabat di suatu kantor, pada saat menjelang jam makan siang, di sebuah lorong dekat toilet. Meskipun sudah diawali dengan narasi demikian, tetap diperlukan penulisan dengan huruf besar/kecil, tanda tanya, tanda seru, titik, koma dll. terhadap kata makan dan ayo, yang kesemuanya diatur dalam penggunaan ejaan.

Apakah Bahasa Indonesia juga punya ejaan?
Bahasa Indonesia yang berasal dari Ragam Bahasa Melayu, pernah punya ejaan Van Ophuijsen, yang dipergunakan sejak Sumpah Pemuda sampai dengan tahun 1947. Peninggalan ejaan Van Ophuijsen yang sampai sekarang masih diingat masyarakat adalah, penulisan u dengan oe. Hingga Sumpah Pemuda ditulis sebagai Soempah Pemoeda. Dari tahun 1947 sampai dengan tahun 1972, Bahasa Indonesia menggunakan Ejaan Soewandi. Dari ejaan Soewandi, yang masih diingat oleh masyarakat adalah penulisan c dengan tj; ny dengan nj dan j dengan dj. Dari tahun 1972 sampai sekarang dipergunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Apakah bahasa jurnalistik mutlak harus patuh pada EYD?
Tidak harus. Hanya bahasa jurnalistik pada media massa yang bersifat formal, untuk menyampaikan fakta, data (berita) dan pendapat (opini) yang bersifat formal pula yang mutlak harus patuh pada EYD. Misalnya koran atau majalah nasional yang dibaca oleh seluruh penduduk Indonesia dan memberitakan atau menulis tentang masalah perekonomian, politik, sosial dan budaya yang bersifat nasional bahkan internasional, mutlak harus patuh pada EYD.

Jenis tulisan dan media massa manakah yang boleh tidak patuh pada EYD?
Tulisan di majalah remaja, tabloid olah raga dll. penerbitan khusus (bulletin/jurnal intern) dll, bisa saja melanggar kaidah EYD, dengan maksud agar lebih menarik dan lebih dipahami oleh target pembacanya. Ragam bahasa remaja malahan cenderung memberontak bukan hanya terhadap ejaan, tetapi juga keseluruhan kaidah Bahasa Indonesia. Penggunaan pesan-pesan singkat (SMS) melalui telepon genggam (HP), juga sangat potensial merusak ejaan dan seluruh kaidah bahasa. Demikian pula dengan bahasa yang digunakan dalam chating melalui internet.

Di manakah kita bisa memperoleh pedoman penulisan sesuai dengan EYD?
Pedoman penulisan dengan kaidah EYD, bisa kita dapatkan dari buku-buku pedoman berbahasa Indonesia yang banyak dijual di toko-toko buku. Bisa pula diperoleh di Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, di jalan Daksinapati, Rawamangun, Jakarta.

3 Kata

Apakah yang dimaksud sebagai kata?
Kata adalah unsur bahasa yang diucapkan, dituliskan atau diperagakan, untuk mewujudkan satu kesatuan pengertian. Unsur dalam kata adalah fonem dan morfem.

Apakah yang disebut sebagai fonem?
Fonem adalah satuan bunyi terkecil, baik konsonan maupun vokal, yang mampu menciptakan perbedaan pengertian suatu kata. Fonem dari huruf konsonan yang berbeda, lebih mudah dipahami daripada fonem dari huruf vokal yang sama. Fonem dari huruf konsonan berbeda misalnya: cari (cé); dari (dé); hari (ha); jari (jé); lari (èl); tari (té). Fonem dari huruf vokal yang sama antara lain: kere (kéré = pengemis) dan kere (keré = tirai); seret (seret = tidak lancar) dan seret (sèrèt = menarik paksa); keset (keset = tidak licin) dan keset (kèsèt = anyaman sabut dll. pembersih sepatu); ter (ter = paling) dan ter (tèr = cat hitam); nek (nek = mual) dan nek (nèk = panggilan untuk nènèk); per (per = tiap) dan per (pèr = pegas) dll. Hingga nama kota Purwokerto (Jateng) dan Probolinggo (Jatim) ditulis dengan fenem o, agar masyarakat tidak dibingungkan dengan nama kota Purwakarta (Jabar) dan Purbalingga (Jateng).

Apakah yang disebut sebagai morfem?
Morfem adalah satuan bentuk bahasa terkecil yang mengandung satu atau beberapa arti yang tidak berubah-ubah. Ada morfem bebas yang memiliki arti sendiri dalam satu kalimat. Misalnya mandi, tidur, sakit, bangku, langit dll. Ada morfem terikat, yakni morfem yang tidak bisa memiliki arti sendiri dalam sebuah kalimat. Misalnya awalan, sisipan, akhiran dan partikel lain (lah, kah, pun); yang baru akan memiliki makna apabila digabung dengan morfem lain.

Ada berapakah jenis kata dalam Bahasa Indonesia?
Selama ini Bahasa Indonesia, sebagaimana bahasa modern lain di dunia, mengenal 10 jenis kata, yakni 1 kata benda (nomina); 2 kata kerja (verba); 3 kata sifat (adjektiva); 4 kata ganti (pronomina); 5 kata keterangan (adverbia); 6 kata bilangan (numeralia); 7 kata sambung (konjungsi); 8 kata sandang (artikel); 9 kata seru (interjeksi); 10 kata depan (preposisi). Dalam perkembangan terakhir, kesepuluh jenis kata itu dikelompokkan lagi hingga menjadi lima kelompok. I Verba (Kata Kerja = lahir, makan, tidur, mandi, pergi, nonton, menyanyi); II Adjektiva (Kata Sifat = baik, pandai, benar, luhur); III Adverbia (Kata Keterangan = sekarang, tadi, nanti, besuk, dulu, jauh, dekat, luas); IV Kelompok Kata Benda: 1 Nomina (kata benda / kata nama = tanah, air, pohon, rumah, Jakarta, Indonesia, Sastro), 2 Pronomina (Kata Ganti = saya, aku, kamu, dia, nya, mu, mereka, Anda, kami, kita), 3 Numeralia (Kata Bilangan = satu, dua, tiga, sedikit, banyak); V Kelompok Kata Tugas: 1 Preposisi (Kata Depan = di, ke, dari, pada, sejak, tentang, oleh, bagi), 2 Konjungtor (Kata Sambung = dan, agar, tetapi, karena, sehingga, kalau, atau, walaupun, meskipun), 3 Interjeksi (Kata Seru = astaga, wah, huh, hem, aduh), 4 Artikel (Kata Sandang = para, si, sang), 5 Partikel (lah, kah, pun).

Apakah yang disebut sebagai makna kata?
Makna kata adalah pengertian yang diciptakan oleh satuan bentuk bahasa. Ada bermacam-macam makna kata. Makna gramatikal (makna berdasarkan hubungan antara satu kata dengan kata lain, dengan frasa atau klausa); makna leksikal (makna kata sebagai lambang benda, peristiwa dll); makna lokusi; makna luas; makna kontekstual; makna konotasi; makna kognitif; makna intensi; makna khusus; makna emotif (efektif); makna ekstensi; makna detonatif dll.

Apakah yang dimaksud sebagai frasa (frase)?
Frasa adalah kelompok kata yang satu sama lain memiliki keterikatan, namun tidak berpredikat hingga belum membentuk kalimat. Misalnya: Negara Kesatuan Rebublik Indonesia; krisis multi dimensi; nilai tukar mata uang asing; mata pelajaran sejarah; kampanye pemilu legislatif dll. Frasa tersebut baru akan membentuk kalimat apabila diberi klausa (kelompok kata berpredikat). Misalnya: Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia; terjadi krisis multi dimensi; berpedoman pada nilai tukar mata uang asing; mengikuti mata pelajaran sejarah; menagih janji kampanye pemilu legislatif dll.

Apakah semua kelompok lalimat secara otomastis akan membentuk frasa?
Tidak selalu. Gabungan kelompok kata bisa saja tidak memiliki makna karena tidak adanya keterikatan. Misalnya: negara dimensi tukar sejarah; kesatuan krisis nilai mata dll. Selain itu, gabungan kata juga bisa membentuk idiom, yang maknanya berubah dari makna masing-masing kata yang bergabung. Misalnya mata gelap = pikirannya kalut; tanah air = negara; kaki lima = trotoar; banting tulang = bekerja keras.

Apakah yang disebut sebagai diksi?
Diksi atau pilihan kata adalah teknik untuk mempergunakan kata yang paling tepat untuk memperoleh efek tertentu dalam tulisan. Dalam jurnalisme olahraga misalnya, diksi banyak sekali dipakai. Misalnya: Ujung tombak kesebelasan Inggris itu telah menjebol gawang Jerman. Sebagai ganti penyerang, digunakan idiom ujung tombak. Masuknya bola ke gawang Jerman dilukiskan dengan menjebol. Diksi menjadi lebih penting lagi dalam memilih kata ganti orang kedua: engkau, kamu, kalian, situ, Anda, sampeyan, énté, you, jeng, mbak, kak, bang dll. Menyapa atasan dengan kamu pasti dianggap tidak sopan. Sebaliknya, kalau seorang sahabat karib tiba-tiba memanggil situ atau Anda, berarti sedang ada masalah hingga terkesan ada jarak.
Untuk memilih kata yang sangat tepat, diperlukan banyak pengetahuan tentang warna dan nuansa kata/bahasa. Kata cantik, ayu, manis, keren, kécé, bening, sehat, ménor, sexy, sensual, full cream, semlohoi, mengandung warna dan nuansa bahasa yang sangat berlainan. Cantik, ayu, manis, keren masih tergolong sopan dan netral. Kécé, bening, sahat, ménor sudah mulai slank. Sexy, sensual, kembali netral. Full cream, semlohoi, kembali slank. Rumah, gubuk, pondok, griya, graha, gedung, istana, memiliki makna serupa. Namun, peryataan: “Ya inilah Pak, gubuk saya!” mengandung makna merendah. Warung, depot makan, kios nasi, rumah makan, restoran, kafe, coffee shop, memiliki arti yang kurang lebih sama. Namun tampak ada strata yang menunjukkan kelas tempat menjual makanan dan minuman tersebut.

4 Kalimat

Apakah yang disebut sebagai kalimat?
Kalimat adalah satuan unsur bahasa, yang terdiri dari minimal dua kata sebagai subyek dan predikat. Misalnya: Ayam mati. Ayam = subyek (S) dan mati = predikat (P). Meskipun ada beberapa kata digabungkan, kalau belum ada subyek dan predikat, belum bisa disebut kalimat. Bisa hanya merupakan frasa, bisa pula bukan frasa bukan pula kalimat. Misalnya: Pukul duabelas tengah malam. Meskipun ada empat kata, namun empat kata tersebut baru menunjukkan keterangan waktu (Ket). Belum ada subyek, belum ada predikat. Ketika ditambah dengan udara sangat dingin, maka terbentuklah kalimat: Pukul duabelas tengah malam (Ket.), udara (S), sangat dingin (P).

Apakah kalimat hanya memerlukan kata-kata sebagai subyek dan predikat?
Kalimat juga memerlukan obyek (O), pelengkap (Pel) dan keterangan (Ket). Tukang kebun (S) menyiram (P) tanaman (O) dengan air sungai (Pel) pada musim kemarau (Ket). Kalimat ini lengkap dengan pola S – P – O – Pel – Ket. Pola lain adalah S – P – O – Pel (Tukang kebun menyiram tanaman dengan air sungai = tanpa keterangan); S – P – O – Ket (Tukang kebun menyiram tanaman pada musim kemarau = tanpa pelengkap); S – P – Ket (Tukang kebun menyiram pada musim kemarau = tanpa obyek, tanpa pelengkap); S – P – Pel (Tukang kebun menyiram dengan air sungai = tanpa obyek, tanpa keterangan); S – P – O (Tukang kebun menyiram tanaman = tanpa pelengkap, tanpa keterangan); S – P (Tukang kebun menyiram = tanpa obyek, tanpa pelengkap, tanpa keterangan).

Apakah dalam semua kalimat subyek harus selalu ditulis di depan predikat?
Tidak harus. Kalimat yang subyeknya di depat seperti contoh tadi, merupakan kalimat aktif (subyeknya melakukan pekerjaan). Namun bisa saja predikatnya ditulis di depan, baru kemudian subyeknya. Misalnya: Pada musim kemarau (Ket) disiramnya (P) tanaman itu (S) dengan air sungai (O) oleh tukang kebun (Pel). Kalimat demikian disebut sebagai kalimat pasif. Sebab subyeknya (tanaman) tidak melakukan pekerjaan.

Apakah yang disebut sebagai kalimat tunggal dan kalimat majemuk?
Kalimat tunggal hanya terdiri dari satu subyek dan satu predikat. Orang-orang (S) sedang (Ket) berangkat bekerja (P). Kalimat majemuk punya lebih dari satu subyek dan satu predikat. Orang-orang (S) sedang (Ket) berangkat bekerja (P), ketika tiba-tiba (Ket) hujan badai (S) merobohkan (P) pohon-pohon dan bangunan (O) di seluruh kota (Pel). Ini merupakan kalimat majemuk bertingkat. Kalimat majemuk setara adalah: Orang-orang (P) mulai (Ket) berangkat bekerja (P) lalu bus-bus itu (S) datang menjemput (P) mereka (O).

Apa sajakah fungsi kalimat?
Kalimat bisa berfungsi sebagai penyampai berita (kalimat berita): Presiden baru (S) telah terpilih (P) oleh rakyat (O) dengan suara mutlak (Pel) bulan ini (Ket). Bisa pula sebagai penyampai pernyataan (kalimat deklaratif: Bulan ini (Ket) rakyat (S) telah memilih (P) saya (O) sebagai presiden (Pel) dengan suara mutlak (Ket). Sebagai penyampai pertanyaan (kalimat tanya): Bulan ini (Ket) siapa (S) akan terpilih sebagai presiden (P) oleh rakyat (O) dengan suara mutlak (Pel)? Sebagai penyampai perintah (kalimat perintah): Pilihlah (P) saya (S) sebagai presiden (O) dengan suara mutlak (Pel) bulan ini (Ket).

Apakah benar hanya kalimat dalam bahasa jurnalistik yang harus singkat, padat dan mudah dimengerti?
Semua ragam bahasa serius (jurnalistik; ilmiah (perguruan tinggi, lembaga penelitian); hukum; perdagangan; sastra dll. harus singkat, padat dan mudah dimengerti. Namun di lain pihak, pemadatan dan penyingkatan tersebut tidak boleh mengorbankan segi kelengkapan dan keakuratan informasi yang akan disampaikan. Hingga tidak benar anggapan bahwa hanya bahasa jurnalistiklah yang harus singkat, padat dan mudah dimengerti, sementara bahasa ilmiah, hukum dan sastra boleh bertele-tele dan sulit dimengerti.

Bagaimanakah kalau kalimat terlalu panjang, kurang lengkap, salah pemilihan kata, salah penyusunan logikanya dll?
Seorang penulis harus membaca ulang seluruh hasil karya yang baru saja deselesaikannya, sambil memperbaiki kesalahan dan melengkapi bagian-bagian yang masih kurang lengkap. Di perusahaan penerbitan media massa, tugas memperbaiki dan melengkapi tulisan ini ada pada redaktur, editor dan korektor.

5 Paragraf (Alinea)

Apakah yang dimaksud sebagai paragraf atau alinea dalam sebuah tulisan?
Paragraf atau alinea adalah kepala kalimat, yang didukung oleh beberapa kalimat lain hingga membentuk satu pengertian (pokok pikiran) yang utuh. Misalnya:
Baru setelah 59 tahun merdeka, rakyat Indonesia bisa memilih presiden secara langsung. Pada tahun 1945, Ir. Soekarno, terpilih secara aklamasi oleh para anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), sebagai presiden pertama RI. Letjen. Soeharto, diangkat sebagai pejabat presiden oleh MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara), pada tahun 1967. Selanjutnya sebanyak enam kali, Soeharto dipilih menjadi presiden oleh MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat). Ketika Soeharto “lengser”, Wakil Presiden (Wapres) B.J. Habibie, dilantik menjadi Presiden RI ketiga. MPR hasil Pemilu 1999, memilih K.H. Abdurachman Wahid (Gus Dur) sebagai presiden RI keempat melalui voting. Tahun 2001 Gus Dur dilengserkan oleh Sidang Istimewa (SI) MPR. dan Wapres Megawati menjadi presiden RI kelima. Setelah UUD 1945 diamandemen, baru tahun 2004 ini rakyat bisa memilih presiden mereka secara langsung.

Apakah yang disebut sebagai kepala kalimat?
Kepala kalimat adalah kalimat yang mengandung pengertian (pokok pikiran) utama (paling penting), namun masih memerlukan dukungan pengertian dari kalimat-kalimat selanjutnya. Kepala kalimat disebut pula kalimat utama atau kalimat pokok. Pada contoh di atas, Setelah hampir 60 tahun merdeka, baru kali ini rakyat Indonesia berkesempatan untuk memilih presiden secara langsung, merupakan kepala kalimat. Kalimat-kalimat selanjutnya berisi informasi yang mendukung pokok pikiran dalam kepala kalimat. Kalimat terakhir merupakan peneguhan pengertian yang terkandung dalam kepala kalimat. Hingga alinea ini bersifat deduktif – induktif.

Apakah kepala kalimat harus diletakkan paling depan sebelum kalimat-kalimat pendukungnya?
Letak kepala kalimat, tidak harus di depan (menjadi awal alinea). Kalau kepala kalimat diletakkan paling depan, maka alinea tersebut akan bersifat deduktif. Artinya diawali dengan pernyataan umum, baru disusul dengan rincian penjelasan yang sifatnya khusus. Kalau kepala kalimat ditaruh di belakang, maka alinea tersebut akan bersifat induktif. Uraian penjelasan khusus ditampilkan terlebih dahulu, baru kemudian diakhiri dengan pernyataan yang sifatnya umum. Namun bisa pula dalam satu alinea, masing-masing kalimat saling mendukung sama kuatnya hingga sulit menentukan mana yang paling penting dan menjadi kepala kalimat. Alinea demikian biasanya bersifat naratif atau deskriptif. Misalnya:
Tahun 1945, bangsa Indonesia memproklamirkan diri dan lepas dari penjajahan. Pada waktu itulah Ir. Soekarno terpilih sebagai presiden RI pertama. Setelah Konstituante hasil Pemilu 1955 gagal membentuk konstitusi, tahun 1959 Soekarno mengeluarkan Dekrit untuk kembali ke UUD 1945. Sejak itulah kekuasaan Soekarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi menjadi tanpa batas. Tahun 1965 terjadi pergolakan politik yang populer dengan sebutan G. 30 S. Kekuasaan Ir. Soekarno pelan-pelan menyusut. Pada tahun 1967, MPRS mengadakan Sidang Istimewa, yang mencabut kekuasaan Ir. Soekarno dan mengangkat Letjen. Soeharto sebagai Penjabat Presiden RI. Selama 32 tahun Soeharto dengan Orde Baru dan Golkarnya berkuasa di negeri ini. Sampai pada tahun 1997, kembali krisis ekonomi melanda. Krisis ekonomi ini berkembang menjadi krisis politik yang menyebabkan jatuhnya pemerintahan Soeharto. Berturut-turut kita punya presiden B.J. Habibie, Gus Dur dan Megawati hanya dalam kurun waktu dari 1998 sd. 2004. Dan baru dalam Pemilu tahun 2004, rakyat Indonesia punya lima calon presiden, serta bisa memilihnya secara langsung.

Bolehkan dalam satu paragraf masing-masing kalimatnya memiliki pengertian sendiri-sendiri?
Tidak boleh. Sebab paragraf tersebut tidak akan menjadi satu kesatuan yang utuh, yang hanya memuat satu pokok pikiran (pengertian). Meskipun sebagai bacaan, paragraf tersebut tetap enak untuk dibaca. Misalnya:
Baru setelah 59 tahun merdeka, rakyat Indonesia bisa memilih presiden secara langsung. Ir. Soekarno, presiden pertama RI, termasuk pribadi yang terkenal sebagai playboy. Tercatat istri resminya berjumlah belasan. Jenderal Besar Soeharto, meskipun hanya berpendidikan formal SMP, namun mampu berkuasa sampai 32 tahun lamanya. B.J. Habibie, Presiden RI ketiga, hanya sempat berkuasa sekitar 1,5 tahun dan sempat membuat Timor Timur lepas dari pangkuan RI. Hasil Pemilu 1999, sebenarnya dimenangkan oleh PDIP, partainya Megawati. Namun MPR justru memilih K.H. Abdurachman Wahid (Gus Dur) sebagai presiden RI keempat melalui voting. Ternyata Gus Dur juga sulit untuk mempertahankan kursinya, karena penglihatannya yang bermasalah dan banyak jalan-jalan keluar negeri. Tahun 2004 rakyat Indonesia bisa beruntung karena sekaligus punya lima Capres/Cawapres, Termasuk Megawati yang sejak tahun 2001 menjadi presiden RI kelima menggantikan Gusdur.

Berapakah idealnya jumlah kalimat dalam satu alinea?
Idealnya, dalam satu alinea hanya termuat lima sampai dengan 10 kalimat. Baik kalimat majemuk maupun kalimat tunggal. Jumlah karakter dalam satu alinea antara 500 sampai dengan 1.000 karakter (with spaces). Pengetikan dengan Ms. Word, Times New Roman 12 point, dalam satu paragraf idealnya terdiri dari 7 sampai 12 baris. Lebih panjang dari 10 kalimat, 1.000 karakter, 12 baris, orang akan capek membacanya.

Bagaimanakah hubungan antara satu alinea dengan alinea yang lain?
Sama dengan kepala kalimat yang memerlukan dukungan dari kalimat-kalimat selanjutnya, maka alinea pun ada yang disebut sebagai kepala alinea (lead, kepala berita). Kepala alinea ini mengandung pokok pikiran utama, yang memerlukan dukungan dari alinea-alinea selanjutnya. Misalnya, alinea contoh di atas (tentang rakyat memilih presiden langsung), dianggap sebagai kepala alinea. Maka alinea selanjutnya wajib mendukung pokok pengertian tersebut dengan: Satu alinea menceritakan sudah berapa presiden yang dipilih rakyat AS dari tahun 1945 sd. 2004 ini? Alinea berikutnya, menyorot lima Capres/Cawapres, prediksi perolehan suara, bagaimana mereka berkampanye dll. Dalam dunia jurnalistik, kepala alinea, yang selalu berada paling depan, disebut sebagai lead. Fungsi lead adalah membuat pembaca bisa “terseret” masuk ke dalam seluruh tulisan tersebut tanpa bisa berhenti. Karenanya, lead menjadi faktor yang sangat penting dalam dunia jurnalistik.

Disebut apakah alinea-alinea berikutnya setelah alinea yang berfungsi sebagai lead?
Alinea selanjutnya disebut sebagai body. Sifat alinea dalam body ini bisa deduktif, induktif, deduktif – induktif, naratif atau diskriptif, sangat tergantung dari bentuk tulisannya. Dalam artikel, sifat deduktif – induktif dan argumentatif pada alinea, lebih lazim digunakan. Sementara dalam feature, sifat naratif dan deskriptif pada alinea lebih cocok untuk digunakan. Selain itu, kita juga masih bisa memanfaatkan sifat-sifat lain dalam alinea. Misalnya argumentatif, persuasif, ekspositoris, definitif, klasifikatif, provokatif dll. Alinea paling akhir, biasanya bersifat ending yang salah satu kalimatnya mengulang pokok pikiran yang disampaikan dalam lead.

6 Bentuk Penyampaian

Apakah yang dimaksud dengan bentuk penyampaian dalam bahasa jurnalistik?
Bentuk penyampaian dalam bahasa jurnalistik, sebenarnya sama saja dengan karya sastra, karya ilmiah, laporan kesehatan pasien, tuntutan hukum untuk terdakwa dll. Secara garis besar bentuk penyampaian bahasa tulis adalah: naratif, deskriptif, ekspositoris, argumentatif, persuasif, konfrontatif, agitatif dll.

Bagaimanakah menyampaikan gagasan tertulis dalam bentuk naratif?
Naratif adalah bentuk bercerita biasa. Dalam sebuah cerita diperlukan adanya plot atau alur cerita, tokoh (subyek), kronologi (waktu) dan latar (seting = ruang). Meskipun pelukisan subyek dan latar pasti menggunakan metode penulisan deskriptif, namun dalam bangun naratif yang paling diutamakan adalah alur cerita. Contohnya:
Pagi itu pukul 07.00, Mas Yono masih santai di rumahnya di bilangan Cimanggis, Kota Depok. Biasanya pada jam-jam ini dia sudah pulang dari pasar Cisalak sambil memanggul karung berisi daging kambing. Sehari-hari Mas Yono berjualan sate, gule dan tongseng kambing di jalan Mekarsari Raya. Tetapi hari ini dia bisa santai. Meskipun itu juga berarti dia tidak akan memperoleh penghasilan selama sehari. Tetapi apa boleh buat. Hari ini, Senin 5 Juli 2004 adalah hari Pemilu Presiden. Untuk pertamakalinya Mas Yono akan bisa memilih presidennya secara langsung, tidak diwakili oleh para anggota MPR. Maka tidak seperti biasanya, kali ini dia mengenakan celana panjang hitam, sepatu dan baju batik. Istrinya pun juga mengenakan rok terusan dengan motif kembang-kembang. Pukul 7.30, Mas Yono dan istrinya berangkat ke TPS untuk menentukan pilihannya. Meskipun dia sudah punya pilihan mantap, namun tidak pernah nama Capres pilihannya ini diceritakan ke orang lain. Bahkan istrinya sendiri pun sama sekali tidak tahu, siapa yang pagi ini akan ditusuk oleh Mas Yono. Dst.
Bentuk narasi demikian, cocok untuk digunakan dalam penulisan feature dan reportase. Tidak cocok untuk menulis artikel atau berita (news). Meskipun dalam satu tulisan, tidak pernah seorang penulis hanya menggunakan satu metode. Biasanya narasi, deskripsi, argumentasi, persuasi dll. semua dimanfaatkan hingga feature atau artikel yang ditulis menjadi menarik.

Bagaimanakah bentuk tulisan deskriptif dalam dunia jurnalistik?
Tulisan berbentuk deskriptif memberi gambaran detil secara faktual terhadap obyek, peristiwa, suasana dan latar dari materi yang ditulis. Penulisan deskriptif memerlukan kerja pengamatan lapang yang sangat cermat dengan pencatatan secara detil. Tujuan penulisan deskriptif adalah, agar pembaca bisa benar-benar berimajinasi tentang keseluruhan materi yang ditulis. Contoh tulisan deskriptif.
Tanah lapang di tengah-tengah komplek perumahan Mekarsari itu dikelilingi oleh jajaran pohon palem raja yang menjulang setinggi 15 m. Di bawah batang-batang palem raja yang membengkak bagian pangkalnya itu, bermekaran bunga-bunga helikonia warna-warni. Mulai dari kuning, merah dan pink. Luas tanah lapang sekitar 5.000 m² dan diapit oleh jalan raya di keempat sisinya. Di atas hamparan rumput hijau itulah bilik-bilik TPS dibangun. Kerangkanya dari kaso dengan atap dan dinding triplek yang dicat putih. Mungkin penggunaan cat putih ini disengaja, sebab penggunaan warna-warna lain, misalnya merah, kuning, hijau dan biru, dikhawatirkan akan dianggap “kampanye” dari salah satu parpol peserta Pemilu 2004. Di depan bilik-bilik itu ada deretan meja panitia, patok dan tali-tali yang direntangkan sebagai alur pemilih yang akan antre. Sebuah tenda parasut dibentangkan dengan sebuat tiang panjang dan tali-temalinya. Di bawah tenda darurat itulah Mas Yono dan tetangga-tetangganya satu RW duduk tertib menunggu giliran untuk dipanggil petugas.
Deskripsi dalam tulisan jurnalistik, tidak boleh imanjinatif (berdasarkan khayalan), hingga tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Gambaran deskriptif hasil imajinasi, hanya dibenarkan dalam tulisan fiksi (puisi, cerpen, novel, naskah drama, skenario film/sinetron dll). Dalam feature, reportase atau news, gambaran deskriptif latar, suasana tokoh, dan peristiwanya, mutlak harus sesuai dengan kondisi faktual di lapangan.

Bagaimanakah bentuk-bentuk penyampaian lain dalam tulisan jurnalistik?
Bentuk ekspositoris (dari eksposisi = memamerkan, memaparkan), banyak dimanfaatkan dalam menulis artikel atau opini. Ekspositoris memang paling tepat untuk menyampaikan gagasan atau konsep pemikiran. Bentuk ekspositoris kurang cocok untuk menulis feature, reportase dan news. Kecuali interpreted/interpretative news. Bentuk argumentatif biasanya banyak dimanfaatkan untuk memperkuat dan mempertahankan sebuah konsep atau pendapat. Biasanya bentuk ini juga dimanfaatkan dalam artikel, opini atau esai. Argumentasi yang disampaikan, harus tetap berdasarkan pada data dan fakta riil di lapangan. Baik dara primer maupun data sekunder. Bentuk persuasif (ajakan, bujukan), biasanya banyak dimanfaatkan oleh para penulis copy iklan dalam dunia advertising. Namun bentuk persuasif juga bisa digunakan oleh para penulis artikel, opini, esai dan interpreted dan interpretative news. Tujuannya terutama untuk menindaklanjuti argumentasi yang telah disampaikan.
Bentuk penyampaian agitatif dan konfrontatif, biasanya banyak dimanfaatkan oleh koran-koran atau tabloid yang mengandalkan gosip politik, selebritis dan para publik figur lainnya. Bentuk tulisan demikian biasanya akan banyak bermunculan pada saat menjelang Pemilu (saat kampanye) atau ketika ada pergolakan politik. Sebab meskipun media massa seharusnya bersifat netral, namun dalam praktek sangat sulit bagi individu dan institusi tersebut untuk tidak memihak. Ketika AS menyerbu Afganistan dan kemudian Irak, stasiun tivi CNN jelas sangat memihak kepentingan pemerntah AS. Hingga pada saat itu tayangan tivi Al Jazera menjadi alternatif yang cukup menarik. Sebenarnya masih banyak bentuk-bentuk penyampaian dalam tulisan jurnalistik. Sebab selain bahasa selalu berkembang, ilmu jurnalistik pun juga ikut pula berkembang sesuai dengan perkembangan pembacanya.

Apakah dalam satu alinea atau tulisan, hanya boleh digunakan satu bentuk penyampaian?
Tidak benar. Sebab dalam satu alinea, kita bisa mengkombinasikan bentuk narasi (menceritakan suatu peristiwa/fakta) dengan satu dua kalimat. Disusul dengan satu dua kalimat ekspositoris (pemaparan gagasan), dilanjutkan dengan kalimat argumentatif, lalu ditutup menggunakan kalimat persuasif, agitatif atau konfrontatif. Misalnya:
Kemarin (hari…..tanggal……); KPU telah menetapkan lima pasangan Capres dan Cawapres. Mereka adalah (nama-nama………). Seperti sudah diduga banyak pihak, Gus Dur tergusur sebagai Capres untuk Pemilu Presiden 5 Juli nanti. (kalimat naratif). Kita tahu bahwa UUD kita yang telah diamandemen, sama sekali tidak menyebutkan bahwa seseorang yang penglihatannya terganggu tidak boleh mencalonkan dirinya menjadi presiden. Itulah yang mencadi acuan Gus Dur, untuk terus memperjuangkan hak-haknya sebagai warga negara. Ini semua dilakukan bukan karena ambisi pribadi, melainkan demi tegaknya demokrasi. Dst. (kalimat ekspositoris). Namun KPU bukan tanpa pertimbangan dalam menggugurkan Gus Dur sebagai Capres dari PKB. Dst. (uraian argumentatif). Karenanya, KPU juga akan tetap berpegang pada UU yang ada, dan mengajak semua pihak untuk tetap berpikiran jernih demi tegaknya demokrasi. (kalimat persuasif). Namun KPU tidak akan gentar menghadapi tuntutan atau intimidasi dari pihak manapun. Bahkan anggota KPU (nama……….), mengatakan tidak takut terhadap berbagai ancaman dalam bentuk apa pun. (konfrontatif). Dalam pertemuannya dengan pers hari ini, anggota KPU (nama………..) bahkan dengan berapi-api menyerukan kepada masyarakat, agar tidak takut pada teror atau ancaman dari pihak mana pun (agitatif).
Kalimat-kalimat dalam alinea tersebut memiliki bentuk penyampaian yang berlainan, sesuai dengan efektifitas yang hendak dicapai. Dalam satu tulisan pun, alinea-alinea yang ada juga bebas untuk mengambil bentuk penyampaian sesuai dengan fungsi alinea tersebut. apakah sebagai lead, body (misalnya 12 alinea dalam tiga sub judul) atau dalam ending. Tidak pernah ada pedoman baku, bagaimanakah komposisi bentuk-bentuk penyampaian itu akan disusun untuk mencapai efek tertentu dalam sebuah tulisan. Sebab semua sangat tergantung dari keterampilan si penulis sendiri. Hanya dengan banyak latihanlah seorang penulis akan memahami, bentuk penyampaian mana yang paling tepat digunakan dalam satu kalimat atau alinea, agar informasi yang ingin disampaikan ke pembaca bisa sampai dengan selamat dan lancar.

* * *

IX MENGENAL FOTOGRAFI DAN CARA MEMOTRET

1 Jenis Foto

Apakah yang disebut sebagai foto?
Foto merupakan sinonim dari potret. Arti harafiahnya adalah gambar yang dibuat dengan kamera dan peralatan fotografi lainnya. Selain arti harafiahnya, foto dan potret juga sering digunakan sebagai kiasan. Misalnya: “Foto/potret masa silam itu sering muncul kembali dalam benaknya”. Dalam hal ini foto/potret berarti bayangan, gambaran atau kenangan.

Apakah ada jenis foto yang tidak dibuat dengan kamera foto?
Ada, yakni fotocopy teks atau gambar yang dibuat dengan mesin fotocopy.

Mengapa foto harus dibedakan menjadi banyak kategori?
Maksud pembuatan banyak katagori tersebut, untuk memudahkan pembuatan dan pemanfaatannya, sesuai dengan standar kualitas bagi masing-masing keperluan.

Kategori foto apa sajakah yang selama ini kita kenal?
Ada banyak sekali. Misalnya foto keluarga, foto dokumentasi, foto resmi, foto salon, foto seni, foto kriminal, foto porno, foto kedokteran (foto sinar X/rontgen), foto infra merah, foto bawah laut, foto satelit, foto udara, foto mikro, foto jurnalistik dll.

Selain sesuai dengan jenisnya, ada lagikah pengkategorian foto?
Ada, yakni sesuai dengan ukurannya, misalnya pas foto, foto seluruh badan, foto KTP, Paspor, foto postcard dll. Ada pula pembedaan sesuai dengan jenis kameranya. Misalnya foto konvensional (dengan film) dan foto digital.

2 Foto Jurnalistik

Apakah yang disebut sebagai foto jurnalistik?
Yang disebut sebagai foto jurnalistik adalah, foto yang dibuat oleh fotografer (juru foto) atau jurnalis (wartawan) untuk kebutuhan penerbitan pers.

Apakah foto jurnalistik harus dibuat oleh seorang jurnalis profesional?
Tidak harus. Kadang-kadang foto jurnalistik juga dibuat oleh orang biasa yang kebetulan hadir di tempat peristiwa dan sedang membawa kamera foto.

Apakah foto jurnalistik masih bisa dibedakan lagi menjadi beberapa kategori?
Benar. Misalnya pengkategorian sesuai jenis obyeknya. Misalnya foto perang, foto olahraga, foto fasion, foto alam dan lingkungan dll. Ada pula pengkategorian sesuai dengan bentuk jurnalismenya misalnya foto news (berita), foto reportase, foto features dll

Apakah foto jurnalistik hanya dibuat untuk melengkapi tulisan (berita, features dll)?
Tidak. Foto jurnalistik bisa berdiri sendiri sebagai news foto, features foto, reporting foto dll.

Mengapa foto jurnalistik bisa berdiri sendiri dan bukan sebagai pelengkap teks?
Sebab gambar foto bisa berbicara lebih banyak dibanding teks berita. Selain itu, foto juga bisa menunjukkan keautentikan suatu peristiwa/fakta. Hingga ada pepatah yang mengatakan bahwa satu foto bisa lebih berbicara dari seribu kata-kata. Contohnya foto penyiksaan tawanan perang Irak oleh tentara AS.

3 Perangkat Fotografi

Apakah yang disebut sebagai perangkat fotografi?
Perangkat fotografi adalah kamera, film atau perekam digital, perangkat prosesing serta pencetak gambar. Perangkat fotografi pertama yang menggunakan lempeng kaca dan bubuk perak bromida peka cahaya, ditemukan oleh warga Perancis bernama Joseph N. Niépce pada tahun 1907.

Apakah yang disebut sebagai kamera?
Kamera adalah alat untuk merekam gambar dengan pita seluloid, elektrik maupun digital, yang terdiri dari lensa serta ruang perekam gambar dengan segala perangkatnya. Ada kamera yang 100% mekanik, 100% elektrik atau gabungannya. Ada yang automatic ada yang manual atau gabungannya. Ada kamera pocket, ada yang single lens reflex (SLR) dengan lensa yang bisa diganti-ganti. Istilah kamera sendiri berasal dari kata Camera Obscura yang berarti kamar gelap. Prinsip dasar kamera sudah dikenal oleh Aristoteles (Yunani, abad III SM), Ibnu al Haitam (Arab, abad XI), Leonardo da Vinci (Romawi, abad XV/XVI) dan Girolamo Gardano (Romawi, abad XVI). Kamera SLR terdiri dari body dan lensa. Merk kamera antara lain Nikon, Canon, Pentax, Yasica, Leica, Mamiya, Haselblad dll.

Apakah yang disebut sebagai lensa kamera?
Lensa kamera adalah perangkat untuk menangkap gambar secara normal (lensa normal 52 mm), jarak jauh (tele di atas 70 mm), sudut lebar (wide angle, di bawah 35 mm), dan jarak sangat dekat (lensa mikro). Lensa yang merupakan gabungan wide angle, normal dan tele dalam satu lensa disebut zoom. Lensa juga dilengkapi dengan rana/diafragma (lubang bidik) yang bisa membesar/mengecil dan dibuka dengan berbagai tingkat kecepatan. Lensa kamera umumnya dilengkapi berbagai filter untuk berbagai keperluan.

Apakah yang disebut sebagai ruang perekam gambar?
Ruang perekam adalah bagian kamera yang kedap sinar untuk menempatkan film atau perekam digital. Ruang ini bisa membuka dan menutup sesuai kecepatan rana untuk memasukkan gambar/sinar. Ruang perekam kamera konvensional, dilengkapi dengan penggulung film secara manual maupun otomatik/elektrik.

Apakah yang disebut sebagai perangkat prosesing dan pencetak gambar?
Dalam fotografi konvensional, perangkat prosesing terdiri dari tabung developer (pencuci film) dan enlarger (pencetak film). Baik yang manual dengan cairan pengembang yang dicampur sendiri maupun yang sudah builtup dan diatur komputer. Dalam fotografi digital, prosesing gambar dilakukan dengan program komputer, sementara pencetakan gambarnya menggunakan printer.

4 Film

Apakah yang disebut film dalam fotografi?
Film adalah pita seluloid berlapis perak bromida peka cahaya untuk merekam gambar secara positif maupun negatif.

Apakah yang disebut sebagai tingkat kepekaan film?
Tingkat kepekaan film adalah kekuatan lapisan perak bromida dalam menangkap cahaya. Tingkat kepekaan film menggunakan ukuran Asa, mulai dari Asa 32, 50, 64, 100, 200, 400, 800, 1.600 dst. Asa rendah kepekaan cahayanya rendah namun kehalusan emulsinya tinggi. Asa tinggi kepekaan cahayanya tinggi namun emulsinya kasar. Film yang paling banyak diproduksi adalah Asa 200, 100 dan 400. Merk film antara lain Fuji, Kodak dan Agfa.

Bagaimanakah dengan ukuran film?
Ukuran lebar film mulai dari 20 mm, 35 mm, 60 mm, 90 mm, 120 mm, sampai ke 140 mm. Film ukuran 20 mm biasa digunakan dalam kamera pocket. Kamera biasa umumnya menggunakan film 35 mm. Film ukuran di atas 60 mm. umumnya digunakan oleh fotografer profesional.

Apakah yang disebut film positif/negatif dalam fotografi?
Film positif lazim disebut sebagai film slide. Gambar dalam film sudah merupakan gambar biasa hingga tidak perlu dicetak menjadi gambar di kertas foto. Slide digunakan untuk presentasi dengan slide projector atau dimanfaatkan kalangan cetak mencetak, karena kualitas gambarnya lebih baik dari film negatif. Film negatif adalah film dengan hasil gambar terbalik. Bagian terang menjadi gelap dan bagian gelap menjadi terang. Film negatif digunakan untuk mencetak gambar di kertas foto.

Ada lagikah pengkategorian jenis film?
Ada, yakni film daylight untuk memotret dalam cahaya matahari dan film tungsten untuk memotret dengan cahaya lampu panggung. Ada juga film yang menggunakan sinar infra merah untuk memotret pada malam hari tanpa cahaya buatan.

5 Pencahayaan

Apakah yang dimaksud dengan pencahayaan dalam fotografi?
Pencahayaan adalah proses memasukkan sinar yang berasal (dipantulkan) dari obyek untuk direkam dalam bentuk gambar dalam film atau perangkat digital. Alat pengukur cahaya dalam fotografi disebut lightmeter. Ada lightmeter yang builtup dalam kamera, ada pula yang merupakan bagian tersendiri di luar kamera. Dalam kamera manual, lightmeter builtup baru akan menunjukkan sinar yang cukup apabila gabungan antara angka bukaan rana dan tingkat kecepatan bukaannya tepat. Angka inilah yang harus disetel. Pada kamera otomatis, bukaan rana dan kecepatan akan mengatur sendiri. Gambar dengan cahaya kurang disebut under (gelap) dan gambar dengan cahaya berlebih menjadi over (sangat terang).

Ada berapa macamkah sumber cahaya dalam fotografi?
Dalam fotografi dikenal dua macam cahaya, yakni cahaya matahari (daylight) dan cahaya buatan. Cahaya matahari bisa diperoleh obyek secara langsung maupun setelah melalui saringan (screen) awan, tajuk pohon maupun kain screen yang sengaja dipasang di atas obyek. Bisa juga cahaya matahari dipantulkan ke obyek oleh obyek lain (misalnya awan, bangunan, tajuk pohon, bukit dll), atau sengaja dipantulkan dengan bantuan reflektor.

Apakah yang disebut sebagai cahaya asli dalam fotografi?
Cahaya asli dalam fotografi adalah, cahaya yang langsung berasal dari obyek itu sendiri. Misalnya cahaya lampu, api unggun, api kebakaran, kembang api, ledakan bom, lava gunung api, petir, binatang (misalnya kunang-kunang) dan bintang. Yang disebut bintang sebenarnya gabungan antara bintang asli dan planet yang seperti halnya bulan, sebenarnya hanya memantulkan cahaya matahari.

Ada berapa macamkah sumber cahaya buatan dalam fotografi?
Sumber cahaya buatan bisa bersifat alamiah. Misalnya lampu panggung, lampu jalanan, lampu penerangan ruangan atau taman, api unggun dll. Cahaya buatan bisa pula berupa lampu kamera (blitz) baik yang builtup dalam kamera maupun yang bisa dipasang dan dilepas. Dalam studio foto profesional, digunakan lampu fotografi dengan sinar daylight berkekuatan tinggi yang diperkuat reflektor. Bayangan yang terlalu kuat dari lampu blitz atau lampu fotografi bisa diatasi dengan menggunakan lebih dari satu lampu, memantulkannya atau memberinya screen.

Apakah manfaat cahaya buatan?
Cahaya buatan berguna untuk memotret obyek tidak bercahaya, pada waktu cahaya matahari tidak ada. Selain itu sinar buatan juga berguna untuk menghilangkan bayangan obyek pada pemotretan di bawah terik matahari atau untuk memotret dengan latar belakang sinar yang lebih kuat dari cahaya yang dipantulkan oleh obyek. Cahaya buatan di belakang obyek berguna untuk menampakkan rambut obyek berwarna hitam dengan latar belakang yang juga hitam.

6 Fokus

Apakah yang dimaksud fokus dalam fotografi?
Yang dimaksud fokus dalam fotografi adalah tingkat ketajaman obyek yang akan direkam dalam film atau perangkat digital.

Bagaimanakah tingkat ketajaman gambar itu bisa diperoleh?
Tingkat ketajaman gambar bisa diperoleh berkat bantuan alat fokus dalam lensa kamera. Alat pemfokus ini ada yang bersifat manual maupun otomatis (autofokus). Dalam jendela bidik, obyek yang sudah fokus digambarkan dengan hilangnya bintik-bintik atau kekaburan dalam bulatan di tengah frame. Ada pula yang digambarkan dengan menyatunya patahan gambar yang sebelumnya dipisahkan oleh garis silang vertikal atau horisontal.

Bagaimanakah kalau kamera sudah dijepretkan sebelum obyek terfokus?
Gambar yang diperoleh akan menjadi kabur sebagian atau seluruhnya. Namun kaburnya gambar tidak hanya disebabkan oleh out of fokus. Bisa saja kaburnya gambar disebabkan oleh kamera yang goyang (bergerak) saat tombol ditekan.

Mengapa ada foto yang sering kabur latar belakangnya sementara obyek utamanya sangat tajam?
Foto demikian diperoleh melalui bukaan diafragma besar (angka kecil) yang diimbangi dengan kecepatan tinggi. Misalnya bukaan 4,5 dengan kecepatan 500 pada film dengan Asa 200 dan cahaya normal. Teknik demikian digunakan untuk memperkuat citra (menonjokan) obyek. Kadang-kadang pengkaburan sebagian foto justru diciptakan dengan bukaan diafragma kecil (angkanya besar) dan kecepatan rendah. Musalnya untuk memotret penari balet. Hasilnya, wajah dan tubuh penari tampak fokus, namun tangan dan kakinya kabur. Tujuan teknik demikian untuk menciptakan citra gerakan.

Bagaimanakah dengan foto mobil balap yang tampak tajam namun latar belakangnya kabur dan tampak bergaris-garis horisontal?
Foto demikian diperoleh dengan teknik kecepatan rendah, namun kamera digerakkan mengikuti kecepatan gerak obyek tersebut. Akibatnya latar belakangnya menjadi garis kabur tetapi mobilnya sendiri tampak tajam. Tujuan teknik demikian juga bertujuan untuk menampilkan citra gerak.

7 Komposisi Foto

Apakah yang dimaksud sebagai komposisi dalam fotografi?
Komposisi adalah pengaturan letak/kondisi obyek utama dengan obyek pendukung, latar depan dengan latar belakang, bagian yang gelap dengan bagian yang terang dan bagian yang kabur dengan bagian yang tajam serta berbagai warna obyek yang akan ditangkap oleh kamera.

Bagaimanakah cara mengatur komposisi obyek yang akan difoto?
Dalam pemotretan di studio atau kerumunan orang dalam sebuah acara, obyek bisa dengan mudah diatur oleh pengarah gaya atau panitia. Dalam pertandingan olahraga, kehidupan binatang liar, perang, huruhara, kecelakaan, bencana alam atau peristiwa lainnya, fotograferlah yang harus mengatur letak dirinya hingga bisa memperoleh sudut pengambilan gambar dengan komposisi yang menarik, namun tetap aman bagi diri sendiri maupun peralatan fotografinya.

Bagaimanakah konkritnya komposisi gambar diwujudkan dalam sebuah frame?
Obyek utama (kalau ada) harus cukup jelas bahkan menonjol dalam frame. Letaknya harus berada di bagian tengah frame, bukan di pinggir atau pojokan. Obyek harus tampak utuh. Potret manusia atau binatang satu badan penuh, tidak boleh terpotong kepala atau kakinya. Ruang di hadapan obyek utama, harus lebih lapang dibanding ruang di belakangnya.

Bagaimanakah dengan komposisi latar depan dan latar belakang obyek?
Latar belakang dan latar depan obyek bisa menguatkan atau melemahkan foto. Obyek pasangan remaja berpacaran di pantai, akan makin kuat kalau ada latar belakang silhuet tiang/tali-tali perahu, cakrawala, awan, burung/kelelawar terbang dan sunset; serta latar depannya sepeda motor atau batang pohon dengan dahan-dahannya. Namun akan menjadi lemah kalau di latar belakangnya ada beberapa orang berselancar/berenang sementara di latar depannya tampak bagian tubuh orang yang lalulalang.

Bagaimanakah dengan komposisi gelap terang dan kabur tajam?
Foto yang baik tidak hanya bersifat datar (seluruhnya terang dan tajam), melainkan ada bagian yang gelap dan ada pula bagian yang terang. Ada bagian yang agak kabur, sepenuhnya kabur, namun ada yang sangat tajam. Ini bisa diperoleh dengan pengaturan pencahayaan di studio, namun di alam bebas harus dengan sabar menunggu moment tepat.

8 Karakter Foto

Apakah yang dimaksud sebagai karakter foto?
Karakter foto adalah sifat khas atau unik dari obyek yang direkam gambarnya. Secara umum karakter itu bisa menunjukkan gerak (dinamis), ritme (keteraturan), hening (kontemplatif), gembira, muram, sensual, religius, brutal, lemahlembut, kesederhanaan, kemewahan dll.

Bagaimanakah sebuah foto disebut sebagai kuat karakternya?
Sebuah foto disebut kuat karakternya kalau sudut pengambilan dan momennya tepat, pencahayaannya baik dan ketajamannya juga tinggi. Namun karakter obyek baru bisa benar-benar tampil dalam kondisi optimal kalau fotografer benar-benar mengetahui ciri khas atau keunikan obyek yang difotonya.

Apakah karakter foto hanya ditentukan oleh kondisi obyek?
Tidak. Sebab karakter foto juga ikut ditentukan oleh peralatan fotografi yang digunakan, baik kamera maupun alat prosesing serta pencetaknya. Selain itu, karakter foto juga sangat ditentukan oleh karakter fotografernya.

Untuk apakah karakter foto diutamakan dalam fotografi?
Karakter foto diutamakan dalam fotografi profesional, termasuk dalam foto jurnalistik, karena bisa membawa pembaca koran, tabloid atau majalah dengan cepat memahami karakter peristiwa yang sedang diberitakan. Dalam memotret model iklan, karakter foto diuatamakan untuk kepentingan promosi.

Bagaimanakan caranya membuat sebuah foto dengan karakter yang kuat?
Pertama-tama harus dipilih obyek dengan karakter yang juga kuat. Obyek dengan karakter yang kuat itu harus didukung oleh pencahayaan dan komposisi yang juga kuat. Peralatan yang dipergunakan juga harus mendukung. Misalnya untuk menampilkan awan dan langit biru, mutlak harus menggunakan filter polarizing. Kemudian, yang bisa menghasilkan foto dengan karakter kuat juga seorang fotografer dengan karakter kuat pula, didukung oleh pengalaman dan tingkat kesabaran atau kecepatan tinggi.

9 Menghasilkan Foto Jurnalistik yang Baik

Bagaimanakah caranya menghasilkan foto jurnalistik yang baik?
Foto jurnalistik yang baik hanya bisa dilahirkan oleh kombinasi seorang fotografer yang baik dan seorang jurnalis yang juga baik.

Dalam foto jurnalistik, manakah yang lebih penting, segi fotografinya atau jurnalistiknya?
Dalam jurnalisme alam dan lingkungan, segi fotografinya lebih diutamakan. Namun dalam jurnalisme olahraga, perang, kriminalitas dan event lain yang tak terulang, segi jurnalistiknya lebih diutamakan.

Bagaimanakah caranya seseorang bisa menjadi fotografer jurnalistik yang baik?
Profesi ini bisa dicapai melalui belajar menjadi fotografer terlebih dahulu, baru kemudian menjadi jurnalis. Namun bisa pula dengan menjadi jurnalis terlebih dahulu baru kemudian belajar fotografi. Bagi mereka yang kemampuannya di atas rata-rata, bisa belajar dua hal ini sekaligus.

Di manakah kita bisa belajar foto jurnalistik?
Secara formal, fotografi diajarkan pula di jurusan publisistik FISIP, terutama dalam mata kuliah jurnalistik. Secara non formal para wartawan foto belajar sendiri melalui buku, kursus fotografi dan dari fotografer yang lebih senior. Namun pengalaman merekalah yang membuat seorang fotografer menjadi hebat.

Berapakah modal untuk menjadi wartawan foto yang handal?
Peralatan fotografi lengkap berupa body kamera, macam-macam lensa, filter, lampu blitz, tripod, reflector, tas kamera dll. yang bersifat standar untuk kerja jurnalistik, nilainya antara Rp 50.000.000,- sd. Rp 100.000.000,- Belum lagi biaya film dan cuci cetaknya. Namun untuk belajar memotret, kita bisa mulai dengan kamera SLR (film/digital) seharga Rp 5.000.000,- Untuk bisa benar-benar belajar, sebaiknya menggunakan kamera manual dan mekanik. Bukan yang otomatis dan elektrik.

* * *

About these ads

Responses

  1. Makasih mencerahkan

  2. serasa dalam gelap ketemu lilin..
    makasih….

  3. foto = Cahaya
    Grafi = melukis

    Fotografi = melukis dengan cahaya
    pake kuasnya apa ya kira2????

  4. emang ‘melukis’ harus selalu pake kuas?

    Goethe pernah melukis menggunakan lidahnya.
    Affandi pernah melukis menggunakan jari tangannya dan menyembur cat dengan mulutnya.

    Fotografi melukis cahaya menggunakan tangan, mata, otak, dan hati kita. Kita adalah subjek yang mengendalikan kamera

  5. sangat membantu terutama untuk para pemula (seperti saya ini..). Muchas gracias senior

  6. Welcome To Alliandra Teresia Casanova Room’s…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: