Posted by: bachtiar hakim | March 16, 2008

SEJARAH PERKEMBANGAN MEDIA MASSA CETAK (KORAN)


tugas kuliah “junalisme kontemporer” gw ni…

PERKEMBANGAN MEDIA MASSA CETAK (KORAN)

Ide surat kabar sendiri sudah setua zaman Romawi kuno dimana setiap harinya, kejadian sehari-hari diterbitkan dalam bentuk gulungan yang disebut dengan “Acra Diurna”, yang terjemahan bebesnya adalah “Kegiatan hari”. Kemudian Setelah Gutenberg menemukan mesin cetak di abad kelimabelas, maka buku-buku pun mulai diterbitkan di Perancis dan Inggris, begitu pula halnya dengan surat kabar.
Surat kabar pertama kali dibuat di Amerika Serikat, dengan nama “Public Occurrenses Both Foreign and Domestick” di tahun 1690. Surat kabar tersebut diusahakan oleh Benjamin Harris, seorang berkebangsaan Inggris. Akan tetapi baru saja terbit sekali, sudah dibredel. Bukan karena beritanya menentang pemerintah, tetapi Cuma gara-gara dia tidak mempunyai izin terbit. Pihak kerajaan Inggris membuat peraturan bahwa usaha penerbitan harus mempunyai izin terbit, di mana hal ini didukung oleh pemerintah kolonial dan para pejabat agama. Mereka takut mesin-mesin cetak tersebut akan menyebarkan berita-berita yang dapat menggeser kekuasaan mereka kecuali bila usaha itu dikontrol ketat.
Kemudian surat kabar mulai bermunculan setelah negara Amerika Serikat berdiri. Saat itu, surat kabar itupun tidak sama seperti surat kabar yang kita miliki sekarang. Saat itu surat kabar dikelola dalam abad kegelapan dalam jurnalisme. Sebab surat kabar telah jatuh ke tangan partai politik yang saling bertentangan. Tidak ada usaha sedikitpun untuk membuat berita secara objektif., kecuali untuk menjatuhkan terhadap satu sama lainnya. Washington dan Jefferson dituduh sebagai penjahat terbesar oleh koran-koran dari lawan partainya.
Apapun situasinya, rakyat hanya menginginkan Amandemen dalam konstitusi yang akan menjamin hak koran-koran ini untuk mengungkapkan kebohongan yang terburuk sekalipun tanpa takut dibrendel oleh pemerintah. Presiden John Adams membreidel koran ”The New Republik”. Akibatnya partai Federal pecah dan sebaliknya menguatkan posisi Jefferson. Aksi breidel-membreidel ini sampai membuat keheranan seorang menteri bangsa Prusia yang berkunjung ke Kantor Jefferson. Secara kebetulan, ia membaca koran dari partai Federalis yang isinya meyerang Jefferson habis-habisan.
Kritik-kritik keras tidak hanya menyerang Washington, Jefferson, John Adams ataupun James Medison, pokoknya semua kena. Dan selama koran tetap dikuasai oleh para anggota partai politik saja, maka tidak banyak yang bisa diharapkan.
Kemudian kecerahan tampaknya mulai menjelang dunia persurat kabaran. James Gordon Bennet, seorang berkebangsaan Skotlandia melakukan revolusinisasi terhadap bisnis surat kabar pada 1835. Setelah bekerja di beberapa surat kabar dari Boston sampai Savannah akhirnya dia pun mendirikan surat kabar sendiri. Namanya ”New York Herald” dengan modal pinjaman sebesar 500 dollar. Percetakannya dikerjakan di ruang bawah tanah di Wall Street dengan mesin cetak yang sudah tuam dan semua pekerjaan reportase dilakukannya sendiri.
”The Herald” dan Bennet memperlihatkan kepada Amerika dan dunia tentang bagaimana cara mendapatkan berita. Tidak lama kemudian Bennet pun berhasil meraih kesuksesan dan membangun kantor beritanya sama seperti kantor-kantor perusahaan surat kabar yang banyak kita jumpai sekarang. Dia juga sudah menempatkan koresponden-korespondennya di luar negeri di mana beritanya dikirim dengan usaha paket milik Bennet sendiri, dari pelabuhan New York ke kantornya di kota. Dia juga yang pertama-tama mendirikan biro di Washington, dan memanfaatkan jasa telegraf yang baru saja ditemukan.
Sejak itulah berita sudah mulai dipilah-pilahkan menurut tingkat kepentingannya, tapi tidak berdasarkan kepentingan politik. Bennet menempatkan politik di halaman editorial. Isi korannya yang meliputi soal bisnis, pengadilan, dan kehidupan sosial masyarakat New York memang tidak bisa dijamin keobyektifatnya, tetapi setidaknya sudah jauh berubah lebih baik dibandingkan koran-koran sebelumnya.
Enam tahun setelah ”Herald” beredar, saingannya mulai muncul. Horace Greely mengeluarkan koran “The New York Tribune”. Tribune pun dibaca di seluruh Amerika. Pembacanya yang dominan adalah petani, yang tidak peduli apakah mereka baru sempat membaca korannya setelah berminggu-minggu kemudian. Bagi orang awam, koran ini dianggap membawa perbaikan bagi negara yang saat itu kurang terkontrol dan penuh bisnis yang tidak teratur.
Koran besar yang ketiga pun muncul di New York di tahun 1851, ketika Henry J. Raymond mendirikan koran dengan nama “The New York Times”, atas bantuan mitra usahanya, George Jones. Raymond-lah yang mempunyai gagasan untuk menerbitkan koran yang non partisan kepada pemerintah maupun perusahaan bisnis. Beruntung, saat itu Presiden Lincoln tidak pernah melakukan pembreidelan terhadap koran-koran yang menyerangnya.
Setelah serentetan perang saudara di Amerika usai, bisnis persuratkabaran pun berkembang luar biasa. Koran-koran pun mulai muncul di bagian negara-negara selain New York dan Chicago. Di selatan, Henry W. Grady dengan koran “Konstitusi Atlanta”. Lalu, muncul koran “Daily News” dan “Kansas City Star” yang mempunyai konsep pelayanan masyarakat sebagai fungsi dari sebuah sebuah surat koran. Bahkan pemilik Star, Rockhill Nelson bersumpah untuk mengangkat kota Kansas dari “kubangan lumpur” dan berhasil. Di barat, Jurnalisme Flamboyan diwakili oleh “Denver Post” dan koran-koran San Fransisco.
Di New York, surat kabar dianggap sebuah bisnis yang bakal menjanjikan. Charles Dana membeli surat kabar ”Sun” dan menyempurnakannya. Editornya, John Bogart punya cerita sendiri tentang berita. Menurutnya ”kalau anjing menggigit manusai, itu bukan berita. Tapi kalau manusia menggigit anjing, itu baru namanya berita”.
James Gordon Bennet Junior (anak Bennet) dan Joseph Pulitzer merupakan rival-rival utama Dana. Bennet Jr. Memperlihatkan cara membuat berita yang baik. Prestasinya yang paling terkenal adalah ketika dia mengirimkan Henry Stanley, seorang wartawan London, untuk mencari David Livingstone, seorang misionaris yang hilang di hutan.
Sedangkan Pulitzer mempunyai koran yang bernama ”New York World” dan terkenal sejak jaman perang saudara sampai akhir abad itu. Pulitzer melakukan taktik yang lebih baik dibanding para pendahulunya. Editorialnya yang bersifat perjuangan ke arah perbaikan dan liberal, liputan beritanya yang serba menarik, dan taktik diversifikasinya mengundang decak kagum seperti yang pernah dilakukan oleh Herald. Pulitzer adalah yang pertama kali menerbitkan koran mingguan, di mana isinya ditulis oleh para penulis terbaik yang pernah ada.
Pada tahun 1892 supremasi Pulitzer ditantang oleh William Randolp Hearst lewat koran ”World”. Dalam hal inovasi dan keberanian, ”World”-nya Hearst lebih dari ”World”-nya Pulitzer. Bukan itu saja, koran Hearst isi beritanya jauh lebih flamboyan daripada koran Pulitzer. Hearst banyak mempekerjakan orang-orang terbaiknya Pulitzer. Dia mempekerjakan Richard Outcault, kartunis Pulitzer dan mendorongnya untuk menciptakan sebuah featuer bernama ”The Yellow Kid”, yang menandai lahirnya cergam komik di Amerika.
Pada masa perang antara Amerika dan Spanyol, kedua koran ini berteriak paling keras mendukung Amerika Serikat untuk terjun perang, memimpin suara rakyat dengan padan suara jurnalisme dalam skala nasional, dan memojokkan ke dalam konflik yang tidak terhindarkan. Selanjutnya di perang Amerika-Kuba, keduanya mengalihkan kompetisinya dalam usaha meliput perang.
Setelah Pulitzer meninggal, ”New York World” malah menjadi yang terbesar di dunia. Orang menyebut Pulitzer sebagai ”wartawannya surat kabar”. Sebaliknya, Hearst bersama koran-koran lainnya terpukul keras ketika depresi besar terjadi. Tetapi usaha majalahnya yang paling terkemuka, yakni ”Good Housekeeping” dan ”cosmopolitan” tetap terus berkembang pesat.
Dalam perkembangannya, surat kabar berangkat sebagai alat propaganda politik, lalu menjadi perusahaan perorangan yang disertai keterkenalan dan kebesaran nama penerbitnya, dan sekarang menjadi bisnis yang tidak segemerlap dulu lagi, bahkan dengan nama penerbit yang semakin tidak dikenal.
Perubahan ini memberikan dampak baru. Ketika iklan mulai menggantikan sirkulasi (penjualan langsung) sebagai sumber dana utama bagi sebuah surat kabar, maka minat para penerbit jadi lebih identik dengan minat para masyarakat bisnis. Ambisi persaingan untuk mendapatkan berita paling aeal tidaklah sebesar ketika peloporan. Walaupun begitu, perang sirkulasi masih terjadi pada tahun 1920-an, tetapi tujuan jangka panjang mereka adalah untuk mencapai perkembnagn penghasilan dari sektor iklan. Sebagai badan usaha, yang semakin banyak ditangani oleh para pengusaha, maka surat kabar semakin kehilangna pamornya seperti yang dimilikinya pada abad ke-19.
Namun, surat kabar kini mendapatkan sesuatu yang lain yang lebih penting. Surat kabar yang mapan kini tidak lagi diperalat sebagai senjata perang politik yang saling menjatuhkan ataupun bisnis yang individualis, melainkan menjadi media berita yang semakin obyektif, yang lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pihak-pihak tertentu saja.
Kenaikan koran-koran ukuran tabloid di tahun 1920-an yang dimulai oleh ”The New York Daily News”, memberikan suatu dimensi baru terhadap jurnalisme. Akhirnya memang menjadi kegembiraan besar bagi kehidupan surat kabar, terutama dalam meliput berita-berita keras. Perubahan lain yang layak mendapat perhatian adalah timbulnya sindikasi. Berkat adanya sindikat-sindikat, maka koran-koran kecil bisa memanjakan p[embacanya dengan materi editorial, informasi, dan hiburan. Sebab kalau tidak, koran-koran kecil itu tentu tidak dapat mengusahakan materi-materi tersebut, lantaran biaya untuk itu tidaklah sedikit. Sindikat adalah perusahaan yang berhubungan dengan pers yang memperjualbelikan bahan berita, tulisan atau bahan-bahan lainuntuk digunakan dalam penerbitan pers.
Tahun 1950, industri televisi mulai mengancam dominasi media cetak. Namun, sampai sekarang, koran masih bertahan. Kenyataan menunjukkan bahwa koran telah menjadi bagian dari kehidupan manusia pada umumnya. Dengan karakter khususnya ia mampu membedakan dirinya dari media lainnya seperti televisi dan radio.

About these ads

Responses

  1. thank you

  2. salam kenal

  3. Mas, aku mo bikin tabloid dengan konsentrasi pada spiritual, gaya hidup dan informasi. Target market wanita 25 – 50 tahun SES A, B (Muslimah pasar populer) mhn bantu masukannya dong?! Thank’s before from asefsay88@yahoo.com

  4. salam kenal mas..
    bolehkah bahannya aku copy untuk bahan tugas kuliah juga niih..hehe

    makasiih..

  5. halo, salam kenal sebelumnya..
    nama saya aditya sofyan, mahasiswa smester 8 Swiss German University jurusan Business administration.. saya sedang melakukan skripsi ttg dampak dari advertising thd pengembangan brand awareness di salah satu tabloid..
    nah saya mau nanya2 nih mas.. kira2 ada ngga yah artikel2 ttg perkembangan sejarah media khususnya tabloid di Indonesia.. karena saya membutuhkan data2 artikel seperti itu..
    mohon bantuannya kalau sekiranya Mas Bachtiar Hakim punya artikel2 tersebut..

    thnks in advance..

    salam AdityaSofyan

  6. misi boz…. numpang baca2 ya..

    mo bikin tugas sejarah media massa ne

    thx

  7. lam kenal mas
    saya lagi butuh banget bahan yang mas buat untuk tugas kuliah saya, boleh g mas kalau saya kopi tulisan yang mas buat?

  8. salam kenal kang…

    bahannya komplit nih…hehe

    o yah kang punya lay-out surat kabar berdasarkan perkembangannya gak ??

    hehe..

    nuhun

  9. thankz bwt tulisan’x hopefully help my task.. :)

  10. wew, setelah gw waktu itu googling g dapet sejarah koran, skr ada…thanx ya…tugas RBM gw nih, kelas gw pada ngulang bareng 07…ahahahaha….

  11. nge, emang sama kayak blog exoro di blogspot ya?

  12. maaf, mengoreksi komen saya di atas…maksudnya, blog lo dan exoro isinya sama?heheheh gitu, sumbernya sama kali ya…yaudah deh, tapi si exoro nyebutin sumber dari blog lo…thanx anyway…

  13. salam kenal . .

    thx yaa . . ngebantu bgt buat tugas hihi

    anak jurnalistik juga yaa . .

  14. mbah copy tulisannya yah buat kuliah RBM-nya pak ipit
    cihuy
    hatur tengkyu

  15. Monggo silakan dicopy.. Tpi Klo bwt tgs kul.. Please,jgn dpake mntah2 y.. Anggep ja tulisan ni salah1 sumber altrntif. Soalny tulisan ni cm hsil rangkuman sy dr buku ‘karier jurnalistik’ n ‘nalar jurnalistik’. Pasti d msh bnyk buku laen yg lebih concern ngbhs sjrh koran. klo ada situs laen yg mau nge-link tulisan ni,monggo.. Asal ttp nyntumin alamat blog gw. Tengkyu

  16. ikut copy tulisannya yah..
    sama buat tugas rbm pa ipit,,
    ga akan mentah2 ko’…heu..
    makasih…
    jasamu abadi lah,,
    hehe…

  17. ikutan!!!!!!
    sama, saia juga buat tugas RBM huwww…..
    entah lah saia harus bilang apa tapi…
    terimakasih….

  18. bah nuhun pisan

    _teman sekelompok kombangsos_
    =)

  19. mbah!!!

    gw numpang ngambil wat tugas RMB ya!!!

  20. mbah!!

    kita mo cikuray minggu purnama besok…

    sekitar tanggal 17 gitu…

  21. Makasi yah buat bantuannya…
    Ga akan dicopy mentah2 d,,
    makasi..

  22. maksih iaa bahannya, iaa gag akan dcopy mentah”. . . .

    Matur Suwun. . . .

  23. [...] – http://bachtiarhakim.wordpress.com/2008/03/16/sejarah-perkembangan-media-massa-cetak-koran/ [...]

  24. sorryy bosss….
    Bahannya Q copy copz Q lagi buntu nee jadi nyontek deh…!!!
    huahahahaha……

  25. permisi….mo ngopi artikel….

  26. makasih ya mas atas infonya…

    Oh ya, tulisannya aku copy boleh kan?

    buat bacaan kali aja aku lupa… :D

  27. thankkzzz kakanda

    q dah liat karya x kakanda and itu cocok dgn tugas pacar aq

    jadi thank you very much

  28. salam kenal mz..
    minta ijin ngopy wa nambah bahan jurnalistik ya..
    thx…

  29. matur nuwun untuk tambahan informasi dan pengetahuan. Mohon izin ngopi tulisan, untuk bahan bacaan, sekaligus untuk menjawab pertanyaan, jika ada yang tanya.

  30. terimakasih buat ilmunya

  31. ThANk’s banget ya atas tuisannya
    lam kenal
    & sukses ya

  32. makasih

  33. sedikit banyak atikel ini bikin aQ pny tambahan inspirasi pas lagi ngetik skripsi..hehehe
    Q lg ngejar deadline wisuda tahun ini.. mohon doanya.. :D

    mhsw ilmu komunikasi-univ sebelas maret solo

  34. mas minta bahannya untuk tugas ya.
    anak UNPAD ya?

  35. cara pendirian sebuah koran atau media masa gimana sich, bantu dong, makasi ya

  36. @ all : terima kasih
    @ arsa : kalau ingin tau caranya, silakan hubungi saya saja di
    085624111142

  37. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Salam Kenal,
    kartini87.worpress.com

    Numpang download ya.
    Soalnya Kartini lagi ada tugas bikin makalah tentang SEJARAH BUKU, MAJALAH, DAN SURAT KABAR.

    Kalo ada file tentang itu tolong kirim ya ke: kaka_imoet@ymail.com

    Karna makalah ini dipresentasikan rabu depan, 3 Juni 2009 jam 9.

    Makasih…..

  38. bagaimana nasib media cetak 20 tahun kedepan?
    sementara global warming sudah hampir mencairkan lautan… 1. kertas tidak bisa lagi digunakan u tuk kepreluan cetak.2. Pohon-pohon tidak lagi boleh ditebangi.3. Minat baca orang indonesia semakin berkurang.4. dan memlin intrnet untuk informasinya.

  39. [...] http://bachtiarhakim.wordpress.com/2008/03/16/sejarah-perkembangan-media-massa-cetak-koran/ [...]

  40. w pinjm ni tulisannya,,,,,
    buat tugas RBM
    makasih ni kang bachtiar hehe
    activis Untirta Banten

  41. kLo perkembangan media cetak di Indonesia gimana??
    thx

  42. makasih ya tulisan nya…
    salam knl :uChy

  43. salam kenal

  44. makasih infonya

  45. salam bwat para penemu media masa yang udah berjasa bwat qta semua…….nd jangan lupa tingkatkan kualitas media di indonesia zzzzzzz….

  46. salam kenal,
    mohon izin, naskah ini akan saya jadikan salah satu bahan referensi dalam pembelajaran mahasiswa di kampus tempat mengajar di makassar. trims dan sukses selalu.

    salam
    moh yahya mustafa

    • silahkan… manfaatkan sebaik-baiknya dan dengan bertanggung jawab….

    • silakan dimanfaatkan untuk pendidikan… kalau ada yang kurang berkenan, mohon dikoreksi… salam :)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: