Posted by: bachtiar hakim | March 16, 2008

Mengawinkan Bahasa Sunda dengan Bahasa IPTEK


Perkawinan Bahasa Sunda dengan Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Dalam seminggu ini, kawasan priangan dikagetkan oleh pernyataan Gugun Gunadi dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Menurutnya, penutur bahasa Sunda di Kota Bandung yang tersisa tinggal 30 %. Penuturnya pun terbatas pada kalangan pelajar yang sedang mengikuti kegiatan belajar-mengajar bahasa Sunda di sekolah seperti yang termuat di Pikiran Rakyat (15/02). Lebih lanjut, ia memperkirakan pada tahun 2010 tidak ada lagi penduduk Bandung yang menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari.
Pernyataan ini bagai mendung kelabu yang menaungi detik-detik Peringatan Hari Ibu Internasional di tanah priangan pada 21 Februari lalu. Acara khusus yang salah satunya diadakan di Gedung Universitas Padjadjaran ini disambut dingin oleh urang Sunda, terlihat dari sepinya pengunjung.
Kontan saja, temuan ini menjadi perbincangan hangat terutama setelah menjadi berita di beberapa media massa cetak lokal dan buka mulutnya sejumlah kolumnis budaya di Jawa Barat untuk berkomentar. Diyakini pula, respon yang kurang menggembirakan pada peringatan bahasa sunda sebagai bahasa ibu juga bakal membuat otak pengamat budaya Sunda berputar lebih cepat di hari-hari depan.
Isi temuan ini sungguh memprihatinkan. Dari sejumlah paparan yang bersifat mendukung maupun meragukan pernyataan Gugun, penulis mendapatkan sebuah generalisasi yang bisa ditarik, yaitu Bahasa Sunda sudah tidak lagi diterima secara penuh sebagai bahasa ibu di tanah airnya sendiri.
Masalah terbesar yang menjadi alasan minimnya penggunaan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari tak lain disebabkan beredarnya cara pandang yang keliru di masyarakat tentang bahasa Sunda itu sendiri. Salah satunya seperti yang dikeluhkan Gugun, yaitu bahasa Sunda dianggap tidak intelek, tidak sesuai dengan kebutuhan ilmu dan teknologi.
Kini, Orang Sunda lebih bangga berbahasa Indonesia dan asing untuk membicarakan setiap aspek dari teknologi dan ilmu pengetahuan. Penulis sering menjumpai keadaan ini di setiap pusat-pusat pembelajaran ilmu pengetahuan maupun penyedia produk teknologi yang telah dikomersialkan.
Ambil saja sebuah contoh di sudut pusat perbelanjaan Bandung Electonic Center (BEC) yang merupakan salah satu kiblatnya produk-produk teknologi di Bandung. Berawal dengan sapaan akrab dengan bahasa Sunda dari pengelola kios, tanpa disadari, selanjutnya kata-kata yang keluar dari pedagang untuk menjelaskan komputer didominasi oleh istilah-istilah bahasa Inggris walaupun dia mengaku urang sunda.
Seringnya pelafalan produk-produk dengan label Windows, Corel, Linux maupun istilah dari teknologi seperti hardware, motherboard, RAM dan sejenisnya dengan aksen sunda memang menegaskan akrabnya urang Sunda pada aspek-aspek teknologi yang populer.
Hal ini salah satunya disebabkan penetrasi kuat dari media massa yang mereferensikan istilah serupa untuk digunakan sebagai simbol dalam berkomunikasi. Akibatnya, pedagang dan konsumen yang terpengaruh saling memposisikan diri sebagai agen pertukaran bahasa. Konsekuensi logisnya, mereka harus mencari dan mempelajari istilah tersebut agar bisa tetap satu tune.
Dari situlah terjadi rantai penggunaan istilah asing yang terus bersambung. Tentunya sejalan dengan makin banyaknya pilihan urang Sunda yang mencari nafkah dari produk-produk teknologi maupun konsumen yang sekadar ikut gaya hidup.
Kekhawatiran terbesar dari situasi ini yang tak disangkal ialah mulai meluasnya kebiasaan penggunaan istilah asing di luar konteks pembicaraan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Secara psikologis, kebiasaan ini dapat membuat frame of reference seseorang juga ikut berubah. Iklim yang bersahabat seperti kultur feodalisme yang masih kental di tatar sunda bisa membuat kebiasaan ini makin mengakar di masyarakat. Bagaimana bila sesepuh atau opinion leader yang menjadi panutan masyarakat dan status sosialnya ditinggikan sendiri sudah meninggalkan bahasa Sunda?
Memikirkannya, penulis jadi teringat pada prediksi Gugun akan hilangnya bahasa Sunda dari kebiasaan berbicara urang Sunda di tahun 2010 dan berganti dengan pengkultusan terhadap teknologi termasuk bahasa yang menjadi tandanya.
Bila sudah kompleks seperti ini solusi yang tepat adalah mengawinkan bahasa sunda dengan bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi. Mengapa mengawinkan?
Untuk menjawabnya, penulis akan membahas dahulu tentang karakteristik bahasa Sunda dan bahasa asing yang menyimbolkan ilmu dan teknologi -selanjutnya saya sebut bahasa Iptek.
Menurut Saussure bahasa adalah sistem tanda-tanda mampu mengekspresikan ide-ide. Ia dapat dimanifestasikan dalam sistem tulisan, huruf-huruf untuk orang bisu-tuli, simbol-simbol keagamaan, aturan-aturan sopan santun, dan sebagainya.
Dalam semiologi, kata dikategorikan sebagai tanda yang terpenting. Kata bersifat sembarang dan maknanya ditentukan manusia baik itu sepihak maupun bersama-sama dan dipakai bersama dalam sebuah masyarakat. Seperti pendahulu kita yang dengan sembarang menciptakan kata “urang” untuk memaknakan keakuan.
Dalam bahasa Sunda lewat makna pula penggunanya mengasosiasikan kata-kata dengan semua kejadian, pengalaman-pengalaman, dan sebagainya, yang sebagian besar memiliki pengaruh emosional bagi kita dan orang lain.
Setiap penutur bahasa sunda mendapatkan kata dan makna itu selalu ada dalam masyarakat, dengan tambahan-tambahan, pengurangan, dan perubahan. Jadi wajar, kalau ada perubahan dalam bahasa seperti di Jawa Barat yang tidak memakai lagi bahasa sunda karuhun dalam percakapan sehari-hari.
Berubahnya kata-kata dalam bahasa Sunda bisa diakibatkan “hilang” karena tidak bisa lagi diasosiasikan dengan petandanya dikarenakan realitas sudah tidak berwujud lagi. Misalnya, kata “ronggeng” akan berangsur-angsur hilang di percakapan sehari-hari bila kesenian ronggeng sudah punah.
Kedua, berubah karena terganti oleh kata dari bahasa Sunda itu sendiri. Seperti diketahui, Bahasa sunda masih mengenal tingkatan keluwesan secara hierarkis (klasifikasi biasanya ditentukan oleh usia dan kelas sosial). Kata yang dianggap lemes bisa tidak dipakai lagi akibat yang kasar sudah diterima sebagai bahasa untuk yang lebih tua.
Penyebab yang terakhir adalah penambahan kata-kata baru yang sebelumnya belum pernah ada di dalam bahasa Sunda. Dalam kesempatan ini saya menekankan pada kenyataan bahwa bahasa Iptek telah merasuki bahasa sunda karena adanya atau masuknya materi atau ide yang baru di tatar sunda ini. Kata “komputer” yang mengasosiasikan benda pemroses data belum pernah dikenal oleh nenek moyang kita dan benda itu pun bukan dibuat pertama kali oleh orang Sunda sehingga mau tidak mau kita serap saja kata-katanya.
Seperti dibahas oleh teori dekontruksi, masuknya istilah asing yang sudah menjadi padanan kata baru secara global seperti Internet, browsing, back-up memang tidak bisa dicegah. Keberhasilan Determinasi pencarian kebenaran lewat Ilmu pengetahuan telah melahirkan istilah-istilah baru yang butuh penyeragaman. Contohnya, bisa kita lihat pada penyebaran bahasa Perancis, Latin, Belanda, dan Inggris yang mendominasi textbook di dunia saat ini.
Namun, meminjam terminologi “perubahan” Derrida , kata-kata ini bisa diubah asal perubahannya dimaknai bersama, dan mau digunakan secara masif oleh urang Sunda.
Inilah yang saya maksud dengan perkawinan Bahasa Sunda dan Iptek. Bahasa sunda butuh pembaharuan, yakni mengadopsi realitas-realitas baru, mencernanya apakah sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya sunda (kearifan lokal), lalu penciptaan makna baru dengan mengawinkan kearifan budaya sunda dan tuntutan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Barulah terakhir keputusan untuk menerima kata asing tersebut atau merubah kata-katanya.
Namun, usaha itu tidaklah mudah tanpa dukungan semua pihak yang ikut dalam proses “perkawinan” tersebut. Salah satu yang pihak yang berperan penting adalah lembaga yang mampu melegalkannya. Dalam hal ini Pemerintah daerah yang diwakili Disbudpar dan segenap elemen organisasi budaya sunda harus membentuk wadah independen yang memiliki kekuatan untuk menganalisis, menyeleksi dan memutuskan perubahan kosakata dan pemaknaan dalam bahasa Sunda.
Di luar sana, kita harapkan pula Dinas Pendidikan menyebarluaskan hasil kerja elemen tersebut kepada generasi baru sunda lewat kurikulum pelajaran bahasa sunda yang telah diperbaharui. Pihak media massa yang meliput proses ini juga harus mendukung proses penyebarannya agar opinion leader dan masyarakat sunda juga turut berpartisipasi .
Semoga tercipta identitas masyarakat sunda yang akrab Iptek tanpa harus melupakan bahasa ibu dan keaslian budayanya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: