Posted by: bachtiar hakim | March 16, 2008

Perspektif Baru Melebarkan Sayap – Editor : Wimar Witoelar


Judul Buku : “Perspektif Baru Melebarkan Sayap” :
Kumpulan Wawancara Perspektif Baru 2003-2005

1.Rangkuman dan Pembahasan
Wawancara 1 : “Pluralisme dalam Bahaya”
Terwawancara : M. Syafi’i Anwar.
Pewawancara : Wimar Witoelar.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 3-12.
Rangkuman :
Muhammad Syafii adalah aktivis International Center of Islam and Pluralism (ICIP) yang mempertemukan pengertian hubungan harmonis di antara berbagai kelompok budaya dan agama. Syafii memang orang Muhammadiyah namun dia menghargai hak hidup seorang Ahmadiyah. Penyerangan terhadap organisasi itu tidak bisa dibenarkan dalam hukum apa pun.
Dia termasuk orang yang percaya kepada hati nurani wartawan. Menurutnya, kebenaran seharusnya dibela. Mengenai Islam, ia mendukung pluralisme karena di dalam agama islam disebutkan jangan ada paksaan dalam beragama. Pluralisme disini berarti penghormatan dan penghargaan secara timbal balik kepada kepercayaan orang lain. Inti pluralisme itu menghargai satu sama lain. Sebaliknya, agama hanya berperan sebagai aksentuasi atau penegasan dalam konteks pengembangan etika masyarakat.

Wawancara 2 : “Indonesia menurut Mantan Duta Besar Inggris”
Terwawancara : Richard Gozney.
Pewawancara : Ruddy K. Gobel.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap
Rangkuman :
Richard Gozney, seorang mantan Duta Besar Inggris di Indonesia dikenal karena keramahan, keterbukaan, dan kemampuan yang luar biasa dalam memahami orang Indonesia. Menurutnya reformasi yang telah dimulai, hasilnya masih jauh dari harapan.
Ia juga menekankan bahwa syarat menuju demokrasi adalah kebebasan pers, baik radio, televisi maupun koran; DPR, DPRD I, dan DPRD II yang betul-betul mengawasi pemerintahan; dan penegakan hukum.
Richard tidak setuju dengan pandangan kebebasan pers di Indonesia yang kebablasan karena menurutnya pers di Indonesia masih bertanggung jawab dibandingkan dengan pers di Inggris atau Jerman. Siapa pun yang dimuat diberikan hak jawab. Untuk mewujudkan demokrasi, tambah Richard, diperlukan adanya jaminan bahwa masyarakat dapat melaksanakan aktivitas sehari-hari.
Oleh karena itu, pemerintah perlu menciptakan kondisi yang aman dan
kondusif. Ia juga menyoroti sifat masyarakat Indonesia dari dulu sampai sekarang masih sama. Tetap ramah, semua menginginkan suasana damai, dan tidak suka konflik.

Wawancara 3 : “Penyalahgunaan Agama untuk Membenarkan Konflik”
Terwawancara : Prof. Dr. Azyumardi Azra.
Pewawancara : Faisol Riza.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 23-30.
Rangkuman :
Prof. Dr. Azyumardi Azra selaku Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta berpendapat bahwa kerukunan umat beragama merupakan persoalan yang kompleks. Menurutnya, biarkanlah para pemuka agama ataupun fungsionaris agama untuk bergerak di bidang itu tanpa harus ada campur tangan dari kekuasaan pemerintah.
Ada persoalan kompleks yang mengitari persoalan antar agama yang bermuara pada konflik. Kebanyakan para pemuka menggunakan agama sebagai justifikasi. Kalaupun ada Undang-Undang Kerukunan Umat Beragama, asumsinya harus betul-betul cermat. Kalau tidak, kita membenarkan agama sebagai sumber konflik. Agama digunakan sebagai stempel untuk membenarkan konflik yang sebenarnya berasal dari persoalan lain.
Awalnya, Ia mengira kalau memberdayakan demokrasi akan langsung menyelesaikan masalah. Namun, kenyatannya demokrasi harus didukung oleh negara yang kuat, yaitu negara yang bisa menjalankan tidak hanya fungsi dasarnyatapi juga termasuk dalam melindungi warga negara.

Wawancara 4 : “Tanggung Jawab Pemerintah kepada Publik”
Terwawancara : Romo Sandyawan.
Pewawancara : Faisol Riza.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 33-42.
Rangkuman :
Dalam sejarah karirnya, Romo Sandyawan pernah dituduh menyembunyikan Ketua Umum PRD sekaligus sebagai oarang yang ingin menggulingkan pemerintahan Soeharto. Kenyataannya ia hanya ingin banyak membantu kalangan lemah, orang miskin, anak-anak terlantar, dan juga korban HAM. Begitulah prinsip pemuka agama Katolik ini.
Ia mengaku dirinya bukan orang yang senang muncul di depan publik saat terjadi kasus tragedi Mei. Ia lebih merasa enak kalau bekerja di lapangan bersama warga masyarakat, terutama kepada kaum korban, korban kekerasan politik atau korban atas tragedi besar lainnya.
Sandyawan berpendapat bahwa pemerintah tidak memiliki kemauan politik untuk menyelesaikan persoalan-persoalan itu. Selalu setengah-setengah dan itu pun tidak menyentuh substansi persoalan yang selalu dikembangkan. Saat ini yang paling penting adalah pertanggungjawaban publik dari pemerintah.

Wawancara 5 : “”Civil Society” Lemah dan terpecah-pecah”
Terwawancara : Greg Barton.
Pewawancara : Faisol Riza.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 45-53 .
Rangkuman :
Greg Barton terkenal sebagai “Indonesianis” dari Australia, ahli politik dan aliran agama. Ia lah yang menulis biografi terlengkap Gus Dur. Perkenalannya dengan tradisi dan politik di Indonesia membuat ia cukup kompeten untuk berbicara tentang partai-partai.
Menurut ia, sistem yang berjalan sekarang merupakan warisan dari rezim masa lalu sehingga harus diganti melalui reformasi yang signifikan. Harus ada pergantian generasi dari yang tua kepada yang lebih muda. Bila melihat proses yang berlangsung sekarang di antara kaum muda, dia optimis bisa terjadi perubahan yang cukup berarti.

Wawancara 6 : “Hukum Dimainkan Politik”
Terwawancara : Munarman.
Pewawancara : Ruddy K. Gobel.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 55-63 .
Rangkuman :
Munarman dikenal sebagai Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Menurutnya, ada tiga sektor penting yang harus diperhatikan pada kasus-kasus yang terjadi di kalangan masyarakat kecil. Pertama, kasus buruh lalu kasus-kasus yang berkaitan dengan petani, dan terakhir kasus penggusuran. Kalaupun ditambah satu lagi, kasus yang tidak banyak diketahui publik adalah kasus yang menimpa nelayan.
Ia juga menambahkan prinsip equality before the law (persamaan di hadapan hukum), masih sekadar lips service karena banyak sekali masyarakat dari lapisan menengah ke bawah yang menerima perlakuan tidak adil.

Wawancara 7 : “Masih Banyak Peraturan Diskriminatif”
Terwawancara : Ester Indayahni Jusuf.
Pewawancara : Wimar Witoelar.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 65-73.
Rangkuman :
Ester Indahyani Jusuf hanyalah segelintir aktivis hak asasi yang memiliki komitmen yang luar biasa. Cukup banyak penghargaan yang sudah diterimanya dalam membela hak asasi manusia (HAM). Usaha pertama Ester ialah mendirikan organisasi Solidaritas Nusa Bangsa (SNB), lalu aktif di Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan ’65 (YPKP), serta Yayasan Kasut Perdamaian yang memproduksi film mengenai hak asasi.
Ia mulai merasakan rasialisme ketika ia masih kecil, namun baru menyadarinya setelah kerusuhan Mei. Dari situlah ia melihat bahwa rasialisme bukan kebetulan, tetapi sistematis karena politik. Menurutnya, struktur hukum yang membentuk masyarakat menjadi rasis. Dia mengharapkan ada perubahan pola pikir di masyarakat, khususnya mengenai masalah rasialisme ini. Ia juga realistis. Tidak heran bila menginginkan adanya perubahan, ia harus bekerja keras.

Wawancara 8 :”Menggugah Pemikiran Islam Baru”
Terwawancara : Ulil Abshar-Abdalla .
Pewawancara : Faisol Riza.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 75-86 .
Rangkuman :
Sebagai tokoh intelektual Muslim muda Ulil Absar pernah digugat dengan fatwa mati oleh Forum Ulama Umat Islam Seluruh Indonesia. Hal itu terjadi akibat artikelnya di Kompas yang dianggap mengandung unsur penghinaan terhadap Islam dan Nabi Besar Muhammad saw.
Sebenarnya Ulil ingin mengatakan bahwa banyak orang menjadikan Islam sebagai monumen yang mati. Islam dijadikan patung yang tidak lagi sensitif terhadap perkembangan yang berlangsung dalam kehidupan kita. Uniknya, ia diam saja menghadapi tekanan soal fatwa mati yang diberikan kepadanya. Alasannya, ia menggap ini bagian dari strategi untuk menggerakkan atau menggugah diskusi.

Wawancara 9 : “Perang tiada Akan Pernah Ketinggalan Zaman”
Terwawancara : Neda Tanaga .
Pewawancara : Wimar Witoelar.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 89-96.
Rangkuman :
Neda Tanaga masih berstatus mahasiswa Universitas Indonesia semester lima di Jurusan Hubungan Internasional. Ia dikenal karena memenangkan lomba menulis bahasa Inggris yang diadakan oleh satu perguruan tinggi di Melbourne-Australia, yaitu Deakin University. Dalam karyanya tersebut, ia menuturkan pendapatnya tentang perang yang terjadi di dunia.
Melalui esainya, “Is the Obsolescence of War Just Around The Corner?” Neda mempertanyakan efektivitas perang dalam mencapai suatu tujuan. Neda menyatakan bahwa perang itu perlu, tapi di Irak tidak. Contoh perang yang perlu dalam sejarah adalah perang dunia kedua ketika NAZI Jerman sudah terlelu merajalela.

Wawancara 10 : “Penelusuran Sejarah Peristiwa 1965”
Terwawancara : Asvi Warman Adam .
Pewawancara : Faisol Riza.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 99-107.
Rangkuman :
Asvi Warman Adam adalah seorang peneliti senior di LIPI, khususnya bidang sejarah. Melalui berbagai media massa, ia mengungkapkan pelurusan sejarah peristiwa 1965. ia mengulas tragedi Nawaksara yang dibacakan dalam pidato Soekarno.
Usaha untuk mengungkapkan kebenaran peristiwa ’65 dilakukannya dengan berbagai cara. Ia mengumpulkan sejarah lisan yang diperoleh dengan mewawancarai korban. Lalu, mencermati pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), serta masalah pemberian rehabilitasi kepada korban ’65. Meski perjuangannya berisiko mendapat teror, Asvi mempunyai pandangan bahwa seyogianya sejarah itu dijadikan medium pembebasan sehingga ia pun pantang menyerah dalam meluruskan sejarah.

Wawancara 11 : “Membangun Fondasi Ekonomi”
Terwawancara : Kevin Evans .
Pewawancara : Wimar Witoelar.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 109-116.
Rangkuman :
Kevin sudah lama berada di Indonesia dan mendalami studi Asia di Griffith University Brisbane, Australia. Ia kemudian bekerja di UNDP dan sekarang menempuh S3 di Universitas Indonesia. Kevin menyatakan, selalu melihat perkembangan yang sangat menarik dan merupakan kemajuan yang luar biasa. Ia adalah tipe orang optimis.
Ia menambahkan semakin banyak problem yang muncul selama lima enam tahun terakhir adalah warisan dari sistem yang dulu. Perlu dibangun sistem konstitusi baru yang semua orang bisa keluar masuk, tapi sistem bisa abadi.

Wawancara 12 : “Imlek sebagai Ajang Rekonsiliasi”
Terwawancara : Eddy Prabowo Witanto .
Pewawancara : Ruddy K. Gobel.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 119-124.
Rangkuman :
Eddy Prabowo Winanto dikenal sebagai sinolog yang sehari-hari mengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Ia menganggap bahwa perayaan Imlek oleh warga keturunan Tionghoa yang selama 32 tahun terasingkan adalah sesuatu yang lazim dirayakan oleh masyarakat Tiong Hoa. Alasannya, Imlek sebenarnya bukan merupakan perayaan agama, melainkan sebuah tradisi.
Memaknai Imlek sebenarnya tidak sulit karena Imlek sama seperti Lebaran. Intinya adalah silaturahmi dan kumpul di antara keluarga. Momen itu bagi orang-orang Tionghoa menjadi ajang untuk membuka diri, saling memaafkan, dan yang terpenting bersosialisasi, bagaimana Anda berelasi dengan lingkungan sekitar. Memaknai kehidupan pluralis adalah menerima orang-orang di luar Tionghoa. Begitu pula dengan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Pembahasan :
Pewawancara memuat banyak bagaimana pendapat terwawancara dalam menyikapi suatu permasalahan. Selain juga tentunya aspek human interest dan pribadi terwawancara yang bisa diangkat.

Wawancara 13 : “Belum Semua Paham Fungsi Pers”
Terwawancara : Ati Nurbaiti.
Pewawancara : Ruddy K. Gobel.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 127-135.
Rangkuman :
Ati Nurbaiti sehari-harinya bekerja sebagai wartawan pada sebuah koran nasional The Jakarta Post. Ia juga menjabat Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen Indonesia (AJI). Menurutnya, media massa mempunyai kekuatan yang sangat besar untuk memengaruhi opini publik, juga untuk membuat suatu perubahan. Problemnya, kekuatan yang besar selalu memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positifnya berupa kekuatan konstruktif dan dampak negatif yang bersifat destruktif.
Ia juga menanggapi isu idealisme dan juga kesejahteraan wartawan. Ati berpendapat bahwa harus ditanamkan kepada pemilik media bahwa sepanjang gaji dibiarkan tidak layak, sepanjang itu pula wartawan akan berusaha mencari kebaikan dari narasumber yang tentunya akan memengaruhi tulisannya.

Pembahasan :
Probbing yang dilakukan pewawancara sangat tepat. Disinilah kreasi pewawancara bermain. Ia juga telah berusaha menguasai topik wawancara dengan melakukan studi terhadap terwawancara.

Wawancara 14 : “Pers Dibredel, Kebebasan Musnah”
Terwawancara : Nezar Patria.
Pewawancara : Wimar Witoelar.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 137-144 .
Rangkuman :
Sosok Nezar patria dikenal sebagai aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi. Sebelum menjadi wartawan Tempo, ia ikut turun ke jalan ketika menjatuhkan kediktatoran masa lalu. Sebagai aktivis muda, Nezar Patria juga merupakan salah satu korban penculikan Tim Mawar Kopassus tahun 1998.
Sebagai wartawan, pria berdarah Aceh pernah ikut meliput operasi militer yang dilancarkan di Serambi Mekah itu. Dari aktivitas kewartawanan itu, ia mendapat penghargaan internasional Ethnic Tolerance Awards tahun 2003 dari International Federation of Journalist (IFJ).
Ia menilai kemiskinan di Aceh diakibatkan oleh kekecewaan masyarakat akibat tidak mempu mengakses kemajuan, lalu putus sekolah dan jatuh miskin. Oleh karena itu mereka memilih bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka yang menawarkan alternatif yang ekstrem akibat tidak adanya kepercayaan terhadap pemerintahan lokal.

Pembahasan :
Pewawancara memuat banyak bagaimana pendapat terwawancara dalam menyikapi suatu permasalahan. Selain juga tentunya aspek human interest dan pribadi terwawancara yang bisa diangkat.

Wawancara 15 : “UU Pemilu dan UU Parpol Belum Menciptakan Akuntabilitas
Parpol”
Terwawancara : Luki Januardi Djani.
Pewawancara : Faisol Riza.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 147-155.
Rangkuman :
Peran Luki Januardi Djani sebagai aktivis Indonesian Corruption Watch (IWC) tidak perlu diragukan lagi. Ia merupakan seorang yang sangat aktif dan intens dalam melakukan studi, penelitian, advokasi dalam upaya memerangi korupsi, terutama di tubuh partai-partai politik di Indonesia.
Menurutnya, kontroversi mengenai program diventasi atau privatisasi BUMN seperti yang terjadi dalam kasus Indosat mungkin tidak terlalu menjadi-jadi. Apalagi kalau bukan karena ada dugaan sebagian dana dari hasil penjualan aset tersebut masuk kedalam kas salah satu partai politik. Ia juga menyoroti kasus Bank Bali berapa tahun lalu yang aliran dananya disuga mengalir ke kas salah satu partai politik.

Pembahasan :
Pewawancara memuat banyak bagaimana pendapat terwawancara dalam menyikapi suatu permasalahan. Selain juga tentunya aspek human interest dan pribadi terwawancara yang bisa diangkat.

Wawancara 16 : “Perjalanan Panjang Melawan Korupsi”
Terwawancara : Teten Masduki.
Pewawancara : Wimar Witoelar.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 157-166.
Rangkuman :
Teten Masduki mempunyai prestasi menonjol dalam perjuangan melawan korupsi, khususnya melalui Indonesia Corruption Watch (ICW). Ia menilai publik sering melihat kegagalan memberantas korupsi sebagai kegagalan pemerintah, penegak hukum, pengawasan birokrasi, atau lembaga pemerintah lainnya. Keliru juga kalau semua agenda antikorupsi dialamatkan ke pemerintah karena ada pola hubungan yang tidak seimbang antara rakyat dengan negara dan pemerintah, rakyat dengan sektor bisnis.
Mengatasi korupsi, menurutnya tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja. Masyarakat harus bisa ikut berpartisipasi memberantas korupsi. Ini bukan semata-mata dengan penegakan hukum terhadap korupsi, tetapi lebih besar dari pada itu adalah memperkuat adalah memperkuat institusi masyarakat supaya masyarakat tidak bisa dianggap sepele.

Pembahasan :
Probbing yang dilakukan pewawancara sangat tepat. Disinilah kreasi pewawancara bermain. Ia juga telah berusaha menguasai topik wawancara dengan melakukan studi terhadap terwawancara.

Wawancara 17 : “Kesadaran adalah Inti Masalah Gender”
Terwawancara : Yuniyanti Chuzaifah.
Pewawancara : Wimar Witoelar.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 169-177.
Rangkuman :
Yuniyanti Chuzaifah sebagai aktivis gender sudah lama dikenal ke-aktif-annya. Ia terlibat dalam gerakan pemberdayaan perempuan. Pada awal reformasi dan setelah Soeharto jatuh, muncul berbagai gerakan perempuan yang dilakukan Yunianti. Ia melihat masih banyak persoalan perempuan yang belum mengemuka terutama kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga.
Persoalan politik perempuan juga masih jauh. Belum lagi kebebasan politik, kebebasan berorganisasi bagi perempuan masih banyak dipersoalkan. Perempuan sebenarnya bisa menjadi transformator konflik, juru damai, dan agen pendamai melalui keluarga. Gerakan gender yang diperjuangkannya adalah bagaimana feminitas dan maskulinitas itu fleksibel dan manusia itu dilihat sebagai manusia.

Pembahasan :
Probbing yang dilakukan pewawancara sangat tepat. Disinilah kreasi pewawancara bermain. Ia juga telah berusaha menguasai topik wawancara dengan melakukan studi terhadap terwawancara.

Wawancara 18 : “Menyelamatkan Mereka yang Masih Bersih”
Terwawancara : Veronica Colondam.
Pewawancara : Wimar Witoelar.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 179-186.
Rangkuman :
Veronica Colondam dikenal sebagai seorang aktivis yang sangat berpengaruh di bidangnya pencegahan penyalahgunaan narkoba. Penyalahgunaan narkoba yang cenderung meningkat dari hari-keharimembuat Veronica tergugah untuk melakukan sesuatu kepada korban narkoba. Awalnya ia merintis Yayasan Citra Anak Bangsa (YCAB).
Sebagai Pendiri YCAB, ia punya komitmen unutk membiayai operasioal tiap bulannya. Untuk membuat program-program besar, ia harus bekerja sama dengan pihak swasta dan pemerintah. Ia percaya bahwa kita bisa membuat sesuatu yang unik ketika fokus pada satu masalah. Fokus utama ia adalah masalah narkoba. Ia melihat ke depan perlu gerakan yang lebih kuat untuk menyandarkan pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang kuat untuk menyelesaikannya.

Pembahasan :
Pewawancara memuat banyak bagaimana pendapat terwawancara dalam menyikapi suatu permasalahan. Selain juga tentunya aspek human interest dan pribadi terwawancara yang bisa diangkat.

Wawancara 19 : “Masyarakat Harus Dilibatkan dalam Pembuatan Undang-
Undang”
Terwawancara : Bivitri Susanti.
Pewawancara : Wimar Witoelar.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 189-196.
Rangkuman :
Bivitri Susanti terakhir menjabat sebagai Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK). Pekerjaan ini menjadi sangat penting karena sejak 1998 banyak sekali perubahan. Bivitri mengingatkan bahwa kita seringkali bicara di seminar-seminar tapi tidak ada yang melakukan perubahan secara sistemik.
Tujuan adanya PSHK yaitu pelibatan masyarakat secara aktif dalam membentuk peraturan perundang-undangan ataupun kebijakan secara umum. Lalu, meningkatkan kapasitas lembaga legislasi agar dapat membentuk undang-undang yang lebih pro kepada masyarakat luas Ia menilai bahwa pembentukan undang-undang di negara kita kebanyakan tertutup. Sebaliknya, banyak negara lain sudah mengadopsi sistem yang transparan. Uniknya, selama bertugas, personel PSHK kadang-kadang harus berpura-pura menjadi asisten para pembahas agar tidak diusir.

Pembahasan :
Probbing yang dilakukan pewawancara sangat tepat. Disinilah kreasi pewawancara bermain. Ia juga telah berusaha menguasai topik wawancara dengan melakukan studi terhadap terwawancara.

Wawancara 20 : “Walau Pemilu Sukses, Indonesia Masih dalam Transisi”
Terwawancara : Smita Notosusanto.
Pewawancara : Faisol Riza
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 199-205.
Rangkuman :
Nama Smita Notosusanto mencuat saat nahkodai CENTRO, sebuah pusat studi mengenai reformasi sistem pemilihan di Indonesia. Pada awalnya, tidak semua orang menyatakan perlunya mengubah sistem pemilihan presiden di Indonesia. Bisa dikatakan bahwa CENTRO merupakan satu-satunya lembaga yang secara konsisten menyerukan pemilihan presiden secara langsung, lengkap dengan persyaratan calon presiden yang kuat.
Ia berada di balik perubahan di negara ini, perubahan yang sangat penting dan sudah kita rasakan beberapa hari lalu, yaitu pemilihan presiden langsung. Harapannya, Indonesia berada di jalur demokrasi apa pun yang dilakukan oleh Amerika Serikat karena kita tidak bergantung pada negara tersebut.

Pembahasan :
Probbing yang dilakukan pewawancara sangat tepat. Disinilah kreasi pewawancara bermain. Ia juga telah berusaha menguasai topik wawancara dengan melakukan studi terhadap terwawancara.

Wawancara 21 : “Mahkamah Konstitusi Bisa Tentukan Nasib Presiden”
Terwawancara : Refli Harun.
Pewawancara : Ruddy K. Gobel.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 209-217.
Rangkuman :
Refli Harun adalah salah satu ahli atau asisten hakim di Mahkamah Konstitusi (MK), lembaga yang seharusnya mampu mengatasi konflik yang terjadi antar lembaga negara. Menurutnya MK mempunyai kewenangan untuk melakukan Judicial Review terhadap undang-undang, pembubaran partai politik, memutus perselisihan hasil pemilihan umum, dan memberikan putusan atas dakwaan DPR.
Saat ini yang dipakai dalam peradilan politik adalah hukum tata negara. Hal ini berbeda dengan pengadilan pidana biasa namun tetap memiliki konsekuensinya hukuman penjara. Legal standing sendiri dicirikan oleh identitasnya sebagai apa? Dan apakah memiliki kepentingan langsung? Sebagai the guardian of constitution, MK berfungsi menjadi penjaga konstitusi. Artinya, dialah interpreter satu-satunya terhadap konstitusi.

Pembahasan :
Probbing yang dilakukan pewawancara sangat tepat. Disinilah kreasi pewawancara bermain. Ia juga telah berusaha menguasai topik wawancara dengan melakukan studi terhadap terwawancara.

Wawancara 22 : “Kapasitas Masyarakat untuk Mengamankan Diri”
Terwawancara : Dr. Adrianus Meliala.
Pewawancara : Ruddy K. Gobel.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 219-224.
Rangkuman :
Dr. Andrianus Meliala adalah kriminolog Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Ia juga aktivis dalam berbagai advokasi untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan dan tindak kejahatan. Menanggapi berbagai kasus kejahatan saat ini, Ia tidak sependapat dengan pernyataan bahwa kejahatan sekarang ini makin serem, serius, dan sadis. Menurutnya jumlah kejahatan harus dikorelasikan dengan pertambahan penduduk dan kepadatan penduduk suatu daerah.
Dalam menangani kejahatan menurutnya, aparat maupun pemerintah cenderung memprioritaskan penanganan kejahatan yang dianggap lebih meresahkandan punya efek politis. Berbagai tayangan kekerasan di televisi disinyalirnya ikut menimbulkan ide untuk melakukan tindak kejahatan dengan cara menirunya. Masyarakat menjadi permisif terhadap tindak-tindak kejahatan.

Pembahasan :
Pewawancara memuat banyak bagaimana pendapat terwawancara dalam menyikapi suatu permasalahan. Selain juga tentunya aspek human interest dan pribadi terwawancara yang bisa diangkat.

Wawancara 23 : “Badah Plastik Membuka Kehidupan Baru”
Terwawancara : Dr. Gentur Sudjatmiko, SpBP
Pewawancara : Wimar Witoelar.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 227-234.
Rangkuman :
Dr. Gantu Sudjatmiko adalah Spesialis Ahli Bedah Plastik dan Ketua Bidang Studi Bedah Plastik di Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Ia berusaha mengubah penderita cacat, baik itu cacat lahir atau yang baru didapat agar bisa mendekati normal atau mengerjakan orang normal yang ditingkatkan menjadi lebih dari normal.
Ia merasa bahagia kalau bisa menolong orang yang butuh dan susah. Batin ia sejak kecil ingin menolong orang yang butuh, yang susah. Ia menambahkan sebenarnya bedah plastik estetika itu untuk orang-orang yang kurang percaya diri, tapi kemudian berkembang menjadi suatu tren.

Pembahasan :
Probbing yang dilakukan pewawancara sangat tepat. Disinilah kreasi pewawancara bermain. Ia juga telah berusaha menguasai topik wawancara dengan melakukan studi terhadap terwawancara.

Wawancara 24 : “Gunakan Obat Secara Bijak”
Terwawancara : Dr. Purnamawanti, SpAK, MMPAed.
Pewawancara : Wimar Witoelar.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 237-246 .
Rangkuman :
Dr. Purnamawanti, SpAK,MMPAed lebih dulu dikenal sebagai dokter spesialis anak dalam pediatrics. Kini, ia aktif juga melakukan kegiatan advokasi mengenai penggunaan obat-obatan, mengelola mailing list kesehatan, dan membentuk suatu grup. Inilah yang membuatnya mendapat tugas kehormatan dari WHO.
Menurutnya ada tiga aktor dalam dunia layanan kesehatan yaitu ahli kesehatan, unit layanan kesehatan dan konsumen sebagai pengguna jasa layanan kesehatan. Ketiganya harus bekerja sama dan menyadari hak dan kewajiban masing-masing. Ia berpendapat bahwa sebenarnya sekarang adalah era yang sangat memudahkan konsumen untuk mendapatkan informasi kesehatan. Ibaratnya, kita dengan mudah bisa mengakses informasi tanpa keluar uang.

Pembahasan :
Probbing yang dilakukan pewawancara sangat tepat. Disinilah kreasi pewawancara bermain. Ia juga telah berusaha menguasai topik wawancara dengan melakukan studi terhadap terwawancara.

Wawancara 25 : “Menghadapi Pasca tsunami dengan Cerdas”
Terwawancara : Dra. Noviantika Nasution.
Pewawancara : Wimar Witoelar.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 249-258.
Rangkuman :
Bagi Dra. Noviantika, tragedi Tsunami di Aceh terlalu sulit dicerna dan disimak. Novi adalah dikenal sebagai anggota Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Menurut Bendahara Umum PDI-P ini, bencana bisa terjadi tanpa kehendak Tuhan. Peristiwa Aceh telah menjadi keprihatinan dan tragedi kemanusiaan, itu sebuah bencana.
Menurutnya, kita wajib menghilangkan semua rasa curiga dan mengerti bahwa peristiwa itu adalah sebuah bencana luar biasa di mana kita memerlukan bantuan komunitas internasional. Ia menambahkan bahwa kita harus betul-betul cerdas dalam melihat bencana itu demi menolong mereka yang menjadi korban, bukannya berpikiran sempit. Cara mengomunikasikannya kepada masyarakat Aceh sangat penting karena sudah 32 tahun mereka dibungkam.

Pembahasan :
Pewawancara memuat banyak bagaimana pendapat terwawancara dalam menyikapi suatu permasalahan. Selain juga tentunya aspek human interest dan pribadi terwawancara yang bisa diangkat.

Wawancara 26 : “Demi Iklim Investasi, Cepat Ambil Tindakan”
Terwawancara : Faisal Basri.
Pewawancara : Faisol Riza.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 261-268.
Rangkuman :
Faisal Basri adalah seorang ekonom dari Universitas Indonesia sekaligus pejabat di KPPU. Ia selama ini dianggap memberikan perhatian atas beragam persoalan ekonomi dan politik. Menurutnya, bila koefisien tetap samaberarti tidak ada perubahan. Disinilah mengapa harus ada yang mampu menciptakan masa depan dan membuat visi.
Ia juga memyikapi kredibilatas pemerintahan yang seharusnya dapat dipercaya rakyatnya dan masyarakat internasional. Syarat pemerintahan yang kredibel yakni kalau manusia-manusianya berkualitas. Ia juga memandang bahwa asing bisa memberikan manfaat dan juga menjadi ancaman besar. Semua itu bergantung pada aturan main yang kita buat.

Pembahasan :
Probbing yang dilakukan pewawancara sangat tepat. Disinilah kreasi pewawancara bermain. Ia juga telah berusaha menguasai topik wawancara dengan melakukan studi terhadap terwawancara.

Wawancara 27 : “Kerusakan Alam dalam Hitungan Ekonomi”
Terwawancara : Elfian Effendi.
Pewawancara : Wimar Witoelar.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 271-278.
Rangkuman :
Elfian saat ini menjabat Direktur pada Greenomics Indonesia. Organisasi ini mempromosikan suatu konsep ekonomi hijau atau Green Economics. Filosofi Green Economics yaitu suatu perekonomian yang mencerminkan suatu sisi kecukupan dari aspek efisiensi dalam pemanfaatan sumber daya alam. Walaupun Greennomics berbasis di Indonesia, ia selalu menggunakan standar internasional.
Menurut Elfian, pemerintah jarang sekali memperkenalkan kerugian di lingkungan dalam bentuk uang. Untuk itulah Greennomics hadir untuk bernmitra bersama pemerintah.

Pembahasan :
Probbing yang dilakukan pewawancara sangat tepat. Disinilah kreasi pewawancara bermain. Ia juga telah berusaha menguasai topik wawancara dengan melakukan studi terhadap terwawancara.

Wawancara 28 : “Mengungkap Kesedihan Terdalam”
Terwawancara : Linda Christanty.
Pewawancara : Wimar Witoelar.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 281-289.
Rangkuman :
Linda Christianty dikenal punya kemampuan untuk menceritakan sebuah berita dengan gaya karya sastra. Ia juga bisa menggabungkan berbagai gaya itu dalam sebuah tulisan yang memiliki pesan tentang martabat kemanusiaan. Menurutnya, tugas wartawan terbatas pada pelaporan fakta dan tidak menggabungkan penceritaan menjadi seperti fiksi. Untuk menjadikannya seperti fiksi, ia melakukan riset, menemui orang-orang itu dalam kehidupan nyata, dan menambahkan imajinasi dalam tulisannya
Saat ini, Linda merasa pesimis bila peristiwa kerusuhan yang terjadi di berbagai kota di Indonesia bisa diselesaikan oleh pemerintahan. Karya Linda penuh dengan interpretasi dan setiap pembaca memiliki interpretasi yang berbeda. Bergantung pada latar belakang mereka dalam memahaminya. Tentu saja berbeda ketika kita betul-betul melihat ada peristiwa seperti orang dibunuh di jalan atau sebagainya. Kita langsung bergerak ke lapangan untuk melakukan aksi penentangan. Namun ada saatnya itu dilakukan dengan karya sastra.

Pembahasan :
Pewawancara memuat banyak bagaimana pendapat terwawancara dalam menyikapi suatu permasalahan. Selain juga tentunya aspek human interest dan pribadi terwawancara yang bisa diangkat.

Wawancara 29 : “Sastra Tak Sekadar Bahasa”
Terwawancara : Remy Sylado.
Pewawancara : Ruddy K. Gobel.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 291-297.
Rangkuman :
Sosok Remy Sylado mempunyai pemahaman mendalam mengenai perkembangan dan identitas senidi Indonesia. Menurutnya, kebanyakan menganggap seni adalah karya kreatif yang tidak mengulang, sedangkan craft adalah karya yang mengulang. Seni juga biasanya dilihat sebagai pandangan dan filosofi yang mendasari apa yang hendak dikatakan dan dilukiskan atas kondisi masyarakat.
Saat ini menurutnya, banyak penulis muda yang menghasilkan karya yang tidak hanya baik tapi juga mampu memerhatikan aspek komerisal. Hal ini berbeda dengan sastrawan dulu yang lebih memerhatikan aspek kritis. Mengenai masalah minat baca, Remy berkomentar bahwa Indonesia terlebih dahulu harus menyelesaikan masalah mahalnya buku dan menanamkan kecintaan pada buku.
Pembahasan :
Probbing yang dilakukan pewawancara sangat tepat. Disinilah kreasi pewawancara bermain. Ia juga telah berusaha menguasai topik wawancara dengan melakukan studi terhadap terwawancara.

Wawancara 30 : “Hati Orang Akrab, Sarang Makrifat”
Terwawancara : Abdul Hadi W. M.
Pewawancara : Faisol Riza.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 299-307.
Rangkuman :
Abdul Hadi W. M. tersohor sebagai penyair pada 1970-1980-an dan penelaah puisi-puisi terjemahan karya sufi. Menurutnya, puisi sufi diciptakan untuk menggambarkan hubungan intensif antara manusia dan Tuhan. Manusia sendiri adalah solider yang hidup bersama-sama manusia lainnya. Pada sisi lain, ia adalah makhluk yang soliter atau sendiri dan disinilah terdapat ruang untuk berkembang dan dikembangkan.
Ia ingin membuktikan bahwa manusia itu universal. Manusia bisa tidak terkungkung dalam golongan ras, kebangsaan. Sebaliknya, ia bisa memelajari kebudayaan Timur maupun memelajari budaya Barat. Sebagai sastrawan, ia menganggap bahwa orang yang berkeyakinan dapat mencapai, pasti bisa mencapainya.

Pembahasan :
Pewawancara memuat banyak bagaimana pendapat terwawancara dalam menyikapi suatu permasalahan. Selain juga tentunya aspek human interest dan pribadi terwawancara yang bisa diangkat.

Wawancara 31 : “Setiap Karya Sastra Harus Memberikan Pencerahan”
Terwawancara : Helvy Tiana Rosa.
Pewawancara : Ruddy K. Gobel.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 309-317.
Rangkuman :
Helvy Tiana Rosa populer sebagai penulis, sastrawan dan pegiat kebudayaan di Organisasi Kesenian Jakarta. Ia berusaha menyatukan berbagai potensi dari anak-anak bangsa dalam sebuah forum bernama Forum Lingkar Pena. ia selalu ingin menulis karya sastra yang bernuansakan agama nemun tetap bisa dinikmati semua golongan.
Sastra menurutnya, harus memberikan pencerahan kepada pembacanya layaknya dakwah.. Karya sastra yang baik adalah yang tidak lepas dati estetika yang baik Hal ini dibuktikannya dalam menulis cerpen dengan gaya sastra tanpa pengaruh siapapun. Ia sangat menghormati sastrawan Indonesia. Pesannya, penulis harus banyak membaca.

Pembahasan :
Probbing yang dilakukan pewawancara sangat tepat. Disinilah kreasi pewawancara bermain. Ia juga telah berusaha menguasai topik wawancara dengan melakukan studi terhadap terwawancara.

Wawancara 32 : “Tajam, Tapi Tidak Menyakitkan”
Terwawancara : Dwi Koendoro.
Pewawancara : Ruddy K. Gobel.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 319-325.
Rangkuman :
Dwi Koendoro dengan nama Dwi Koen terkenal sebagai karikaturis yang menciptakan tokoh Panji Koming di harian Kompas. Ia membuat karikatur untuk menyampaikan protes, menyampaikan pendapat, dan menyampaikan kritikan terhadap pemerintah.
Menurutnya, karikatur bisa mengetahui seperti apa problem sebenarnya terjadi dan apa yang sebaiknya kita angkat ke atas untuk menjadi bahan kutipan. Bahan kutipan itu tidak asal bunyi, jadi katakanlah untuk mendapatkan ide itu dari banyak hal, dari banyak tempat, tidak jarang dengan menteri juga bicara. Menurutnya, Panji Koming adalah proses kreatif yang tidak begitu saja memandang pertistiwa secara telanjang. Ia menilai, karikatur mempunyai kekuatan magis yang bisa menyerap pandangan orang.

Pembahasan :
Pewawancara memuat banyak bagaimana pendapat terwawancara dalam menyikapi suatu permasalahan. Selain juga tentunya aspek human interest dan pribadi terwawancara yang bisa diangkat.

Wawancara 33 : “Penderita AIDS adalah Korban, Beri Mereka Dukungan”
Terwawancara : Juaryanti.
Pewawancara : Wimar Witoelar.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 327-335.
Rangkuman :
Juaryanti adalah pengidap HIV AIDS. ia dikeluarkan dari pekerjaan dan Ia ditinggalkan suaminya yang meninggal karena penyakit AIDS. Kini, Ia bergabung dengan kelompok relawan untuk memperdalam tentang HIV AIDS. Baginya, hanya orang kolot yang menghakimi penderita penyakit tersebut sebagai pelaku dosa yang patut mendapat hukuman.
Menurutnya HIV AIDS bisa menular melalui hubungan seks yang tidak aman. Awalnya, banyak orang yang menderita HIV AIDS takut datang ke rumah sakit karena mendapat perlakuan yang tidak adil. Kini, rumah sakit telah melayani para korban dengan ramah dan biaya murah. Sarannya bagi masyarakat ialah penderita HIV AIDS jangan terlalu dikucilkan karena beberapa dari mereka bangkit, hidup, sehat, mempunyai semangat baru, dan bekerja.

Pembahasan :
Probbing yang dilakukan pewawancara sangat tepat. Disinilah kreasi pewawancara bermain. Ia juga telah berusaha menguasai topik wawancara dengan melakukan studi terhadap terwawancara.

Wawancara 34 : “Antara Analisis dan Ekspresi”
Terwawancara : Nova Rianty Yusuf.
Pewawancara : Wimar Witoelar.
Sumber : Buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap, hal 387-344.
Rangkuman :
Sosok Nova Rianty mencuat sebagai seorang penulis kolom di majalah Djakarta, Gatra, MO, dan majalah Independent Outmax. Bertolak belakang dari kedokteran umum yang ia pelajari. Menjadi penulis dilakukannya agar bisa survive, memanfaatkan hobi dan eksis.
Nova mempunyai komitmen I write with my heart. Tidak peduli dahulu apakah orang akan menilai bagaimana. Ia juga menyimpulkan untuk membuat orang menerima pesan yang diharapkan itu tidak mudah. Perempuan ini merasa belum punya audience yang cukup luas karena ia tidak menyebarkan “virus” ke mereka.

Pembahasan :
Probbing yang dilakukan pewawancara sangat tepat. Disinilah kreasi pewawancara bermain. Ia juga telah berusaha menguasai topik wawancara dengan melakukan studi terhadap terwawancara.


Responses

  1. […] Faisol Riza (Probolinggo, 1 Juli 1973)(L)(Jakarta Selatan) -pembawa acara radio Perspektif Baru -pernah menjadi korban penculikan aparat pada 1998, mantan ketua PRD -termasuk kubu PKB pro Gus Dur […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: