Posted by: bachtiar hakim | March 11, 2008

Jatinangor Penuh Cerita: Pengalaman pertama ber-privasi ria di sebuah kostan


Jatinnagor Penuh Cerita:

Pengalaman pertama ber-privasi ria di sebuah kostan

Dalam Kemarau dan Gersangnya Gunung Geulis, Juli 2005

Gerbang berwarna hijau yang tingginya dua kali itu masih tertutup rapat. Masih pagi buta memang. Sepintas terlihat roda kehidupan para mahasiswa yang menghuninya belum bergerak. Udara pagi yang menyelimuti pondok yang terletak di sebuah bilangan paling ujung Jalan Sukawening, Jatinangor itu nampaknya cukup kuat untuk melelapkan mata para penghuninya. Letaknya yang jauh dari jalan raya Jatinangor juga biasanya dijadikan pembenaran mereka untuk tidak bergerak sepagi mungkin.

Kebetulan sejak bulan Juli tahun 2005, saya pindah ke Pondok Kindah. Saat itu, ingin rasanya mencari suasana baru setelah dua tahun tinggal di Asrama Poma Unpad. “Saatnya untuk mendapatkan lebih banyak ruang privasi,” harapku.

Padahal, bila harus mengakui, kehidupan di Asrama memang penuh dinamika. Saya mendapatkan banyak teman dengan latar belakang budaya dan jurusan yang berbeda. Pelajaran yang didapatkan sangat banyak terutama dalam penerapan studi ilmu komunikasi dan bisnis. Kekurangannya hanyalah yang terbilang klasik yaitu masalah privasi yang sangat kurang.

Awalnya, kala itu saya sempat kesulitan beradaptasi. Pintu kamar dan jendela kini harus benar-benar tertutup rapat ketika saya beristirahat. Namun, hanya butuh kurang dari tiga puluh hari untuk betah tinggal berlama-lama di pondokan baru itu. Tentu saja karena saya mendapatkan privasi yang diinginkan.

Lendra, Bobby dan Hakim, teman-teman saya sewaktu masih di Asrama sudah pindah ke Kindah setahun lebih awal. Boleh dibilang mereka senior saya di kindah. Saya ingat saat mereka mengetuk satu per satu kamar untuk memperkenalkan saya. Kaget juga saat mengetahui bahwa orang-orang yang sering ditemui di Kampus Fikom ternyata tinggal satu atap dengan saya. Pokoknya, dalam waktu kurang dari seminggu saya sudah mengenal semua penghuni kostan ini.

Seterusnya makin akrab saja. Ada Bung Joe yang enak diajak diskusi masalah musik sampai Teteh Mimi angkatan` 95 yang bersedia jadi teman curhat. Di luar privasi kamar masing-masing, selalu saja ada cara untuk berinteraksi. Setiap hari sepertinya diisi prinsip enjoy aja. Maen PS, Maen Monopoli, Nonton Bareng, Diskusi yang agak serius sampai meng-gosip yang tersadis sekalipun bisa dilakukan sampai pagi hari. Bila suntuk menghinggapi kostan, kita langsung cari tempat yang asyik untuk menghabiskan waktu.

Tinggal dalam kamar berukuran 3 x 3 m, saya merasa cukup betah. Fasilitas memang terbilang kurang bila dibandingkan di Asrama. Sekarang saya harus menggunakan kamar mandi yang terletak di luar kamar. Namun, kalau urusan mandi, Kindah boleh dibilang surganya air. Bayangkan! Saat di daerah jatinangor lainnya kesulitan air pada musim kemarau (termasuk asrama), tak ada keluhan disini.

Sensasi baru dalam pengalaman nge-kost itu sepertinya terlalu murah untuk dibeli dengan biaya sewa kostan yang hanya 150 ribu per bulan. Kebetulan saya memilih sistem pembayaran per bulan daripada per tahun karena dirasakan lebih ringan. Saat itu memang saya berencana memutar uang saya di usaha yang bermodal lebih besar, yaitu warnet.

Saat itu, genap sudah satu tahun , saya tidak menerima kiriman lagi dari orang tua, kecuali jika saya memintanya. Orang tua pun sudah begitu percaya meski saya harus kehilangan sebagian semester tiga dan tiga per empat semester empat saya untuk merintis usaha desain grafis dan multimedia bernama Ground Multimedia.

Ground yang sudah berjalan sembilan bulan dan memiliki cukup banyak pelanggan setia akan saya gabung satu atap dengan warnet. Rencana ini saya lakukan karena pelanggan saya kebanyakan berdomisili di daerah Ciseke. Namun, akibat modal untuk membuka warnet terasa masih sangat kurang, maka saya pun harus mencari tambahan modal. Solusinya, pada awal menginjakkan kaki di Kindah saya berniat mencari tambahan uang lewat penerbitan majalah iklan untuk mahasiswa baru. Bersama Farhan, teman yang kuliah di Statistik Unpad, saya ingin melanjutkan edisi ketiga Majalah Info Jatinangor.

Seperti edisi-edisi terdahulunya, Majalah ini murni media iklan (promosi usaha) yang dipermanis oleh artikel yang mengutamakan unsur how to (panduan). Senada dengan ciri khas bahasannya yang ringan dan aplikatif, bahasa yang digunakan tetap bahasa remaja intermedier.

Dalam isinya, saya banyak mencampuradukkan opini dengan data untuk menggambarkan Jatinangor secara geografis maupun gaya hidup mahasiswanya. Saya ingin membuka wacana mahasiswa baru tentang kondisi geografis kawasan pendidikan Jatinangor, kondisi sosial warganya (mahasiswa dan penduduk) dan kondisi kampus (geopolitik kampus juga diangkat walaupun hanya sebatas perkenalan singkat saja).

Soal siapa yang membiayai majalah ini, saya kebertulan sudah punya jaringan pengusaha-pengusaha di jatinangor. Belajar dari peluh keringat usaha serta pengalaman bermetode trial and error (hahahaha) dalam dua penerbitan ke belakang, pengerjaan majalah kali ini semakin mudah. Saat itu saya bermodalkan mulut untuk presentasi proposal, dengkul untuk berjalan mengeksplorasi usaha-usaha di jatinangor, peralatan seadanya untuk mendesain dan mencetak proposal, serta sample majalah yang edisi pertama dan keduanya berbentuk buletin tsb.

Farhan sempat kaget melihat cara kerja saya yang multifungsi. Majalah ini memang hanya dikerjakan oleh dua orang namun terlihat melibatkan banyak tangan. Tugas pun dibagi rata. Saya bertugas men-survey percetakan, membuat proposal, presentasi di depan calon pengiklan, membuat artikel, mendesain tampilan majalah, mencetak. Farhan mengerjakan proposal untuk kerjasama distribusi dengan Lembaga Kemahasiswaan tertinggi di Unpad, presentasi di depan lembaga tsb., mencatat pemasukan pengeluaran, menagih uang dari pengiklan, meneliti kelengkapan administrasi penerbitan, mengatur sirkulasi. Sisanya dikerjakan bersama.

*** Agustus 2005 ***

Suasana Kindah di pagi hari penuh inspirasi. Suara kicauan burung yang hinggap di kabel listrik PLN depan kamar, membangunkan saya dengan riang. Padi-padi yang saat itu mulai menguning mau tak mau harus dijaga para petani. Pantas saja, pagi buta sekali mereka terlihat dengan cangkul dan arit bagi saya tinggal dekat dengan sawah ada keenakan tersendiri walaupun kadang menyebalkan. Sebal karena ada makhluk Bitch – sebutan anak Kindah untuk binatang sejenis kutu padi- yang bisa membuat kulit melepuh.

Sebulan pertama saja saya sudah kena sengatan bitch. Selangkangan saya terasa nyeri bukan main. Jalan dengan bugil saja sulit apalagi harus memakai celana jeans. Awalnya saya mengira saya terkena penyakin kelamin sejenis herpes. Untung saja setelah sempat diledek dan dikerjai , akhirnya diberitahu juga oleh penghuni lain bahwa itu bukan penyakit.

Pukul delapan Farhan mengetuk pintu kamar. Ia terlihat capai karena harus menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit dari daerah Ciseke dengan berjalan kaki. Dengan penuh ketaatan ia membawa catatan-catatan penting serta uang pemasukan iklan. Ini menandakan dalam satu bulan proyek ini berjalan, tidak banyak masalah yang ditemukan.

Gini Han caranya kalo mau kita dapat lebih banyak uang, ujar saya sambil membuka amplop yang berisi uang,

Saat itu sedikit demi sedikit saya sudah mulai mendapatkan keinginan saya untuk mengumpulkan modal warnet. Saya tidak mau berkoar promosi terlalu banyak kepada teman-teman saya karena sejujurnya majalah ini bukan proyek yang sesuai dengan idealisme saya. Pragmatis saja, saya hanya butuh uang dan uang untuk menghidupi diri sendiri dan selanjutnya untuk membuka usaha yang lebih besar. Boleh saya bilang itu adalah proyek asal jadi yang menghasilkan banyak uang. Pikir saya, proyek idealis saya saat itu adalah merubah konsep tabloid dJatinangor menjadi majalah.

Farhan yang terlihat capek langsung bersandar di kasur yang sudah saya lipat. Ia melihat-lihat koleksi barang pribadi saya yang semakin bertambah banyak. Kembali lagi ke soal kamar. Entah kenapa saya tidak pernah marah lagi kepada teman hanya gara-gara soal virus. Komputer saya terjaga kewatennya gara-gara jarang dioprek lagi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Buku-buku, koleksi kaset dan CD musik sejak SMU, barang-barang berharga, sampai data-data penting berupa ijazah, portofolio bisnis, dan catatan harian saya pokoknya aman.

Sistem campur (kamar untuk pria dan wanita berada dalam satu atap) , saya beruntung memiliki kostan yang menghadap langsung sawah dan gunung geulis tentunya. Sangat indah bila anda ngopi dan merokok di sambil menatap pemandangan itu. “Pooolll,” pujiku. Tak terasa juga saya sudah memindahkan seluruh barang pribadi saya ke kamar itu.. Saya sudah menganggap kostan itu sebagai zona nyaman. “Gw banget lah,” anggapku.

***

Tiga bulan berlalu. Kegiatan saya makin padat. Karena lebih sering menghabiskan waktu di luar kost-an sempat teman-teman mengidentikkan “Bachtiar – bangun terpagi dan pulang terlarut”. Walaupun terkesan melelahkan, tetap saja Kindah menyenangkan bagiku.

>>>> Bersambung ke…..

“Pengalaman pertama berprivasi dengan kostan : Salahkah saya mengutuk orang”


Responses

  1. ya elah…
    baru di serang tu kutu
    lw belum di serang makhluk lain kan??
    hew.. piss ah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: