Posted by: bachtiar hakim | March 16, 2008

Jerry Akhirnya Dibunuh Tom (Tamatkah Serialnya?)


Jerry Akhirnya Dibunuh Tom (Tamatkah Serialnya?)

oleh : Bachtiar Hakim

Kejar-kejaran, tolong-Menolong yang semu, umpet-umpetan dan berakhir dengan terbunuhnya salah satu tokoh utama yang paling menggemaskan.
Terbunuhnya Jerry dalam serial kartunnya di teve, mungkin jadi akhir yang terlalu cepat dan tragis bagi Steven Spielberg-Sang Produser tayangan lintas-generasi yang tetap populer hingga kini..
Namun, kita anggap saja terbunuhnya tokoh Jerry dalam serial Tom and Jerry sebagai ilustrasi untuk menggambarkan dua tokoh yang punya pengaruh besar di dunia. Siapa tidak kenal George W. Bush dan Saddam Hussein?
Beberapa tahun terakhir, hubungan kedua tokoh ini menjadi pajangan yang menggairahkan di headline-headline surat kabar. Dan berpuncak pada DIHUKUM GANTUNGNYA SADDAM yang berarti berakhirnya hubungan mereka.
Menarik sekali untuk membahas fenomena besar ini. Namun, dalam kesempatan ini yang perlu dibahas bukan semata layak atau tidaknya hukuman mati bagi Saddam. Wacana ini sudah banyak mengundang banyak tanggapan mulai dari orang awam sampai Sekjen PBB.
Alangkah bijaknya bila kita lebih memandang peristiwa besar ini dengan kacamata hubungan manusia dalam politik dan kekuasaan seperti menurut teori non valuational dari Thomas P. Jenkin dalam bukunya The Study of Political Theory. Rentetan hubungan keduanya yang diilustrasikan dalam paragraf pertama tulisan ini bisa menjadi refleksi.
Sejarah mencatat pada perang teluk II, dua dekade silam, Saddam dibantu Bush Senior- ayah G.. W. Bush- untuk menghadapi Iran. Bantuan konkritnya, AS mensuplai senjata pemusnah massal –termasuk diantaranya senjata kimia- pada Irak dan sebaliknya mengeembargo Iran di bidang militer setelah sebelumnya bekerjasama dengan negeri ini .
Negeri seribu satu malam ini pun membalas jasa AS dengan membuka akses perusahaan minyak AS untuk beroperasi di ladang-ladang minyaknya. Namun, hal yang membuat Bush senior tersenyum lebar adalah Irak berhasil membantai ribuan penduduk Iran – batu sandungan terbesar bagi AS untuk menginjakkan kakinya di Jazirah Arab. Senjata dari AS itu pulalah yang dipakai membantai etnis Kurdi.
Ironisnya, beberapa tahun kemudian setelah perang teluk usai hubungan keduanya memanas. Pemicunya, AS menuduh Saddam memberi ruang bagi komunis untuk berkembang di Irak. AS pun akhirnya menjatuhkan embargo militer dan ekonomi kepada Irak.
Dalam penderitaan yang cukup panjang itu, Saddam mengajak rakyatnya untuk berkonfrontasi dengan negara barat. Ia memilih bekerjasama dengan beberapa kekuatan sosialis di Amerika Selatan dan Libya.
Di sisi lain pasca runtuhnya Sovyet sosialis, Bush senior lengser dari gedung putih. Ia diganti Clinton sebelum akhirnya George W. Bush, meneruskan imperium sang ayah. Ia juga yang diamanati meneruskan beberapa agenda sang ayah di Timteng yang belum kelar.
Sebaliknya, nama Saddam makin mengkilat sebagai pemimpin anti Barat yang berpengaruh di dunia. Kemilapnya ditambah pula rasa percaya diri bangsa Irak akan kemajuan di Bidang Iptek, militer, dan ekonomi yang menyiratkan tidak efektifnya embargo AS. Walaupun sebenarnya di dalam negeri terjadi konflik antar golongan yang berkepanjangan.
Kemajuan yang pesat itulah yang mengesankan bahwa Irak sedang membangun kekuatan baru. Salah satu isu besar yang ditangkap AS adalah Irak memiliki senjata nuklir yang dapat membahayakan keamanan dunia karena faktor Saddam. Temuan itu menjadi alibi Bush untuk menggelar operasi militer besar-besaran ke Irak.
Irak hancur lebur. Saddam dan pengikutnya hilang dari istana entah kemana. Walaupun senjata nuklir yang dicurigai Bush tidak pernah ditemukan, Saddam tetap menjadi buronan nomor satu di dunia. Hasinya, Ia bagaikan Jerry yang bersembunyi dari satu lubang ke lubang lainnya untuk menghindar dari kejaran kucing Bush.
Saddam tertangkap juga di bunker rahasia. Ia dibawa ke AS untuk ditahan dan diadili di Mahkamah Internasional sebagai otak utama pembantaian etnis kurdi sebelum akhirnya Bush mengembalikannya ke pengadilan otoritas baru Irak bentukannya. Ujungnya berbuah eksekusi mati di tiang gantung bagi Saddam.
Tokoh Jerry dalam serial itu telah tiada. Namun, dari runtutan hubungannya dengan Imperator Bush senior-junior, ia bisa menjadi renungan terbesar bagi politikus, negarawan, ilmuwan, filusuf, dan agamawan untuk mencermati lagi hubungan manusia dalam politik dan kekuasaan.
Peristiwa itu memang hanyalah segelintir dari banyaknya kejadian bertema serupa dari mulai jaman Romawi hingga kini dan terjadi di belahan Amerika hingga ke negeri ini. Untuk kesekian kalinya persahabatan bisa berubah 180 derajat menjadi permusuhan di dunia politik. Lagi-lagi intrik dan berbagai cara yang kotor sekalipun dapat dihalalkan untuk mendapatkan kekuasaan.
Tetapi jangan langsung beranggapan bahwa “politik itu kotor” dan “terjun ke dunia politik sama dengan menceburkan diri ke kolam yang keruh”. Serupa dengan stigma “kekuasaan melahirkan penindasan” dan “kekuasaan bisa didapatkan dengan berbagai macam cara.”
Pendapat bercitra dogmatis itu menghilangkan fakta epik dan etis seorang manusia dalam politik sebagai proses membina kerjasama, mewujudkan bersama tujuan yang ideal, dan adapun koersi atau paksaan yang mutlak dalam mengimplementasikan decision making juga menggunakan prinsip etis.
Jenkin melanjutkan bahwa tujuan teori non-valuational ini adalah agar sebuah peristiwa dapat disistematisir dan disimpulkan dalam generalisasi-generalisasi. Artinya, mengapa kita tidak mencoba belajar dari kesimpulan peristiwa tersebut untuk lantas berparadigma berdasarkan fakta epik dan etis tadi ketika terjun ke dunia politik.
Seperti kisah pertemuan Lord North dengan oposan sekaligus seteru bertengkarnya, Kolonel Barre.
Lord North mengatakan, Though you and I have had our quarrels in the past in the past, I wager there are no two men in england who would be happier to see one another today (meskipun kita dulu banyak bertengkar, saya yakin, di seluruh Inggris, tidak ada dua orang yang lebih bergembira dari kita, untuk bisa saling berjumpa hari ini).
Semoga kata-kata yang yang sering dijadikan sambutan dalam pertemuan dua pemimpin yang tengah akur maupun hendak berhenti berkonfrontasi ini menjadi benteng pertama yang mengingatkan untuk tidak berkhianat dan bermain kotor di kemudian hari.
Pertanyaannya, siapa yang akan menamatkan peristiwa-peristiwa serupa yang diilustrasikan dalam serial Tom and Jerry ini setelah dunia belajar dari matinya Saddam?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: