Posted by: bachtiar hakim | February 6, 2010

Pelajaran dari Bali : Sakit Aneh dan Pengobatannya


Sudah kurang lebih empat hari leher saya sakit dan tidak tahu apa penyebabnya. Saat hari pertama, saya kira cuma penyakit otot yang   disebabkan salah tidur. Maklum tidur malam saya kurang berkulitas akibat belum biasa dengan cuaca di Denpasar yang sangat panas pada waktu malam.

Hampir setiap mau tidur selalu gelisah karena tidak ada kipas ataupun penghembus (blower). Pelariannya kalau tidak tidur di lantai,  saya mengikuti cara-cara lokal yang disarankan oleh teman, yakni menenggak satu-dua seloki Arak Bali.

Saat duit menipis, tidur di lantai menjadi jalan pintas saat kantuk sudah merasuk.  Diduga kuat, penyebab sakit leher saya karena tidur sembarangan ini.  Berbagai posisi tidur giat dicoba tanpa alas yang memadai.  Wajar saja bila kepala saya sulit digerakkan ke berbagai arah. Rasanya sendi-sendi di leher seperti digembok.

Sebenarnya tidak terkejut, penyakit otot terkilir ini sudah beberapa kali dialami. Biasanya untuk mengobatinya, saya cukup melakukan aktivitas yang memacu gerak tubuh, seperti lari, berenang, ataupun maen sepakbola.

Saat ada acara Nyangkluk Merana  di Pura Dalem dekat Jalan Kebo Iwa, koordinator liputan menyuruh saya  liputan ekstra sore sebagai kameramen. Alasannya, banyak kru yang berhalangan. Ujung-ujungnya,  saya memaksakan diri untuk menjadi kameramen. Ubiet, reporter menjadi tandem saya pada liputan acara yang diperkirakan berlangsung sampai malam.

Diantar oleh sopir, kami tiba di lokasi liputan dalam lima menit saja. Tampak pura sudah mulai  dipadati penduduk sekitar. Tanpa perlu basa-basi,  kami langsung mencari sang Jro Mangku yang akan mengawali dan memuput acara ini. Sudah tentu, beliau akan kami jadikan narasumber yang akan diwawancari. Informasi darinya juga sangat dibutuhkan mengingat  teman saya juga kurang hapal kronologis acaranya.

Saat meliput upacara nyangkluk merana

Seperti halnya mangku-mangku di pura yang saya temui, Jro Mangku tampil dengan busana serba-putih. Namanya, Jro Mangku Subagia. Menurut informasi dari Ubiet, ia salah satu orang “kuat” di Bali.

Saat kami berkenalan dengannya, ia tampak sibuk melayani beberapa orang. Tanggannya terlihat mengurut kening seorang ibu hamil. Sesekali erangan keluar dari mulut ibu yang ditemani suaminya. Ia sepertinya pasrah saja dengan apa yang dilakukan Mangku Subagia. Sampai akhirnya Jro Mangku meniupkan nafasnya ke arah lengan si Ibu sebagai pertanda penyembuhan telah selesai  dilakukan.

Sambil melakukan pengobatan, pertanyaan saya dan Ubiet dilayani dengan baik oleh Jro Mangku yang bercita-cita membangun rumah sakit gratis  ini.  Sesekali Ubiet malah memancing ia untuk mengecek kondisi badan saya. Ubiet menyarankan kepada saya bahwa orang Islam pun tidak salah untuk mencoba. Apalagi ia tahu bahwa saya memiliki keluhan pada leher.

Akhirnya, saya pun pasrah. Hati saya luluh dan batin saya sekuat mungkin memercayakan  kesembuhan pada terapi yang dilakukan Mangku yang mengaku sedang menempuh pendidikan pascasarjana bidang hukum ini.

Awalnya Tegang

Pertama-tama ia memosisikan badan saya tepat di hadapannya sambil melepas senyum. Rasanya agak tegang juga berhadapan dengan orang yang berilmu spiritual tinggi. Namun, rasa itu perlahan sirna saat Jro Mangku memijat-mijat bagian tubuh saya mulai dari kening, leher, lengan  sampai ke jari tangan dengan sentuhan ringan. Hal yang membuat saya heran, ia hampir tidak  terlihat seperti seorang dokter yang mengobati pasiennya. Terus saja ia mengajak ngobrol saya.

Tapi seketika tanpa aba-aba pijatannya itu berhenti di satu titik. Dan saya menjerit ketika tangannya meremas pergelangan tangan dan jari-jarinya mulai menekan urat nadidengan keras. Sialnya, teman saya mengaku bahwa ia melihat  saya hanya disentuh-sentuh saja. Apakah ada tenaga dalam yang begitu kuat terpancar di balik sentuhan ringannya itu?

Satu yang pasti bulu kuduk saya mendadak berdiri. Keringat dingin juga mulai mengucur deras dari leher. Jro Mangku mulai merambah posisi tubuh saya lainnya yakni kening. Ia melakukan usapan di kening dengan arah putaran mengelilingi mata. Lantas, tangannya beranjak ke arah leher saya dan kembali ke tangan lagi.

Kali ini, pijatannya sungguh terasa makin kuat. Mungkin terasa paling kuat diantara pijatan-pijatan sebelumnya. Inilah klimaks dari pengobatan ini sebelum akhirnya ia mengembuskan nafas dari mulutnya ke arah muka saya, serupa dengan pasien sebelumnya.

Saya merasa lega. Lantas ia mengecek kembali kondisi tubuh saya. Bagian leher adalah yang paling utama karena disitulah letak keluhan yang saya utarakan. Benar saja, seketika saja tidak terasa lagi rasa pegal-pegal yang saya rasakan sebelumnya.  Badan pun terasa pulih dengan cepat. Sangat segar sensasinya.

Lantas ia menanyakan beberapa hal yang tidak saya duga. “Pernahkah kamu menyakiti perasaan wanita?” tanyanya. Saya terbengong-bengong antara mau menjawab atau tidak. Masalahnya, ada Ubiet di samping saya dan saya semakin sungkan untuk membongkar diri.  Saya hanya mengangguk dan bilang “pernah, Jro Mangku”

Ia hanya tersenyum dan bilang bahwa ada udara hitam di bagian dada saya yang menyebabkan sakit secara mental dan fisik. Saya tidak mengerti  maksudnya dan balik menjawab daripada ditanyakan lagi olehnya. “saya memang sering keluar malam di Bali pake motor, mungkin paru-paru saya kotor gara-gara sering terkena udara malam”.

Ubiet langsung menanggapi dan bilang bahwa yang dimaksud udara kotor bukanlah yang saya maksud. Udara kotor, menurutnya “black magic”. Jro Mangku langsung terseyum dan mengangguk-angguk saja. Dia hanya menasehati saya untuk tidak mengecewakan lagi di masa-masa yang akan datang.

Pertanyaannya, siapa yang tega mengirimkan ilmu hitam kepada saya? Jro Mangku hanya tersenyum, tidak bisa menyebut nama dan menyerahkan sepenuhnya jawaban kepada saya.   Ia hanya bilang “orangnya sering berhubungan denganmu belakangan ini. ”

Siapa???

Tidak melulu fisik

Percaya atau tidak, tapi saya sembuh. Mungkin pengobatan yang saya alami kali ini sedikit banyak mengubah sikap dan pandangan saya terhadap pengobatan alternatif. Akhirnya , saya mulai mengkaji juga pengobatan semacam ini dalam agama yang saya anut. Ternyata dalam islam juga banyak yang saya temukan.

Dewasa ini, saya melihat banyak tanda menggembirakan yang menunjukkan bahwa dunia kedokteran Barat – setelah sekian lama menunjukkan penolakannya – kini mulai menerima dan menyerap gagasan tentang terapi spiritual. Perubahan ini muncul karena banyak orang yang tidak lagi merasa nyaman menginterpretasikan kesehatan dan penyakit hanya pada hal-hal yang bersifat materialistis.

Kecanggihan dunia medis sekarang ini tampaknya mulai diiringi oleh perkembangan berbagai pengobatan alternatif yang menjamur di mana-mana. Contohnya ada terapis yang memakai clurit untuk mengeluarkan penyakit melalui darah kotor, ada juga yang pasien yang  disuruh mandi di mata air, mandi di pasir pantai. Patut diakui,  sebagian orang sudah mulai melirik metode-metode terapi yang dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki titel doktor.

Hal ini merupakan fenomena bahwa penyakit yang diderita manusia tidak dapat sepenuhnya disembuhkan dengan obat medis atau kecanggihan perangkat medis. Kalau menyangkut yang terlihat oleh pancaindera kita, seperti luka bakar, luka tersebut dapat disembuhkan dengan obat-obatan medis. Akan tetapi patut diakui juga bahwa banyak orang yang sembuh dari penyakit yang dideritanya hanya dengan pemusatan pemikiran, pemusatan pernafasan atau pemusatan diri lewat kontemplasi spiritual.

Penyembuhan bukan hanya sekedar proses fisik, tetapi juga melibatkan mental. Apabila seorang dokter melihat tulang retak yang pulih kembali atau melihat tumor ganas yang mneyebar, mereka sudah dikondisikan untuk mencari mekanisme fisik atas kejadian tersebut. Padahal mekanisme fisik ibarat sebuah tabir. Di balik tabir itu, menurut Deepak Chopra dalam bukunya Quantum Healing, ada sesuatu yang abstrak, pengetahuan yang tidak dapat dilihat atau disentuh secara inderawi.

Dalam pengertian ini, penyembuhan adalah sesuatu yang hidup rumit, dan menyeluruh. Dokter menanganinya dengan pengetahuan yang terbatas pada empirisme, dan penyembuhan tampaknya mematuhi keterbatasan empirisme. Akan tetapi bila sesuatu yang aneh terjadi, dunia pengobatan menjadi terkejut. Pada saat itu keterbatasan dokter seperti “diakali”.

Deepak Chopra menyaksikan beberapa pasiennya yang menderita kanker tiba-tiba saja sembuh seluruhnya, padahal sebelumnya penyakit mereka tidak dapat disembuhkan dan mereka diperkirakan hanya dapat hidup beberapa bulan saja.  Ia tidak pernah menganggap kejadian seperti itu sebagai keanehan. Ia percaya semua itu merupakan bukti bahwa pikiran manusia sebenarnya dapat menyelam lebih dalam, sehingga mampu mengubah pola-pola penting yang terancang dalam tubuh manusia. Pikiran manusia pun diyakininya dapat menghapuskan penyakit apapun termasuk kanker, diabetes, jantung koroner, dsb.

Penyakit kecanduan narkoba misalnya, merupakan penyakit yang fenomenal di abad ini. Bagi beberapa orang tua yang menginginkan pengobatan sekaligus pembenahan mental dan rohani islami anaknya,  terapi yang dibutuhkan  ternyata lebih pada pendekatan spiritual (tasawuf), seperti dengan pendekatan Zikir yang dilakukan di pondok-pondok Inabah di Suryalaya.

Singkatnya, untuk membuktikannya, anda harus mencoba dan percaya bahwa kesembuhan juga karena pikiran dan mental anda mampu mengobatinya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: