Posted by: bachtiar hakim | March 16, 2008

bagaimana mempertimbangkan artikel opini untuk media massa – ashadi siregar dan i made suarjana


Bagaimana Mempertimbangkan Artikel Opini Untuk Media Massa

Ashadi Siregar & I Made Suarjana. 1995. Yogyakarta : Penerbit Kanisius

Ringkasan :

Artikel Opini dalam Pers Indonesia
Penulisan opini sudah menjadi perhatian sejak pemerintahan kolonial (Hindia-Belanda) Balai pustaka punya bukti sejarah yang kuat dengan manuskrip tulisan dari pers Melayu dan Cina yang terbit dalam bahasa Indonesia.
Di masa perjuangan, tulisan opini seting dibuat dengan berani, seperti dari Penggugah dengan Soewardi sebagai pemimpin redaksinya. Kritik-kritik terhadap pemerintahan kolonial belanda menjadi isu utama yang beredar saat itu.

Karakteristik Artikel Opini
Menurut bobotnya dibedakan menjadi :
1.Berbobot Impresi : alat analisis yang digunakan adalah impresi penulis.
2.Berbobot evaluasi : alat analisis yang digunakan adalah judgements, yaitu norma dengan mana i9ntelek mengafirmasikan atau menegasikan sesuatu.
3.Berbobot intrepretasi : Alat analisis yang digunakan yaitu preposisi.
4.Berbobot Eksplanasi : alat analisis yang digunakan yaitu teori

Menurut Posisi penulis dibagi menajdi :
1.Suara pribadi : opini dilansir dari suara pribadi si penulis dan ditulis secara by-line
2.Suara Lembaga : Opini berasal dari kolektivitas lembaga, bisasanya tanpa nama penulis
3.Suara Autoratif : Opini berasal dari orang yang pakar di suatu bidang

Pusat-Pusat Pemikiran dan Para Pembentuk Opini Publik di Indonesia :
Untuk memetakan pusat-pusat pemikiran yang sanggup membangun opini publik, kita perlu melihat misi pers yang diemban pers negara tersebut, dan opini seperti apa yang ingin dibangun beserta tujuannya.
Proses pembentukan opini di masyarakat yang pemerintahannya menganut sistem totalitarian, dengan pers yang tanpa kebebasan hanya dapat dipuaskan oleh penguasa negeri tersebut. Misi pers di negara ini pun sebatas propaganda dengan tujuan menanamkan keyakinan doktriner yang dibangun di atas opini tunggal.
Sementara di negeri yang pemerintahnnya menganut libertarian, dengan pers yang dikontrol penuh oleh mekanisme pasar, proses pembangunan opini dilakukan oleh para pemodal besar. Misi pers di negara ini lebih sebagai sarana penyiar dan sarana penyebar gagasan yang membela kepentingan bisnis.
Menurut pemerintahan Soeharto, Indonesia berada di luar kedua sistem tadi dengan menganut paham sendiri yaitu pers pancasila yang diterjemahkan sebagai ”pers bebas dan bertanggung jawab”. Proses pembentukan opini dalam sistem ini tentu tidak akan dikontrol oleh kepentingan libertarian dan totalitarian. Misi pers-nya memberikan layanan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik, menyelenggarakan forum dialog dalam masyarakat dan mengawal tegaknya hak-hak individu untuk menghindari kesewenangan pihak yang kuat.
Di sistem pancasila, ada tiga pembangun opini yang tipenya mudah dikenal, yaitu :
Lembaga di lingkungan pemerintahan
Organisasi politik dan kemasyarakatan
Lembaga kajian dan penelitian
Di pihak media massa yang menyebarluaskan proses pembentukan opini, terdapat redaktur opini (biasa disingkat redop). Redop bertugas mempertimbangkan opini-opini yang masuk dan hendak dibentuk Ada tiga hal yang dibutuhkan redop yaitu :
1.Penguasaan terhadap bidang yang mau digarap
2.Mengetahui isu/peta pemikiran dari isu yang mau dibahas
3.Mengidentifikasi sumber dari peta pemikiran itu.
Selain itu Redop harus menguasai teori-teori pembangunan dan isu-isu/model-modelnya selain juga pengetahuan tentang budaya untuk dapat menganalisis isu pembangunan seperti kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, lingkungan dsb. Redop mau tidak mau harus menawarakan terapi-terapi kepada masyarakat dalam menghadapi suatu masalah.

Sumber Ide bagi Penulisan Artikel Opini :
Selain masalah ekonomi, rumusan yang mulai diperbincangkan para peneliti ilmu sosial Indonesia adalah agenda politik. Saat itu, agenda politik dan kebijakan pemerintah digunakan untuk membahas dan mengaitkan fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat. Dalam konteks (pemerintahan Soeharto pada tahun 1995) ini setidaknya ada tiga isu besar yang bisa diangkat penulis opini, yaitu :
1.Militer dan Politik. Contoh : maslaah dwifungsi ABRI
2.Islam dan Politik
3.Bisnis dan Politik
4.Lainnya : persoalan dikotomi Sipil-Militer, lemahnya civil society, Masalah HAM, dan persoalan ekonomi yang tidak transparan

Pengelolaan Rubrik Opini oleh Redaktur :
Rubrik opini yang tidak jarang menjadi penentu opini publik, harus dikelola secara maksimal. Ada tiga cara kerja redaktur opini yang penerapannya disesuaikan dengan sikap dan policy masing-masing media massa, yaitu:
1.Ragam Artikel Opini : proses seleksi dengan kategorisasi opini menurut unit analisis, bobot argumen, dan posisi penulis
2.Kriteria Layak Muat : aktualitas newspeg, ide yang orisinil, kompetensi penulis, logika penulisan runtut, gaya penulisannya padat-populer-menarik, non-tautologis, tidak mengandung SARA, tidak menyerang pribadi seseorang, dan menggunakan bahasa yang jelas dan benar.
3.Manajemen Perencanaan :
– Mengenali dan mengikuti isu lokal, regional, dan internasional yang aktual dan
faktual
– Jemput bola meminta penulis yang kompeten di bidangnya dan nyetel dengan
policy media tersebut
– Memantau penulis agar menepati deadline, menyiapkan outline tulisan, dan
memberikan alasan-alasan mengapa topic itu perlu diangkat.
– Merancang artikel yang akan dimuat di rubrik opini sesuai dengan peristiwa
yang teragenda maupun non agenda.
4.Penyuntingan artikel
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
mempertimbangkan isi dan aspek teknis penyajian
menghubungi penulis untuk hal-hal yang perlu dikonsultasikan
Membuat perkiraan panjang naskah
Menyiapkan cadangan naskah untuk mengantisipasi perkembangan/perubahan isu lebih lanjut
5.Bidang Kerja Redaktur Rubrik Opini
kebijakan keredaksian : segi surat kabar (filosofi dan kebijaksanaan), Segi Pembaca (kebutuhan segmen pembaca), Segi Penulis (mengenali dan mengarahkan ide penulis sesuai kebutuhan pembaca
Teknis operasional : membaca semua berita/artikel hari itu, memutuskan event yang perlu segera ditindaklanjuti, menyeleksi artikel yang masuk, menilai artikel yang layak muat dan mengedit, mengecek data, mensupervisi lay-out, melakukan administrasi pemberian honorarium, melakukan talent scouting penulis, dsb.


Responses

  1. makasih ya mas….. atas semuanya…. bermanffat bgt bagi saya yang mau uas, ujian nya tentang ini… he…he…he… gamblang, dan simpel, syukron


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: