Posted by: bachtiar hakim | January 3, 2009

“Hegemoni” dalam beragam perspektif


“Hegemoni” dalam beragam perspektif

Eriyanto:

Konsep hegemoni dipopulerkan ahli filsafat politik terkemuka Italia, Antonio Gramsci, yang berpendapat bahwa kekuatan dan dominasi kapitalis tidak hanya melalui dimensi material dari sarana ekonomi dan relasi produksi, tetapi juga kekuatan (force) dan hegemoni.

Gramsci membangun teorinya dengan menekankan pada penerimaan kelompok yang didominasi terhadap kehadiran kelompok dominan berlangsung dalam suatu proses yang damai, tanpa tindak kekerasan. Hegemoni meliputi perluasan dan pelestarian “kepatuhan aktif” (secara sukarela) dari kelompok-kelompok yang didominasi oleh kelas penguasa lewat penggunaan kepemimpinan intelektual, moral, dan politik.

Hegemoni menekankan pada bentuk ekspresi, cara penerapan, mekanisme yang dijalankan untuk mempertahankan, dan mengembangkan diri melalui kepatuhan para korbannya, sehingga upaya itu berhasil mempengaruhi dan membentuk alam pikiran mereka (McQuail, 1996:65).

Proses itu terjadi dan berlangsung melalui pengaruh budaya yang disebarkan secara sadar dan dapat meresap, serta berperan dalam menafsirkan pengalaman tentang kenyataan.

Seperti yang dikemukakan Raymond William, hegemoni bekerja melalui dua saluran yaitu ideologi dan budaya melalui manan nilai-nilai bekerja. Melalui hegemoni, idologi kelompok dominan dapat disebarkan, nilai dan kepercayaan dapat ditularkan.

Ideologi hegemonik itu menyatu dan tersebar dalam praktik, kehidupan, persepsi, dan pandangan dunia sebagai sesuatu yang dilakukan dan dihayati secara sukarela.

Salah satu kekuatan hegemoni adalah bagaimana ia menciptakan cara berpikir atau wacana tertentu yang dominan, dianggap benar, sementara wacana lain dianggap salah.

Teori hegemoni Gramsci menekankan bahwa dalam lapangan sosial ada pertarungan untuk memperebutkan penerimaan publik.

Salah satu strategi kunci dalam hegemoni adalah nalar awam (common sense). Jika ide atau gagasan dari kelompok dominan atau berkuasa diterima sebagai sesuatu yang common sense (jadi tidak didasarkan pada kelas sosial), kemudian ideologi itu diterima, maka hegemoni telah terjadi.

Teori ideologi menekankan bahwa semua teks dan semua makna mempunyai dimensi sosial politik dan tidak dapat dimengerti kalau tidak menyertakan dimensi konteks sosialnya. Kerja ideologi, sebagaimana dinyatakan John Fiske, selalu mempunyai kekuasaan besar lebih besar menyebarkan gagasan dan pesannya.

Bagi Fiske, semua teori ideologi sepakat bahwa ideologi bekerja untuk dominasi kelas, perbedaanya hanya pada cara bagaimana dominasi itu bekerja, dan tingkat efektiitasnya.

McQuail

Teori ini kurang memusatkan perhatian pada faktor ekonomi dan struktur ideologi yang mengunggulkan kelas tertentu, tetapi lebih menekankan ideologi itu sendiri, bentuk ekspresi, cara penerapan, dan mekanisme yang dijalankannya untuk mengembangkan diri melalui kepatuhan para korbannya (terutama kelas pekerja), sehingga upaya itu berhasil mempengaruhi dan membentuk alam pikiran mereka. (hal 65)

Konsep hegemoni Gramsci (1971) mengandung pengertian suatu kebudayaan atau ideologi yang berlaku di mana-mana dan secara internal bersifat konsisten, serta sesuai dengan kepentingan kelas dominan atau kelas elit.

Richard Bellamy

…unsur-unsur utama filasafat Gramsci: peranan kesadaran dalam menentukan tindakan manusia serta arti penting hegemoni ideologis dalam memelihara hubungan-hubungan sosial

“Kekuatan mekanistik”, katanya, “tak pernah menang dalam sejarah manusia: kesadaran, dan semangat yang membentuk penampakan eksternal selalu menang pada akhirnya.”

Tema sentral notebooks adalah hubungan antara suprastruktur sosiokultural dengan proses-proses “oyektif” yang menjadi basis ekonomi. Gramsci menolak klaim positivis bahwa yang pertama hnya merupakan cermin yang terakhir.

Bahwa manusia berdiri di luar proses alamiah, dan membentuknya sesuai dengan kehendaknya. “Jadi, manusia tak memasuki hubungan dengan alam hanya karena ia merupakan bagian dari alam, melainkan secara aktif, melalui kerja dan teknologi.”

Pertama, pertama, seperti Croce, ia berpendapat bahwa tak ada “fakta nyata” yang bisa memberikan data eksak untuk membangun teori. Sebab, fakta sendiri dibentuk oleh interpretasi yang diberikan padanya.

… keberatan Gramsci yang kedua dan utama terhadap hukum sosiologis – yakni bahwa teori sosial tidak sekedar menawarkan penjelasan tentang mekanisme yang melandasi masyrakat, tetapi merupakan bagian dari cara orang memahami dan bertindak dalam masyrakat. Teori tak terpisahkan dari praktek – tidak bisa ada suatu teori tentang masyarakat yang terpisah dari cara orang mengkonsepsikannya.

Gramsci percaya bahwa para anggota suatu masyrakat atau kelompok mempunyai “pandangan dunia” sama, yang memerikan koherensi pada keyakinan dan tujuan mereka, serta yang menunjang praktek kolektif mereka.

Gramsci menulis bahwa “obyektif” berarti “obyektif secra manusiawi”, sesuatu yang berkesesuaian dengan “suyektif secara historis”, artinya hal yang obyektif adalah “yang secara universal subyektif.”

Konsensus antara berbagai pandangan dunia hanya bisa dicapai melalui kekerasan.

Tidaklah cukup bahwa setiap orang mempunyai keyakinan yang sama, maka keyakinan itu lantas rasional atau benar. Namun, harus ada landasan lebih jauh yang ersifat praktis , dan yang bisa ditelusuri kepada pernyataan-pernyataan empirik tentang dunia yang bisa disepakati oleh setiap orang secara prinsip.

Ia menolak bahwa materialisme historis itu terdiri dari “keyakinan besi tentang hukum-hukum perkembangan sejarah obyektif, yang menyerupai hukum-hukum alam”

“bahwa semua orang menjadi sadar (tentang konflik antara kekuatan-kekuatan produktif material) pada tingkat ideologis bentuk-bentuk yuridis, politik, religius, artistik, dan filosofis.”

…penekanan pada “kondisi-kondisi material” sebagai realitas mendasar dari formasi-formasi sosial. Tetapi, basis tidak menentukan suprastruktur – ia menyediakan kondisi-kondisi-kondisi “riil” yang dapat ditangkap secara tepat oleh sebuah teori yang “rasional”.

Teori adalah usaha menangani persoalan-persoalan adalah yang memadai untuk situasi historis yang “riil”. Hal ini bukanlah, seperti yang dikatakan Croce, hasil sebuah entitas metafisik, yaitu roh, melainkan hasil perkembangan kekuatan-kekuatan produktif.

Menurutnya, kebertahanan kapitalisme disebabkan saling keterkaitan antra basis dan suprastruktur dalam menentukan perubahan sosial.

Ia membagi suprastruktur menjadi dua tingkatan:

Satu tingkatan yang bisa disebut “masyrakat sipil” yakni kumpulan organisme yang lazim disebut “privat”, dan “masyrakatpolitik” atau “negara”. Kedua tingkatan ini berkesesuaian di satu pihak dengan fungsi “hegemoni”, yang dilaksanakan kelompok dominan di seluruh masyrakat, dan di pihak lain, dengan “dominasi langsung”, yang diekspresikan melalui negara dan pemerintah “yuridis”.

Perangkat institusi yang pertama memperoleh persetujuan “spontan” dari massa rakyat terhadap arah umum yang dipaksakan pada kehidupan sosial oleh kelompok fundamental yang dominan. Persetujuan ini mempunyai sumber “sejarah” dalam prestise (dan kepercayaan diri) yang dimiliki kelompok dominan berkat posisi dan fungsinya dalam dunia produksi. Alat-alat “kekuasaan yang memaksa dari Negara…”secara legal” memaksakan disiplin” ketika persetujuan tak didapatkan.

Jadi, hegemoni merujuk pada kedudukan ideologis satu atau lebih kelompok atau kelas dalam masyrakat sipil yang lebih tinggi dari yang lainnya.

Dominasi budaya borjuasi untuk membuat penggunaan kekuatan politik tak perlu untuk mempertahankan kekuasaan. Sehingga, masa harus diebaskan dari keterpesonaan pada hegemoni budaya kelas kapitalis sebelum perlawanan yang berhasil terhadap negara bisa terjadi.

Kelas-kelas penguasa memaksakan visi hegemoni mereka melalui berbagai institusi suprastruktur, seperti sekolah, media agama, dan praktek manusia sehari-hari. Orang melihat dunia melalui kacamata yang terdistorsi secara ideologis, sehingga seluruh pandangan dunianya harus ditentang sebelum revolusi bisa memperoleh dukungan massa. Pandangan ini membuatnya menolak interpretasi ideologi sebagai epifenomena basis.

“keberadaan kondisi-kondisi obyektif tidak dengan sendirinya memadai: orang harus ‘mengetahuinya’, dan bagaimana menggunakannya. Selain itu orang harus bersedia menggunakannya.” Ideologi menjalankan fungsi ini – di sinilah bidang tempat orang bergerak, memperoleh kesadaran tentang kedudukannya, serta berjuang.” Pikiran “akal sehat” populer selalu ketinggalan dengan perubahan-perubahan ekonomi.

Gramsci menekankan “harus adanya perjuangan sadar yang bertujuan untuk menimbulkan “pemahaman” tentang buruknya kedudukan ekonomi massa, sesuatu yang mungkin bertentangan dengan kebijaksanaan pimpinan tradisional.”

Hal ini melibatkan Gramsci dalam tiga tugas: menunjukkan sifat-sifat apa yang membuat suatu ideologi palsu; memberikan kriteria suatu ideologi yang benar, mengembangkan strategi untuk memapankannya di kalangan massa.

Salahsatu sifat dari bentuk-bentuk kesadarn palsu yang diidentifikasi Gramsci – epistemologinya. Epistemologinya tampil sebagai “sebuah sistem dogmatik tentang kebenaran eksternal dan absolut.” Agen-agen terbbuai oleh hal ini ketika mereka menganggap tindakan sebagai produk proses alamiah atau metafisik di luar kontrol mereka.

Ciri kedua dari ideologi-ideologi sesat – fungsi mereka dalam menegakkan dan mengabsahkan institusi dan praktek sosial yang tak adil. Hegemoni kelas penguasa dipertahankan melalui anggapan palsu bahwa kebiasaan dan kekuasaan mereka merupakan hal yang tak terhindarkan – sebagai kehendak Tuhan, atau produk hukum alam tertentu.

Marxisme, seperti diinterpretasikan Gramsi, “…adalah konsepsi historis tentang realitas yang telah membebaskan diri dari setiap sisa transendensi dan teologi, bahkan dalam inkranasi spekulatif tertingginya, sementara historisme idealis Crocean masih bersift spekulasi – pada fase teologis.” Materialisme historis adalah “ekspresi perkembangan sejarah riil,” yaitu yang mendasari basis ekonomi.

Grmsci mengatakan bahwa ideologi memajukan perkembangan kekuatan-kekuatan produktif.

Ia menolak bahwa sebuah ideologi palsu kita bisa muncul bersamaan dengan institusi-institusi sosial represif yang sama sekali tak memungkinkan diskusi kritis tentang kepalsuan pandangan dunianya.

Tanggapan gramsci terhadap ppersoalan di atas bahwa kritik hanya dapat muncul dari dalam. Dan bahwa kriteria untuk menilai kondisi-kondisi represif selalu hadir – meskipun dalam “bentuk embrionik” – pada pengalaman penderitaan dan frustasi agen-agen. Hal ini menghasilkan kontras antra pemikiran dan tindakan yang merupakan “ekspresi kontras-kontras lebih mendalam dari sebuah tatanan sosio-historis.” Hal ini berarti bahwa sebuah kelompok sosial “memanisfestasikan dalam tindakannya” sebuah konsepsi dunia yang berbeda dari yang diartikulasikan olehnya dalam kata-kata, karena alasan-alasan “subordinasi intelektual”.

“karena manusia adalah kesatuan kondisi-kondisi kehidupannya, kita bisa mengukur secara kuantittatif perbedaan masa lalu dan sekarang, sebab kita bisa mengukur sejauh mana manusia menguasai dan nasib.”

Jadi, argumen Gramsci bukanlah bahwa basis ekonomi menentukan suprastruktur, tetapi bahwa basis ekonomi itu menempatkan batasan-batasan bagi bentuk-bentuk kesadaran yang mungkin.

Hegmoni baru ini adalah momen ketika “kita menjadi sadar bahwa kepentingan korporatis kita sendiri, dalam batas korporatis dari sebuah kelas yang semata-mata ekonomis, sehinggga harus menjadi dengan kepentingan kelompok-kelompok subordinat lainnya.” Hegemoni adalah “fase yang paling murni politis,” ketika tujuan politik dan ekonomi menghasilkan kesatuan moral dan intelektual, “yang menunjukkan pertanyaan-pertanyaan yang membakar perjuangan, pada bidang universal, bukan korporatis.”

Hegemoni yang diusulkan Gramsci lain sama sekali; hegemoninya mengikutsertakan kelas-kelas lain dengan mendapatkan dukungan aktif mereka. Hal ini hanya bisa terjadi kalau bagian yang dominan mampu mengatasi kepentingan “korporatis”nya untuk melibatkan diri dengan massa populer.

Hegemoni hanya bisa dilaksanakan dengan baik oleh kelas “fundamental” yang melakukan fungsi progresif dalam perekonomian, dan mengembangkan hubungan-hubungan yang imlisit dalam basis, “…karena, jika hegemoni bersifat etiko-politik, ia juga menentukan yang dilakukan oleh kelompok utama dalam nukelus aktiitas ekonomi yang menentukan.

John Fiske (240)

Secara singkat, hegemoni melibatkan memenangkan dan memenangkan kembali secara terus-menerus kesepakatan di kalangan mayoritas terhadap sistem yang menempatkan mereka sebagai subordinat.

Ada dua unsur yang lebih ditekankan Gramsci dibandingkan Marx atau Althusser yakni resistensi dan instabilitas.

Ideologi dominan terus-menerus berhadapan dengan resistensi yang harus diatasinya dalam upaya untuk memenangkan kesepakatan rakyat atas tatanan sosial yang dipromosikannya. Resistensi terseut bisa saja diatasi, namun tidak pernah bisa dihilangkan. Jadi setiap kemenangan hegemonis, setiap kesepakatan yang diraihnya, pastilah tidak stabil; kesepakatan itu tak pernah bisa siap pakai, sehingga harus diraih kembaliu dan diperjuangkan secaara terus-menerus.

Salah satu strategi hegemoni yang penting dalam mengkonstruksi “anggapan umum” (common sense). Bila gagsan kelas berkuasa bisa diterima sebagai anggapan umum, maka tujuan ideologisnya tercapai dan kerja ideologisnya pun tersembunyi.

Teori Gramsci juga menegaskan bahwa kondisi sosial material emreka bertentangan dengan yang dominan sehingga melahirkan resistensi.

….bahwa ideologi bisa mengatasi (resistensi) namun tak pernah bisa menghapuskan resistensi itu, sehingga teorinya akhirnya lebih memuaskan karena measukkan banyak kontradiksi yang mementuk pengalaman sosial kita.

Patria

Kesepakatan atau konsensus dalam pengertian Gramsci selalu dikaitkan dengan spontanitas sifat psikologis yang mencakup berbagai penerimaan aturan sosio-politis ataupun aspek-aspek aturan yang lain (Patria, 2003:125). Konsensus dapat tercapai karena rasa takut, karena terbiasa dan karena kesadaran dan persetujuan. Kosensus dalam konsep hegemoni terjadi ketika konformitas yang muncul dari tingkah laku mempuyai tingkat-tingkat kesadaran dan pesetujuan dengan unsur tertentu dalam masyarakat. Kemunculan konsensus bukan karena kelas yang terhegemoni menganggap struktur sosial yang ada itu sebagai keinginan mereka. Justtru sebaliknya, hal tersebut terjadi karena mereka kekurangan basis konseptual yang membentuk kesadaran yang memungkinkan mereka memahami realitas sosial secara efektif.
Roger simon

Hegemoni memerlukan penyatuan berbagai kekuatan sosial yang berbeda ke dalam sebuah aliansi yang luas yang mengungkapkan kehendak kolektif semua rakyat, sehingga masing-masing kekuatan ini bisa mempertahankan otonominya sendiri dan memberikan sumbangan dalam gerak maju menuju

About these ads

Responses

  1. saya tertarik tulisan pak Bachtiar ini. bisakah saya dikirimi imel tentang judul2 buku berkaitan dgn hegemoni ini seperti bukunya Eriyanto, McQuail, Richard Bellamy, Patria dll. atas dikiriminya judul2 buku tersebut saya mengucapkan banyak terima kasih. saya tunggu tulisan2 berikutnya. salam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: