Posted by: bachtiar hakim | December 25, 2008

Jalan-Jalan ke Rancakalong : Mencari Tarawangsa yang Makin Langka


Jalan-Jalan ke Rancakalong :

Mencari Tarawangsa yang Makin Langka

Siang beranjak petang (14/11). Masih pukul enam belas tetapi tidak ada satupun penghuni pendopo “Sumedang Larang” yang keluar untuk menampakkan batang hidungnya. Kosong melompong seperti satu-satunya kursi berwarna emas bak singgasana raja di tengah-tengah pendopo yang tidak diduduki “Sang Raja ‘Tarawangsa'” . Sekumpulan sesajen dan dupa tertadah rapi di bawah kursi yang dikelilingi pilar-pilar kayu yang terlihat lapuk. “Sungguh ‘Tua'”.

Itulah kesan pertama saya pada kunjungan untuk mencari seniman alat musik Tarawangsa yang hampir punah sebagai tugas matakuliah pelaporan mendalam.

Setengah jam berlalu. Saya menyingsingkan jas hujan yang mencoklat karena terlumuri air bercampur lumpur selama perjalanan menggunakan sepeda motor. Lalu, saya menghampiri sebuah rumah yang terletak bersebelahan dengan pendopo. Namun, ketukan saya nampaknya terlalu pelan untuk terdengar. Tidak juga satupun keluar. Hanya bunyi hewan Tonggeret yang menemani di pendopo yang terletak di ujung jalan sempit di Desa Pasirbiru, Kec. Rancakalong, Kab. Sumedang.

Hujan deras yang mengguyur wilayah Sumedang dan sekitarnya sejak kemarin nampaknya membuat orang malas keluar. Namun, saya tidak mau tugas praktek mata kuliah Penulisan Berita Mendalam terbengkalai gara-gara hujan. Belum lagi, batas waktu pengumpulan tugas itu tinggal seminggu ke depan. Perasaan cemas itu belum juga lepas dari lamunan saya saat berteduh sejenak di pendopo.

Tiba-tiba, sosok orang tua berjanggut muncul dari balik kaca jendela. Seketika itu pula jantung saya berdegup lebih kencang. Entah kenapa saya merasa seperti terjangkiti deja vu. Sepertinya, saya pernah melihat wajah yang mirip kakek itu dalam waktu dekat ini. Ketika saya ingat, penampilannya mirip (maaf) hantu penunggu gubug tua yang ada di film Pencarian Terakhir.

bade patepang sareng saha, cep?” tanya kakek itu.

upami bumina Abah Encu dedengkot Tarawangsa di palih mana pak?” saya balik bertanya dengan bahasa Sunda terbata-bata.

Mangga ka lebet,” timpal kakek yang tidak menjawab di mana rumah Abah Encu.

Karena ingin menghargai ajakannya, saya langsung mengiyakan. Ketika saya masuk ke rumah kayunya, Air menetes dari baju hangat dan celana jeans yang ikut basah karena jas parasut tak mampu menahan derasnya hujan. Buru-buru, saya meminta maaf karena telah mengotori lantai rumahnya yang berbahan kayu.

Ketika asyik menikmati suguhan air hangat yang disediakannya barulah kakek itu mengaku kalau didirinya Abah Encu. Dialah narasumber yang saya tuju setelah namanya derekomendasikan oleh Dodong Kodir, seniman dan dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung. Segera saya bergegas mengambil pulpen, buku catatan, tape recorder, handphone, dan kamera digital dari dalam tas yang ternyata basah pula.

Sudah lima menit saya mewawancarainya, ternyata tidak ada satupun pertanyaan saya dalam berbahasa Indonesia yang bisa dijawabnya. Terpaksalah saya berbicara dengan bahasa sunda halus meskipun sedikit tercampur dengan yang kasar. Selama satu jam saya berada di rumah kakek berusia 96 tahun itu untuk menanyakan sejarah dan kondisi alat musik Tarawangsa. Sebagai sesepuh, ia dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Saya juga diundang olehnya untuk mengikuti perayaan Rayagung. Kami langsung bertukar nomor kontak.

Namun, kepuasan itu sirna ketika mendapati Handphone yang mati dan tidak bisa dinyalakan ulang. Setelah membuka cangkangnya, ternyata komponennya berlumuran air. Saya benar-benar pusing bila alat komunikasi itu rusak (keesokan harinya hape saya itu dinyatakan mati total oleh tempat servis). Lalu saya mengambil kamera untuk memotret Abah Encu. Sayangnya, ia menolak diambil gambarnya.

Wawancara itu selesai dan saya bergegas pulang untuk menghindari gelap. Jalan menuju Rancakalong memang dikenal sepi karena masih dikelilingi hutan. Namun, sebelum beranjak, saya ingin mengambil foto kursi dan sesajennya di pendopo yang seperti singgasana.

Tiba-tiba tangan saya gemetar ketika mengambil kamera. Sialnya, kamera saya mendadak mati padahal ketika hendak memotret Abah, baterainya masih penuh. Saat saya berulangkali mengutak-atik baterai kamera, seorang anak laki-laki Abah datang menghampiri. Ia menanyakan kesulitan saya dan langsung memanggil Ayahnya. Setelah ayahnya datang, ia langsung meminta izin untuk mengambil gambar.

Anehnya, setelah Abah Encu mengizinkan, kamera itu pun bisa berfungsi kembali. Saya langsung mengambil gambar sekeliling ruangan itu tetapi tentu tidak mengambil foto kakek itu.

“Ah, dasar kakek ‘tua’ yang aneh,” ujar saya dalam hati seraya mengisyaratkan bahwa orang tua itu memiliki kesaktian.

Itulah kejadian aneh yang saya alami pada saat mengerjakan tugas ini. Perjalanan ke Rancakalong itu sangat berkesan bagi saya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: