2 Hari, 1 Hati, 3 Doa, 1 Cinta,
1 Kutukan
(Renungan 1 Sura dan 1 Januari)
Tiga puluh Dzulhijjah 1929 atau dua puluh sembilan Desember 2008. Selepas isya, obor-obor bambu itu sedikit demi sedikit melalap semesta hitam. Kawasan Jatinangor yang sedang sepi akibat ditinggal mudik oleh sebagian penghuninya tergetar oleh iringan shalawat dan tilawah yang riuh menggema.
Pemandangan jalan dari Jatiroke hingga kantor Kecamatan Jatinangor bagai aliran sungai cahaya. Tua -muda, pria-wanita larut dalam kegembiraan pawai malam 1 Sura. Tak lupa, doa bersama menjadi penutupnya.
Seperti biasa, acara ini sudah menjadi tradisi bagi warga Jatinangor, Kab. Sumedang untuk menyambut tahun baru hijriah yang jatuh pada esoknya. Padahal, tiada spanduk ataupun ajakan dari organisasi maupun pemerintah kecamatan untuk mengerahkan massa. Adalah warga dalam lingkup RW dan RT yang tergerak oleh niat bersama untuk memeriahkan pawai se-unik mungkin.
“Ngiringan pawai satu Sura wae lah,” kata ibu kost kepada saya sambil menutup jendela warungnya dan bergegas mengikuti rombongan RW 7.
Mengapa masayarakat Sunda menamakannya Sura (dalam bahasa sunda dilafalkan dengan huruf ”a” sedangkan jawa “o”)? Bukankah 1 Sura merupakan tradisi masyarakat Jawa?
Bila ditelisik, ternyata tradisi yang dilakukan masyarakat sunda itu masih ada hubungannya dengan ajaran Sultan Agung, raja Mataram Islam. Ketika sebagian besar tatar Pasundan dikuasai oleh kerajaan Mataram, Sultan Agung memasukkan beberapa tradisi jawa dalam kebudayaan Sunda.
Sultan Agung menulis dalam Serat Sastra Gending bahwa “Sura” berasal dari kata su yang berarti baik dan pangrasa atau rahsa yang bermakna rasa antara manusia dan Tuhannya. Oleh karena itu. memperingati 1 Sura berarti kita melakukan refleksi diri, keprihatinan, dan rasa syukur kepada Tuhan.
Sebagian besar masyarakat Jawa mengadakan laku batin dengan berbagai manifestasinya, seperti puasa, njamasi pusaka, dan nyepi. Selain itu, berbagai lelaku yang intinya menyelaraskan diri dengan alam sebagai bentuk rasa sukur dijalankan mereka.
Mendaki gunung secara massal adalah contoh yang sering kita lihat. Mereka mengadakan tumpengan bersama kuncen gunung lalu mendaki bersama tanpa mengenal kalangan dan usia.
1 Sura Oke, 1 Januari Oke
Dua hari kemudian, tiga puluh satu Desember. Suara letupan mercon ataupun kembang api dan tiupan terompet membahana di berbagai penjuru bumi. Entah di pusat keramaian kota maupun di pinggiran-pinggiran, tak sulit untuk menjumpainya. Tak ayal lagi, keduanya telah menjadi simbol global untuk merayakan Tahun Baru (New Year), seperti setiap negara di dunia ini menandakan tanggal 1 Januari sebagai Tahun Baru Masehi.
Banyak cara lain untuk merayakannya tahun baru masehi. Ada yang merayakannya bersama rekan-rekan dan keluarga ataupun berdiam seorang diri. Ada yang merayakannya di tempat umum maupun di tempat yang privat. Ada pula yang merayakannya dengan hura-hura maupun yang sederhana. Namun, tujuan yang hakiki dari perayaan ini tetaplah sama.
Orang sering bilang make a wish atau buatlah harapan. Tujuan merayakan Tahun Baru tak lain membuat perubahan yang positif dengan “tahun” sebagai standar waktu acuannya. Idealnya, make a wish itu biasanya didahului dengan introspeksi terhadap diri, yakni memperbandingkan antara hal yang menjadi harapan tahun lalu dan hal yang sudah tercapai, barulah “membuat harapan”.
Keinginannya tentu, harapan-harapan kita akan tercapai pada tahun yang akan dijalani. Adapun dengan memakai acuan kualitas hidup dan tahun, tahun ini diharapkan akan lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Begitulah kurang lebih intinya.
Saya rasa introspeksi dan make a wish atau apapun bahasanya tidak berlaku untuk Tahun Baru Masehi saja, melainkan Tahun Baru Hijriah, Tahun Baru Saka, dll. Artinya, tahun baru adalah fenomena yang universal bagi pemeluk agama apapun. Hanya masalah cara merayakan yang terikat oleh agama masing-masing.
Namun, tak jarang, orang mengkritik bahwa perubahan tidak harus digaungkan pada pergantian tahun melainkan tiap hari bahkan tiap detik Tidak masalah. Nyatanya, memang, tanpa disadari maupun disadari, manusia melakukan perubahan dari waktu ke waktu Nah, momentum tahun baru ini digunakan untuk mempermudah perefleksiannya saja apalagi bila dilakukan bersama-sama orang yang kita cintai dan waktu yang libur pula.
Satu Hati
“Ups”. Namun, saya diberitahu oleh seorang bapak di daerah Gang Mawar bahwa merayakan Tahun Baru Masehi itu haram hukumnya karena tahun baru bagi umat Islam hanya ada satu. Tentu saja, Tahun baru Hijriah.
Saya hanya menunduk seraya merenungkan pernyataan si bapak itu tanpa segera menjawabnya. Lalu tak lama, saya melontarkan jawaban yang kelihatannya membuat perasaaannya sedikit tersinggung. Jawabannya sebenarnya singkat, yakni menanyakan balik kepada si bapak “Pak, kenapa Allah nyiptain matahari dan bulan?”
Mendengar pertanyaan dengan nada meninggi dari saya, lantas si Bapak membalas dengan jawaban yang agak menyakitkan dan tidak menyambung dengan pertanyaan. “Kamu bisanya cari alasan saja, di mana-mana orang islam mah tahun barunya satu muharaman, makanya baca quran dong,” kata si bapak tanpa menjelaskan ayat dan surat apa yang menyatakan bahwa 1 muharram adalah tahun baru islam.
Memang segalanya akan terasa kacau jika terjadi debat kusir. Saya mengalah saja dan lantas membeli makanan di warungnya. Sewaktu makan, saya benar-benar tidak sabar untuk mencari penggalan ayat-ayat tentang tahun baru Islam menggunakan software Holy Quran dan Hadist.
Nyatanya, 1 Muharram sebagai hari besar memang tidak tersirat dalam al-Quran. Saya pun coba meng-googling dan memilah informasi yang paling holistik. Dari sebuah situs blog, ditemukanlah beberapa penggalan sejarahnya. Nyatanya, penetapan kalender islam dilakukan oleh para pemimpin setelah Rasulullah SAW wafat.
Dalam kitab Tarikh Umam Wal Muluk yang ditulis oleh Muhammad bin Jarir At Thobari diterangkan bahwa musyawarah untuk menetapkan kalender islam dipimpin oleh Khalifah Umar Bin Khathab. Beliau memilih tahun Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah sebagai awal kalender Islam. Lalu, kalender Islam tersebut dinamakan Tahun Hijriyah. Bila dihubungkan dengan kalender masehi, tahun Hijriyah mulai diberlakukan bertepatan pada tahun 640 Masehi.
Pada tahun ini, rentang waktu antara keduanya sangat berdekatan. Saya beruntung bisa mengalaminya. Mungkin peristiwa ini bakal terjadi sekali seumur hidup saya. Ingin sekali merayakan keduanya dengan satu hati dengan semangat perdamaian dan persatuan.
Dan tercurahlah perasaan tsb. lewat syair ini :
Bukalah mata!
Mari kita rayakan
Rayakan keduanya
Mengapa masih ada yang menghinakan salah satunya
Yang Maha Bercahaya …
Yang ciptakan rembulan
Yang ciptakan mentari
Yang ciptakan bintang
Begitu alami. begitu sempurna
Jika tiada salah satunya, manusia kehilangan segalanya
Bukankah itu jadi tanda-tanda yang nyata bagi manusia
Sungguh tiada kuasa manusia untuk meniadakan salah satunya
Bulan dan matahari memang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pada zaman kekaisaran Romawi, Julius Caesar menggunakan matahari sebagai dasar perhitungan kalender masehi. Setelah itu, bulan ditandakan sebagai acuan perhitungan sistem kalender Hijriah. Singkatnya, perputaran bulan mengelilingi bumi digunakan sebagai standar hijriah sedangkan revolusi alias perputaran bumi mengelilingi matahari dijadikan pegangan masehi.
Pergerakan, perputaran, benar sekali ! Seperti jarum jam mengitari angka-angka. Dari situlah terfikir, mengapa harus ada detik, menit, jam, hari, bulan, tahun di dunia ini. Adalah waktu yang Tuhan ciptakan seperti termaktum dalam Surat An-Naas agar makhluknya senantiasa ingat akan kehidupannya di dunia ini (dan untuk menuju akhirat tentunya).
–0—0—0—
Tiga Doa
Atas waktu yang telah diciptakan-Nya, syukur patut dipanjatkan kepada Sang Penghembus Ruh bahwa aku masih bernafas hingga detik ini. Bahwa aku selalu diberinya sesuatu untuk difikirkan. Bahwa aku selalu diberinya tujuan untuk bergerak. Bahwa aku selalu diberinya harapan untuk didoakan. Bahwa aku selalu diberinya semesta untuk dicintai. Doa pertama saya adalah hal-hal di atas tetap bisa saya alami tahun ini.
Harapan dan doa menjadi dua hal yang tidak terpisahkan. Doa menjadi medium komunikasi antara khalik dan hambanya yang pesannya berisi permintaan agar harapan hambanya tercapai dengan Izin-Nya. Sungguh, banyak sekali harapan yang ingin dipanjatkan manusia. Namun, tetap saja harapan tanpa usaha hanyalah khayalan saja.
Secara khusus harapan pada tahun ini, saya ingin agar saya mendapatkan kemandirian yang lebih baik lagi dalam hal finansial. Adapun harapan untuk menyelesaikan studi bisa dirampungkan pada akhir tahun ini. Ketiga, saya berharap akan ada momentum kemahasiswaan yang berkesan untuk ditinggalkan. Salah satu yang paling dekat adalah pendirian komunitas Bike To Unpad dan Forum Silaturahmi Pemuda Mahasiswa dan Penduduk Jatinangor.
Semoga doa saya terkabul pada tahun ini.
Dan tetntunya satu kutukan buat pemerintah Israel

sAiAnK…..
uRanG tEh kNgEn sAma aKanG…
mAaF…
aKhuw bLum bSa bCa sMua’nA..
yAnG jeLaz akHuw sAiAAAnnKK baNgEd sAma kAmU….
By: dYah on March 4, 2009
at 10:42 am