Posted by: bachtiar hakim | March 11, 2008

Bencana gempa & tsunami : Lemparan dadu licik?


July 20, 2006

Tragis…

Begitulah kisah Pujianto (34), seorang penjaga sekolah di sebuah SMA di Yogyakarta. Meski tinggal di Yogya Pujianto merupakan warga Desa Pejaten, Kecamatan Sido Muli, Pangandaran. Bersama tiga anaknya tercinta, Dimas (10), Budi (9) dan Tiara (5) ia pulang kampung menikmati liburan sekolah. Istri Pujianto, Partini, tidak ikut karena sedang sibuk sebagai buruh panen.

Senin siang yang naas itu, Budi dan ketiga anaknya tengah bergembira menikmati liburan mereka di pantai. Mereka berenang di pinggir pantai barat Pangandaran, dekat gerbang tol. Sekonyong-konyong bumi bergetar dan ombak datang bergulung-gulung.

Dalam sebuah ketidakteraturan yang datang begitu tiba-tiba, mereka hanya bisa memandangi ombak yang menerjang mereka, menerkam mereka, dan akhirnya ikut menilap mereka bersama dengan kenangan suasana bahtera rumah tangga yang baru terintis. Mungkin begitulah suratan takdir tuhan pada mereka. Sadiskah?? Siapa yang berhak menginterupsinya.

WAktu itu… Aku memang tidak bisa memastikan bahwa panca inderaku tepat berada di sana seutuhnya. aku hanya berpura-pura memastikan lewat mata dan telingaku… ikut memastikan terjadinya sebuah proses hilangnya raga-raga lewat alam.

Sayang… aku tidak ikut menguntit mereka ketika menuju sebuah lorong gelap, tempat yang tidak ada pengertianku di dalamnya… semuanya gelap… gelap… tidak bisa kulihat atau kuterka arahnya.

Lorong yang gelap… itulah kematian. Bagiku, proses kematian itu sangat gelap bagi yang hidup. Yang hidup hanya bisa menonton… memandangi bagaimana mereka bisa terjebak masuk dalam lorong yang gelap tersebut… Di SITULAH!!! mereka terjeblos begitu saja lewat sebuah lubang yang tidak bisa diramalkan letaknya. DISITULAH AKU MELIHATnya, aku hanya melihat lubang dan lubang yang dalamnya tidak bisa dijangkau. Bagaimanapun usahaku merengkuh tangan mereka dari dalam … aku takkan pernah kuasa karena lubang itu ada di tempat yang tak bisa kuramal dan setelah kucermati ke dalam hanyalah hamparan lorong hitam yang sangat … sangat gelap… BUTA!!!

Bagaimanapun aku tetap tidak bisa menerima itu. Aku tetap harus bisa menolongnya. Tapi Usahaku hanya mencermati satu persatu lubang-lubang tersebut.

MENCATAT….
Bagaimana lubang-lubang itu berjarak satu sama lainnya, entah… mungkin ada pola-pola tertentu sehingga tiap jaraknya bisa diperkirakan seperti halnya aku bermain games minesweeper.

Mencoba menghitung kapan saja lubang-lubang tersebut menjebloskan manusia ke dalam lorong gelap. entah… mungkin tiap waktunya bisa diperkirakan seperti halnya aku bermain games dinamit.

Dan setelah itu mencoba menempatkan seluruh panca indera dan hatiku di antara kerumunan manusia yang sedang mawas ataupun tidak…… entah dimana dan kapanpun mereka terjeblos aku selalu bisa menolongnya karena aku sangat dekat. Mungkin terlihat seperti adegan-adegan penyelamatan klasik oleh seorang pahlawan yang memegang sangat erat tangan seseorang yang hampir jatuh dari tebing yang sangat tinggi di film 2petualangan.

Selebih dari kemampuan memperkirakan, mengamati, dan menolong sekuat tenaga dari manusia, bencana alam bagaikan nilai yang keluar dari kocokan dadu bermata tak terhingga.

Siapa yang sanggup menciptakan dadu tersebut dan melemparkannya?

Diakah licik?

Lagi… lagi… Siapa yang berhak menginterupsinya.

Maka, melewati kejadian yang dahsyat ini kita dilibatkan secara tidak sengaja dalam kegiatan soul searching, yang bisa membawa kita kepada iman yang lebih kuat, atau justru krisis teologis yang mengguncang.

(RENUNGAN MALAM seorang pria yang tak punya hak interupsi dalam majelis gaib dan dia pun menerimanya dengan ikhlas kodrat tersebut)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: