Posted by: bachtiar hakim | March 16, 2008

Menyikapi Hegemoni Musik Komersil di Teve


Menyikapi Hegemoni Musik Komersil di Teve
(Ditulis dalam rangka memperingati Hari Musik Nasional pada 9 Maret )

oleh : Bachtiar Hakim

Dahulu radio merupakan teknologi yang “mempersatukan” planet bumi, tapi sekarang posisi itu sudah diambil alih oleh televisi. Televisi telah berhasil membuat apa yang terjadi di satu sudut bumi mampu disaksikan di sudut bumi lain dalam waktu yang bersamaan.
Tengok saja saluran Music Television (MTV) yang kini di-relay oleh Global TV Indonesia sebagai contoh yang representatif. Stasiun yang berpusat di Amerika Serikat (AS) ini mampu mendobrak dunia show biz. Lewat acara-acara musik yang diusungnya, MTV telah membuat dunia iklan produk budaya Barat khususnya Amerika jadi lebih menarik, penuh hiburan, dan mudah tersiar ke seluruh penjuru dunia.
Album musik terbaru Grup Muse misalnya, bisa dinikmati bagian yang paling dijagokan produsernya tanpa mesti membelinya terlebih dulu. Begitupun gaya hidup si artis yang ikut diangkat secara gamblang.
Konsep ini didukung pula dengan fitur visualisasi yang disediakan media teve. Lewat teve, Video clip lenggang lenggok kemolekan simulacrum tubuh semisal Madonna bisa dinikmati secara gratis. Akhirnya, semua yang membentuk imaji sosok Madonna dalam tayangan MTV tersebut, mulai dari mode potongan rambut, baju, sampai sepatu telah secara lihai diiklankan ke seluruh planet bumi yang menonton MTV, disamping lagu dari albumnya itu sendiri.
Sambil menyelam, minum air. Kecanggihan teknologi dalam membuat dan menyuguhkan iklan album musik terbaru beginilah yang jadi keistimewaan MTV dan stasiun teve lain yang mengikutinya.
Masalahnya, kini kemasan Infotaintment musikal -istilah baru untuk konsep peliputan musik yang diikuti pengangkatan gaya hidup artisnya- ciptaan MTV menjadi bahan jiplakan mentah stasiun teve di Indonesia. Bukan hanya teknologi yang diadopsi. Lebih dari itu, konsep penyajian sampai materi yang disajikan ikut ditiru.
Pengadopsian teknologi secara masif ini terpancing juga oleh tren globalisasi budaya dari negara barat yang mendominasi teknologi komunikasi dan kapital internasional ke timur. Kondisi di timur yang belum mampu menghasilkan teknologi dan konsep serupa membuat mereka mau tak mau mengikuti tren itu.
Kondisi yang tercipta akhirnya hanya sebuah komunikasi-satu-arah dan globalisasi-budaya-satu-arah. Musik, salah satu bentuk budaya yang tampak ikut pula mengalami proses ini.
Bersamaan dengan maraknya tren seperti yang telah dibahas di atas, fenomena Globalisasi musik di Indonesia perlu dibahas sehingga didapat solusi bijak untuk menyikapinya.

Didominasi Permainan Kapital
Sebagai bahan analisis, penulis akan membahas dahulu tentang globalisasi. Globalisasi adalah sebuah catch-phrase, sebuah istilah ngetren yang frekuensi pemakaiannya sangat banyak di Indonesia. Globalisasi secara terminologis merupakan kata benda yang dalam bahasa Inggris tertera sebagai globalization. Berasal dari kata dasar globe yaitu bola bumi. Sebagai kata sifat ia bermakna proses pembumian “sesuatu”.
“Sesuatu” di sini bisa dikaitkan dengan ekonomi, budaya, hukum, dan sebagainya. Globalisasi menjadi sangat populer di seluruh dunia pada masa terutama setelah disanding-sandingkan dengan ideologi kapitalisme satu-dua dekade terakhir ini.
Seperti disandingkan dengan ideologi kapitalisme yang membentuknya, globalisasi bila diamati akan menyandarkan semua gagasannya pada aspek ekonomi. Pada pelaksanaannya, hal itu ditandai dengan produksi komoditi barang, jasa, dan konsep secara massal, homogen, dan memerlukan konsumen dalam jumlah besar.
Namun, globalisasi ekonomi sebenarnya hanyalah sebuah eufemisme made in Wall Street, USA untuk menggantikan vulgarisme istilah “konsumerisme internasional” yang sangat tidak sesuai dengan etika public relations para kapitalis Amerika dan Eropa Barat. Istilah lain yang juga sama seringnya dipakai dengan makna-asli yang tidak berbeda adalah “free market” alias pasar bebas.
Karena diciptakan di bumi budaya Barat, mau tak mau istilah “globalisasi ekonomi” punya kandungan ideologi budaya Barat. Politik ekonomi tidak mungkin tidak memiliki politik budaya. Ekspansi kapitalisme awal Barat berjalan mulus setelah kokohnya kolonialisme Barat di Asia, Afrika, dan benua Amerika. Untuk bisa hidup langgeng, ia memerlukan terjadinya proses regenerasi, seperti organisme hidup lainnya.
Berbicara masalah kelanggengan, komoditas yang tak pernah habis sampai akhir zaman salah satunya musik. Ia sendiri masuk hitungan sebagai salah satu komoditas yang menguntungkan terutama setelah adanya bukti penjualan dan pengikutan gaya hidup yang sangat dramatis. Musik Swing Jazz di era `20 sampai `50-an AS pernah menjadi mainstream kebudayaan di Amerika begitupun grup The Beatles di Eropa dan AS yang mengangkat Rock n Roll sebagai tren.
Kesuksesan itu mengubah paradigma bahwa musik bukan semata tontonan langsung di atas panggung melainkan juga produk yang harus bisa dinikmati setiap orang dimanapun dan kapanpun. Musik pun fungsi utamanya digeser pada tataran media hiburan (populer atau disingkat pop) bagi pendengarnya. Dari situlah, lahirlah dunia rekaman yang terus bergeliat dengan evolusi perangkat kerasnya seperti Kaset, CD, dll.
Untuk mendukung penyerapan produksi media-media rekaman yang berjumlah besar, penciptaan pasar dibutuhkan. Maka, diperlukanlah promosi secara besar-besaran lewat media massa.
Disinilah, Viacom jeli melirik peluang ini dengan melabeli MTV sebagai pelopor stasiun televisi khusus musik. Didukung kapital yang kuat dan lobi internasional, ia menjelma menjadi barometer tayangan musik di dunia. Hal itu diikuti oleh berdirinya stasiun-stasiun TV yang berkonsep sama. Tentunya fungsi mereka sebagai penghantar tren dan alat promosi yang tepat bagi produser rekaman tidak bisa dipungkiri lagi.

Butuh Perubahan di Teve
Dari analisis di atas, hegemoni komersialisasi musik oleh MTV dan stasiun sejenisnya pada televisi Indonesia ini lebih banyak berdampak pada tersisihnya budaya lokal dalam banyak hal. Televisi sebagai media paling digemari masyarakat tercemar oleh nilai-nilai yang mendesak budayanya sendiri.
Di sisi lain perjuangan melawan tren ini sudah ada. Salah satu contohnya beredarnya musik independen (indie) yang dapat dijadikan contoh bagaimana mereka dapat memproduksi kaset yang tidak harus menyesuaikan selera pasar.
Musik independen ini meski banyak juga yang sama komersilnya seperti yang banyak ditayangkan di teve telah menjadi awal perlawanan secara terorganisir. Di sisi lain, wacana perlawanan ini banyak diusung seniman dan budayawan untuk dapat melawan sistem yang tidak adil ini sehingga kepentingan untuk menghidupkan budaya lokal di negeri sendiri akan tercapai.
Sayangnya musik dan wacananya ini kurang diminati oleh stasiun televisi untuk menayangkannya? Mengapa masalah besar-kecilnya keuntungan masih dipertimbangkan bila tetap merusak budaya lokal?
Lewat hari musik nasional yang diperingati tiap tanggal 9 Maret ini, pemilik stasiun TV di Indonesia seharusnya menyadari kesalahannya sekaligus melepaskan diri dari rantai musik barat yang mengusung globalisasi dan meraup untung sebesar-besarnya dari kealpaan kita.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: