Posted by: bachtiar hakim | June 29, 2008

Gunung Lawu (3265 mdpl) : Kedai di Atas Awan


LAWU

Solo, 21 Juni 2008

Bagi saya, keberangkatan ke Gunung Lawu terbilang agak mendadak. Awalnya saya pergi dari Jatinangor dengan niat berlibur ke Malang. Agenda utamanya tentu menemui orangtua saya yang bekerja di sana. Kebetulan saja, beberapa jam sebelum perjalanan menuju Malang, saya diberitahu seorang teman bahwa beberapa anak Jurnalistik Unpad angkatan 06 akan mengadakan pendakian ke Gunung Lawu.

Setelah saya mengadakan kontak beberapa kali dengan Zaki, akhirnya kita sepakat untuk bertemu di Solo pada hari Sabtu (21/06). Karena dadakan, saya pun hanya membawa carier 30 liter beserta peralatan pendakian yang jumlahnya terbilang minimalis. Seingat saya hanya sarung tangan, senter, matras, dan peluit kesayangan yang dimasukkan ke dalam tas.

Dengan bawaan yang minimalis itu, saya berharap dalam perjalanan nanti kekurangan dapat ditutupi. Mau tidak mau perbekalan harus dibeli meskipun sebenarnya saya tidak terlalu khawatir bila tidak membawa kompor dan peralatan masak lainnya. Pasalnya, menurut cerita teman saya, Lawu termasuk Gunung yang unik. Unik karena ada warung atau kedai sebelum puncaknya.

Bukannya bermaksud takabur bila tas saya tsb terasa ringan dibawa ke Malang. Apalagi saya tidak perlu berdesak-desakan di atas kereta ekonomi, seperti biasanya bila ke Malang. Beruntung, mobil ibu saya akan melintas di Cirebon sehingga saya cukup menempuh perjalanan naik Bus Samidjaya sampai daerah Kanci, Cirebon saja.

Setelah tiga hari berlibur ke Malang, saya merencanakan liburan seminggu di Solo dan Jogja. Mendaki Lawu tentunya tujuan utama selain ingin ke Kaliurang karena penasaran ingin bertemu mbah Maridjan. Sejauh ini saya tidak mengalami kesulitan dalam akomodasi. Kota Solo memang dikenal sebagai daerah perlintasan dari Jawa Timur menuju kota-kota di Selatan Jawa Tengah.

Saya pun cukup naik bus Eka dari Surabaya untuk menempuh perjalanan sekitar tujuh Jam. Ongkos perjalanan lumayan murah utntuk Bus AC berkursi 2-2. Cukup enam puluh ribu dan itupun sudah termasuk makan sekali di sebuah restoran di Ngawi.

Sesampainya di Solo, Anggi teman saya di Jogja sudah menunggu di Terminal Tirtonadi. Dengan mobil Xenianya, saya bukannya diajak jalan-jalan keliling Solo tapi malah dibawa ke rumah saudaranya di daerah Sukoharjo. Senang juga sih disuguhi makanan dan tempat istirahat yang cozy abis. Namun,. entah kenapa saya baru sadar bahwa saya terlambat ketika diantar kembali ke Terminal Tirtonadi. Jam hampir menunjukkan pukul setengah delapan malam Menurut penjaga pos terminal, bus terakhir yang berangkat ke Tawangmangu hanya sampai pukul empat sore Mendengarnya, saya pun jadi sedikit bingung.

19.30

Otak ini makin ruwet saja saat calo-calo dan supir mulai mengerumuni saya. Bayangkan! Saat menelepon Zaki di wartel saja, tatapan mata para calo itu dari balik kaca masih tetap tertuju pada saya. Saya melihat Anggi pun diajak ngobrol oleh mereka. Barulah ketika saya selesai menelepon, calo-calo itu pergi. Rupanya ada mangsa baru di depan bus yang baru saja berhenti.

Suasana menjadi agak tenang, Anggi menawarkan saya untuk menginap di kostan temannya di Solo. Walaupun saya tidak enak untuk bertanya kepadanya, dari gerak nonverbalnya dia kelihatan takut untuk mengantar saya ke daerah Tawangmangu karena menurut cerita calo, jaraknya jauh (sekitar 50 km) dan medannya sepi nan berkelok-kelok. Mungkin karena saya awam mengenai Tawangmangu dan pengaruh calo yang memberi informasi, Anggi jadi bersikap seperti itu, Dan benar saja dia langsung merangkul dan bilang bahwa ia takut pulang sendiri.

Dengan prospek perjalanan yang semakin tidak jelas, saya masih berpikir berulangkali untuk menunda perjalanan ini. Akhirnya saya memanggil salah satu calo yang tampangnya paling beda. Pokoknya jauh dari sangar seprti kebanyakan rekan kerjanya. Ia pun menawarkan jasa antar dengan biaya seratus ribu rupiah. “Gila!” kata saya. Sebagai perbandingan, perjalanan normal ke Tawangmangu menggunakan bus saja hanya membayar delapan ribu rupiah.

“tiga puluh ribu mas?” tawar saya.

Mendengar penawaran saya, dia langsung meeggelengkan kepala dan pergi. Sepertinya tawaran itu terlalu murah baginya. Saya pun beralih mencari supir taksi. Namun, harapan itu langsung sirna ketika supir taksi “menembak” dengan tarif seratus delapan puluh ribu. Bagi saya, menggunakan jasa taksi sama saja menguras seluruh uang di kantong.

Dasar calo. Sepulangnya dari pool taksi, calo yang tampangnya alim tersebut menghampiri saya dengan maksud menurunkan tarif. Sekarang dia menawarkan dua kali lipat dari tawaran saya. Namun angka enam puluh ribu masih terlalu mahal. Setelah mengobrol dan berkenalan, akhirnya kami sepakat pada tarif lima puluh ribu rupiah. Dia pula yang akan membawa langsung motor yang telah disewanya terlebih dahulu dari orang lain. Kan namanya juga calo, motornya aja minjem sana-sini dulu

Namun, khawatir juga untuk meninggalkan teman saya seorang diri. Apalagi dia memaksa akan pulang ke Jogja. Barulah, saya agak tenang setelah dia berubah pikiran untuk menunda perjalanan pulangnya dan menginap ke temannya di Solo. Untungnya nasib dia tidak seperti lirik lagu Terminal Tirtonadi. Jare lungo sedelo, ora tampo kirim warto”. Saya berjanji masih akan main-main ke tempatnya sepulangnya dari Lawu nanti. Pastinya akan banyak cerita dari perjalanan ke Lawu.

Solo – Tawangmangu – Cemoro Sewu

20.00

Hawa dingin mulai menusuk pada pukul setengah sembilan selepas kota Solo memasuki Kabupaten Karanganyar. Apalagi Mas Kris, calo yang tiba-tiba berubah jadi tukang ojek karena tuntutan ekonomi dari istri dan anaknya yang baru berusia delapan bulan itu makin membuat saya kedinginan saja.. Motor yang dikendarainya selalu melaju di atas kecepatan enam puluh. Sepertinya ia berusaha menepati janjinya untuk mengantar dengan waktu tempuh tidak lebih dari satu jam Sialnya, saya tidak menggunakan jaket karena malas membongkar ulang carier lagi. Terpaksalah saya pasrah dihujani embun.

Di kanan kiri jalan yang lenggang, keramaian masih terlihat. Banyak juga penginapan dan kedai-kedai yang masih buka. Jalan dari Solo menuju Tawangmangu memang jalur kawasan wisata.. Beruntung, Mas Kris enak diajak ngobrol soal tempat-tempat wisata di Solo. Saya baru percaya ucapannya ketika melewati persimpangan Giribangun. Suasana berubah menjadi sepi. Kanan kiri jalan hanyalah terhampar sawah dan kebun. Jalannya pun mulai menanjak dan berkelok kelok.

Saya tidak tahu mengapa jalan utama di Tawangmangu dinamakan Jalan Lawu. Pastinya, saya ingat Mas Kris mengajak saya untuk singgah sejenak di Patung Semar yang terletak di salah sisi Jalan Lawu. Awalnya, saya agak curiga.

“Jangan-jangan saya mau diperas di tempat itu,” pikir saya dalam hati.

Saya pun tidak mau ambil resiko dan langsung memerintahkan untuk tidak singgah di Patung Semar. Ia menurut saja dan hanya bercerita apabila kita berkunjung ke patung semar dan bisa memegang salah satu bagian tubuh semar yang sulit dijangkau, maka keinginan kita akan terkabul. Believe it or Not!

Meski perkiraan jarak Solo – Tawangmangu meleset (ia bilang 50 km sedangkan jarak sesuangguhnya di patok jalan hanya 42 km), Mas Kris berhasil menepati janjinya di bawah satu jam. Waktu tempuh itu jauh lebih cepat dibandingkan dengan cerita rekan saya yang sudah sampai terlebih dahulu menggunakan bus dengan waktu sekitar dua jam

“Selamat juga akhirnya, ” canda saya pada Mas Kris yang kelihatan tersenyum puas setelah menerima bayaran dari saya.

Senangnya hati saya kala masih dapat melihat segerombolan orang yang memakai jaket biru, ciri khas anak Jurnalistik di tempat nun jauh ini. Artinya, saya tetap ditunggu mereka untuk mendaki bareng. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh dan kami berdelapan pun berkumpul di pinggir terminal pasar Tawangmangu. Rekan seperjalanan saya tersebut antara lain : Zaki, Dita alias Agun, Tito, Sena, Tendy, Ical, dan Ardi.

21.00

Aktivitas bongkar muat sayuran terlihat agak ramai di sisi jalan. Meski sudah malam, beberapa pedagang kaki lima yang menjual berbagai asesoris dan stiker masih saja digerumuti pembeli Begitupun mobil pickup yang awalnya disangka angkutan yang akan meneruskan perjalanan kami menuju Cemoro Sewu, sudah dijejali para pedagang yang akan mengantar sayuran ke Karanganyar dan Solo..

Tak mau lama menunggu, kami pun bernegosiasi dengan supir mobil colt L300 dalam bahasa jawa. Saya agak kesal juga karena tarif di malam hari ternyata lebih mahal dibandingkan siang. Meski demikian, tidak ada alternatif lain untuk menolak tawaran supir itu apalagi malam semakin larut.

Oke lima puluh ribu sampai atas daripada nggak bisa ngejar sunrise,” pikir saya.

Sayangnya, sepanjang perjalanan yang medan tanjakannya terbilang berat itu, supir mobil kurang komunikatif. Tampangnya serius sekali sampai-sampai ia terlihat pusing untuk meladeni obrolan tentang Gunung Lawu. Teman-teman saya pun sepertinya memilih tertidur saja karena si supir membawa hawa tegang. Mungkin juga si supir pusing ketika harus menerjemahkan bahasa Jawa- Malang saya dengan aksen yang tak karuan. Maklum saja mas, saya masih belajar bahasa Jawa.

Ngomong-ngomong soal Jawa, ternyata Gunung Lawu itu terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur Lho… Jalur yang saya lewati adalah jalan raya tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian sekitar 1900 mdpl. Jalan terasa sangat lebar nan lengang ketika mobil pickup kami melintasi perbatasan Provinsi Kabupaten Karanganyar dan Magetan (Jawa Timur).

Lawu benar-benar gunung wisata. Selain jalan raya yang mempermudah aksesnya, ada dua jalur yang populer digunakan para pendaki untuk muncak. Dari arah selatan kaki gunung Lawu, terdapat pintu masuk Cemoro Sewu yang masuk wilayah kabupaten Magetan, Jawa Timur. Lain lagi dengan pintu Cemoro Kandang yang masih masuk wilayah kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Sebetulnya kalau dicermati, jarak kedua pintu masuk itu tidak terlalu jauh. Paling tidak sampai satu kilometer. Bedanya, keduanya terpisah oleh sebuah sungai. Menurut informasi, jarak pendakian ke puncak Lawu dari arah Cemoro Sewu sekitar 9 km, sedangkan bila dicapai dari arah Cemoro Kandang 12 km. Banyak cerita beredar kalau rute Cemoro Sewu kondisi jalannya lebih aman dan mudah, meski lintasannya lebih terjal. Rute Cemoro Kandang sendiri kondisinya tidak terlalu terjal namun relatif lebih jarang dipilih karena banyak percabangan jalur dan jaraknya yang jauh.

Awal : Pos Cemoro Sewu

22.00

Kurang lebih pukul sepuluh malam, mobil colt yang kami tumpangi tiba-tiba saja berhenti. Saya sama sekali tidak sadar bahwa sopir sudah selesai menunaikan tugasnya mengantarkan kami sampai Cemoro Sewu (1818 mdpl). Ketidak-ngeh-an ini lebih disebabkan nihilnya pengetahuan saya tentang daerah ini. Setelah mengamati suasana sekitar benar saja terdapat sebuah gapura yang bertuliskan Cemoro Sewu. Keluar dari pintu mobil, Hawa dingin langsung menyapa sekujur tubuh ini. Apalagi pakaian tempur belum dikenakan. Hanya kehangatan dari terang bulan purnama yang sepertinya bakal menemani jejah langkah kaki ini.

Dari pengamatan saya, setidaknya ada sekitar lima kios di sekitar Pos pendaftaran. Entah mengapa hanya ada satu warung saja yang buka malam itu. Tidak seperti warung-warung di gunung lain yang menyediakan lesehan yang dapat digunakan untuk tidur, disini hanyalah menyediakan meja untuk “nyeruput”. Kalaupun terpaksa harus menginap, lebih nikmat di Mushola yang terletak di seberang jalan.

Saat saya lirak-lirik agar bisa ngeh dengan daerah jelajahan baru itu, Zaki dan teman-temannya bergerak meuju Pos pendaftaran di Cemoro Sewu. Posnya lebih pantas disamakan dengan pos Satpam karena ukuran ruangannya yang kecil. Agak kaget juga saat Zaki sudah keluar dari Pos dengan membawa karcis. “Cepat sekali prosesnya,” pikir saya. Ternyata cuma butuh satu orang penjamin Kartu Tanda Pengenal (KTP) saja . Tapi tetap saja setiap orang diwajibkan membayar lima ribu rupiah sesuai yang tertera di karcis Wana Wisata.

Malam minggu yang kami kira akan ramai ternyata sepi. Hanya ada satu regu pendaki yang ada di Pos Cemoro Sewu. Entah apakah di atas nanti rombongan kami dapat menemui pendaki lain. Pastinya, dengan jumlah delapan orang sudah cukup untuk memberikan suasana ramai dalam pendakian. Apalagi ada dua orang yang sudah pernah melintasi jalur ini sehingga memberikan kesan aman bagi pendaki Lawu pemula seperti saya dan rekan lainnya.

Dengan perbekalan dan penerangan yang cukup kami berangkat melintasi gapura Cemoro Sewu menuju Pos Wesen-Wesen (Pos I). Nampak jalur pendakian sudah tertata dengan baik. Pilihan saya menggunakan sandal jepit dan celana street pendek pun ternyata tepat. Perjalanan jadi terasa lebih ringan. Apalagi, pada musim kemarau, trek yang dilalui sangatlah kering dan berdebu. Bila saya memakai celana PDL dan sepatu PDL, stamina tentu akan banyak terbuang percuma.

Pada awalnya jalannya langsung menanjak dan berliku-liku, tetapi lambat laun landai kembali. Dengan penerangan seadanya, saya tidak khawatir terpeleset karena trek sudah dilapisi batu-batu. Pokoknya aman seperti berjalan di atas paving block. Beberapa ratus meter pertama, di sebelah kanan dan kiri saya terbentang hutan cemara. Dugaan saya, daerah ini dinamakan ” Cemoro Sewu “ karena memang banyak pohon cemara. Setelah vegetasi cemara, barulah terdapat ladang sayuran yang lumayan luas juga.

Kekurangan jalur Cemoro Sewu adalah tiadanya tanda di setiap pos yang akan disinggahi. Jadi, orang awam seperti saya tidak tahu posisinya sudah di Pos mana. Entah tanda itu tidak terlihat karena gelap atau memang tidak disediakan Perhutani. Maklum, perjalanan kami dilakukan di malam hari.

Kira-kira sejam setelah melewati hutan cemara dan ladang sayuran kami tiba di Pos Wesen-Wesen. Pos ini berjarak sekitar 2.9 km dari gerbang Cemoro Sewu dan terletak pada ketinggian 2.203 m dpl. Sampai di Pos ini kami masih belum menemui satupun regu pendaki. Nama pos ini pun baru saya ketahui setelah saya turun dari gunung Lawu. Uniknya, di atas ketingggian dua ribu, sinyal IM3 di handphone saya masih penuh.

Kami hanya beristirahat sebentar saja di Wesen-wesen. Target Pos 2 Watu Gedeg yang jaraknya sekitar 5,2 km sudah menanti. Hutan mulai terbuka dan berganti batu-batu. Pada rute ini jalanan mulai menanjak. Sekitar jam dua belas malam akhirnya kami berpapasan dengan kelompok pendaki dari FMIPA UGM. Mereka bilang di Pos 2 nanti akan ada warung.

Rombongan mereka kami salip dan sekitar setengah jam benar saja ada bangunan yang katanya warung. Sayangnya, malam itu kedai tsb sedang tutup. Bersandarlah kami sejenak di bawah naungan gubug yang semi-tembok. Lagi-lagi tidak ada petunjuk yang mengisyaratkan kami sudah berada di Pos II yang terletak pada ketinggian 2.589 mdpl. Hanya sisa-sisa bara api di bangunan tersebut menjadi petunjuk bahwa kami tidak salah jalan. Pasti ada pendaki lain yang baru saja singgah.

Tanpa basa-basi kami melanjutkan perjalanan menuju Pos Watu Gede (POS III). Jalannya menanjak dan terjal karena sudah didominasi batu-batu besar. Di sela-sela perjalanan, saya agak merinding saat melihat sebuah gua di sisi kiri jalan. Tampaknya lubang gua itu cukup besar untuk dimasuki manusia. Konon, gua tersebut sering dipakai untuk tempat pesugihan.

Kami agak bingung ketika memasuki Pos III. Tidak jelas pastinya di mana pos III berada karena di jalur ini cukup banyak shelter-shelter. Seingat saya, ketika disapa oleh rombongan pendaki dari UNS disitulah sepertinya Pos III berada. Ketika mereka ditanya pun tidak tahu posisinya sekarang. “Wah, ternyata banyak juga rekan seperjalanan ke puncak,” pikir saya sembari menengguk setutup botol air minum.

02.00

Melihat jam di Handphone yang masih menunjukkan sekitar pukul dua dini hari, saya pun mengusulkan untuk mengulur-ulur waktu perjalanan ke puncak. Menurut rombongan yang tengah beristirahat tersebut, puncak sudah bisa diraih dalam waktu dua jam saja. Khawatir sampai terlalu pagi hari, saya dan rekan-rekan pun memperpanjang waktu istirahat di Pos III. Makanan ringan dan minuman pun digelontorkan dari tas masing-masing.

Setengah jam tidak bergerak membuat otot-otot saya terasa beku. Apalagi saya hanya mengenakan celana pendek saja. Angin malam yang berseliweran terasa menyentak-nyentak gendang telinga saya. Kesalahan terbesar kami adalah tiadanya sepercikpun perapian. Percuma bila diam terlalu lama. Waktu terbuang hanya untuk membuat otot ini kram. Maka beruntunglah mereka yang mengenakan pakaian tempur lengkap.

Khawatir larut dalam dingin, saya pun meneruskan perjalanan menuju Pos Watu Kapur (Pos IV). Sialnya, langkah ini serasa kembali ke nol. Sepertinya keringat yang melumasi nafas dan kaki selama perjalanan dilumat habis oleh hawa dingin Lawu. Apalagi tanjakan terjal melintasi bebatuan semakin menjadi-jadi saja. Jalur pun mulai bercabang. Namun, percabangan ini hanya cabang “daun papaya” saja.

Kita tidak akan tersesat karena jalan alternative lewat akar akan menemui jalur aslinya. Bila stamina anda berlebih, bolehlah jalur ini dicoba untuk mempersingkat waktu perjalanan. Nah, di sini jualah kami berpapasan dengan dua rombongan yang akhirnya kami salip. Nampaknya mereka tahu timing yang tepat untuk menggapai sunrise. Maklum, mereka berasal dari daerah sekitar Keresidenan Surakarta.

03.15

Menuju Pos IV, kita harus menempuh jarak sekitar 3.6 km dari pos III. Waktu tempuhnya sekitar satu jam lebih. Oksigen terasa mulai menipis di Watu Kapur. Maklum saja ketinggiannya sudah menembus angka 3.099 m dpl. Anehnya semakin ke atas, jalan yang dilalui makin bagus saja. Lika-liku jalan yang menanjak nampak aman dipagari oleh pancang-pancang besi yang bersambungan. Kita tinggal berpegangan pada besi saja agar stabil dalam posisi naik tangga.

Mulai Pos inilah anggota rombongan kami mulai berpencaran. Masalahnya klasik, soal stamina. Untungnya ritme barisan tetap terjaga karena baris terdepan tetap menunggui anggota yang tertinggal. Pokoknya prinsip “muncak bareng, turun bareng” masih terjaga.

Karena Pos IV dirasa kurang representative untuk nge-camp, kami pun langsung tancap gas menuju Pos Jolo Tundo (Pos IV). Maklum saja di Watu Kapur tidak ada bedeng ataupun gubug yang bisa menaungi kami. Terhampar saja petak-petak kosong yang sepertinya kurang diminati juga oleh pendaki lain. Jam di Hape saya menunjukkan hampir pukul setengah empat. Sinyal sudah tidak ada lagi disini.

Saya sendiri tidak tahu persisnya dimana letak Pos Jolo Tundo. Menurut cerita pendaki yang berpapasan di jalan, Pos ini merupakan pos terakhir untuk mendirikan tenda. Ideal karena terdapat sumber mata air dari sumur Jolo Tundo. Lempeng saja kami berjalan hingga pukul setengah lima.

04.15 Sendang Derajat

Udara malam terasa berganti dengan hembusan angin beserta embun pagi. Setelah berjalan melintasi jalur yang sepintas mirip tembok “ The Great Wall in China” kami tiba di jalur sempit yang kanan kirinya terdapat bedeng. Menurut Zaki, salah satunya adalah warung. Kepincut dengan makanan dan minuman hangat khas warung gunung, saya pun mengetuk pintu bedeng yang terbuat dari seng. Benar saja dari balik bedeng yang paling besar ukurannya, terbersitlah tanda-tanda kehidupan.

Seorang pria yang usianya ditaksir sebaya dengan saya membukakan pintu dan mengajak ngobrol. Tanpa banyak basa-basi, kami diantar untuk menaruh barang bawaan di Gua yang ukurannya cukup besar untuk beristirahat. Nampak dari terpaan selimut-selimut tebal terlihat anggota tubuh pendaki-pendaki lain yang terbaring. Pria yang mengantar kami pun ternyata bukan penjaga warung melainkan sesame pendaki dari UGM. Ia memberi tahu bahwa kedai yang saya nantikan masih tutup.

Ia menyarankan kami untuk beristirahat di bedeng yang ukurannya agak besar. Sama seperti di gua, bedeng pun cukup dijejali pendaki-pendaki lain yang sudah lebih dahulu tergolek melepas lelah. Tempat yang kami singgahi itu bernama Sendang Derajat. Tepat di sebelah bedeng memang terdapat mata air yang konon bisa mengabulkan permintaan orang yang menggunakan airnya.

Bedeng di Sendang Derajat terlalu nyaman untuk melepas kantuk. Kehangatan dari sisa-sisa jerami menyelimuti kami hingga akhirnya telat bangun untuk menyaksikan sunrise. Percuma memasang alarm bila suasana khusyuk terlampau meninakbobokan telinga. Begitupun dinding tanpa jendela yang membuat pagi siang tetaplah malam.

06.15

Memang Terlambat! Saya terbangun ketika matahari sudah naik satu jengkal. Agak kesal juga apalagi rekan yang lain masih terlelap tidur. Untungnya, satu per satu raga terbangun saat saya dan rekan dari UGM membukakan pintu untuk menyiratkan cahaya mentari pagi. Cahaya masuk dan kami pun tergerak.

Beruntung, momen untuk berfoto masih tetap terkejar. Kami bergantian mengambil foto siluet dengan latar belakang mentari dan pemandangan kota nun jauh di bawah sana. Tak ketinggalan, bunga Edelweiss (Anaphalis javanica) dan Jalak Gunung pun diabadikan. Bagi saya sudah cukup puas melihat bunga Edelweiss berwarna merah kecoklatan bermekaran di seputar Sendang Derajat.

Ketakjuban saya justru ketika melihat ada warung di ketinggian sekitar 3200 mdpl. “Mungkin ini warung tertinggi di Indonesia,” pikir saya. Tanpa berfikir panjang saya memesan minuman hangat dan Mie. Wow! Sungguh! Jarang sekali bisa makan di gunung tanpa perlu memasak. Kebetulan memang kami hanya membawa spiritus saja. Kompornya pun tak dibawa.

Salah satu keunikan Gunung Lawu yakni "Warung" yang berada di atas ketinggian 3000 mdpl

Salah satu keunikan Gunung Lawu yakni "Warung" yang berada di atas ketinggian 3000 mdpl

Setelah lahap menyantap makanan, saya agak dikejutkan dengan kehadiran beberapa orang berpakaian adat Bali. Sesosok pria dengan janggut putih lebat mengenakan kain seperti pakaian ihram untuk haji. Saya baru sadar ketika diberitahu oleh pemilik warung bahwa rombongan itu mendaki Lawu untuk tujuan sembahyang di Hargo Dalem. Mereka membawa alat-alat peribadatan plus sesajen yang saya sendiri kurang tahu isinya.

Bagi mereka yang sering mendaki Lawu, pemandangan tersebut tidaklah ganjil. Hampir setiap minggu ada saja orang Hindu yang mengunjungi Hargo Dalem. Konon, di sana terdapat makam Prabu Brawijaya dan dahulu tempat itu sempat dijadikan petilasan oleh Bung Karno. Bagi para pemandu, kehadiran orang yang hendak beribadat ini cukup menguntungkan. Bayangkan, mereka dibayar lima ratus ribu sampai satu juta untuk mengantar mereka beserta barang-barang yang dibawanya.

Detik-detik menuju Puncak

09.00

Mentari sudah bersinar cukup terik. Terasa sekali terpaanya menyengat kulit. Namun tetap saja hawa dingin berganti menyerang persendian. Kaki ini terasa kaku terborgol hembusan angin. Mata saya terbelalak dengan awan-awan yang mulai terajut dengan indah menaungi perkotaan yang masih awam. Kabut memang sudah menguap sehingga pemandangan ke bawah terlihat dengan jelas. Sayup-sayup suara burung yang asing didengar terasa merdu di telinga ini.

Saatnya berkemas menuju puncak. Namun ada satu yang kurang. Sendang Derajat. Tak luput dari perhatian saya betapa antusiasnya pendaki lain menuruni mata air Sendang Derajat. Entah sekadar membasuh muka sampai mengemas air itu dengan botol-botol minuman kosong. Saya pun tidak ketinggalan. Pokoknya berfikir positif saja tentang hikmah dari air Sendang Derajat.

Kesegaran itu saya bawa untuk menggapai puncak yang katanya tinggal setengah jam perjalanan saja. Dengan langkah penuh antusias, kami menyelesaikan sisa perjalanan dengan penuh semangat. Tanjakan yang satu level di bawah “Tanjakan Cinta-nya Mahameru” dilalui dengan cepat. Tiba saatnya memunggungi bukit terakhir yang katanya puncak Hargo Dumilah.

Sialnya sandal jepit “Bata” saya putus saat sudut trek sedang miring-miringnya. Beruntung, Tito meminjamkan sandal jepitnya. Beberapa ratus meter menjelang puncak sudah nampak ada rombongan dari STAN yang sudah lebih dahulu berada di atas. Tugu peringatan semakin terlihat dan akhirnya dapat kami gapai bersama-sama. Uniknya, di tugu peringatan itu terdapat iklan produk alat tulis. “Hahaha… ada-ada saja.”

batu peringatan puncak lawu

batu peringatan puncak lawu

09.30

Disinilah titik tertinnggi gunung Lawu berada. Titik yang pantas diabadikan dan dijejaki. Beberapa ratus meter dari tugu peringatan terdapat tebing penyawangan yang sangat mengagumkan. Saya jadi teringat Film Highlander dan Lion King dimana sang pemeran utama berdiri menjulang diantara jurang dan tebing.

Begitulah puncak Hargo Dumilah yang mengagumkan itu. Saya bersyukur dapat bersentuhan dengan awan dan memandangi sebuah realitas dari kuasa tuhan yang Maha Agung. Bagi manusia, tiada alasan untuk tidak mengakui adanya Sang Pencipta. Saya nampaklah begitu alit dibandingkan kosmos yang diciptakan Tuhan.

Benar! hanya pikiran, daya dan upaya yang bisa mengantarkan kita untuk mencapai pengertian kesemestaan. Tentunya, saya bahagia ketika jiwa ini terasa dekat dengan Sang Pencipta. Beruntunglah saya diberkati untuk tetap bisa melanjutkan perjalanan pulang dan sampai ke tujuan semula.

Perjalanan yang berarti!!!


About these ads

Responses

  1. wogh wogh wogh…

    catper sundoro ntar numpang gw post disini

  2. waduh,,, situs ni khan khusus tulisan gw cuy… aneh aja klo da tulisan orang.

    Pokoknya gw bwtin lah blogkhusus buat catatan perjalanan. paling dibuat di wordpress ato blogger. Soalnya paling cepet kebaca di google sih… daripada dimuat di blog fs… gak kebaca sama om google.

  3. hargo dumilah….hmmhh 3x gw nyampe sana, Sehingga nama anak pertama gw RANUHARGO…thanx ceritanya bro….mengingatkan masa lalu th 90-an

  4. this amazing story for me,thank bro for your exprience u to every people when need your story.

  5. Mohon Doa aja bwt rencana pjalanan brikutnya.. -10 okt 08- napak tilas gede pangrango -jan 09- ekspedisi rinjani dan kota tambora yg hilang

  6. wDuH maZ…

    jaDi pEnGeN iKuTan “meNeK” niCh….

    kYa’e asYik bAnGeT.,.,

    kpAn2 ajAK aKhUw dOnK…

    mSih iNget Kan jAnjiNe pas di sArAnGan????

  7. SALAM RIMBA.perkenalkan saya hadi (bota) dari MAPALIGI..mas/bang boleh ikut gabung kalo ada rencana naek gunung….

    pencarian ku
    belum ada jawaban
    alam belum menerima
    ????????????

  8. Bagus juga cerita perjalanannya bos, tapi dari surabaya enakan kalo berangkatnya lewat magetan saja ntar bisa mampir sarangan daripada harus jauh2 ke solo. sekarang jalannya udah lempeng kok.
    emang nyenengin kok maen ke lawu aku aj da 3 kali kesana n masih juga pengen lagi.

    • lewat magetan sih enak kalo pake kendaraan pribadi. Masalhnya, kalau naek kendaraan umum.. sulit sekali

  9. wah…gunung lawu sangat menakjubkan ya…aku juga ingin mengulanginya lagi….

    • saya juga ingin mnegulangi momen itu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: