Posted by: bachtiar hakim | March 16, 2008

Bagaimana Meliput dan Menulis Berita Untuk Media Massa – Ashadi Siregar


Judul Buku : Bagaimana Meliput dan Menulis Berita
untuk Media Massa
Pengarang : Ashadi Siregar

* Rangkuman :

Memberitakan Peristiwa : Untuk Apa?
Menulis berita berarti kegiatan melaporkan seluk-beluk suatu peristiwa yang telah, sedang, atau akan terjadi.
Bagi pembaca, mereka mengharapkan informasi dari :
1.Berita yang melaporkan adanya bahaya yang mengancam kehidupannya, baik itu bahaya fisik, bahaya alam, penyakit, dan sebagainya.
2.Berita yang mengungkapkan ancaman atau tekanan terhadap kebebasan seseorang.
3.Berita yang menambah pengetahuan pembaca untuk memperbaiki kedudukan ekonomi atau sosial.
4.Berita yang mengungkapkan perkembangan atau penghambat dalam peningkatan dalam kehidupan.
Bagi media massa sebagai perusahaan, memberitakan suatu peristiwa bertujuan untuk mencapai oplah penjualan yang tinggi sekaligus perolehan iklan yang tinggi.

Mengenali Karakteristik Pembaca
Wartawan harus berpihak kepada pembaca dengan mengenali karekteristik pembaca melalui beberapa aspek, yaitu geografis, sosiografis, dan psikografis.
Kriteria Layak Berita
Kriteria kelayakan berita adalah mengandung nilai berita, yaitu:
1.Significance (penting), yaitu kejadian yang berkemungkinan mempengaruhi kehidupan orang banyak, atau kejadian yang mempunyai akibat terhadap kehidupan pembaca.
2.Magnitude (besar), yaitu kejadian yang menyangkut angka-angka yang berarti bagi kehidupan orang banyak, atau kejadian yang berakibat yang bisa dijumlahkan dalam angka yang menarik buat pembaca.
3.Timeliness (waktu), yaitu kejadian yang menyangkut hal-hal yang baru terjadi, atau baru dikemukakan.
4.Proximity (kedekatan), yaitu kejadian yang dekat bagi pembaca. Kdekatan ini bisa bersifat geografis maupun emosional.
5.Prominence (tenar), yaitu menyangkut hal-hal yang terkenal atau sangat dikenal oleh pembaca, seperti orang, benda, atau tempat.
6.Human Interest (manusiawi), yaitu kejadian yang memberi sentuhan perasaan bagi pembaca, kejadian yang menyangkut orang biasa dalam situasi luar biasa, atau orang besar dalam situasi biasa.

Secara umum, masalah yang diangkat dalam berita biasanya digolongkan dalam empat bidang, diantaranya:
1.Bidang ekonomi (perekonomian, perdagangan, industri, perbankan, keuangan)
2.Bidang politik (birokrasi, parlemen, partai politik)
3.Bidang sosial (kesehatan, kesejahteraan, pendidikan, hukum, kriminalitas)
4.Bidang budaya (kebudayaan, seni, olahraga)

Mengenali Realitas
Peristiwa sebagai suatu realitas, dibangun oleh sejumlah fakta. Fakta tidak selalu statis tapi memiliki dinamika yang mungkin berubah seiring dengan perubahan peristiwa itu sendiri. Fakta suatu realitas bisa berserakan tanpa memperlihatkan hubungan satu sama lain. Fakta juga tidak boleh hanya dilihat dan dideskripsikan begitu saja, melainkan harus dilihat maknanya dalam konteks yang lebih luas.
Hal-hal inilah yang menyulitkan wartawan ketika mengumpulkan fakta. Sejatinyam, wartawan harus memberikan fakta-fakta yang memiliki relevansi. Namun, kelemahan wartawan biasanya terlihat pada pemakaian kata-kata berlebihan. Kata-kata yang berlebihan itu tidak ditunjang oleh deskripsi atas fakta-fakta yang direalisasikan dengan abstraksi gejala itu.
Oleh karena itu, kemauan untuk berpikir konstekstual akan mengurangi kebiasaan wartawan yang hanya menulis pendapat atau pernyataan orang-orang penting.

Mengumpulkan Fakta
Keterampilan menulis berita sama sekali tak berarti kalau tidak diimbangi dengan kemampuan mencari dan mencatat fakta. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan wartawan melihat fakta secara kontekstual.
Wartawan dapat mencari atau mengumpulkan fakta lewat :
Pengamatan inderawi (observasi) : mencari fakta lewat hal-hal yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dirasa, atau dikecap.
Wawancara : bertanya kepada orang yang tepat untuk memperoleh fakta atau latar belakang suatu masalah. Leeat wawancara diperoleh pendapat, harapan, cita-cita, atau aspirasi seseorang.
Riset dokumentasi : upaya memperoleh fakta yang berasal dari dokumentasi tertulis. Dokumentasi ini bisa berupa data. Data ini berguna untuk mencek kebenaran dan akurasi fakta.

Mengidentifikasi Fakta
Suatu peristiwa yang diberitakan dapat diungkapkan melalui pertanyaan pokok jurnalistik 5W+1H, yaitu :
1.What : Apa yang terjadi?
2.Who : Siapa yang terlibat dalam kejadian?
3.Why : Mengapa kejadian itu timbul?
4.Where : Di mana kejadian itu?
5.When : Bilamana kejadian itu?
6.Howe : Bagaimana kejadian itu?

Relevansi fakta
Fakta yang berhasil dikumpulkan wartawan bisa saja akurat dan faktual, namun tidak semuanya harus dicantumkan dalam sebuah berita. Wartawan perlu menilai apakah fakta itu relevan dengan topik berita yang akan ditulis.

Kritis Terhadap Fakta
Wartawan perlu memiliki sikap kritis terhadap fakta. Sikap ini tidak muncul begitu saja melainkan tumbuh lewat rasa keingintahuan yang mendalam dan latihan terus-menerus. Wartawan secara rutin harus berrlatih melihat perbedaan atau persamaan lewat proses :
Klasifikasi : suatu proses yang bersifat alamiah untuk menampilkan hasil atau objek penginderaan kita dalam kelompok-kelompok (kelas-kelas) tertentu
Analisis bagian : usaha untuk menentukan batas-batas atau titik sanding unsur-unsur yang membentuk suatu objek
Analisis proses : analisis yang dapat dilakukan kalau bagian-bagian yang dikemukakan dapat berubah, atau menggerakkan keseluruhan itu
Penalaran induktif : penalaran yang berawal pada yang khusus atau bentuk spesifik dan berakhir pada yang umum
Penalaran deduktif : penalaran dari umum ke yang khusus

Meliput
Panggilan kerja wartawan adalah meliput untuk menghasilkan berita. Wartawan menjalankan juga profesi sebagai pekerja mandiri yang digerakkan oleh panggilan kepedulian karena redaktur tidak selalu memberikan tugas kepada wartawan. Dalam tugasnya , wartawan bisa meliput :
Peristiwa momentum : peristiwa yang timbul begitu saja tanpa diduga sebelumnya.
Peristiwa teragenda : peristiwa yang telah diketahui sebelumnya kapan peristiwa itu akan terjadi.
Peristiwa lanjutan (Follow-up News) : kelanjutan suatu berita tentang peristiwa yang telah disiarkan sebelumnya.
Peristiwa fenomena : Peristiwa yang berlangsung seolah tanpa memiliki petunjuk yang jelas, sehingga hanya dapat diketahui dengan mengamati berbagai gejala.

Dasar Bahasa Jurnalistik
Hanya lewat bahasa yang cermat, berita dapat mengantar pembaca untuk membayangkan apa yang sebenarnya terjadi. Untuk itu wartawan harus :
Mahir menggunakan kalimat : memilih kata yang pas untuk memaknai sesuatu.
Mencermati ejaan : tahu bagaimana huruf-huruf harus dipakai untuk menyatakan bunyi dalam bahasa tulisan.
Menyiasati pembentukan kata
Menggunakan kalimat : kata-kata harus disusun sedemikian rupa agar menjadi bermacam-macam kesatuan, dari kesatuan itu dari yang kecil hingga yang besar. Bahasa memiliki perangkat untuk itu, yakni alat kalimat yang terdiri dari : susunan kata yang menempatkan kata menurut urutannya, pembentukan kata dengan perangkat imbuhan dan perulangan kata, intonasi, kata tugas yang menyatakan hubungan makna yang hendak kita sampaikan.

Menyusun Kerangka Tulisan
Kerangka tulisan dapat membantu penulis mengenali bagian-bagian tulisan dalam suatu struktur yang utuh. Setiap bagian memiliki pokok pikiran yang bergabung menjadi unsur pembangun pokok pikiran utama.
Menulis Berita
Berita jurnalistik dapat digolongkan atas :
Berita langsung (straight/hard/spot news) : unsur-unsur terpenting dari peristiwa itu harus sesegera mungkin disampaikan kepada pembaca
Berita ringan (soft news) : memuat unsur yang menarik dalam peristiwa penting seperti kejadian manusiawi
Berita kisah (feature) : memuat unsur yang dapat menyentuh perasaan, atau yang menambah pengetahuan pembaca lewat penjelasan rinci, lengkap, serta mendalam.
Laporan mendalam (indepth report) : hampir sama dengan berita kisah tetapi perbedaannya terletak pada adanya unsur manusiawi yang terdapat dalam berita kisah yang belum tentu digunakan dalam laporan mendalam.

Menjadi Wartawan Profesional
Wartawan yang profesional harus memiliki kebiasaan:
Persiapan yang matang sebelum ke lapangan
Menjalin hubungan baik dengan sumber berita
Menjaga akurasi dengan tetap cermat pada semua fakta yang didapat
Menjaga keseimbangan
Menjunjung ketidakberpihakan dengan tidak memihak salah satu kubu di dalam masyarakat
Mengutamakan objektivitas dengan memperlakukan fakta apa adanya
Menjaga etika profesi seperti yang tertera dalam Kode Etik Wartawan Indonesia, Kode Etik Aliansi Jurnalis Independen, Kode Etik Persatuan Wartawan Indonesia, dan Undang-Undang No. 40 tentang Pers
Memahami politik keredaksian.


Responses

  1. bah nuhun euy..
    di copy nya bahanna.

  2. diedit deui nya nu….

  3. Sok diedit, tapi ulah dikumpulkeun nya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: