Posted by: bachtiar hakim | March 20, 2008

Wawancara Dengan Sejarah – Oriana Fallaci


Judul Buku : Wawancara Dengan Sejarah
Penulis :Oriana Fallaci

* Rangkuman :

I. Wawancara 1 : “Henry Kissinger”
Terwawancara : Henry Kissinger
Pewawancara : Oriana Fallaci
Sumber : Buku Oriana Fallaci, Wawancara Dengan Sejarah (hal 18-47)

Rangkuman :
Henry Kissinger adalah orang terdekat Presiden Amerika Richard Nixon. Ia bebas memasuki Gedung Putih kapan saja ia mau. Ia sering makan di sana. Bahkan ia membawa cucian pribadinya ke Gedung Putih dengan bungkusan-bungkusan kertas dan mengumpulkan seenaknya. Orang tidak tahu ujung perjalanan cucian itu. (Di tempat cucian pribadi presiden?)
Sebelum ia menjadi orang terdekat Nixon, ia hanyalah seorang Yahudi yang melarikan diri bersama ayah, ibu, dan saudaranya ke London dan kemudian ke New York pada tahun 1938. Ia belajar begitu baik di sana sampai akhirnya mendapatnya gelar profesor di Universitas Harvard. Sekarang oleh Orang-orang ia dinamakan “bidan mental” Nixon.
Kissinger tidak pernah melakukan wawancara individual. Ia hanya berbicara dalam wawancara yang diadakan oleh kepresidenan. Namun pada hari Kamis 2 November 1972, Kissinger melakukan wawancara individual pertamanya dengan Oriana Fallaci. Ia mengundang Fallaci karena ketertarikannya untuk mengetahui lebih banyak tentang Jendral Yap yang telah diwawancarai oleh Fallaci. Karena Kissinger tidak membaca wawancara itu.
Pertanyaan pertama yang diajukan oleh Kissinger adalah; “Tipe manakah Yap?”. Lalu Fallaci menjawab, “Seoorang snob Prancis. Serentak ramah dan congkak, pada dasarnya membosankan seperti satu hari hujan. Lebih dari satu wawancara, percakapan dengan dia merupakan satu konferensi. Dan saya tidak menjadi antusias karenanya. Namun demikian, apa yang ia katakan ternyata benar-benar tepat”. Mendengar jawaban itu Kissinger merasa bingung dan sedikit merasa terganggu. “Tepat karena apa?”, sahut Kissinger. “Karena Yap telah mengatakan di tahun 1969 apa yang akan terjadi tahun 1972”, jawab Fallaci.
Wawancara saat itu dilanjutkan dua hari kemudian di tempat yang sama. Kamis 4 November 1972 wawancara dilanjutkan, namun ternyata wawancara hari itu ternyata tidak bertahan lama. Kissinger terpaksa harus meninggalkan Fallaci untuk pergi menemani Presiden Nixon ke California. Wawancara hari itu dianggap gagal oleh Fallaci, karena ia belum sempat mengeluarkan pertanyaan pribadinya. Walaupun pembicaraan hari itu termasuk pembicaraan yang cukup dalam, karena mereka sempat membicarakan para pemimpin seperti Thieu, Coa Ky Do Cao Tri, Buhutto, dan Indira Gandhi dalam hubungannya dengan keadaan yang sedang mamanas saat itu.
Wawancara dengan Kissinger, yang diterbitkan kembali seluruhnya oleh mingguan New Replubic, yang disiarkan butir-butirnya yang paling menghebohkan oleh harian Washington, New York, dan kemudian oleh hampir semua harian Amerika Serikat membangkitkan amarah. Fallaci heran sama seperti ia heran dengan konsekuensi- konsekuensi yang ditimbulkan oleh pemberitaan tersebut. Dengan segera beredarlah suara-suara bahwa Nixon sangat marah terhadap Henry Kissinger.
Ketika Kissinger bersedia ditanya oleh seorang penulis kronik, ia menyatakan bahwa menerima Fallaci untuk mewawancarainya saat itu adalah “hal yang paling bodoh di dalam hidupnya”. Hal itu membuat Fallaci marah dan bermusuhan dengan Kissinger. Beberapa waktu kemudian Nixon telah berbaikan dengan Kissinger karena keberhasilan gencatan senjata mereka terhadap Vietnam. Dan setahun kemudian Henry Kissinger mendapatkan hadiah Nobel untuk perdamaian.

———————————————————————————————————–
Wawancara 2 : “Jenderal Giap”
Terwawancara : Jendral Giap
Pewawancara : Oriana Fallaci
Sumber : Buku Oriana Fallaci, Wawancara Dengan Sejarah (hal 48-62)

Rangkuman :
Jendral Giap terkenal selama perang Vietnam. Kebesarannya mencuat ketika ia mampu mengalahkan orang Perancis di Dien Bien Phu. Kemenangan-kemenangan sempat membuatnya dijuluki Napoleon Asia yang membuat Amerika gentar. Namun, tak ada legenda yang abadi. Pemimpin Dien Bien Phu itu akhirnya mengalami kekalahan pada saat serangan Tet, dan pengepungan Hue San.
Bila menilik hidupnya, Giap hanyalah putra seorang pemilik tanah yang jatuh miskin. Ia dibesarkan dalam satu keluarga Prancis yang kaya. Lalu ia dibesarkan di keluarga Perancis kaya yang jauh dari ajaran Marxis. Pendidikan terakhirnya diselesaikan Universtas Hanoi sekaligus meraih gelar Doktor di bidang Ilmu Hukum dan Sejarah. Lalu, ia menjadi guru sastra dan sejarah di sekolah menengah Perancis di Hanoi.
Sebutan “jendral” baginya adalah gurauan rekan-rekannya karena ia menyenangi strategi perang. Namun, ia sudah mengungkapkan dirinya sebagai seorang revolusioner sejak usia empat belas tahun. Tahun 1935, ia masuk partai komunis dan menikah. Dia bisa dibilang pintar. Ketika orang komunis dinyatakan terlarang, ia lari ke Cina dan Minh Tai (istrinya) menutupinya, mengorbankan dirinya ingin dipenjara. Banyak orang berpendapat bahwa akibat kejadian itu Giap belajar membenci, ia tertutup untuk tiap kebaikan dan terbuka untuk tiap kekejaman.
Dalam wawancara yang dilakukan Fallaci, Giap sempat memintanya untuk menyingkirkan alat perekam. Fallaci merubah strateginya lewat tawar-menawar, berdiskusi dan akhirnya ia diperbolehkan mencatat wawancara tersebut. Selanjtnyaa, lelaki ini berbicara selama 45 menit tanpa berhenti dengan gaya seorang dosen yang mengajari mahasiswanya yang kurang cerdas. Bagi Fallaci, sangat sulit untuk memotong pembicaraan dengannya.
Pertanyaan pertama yang diajukan kepada Giap adalah tentang kebenaran kekalahan Amerika dalam pandangannya. Menurutnya Amerika sudah dikalahkan secara militer dan secara politik. Amerika melakukan agresi namun gagal. Seketika itu Fallaci memotongnya dengan pertanyaan afirmatif yang menyiratkan bahwa Amerika belum kalah secara militer.
Pertanyaan itu dijawab Giap dengan nada tinggi. Lalu, Ia membandingkan Vietnam dan Korea Utara. Menurutnya Amerika pergi karena tidak sanggup bertahan di Vietnam dan frustasi karena tujuan tidak tercapai dalam waktu yang telah direncanakan. Hal itu yang menyebabkan Perang Vietnam jauh lebih banyak menguras anggaran militer AS daripada Perang Korea.
Fallaci lantas menanyakan kebenaran fakta versi AS yang menyebutkan bahwa Giap kehilangan setengah juta pasukan. Hal itu diamini oleh Giap dengan sikap sarkas. Ia berkelit bahwa AS yang tadinya membawa keyakinan untuk menang mudah, terpaksa harus mengakui bahwa strategi mereka keliru.
Pada akhir wawancara, Fallaci melontarkan pertanyaan pedas kepadanya. Wanita ini menanyakan tentang berapa lamanya pengorbanan rakyat miskin di Vietnam untuk ikut berperang dengan resiko menderita, dan mati. Giap menjawabnya dengan enteng. Kepergian total orang-orang Amerika meskipun adanya konferensi Paris untuk sementara delegasi diskusi membuat Giap tidak takut untuk terus berperang sampai mencapai kemenangan total.

——————————————————————————————–
Wawancara 3 : “Norodom Sihanouk”
Terwawancara : Norodom Sihanouk
Pewawancara : Oriana Fallaci
Sumber : Buku Oriana Fallaci, Wawancara Dengan Sejarah (hal 63-97)

Rangkuman :
Nama Norodom Sihanouk identik dengan Joseph Bros Tito, pemimpin negara Yugoslavia. Pada saat Kamboja dipimpin oleh Lon Nol, pemimpin kamboja yang menggesernya dengan bantuan Amerika Serikat (AS), Norodom berkeliling ke negara-negara yang tidak mengakui Kamboja-Lon Nol untuk mencari dukungan. Tito adalah pemimpin yang dapat menghargainya selain pemimpin China dan Rumania.
Sebelum tersingkir, Ia berstatus kepala kerajaan Kamboja yang komunis. Pria ini memiliki darah asli Phnom Penh– orang yang berjuang di samping mereka yang mengalahkan orang-orang Amerika. Cina memperlakukannya dengan cemerlang. Dia sebenarnya seorang musisi, penulis dan lainnya. Untuk melawan Lon Nol kepala staff dia (kaki tangannya). Menurutnya Lon Nol seorang penghianat, yang melayani CIA. Mereka (Amerika) menyerbu kedutaan Vietnam Utara dan Vietkong di Phom, Penh pada Maret 1970.
Hubungan antara Norodom Sihanouk dengan Orianna Fallaci tidak timbul sesaat ketika wanita itu ingin mewawancarainya saja. Sebenarnya sudah hampir satu tahun keduanya harus bertemu namun karena tidak memungkinkan hanya surat menyurat lewat telegram-lah yang bisa dilakukan. Dalam kesempatan yang ditunggu-tunggu, akhirnya Fallaci dapat bertemu dengan Norodom di sebuah Vila yang diberikan Tito di daerah Brioni.
Norodom menerima Fallaci dengan tangan terbuka. Wawancara yang ia berikan kepada Oriana berbicara dengan sendirinya, ia merupakan potret diri yang paling sejati yang sempat Oriana rekam.
Hal pertama yang Fallaci adalah mempertanyakan perubahan diri Norodom dalam beberapa tahun belakangan. Norodom menjawab dengan mempertanyakan kembali pertanyaan itu pada diri Fallaci. Lalu ia meneruskan dengan khayalan-khayalan liarnya tentang gaya hidup. Fallaci hanya bisa mendengarkan lalu menyelanya dengan pernyataan yang bermaksud mendukung fantasinya itu meski agak sedikit menyinggung realisasinya. Norodom akhirnya terpancing untuk membicarakan percobaan kudeta yang dilakukan CIA terhadapnya sampai menyambung kembali dengan fantasinya btentang mobil-mobil mewah.
Fallaci menyinggung kembali masalah kedekatananya dengan Beijing dengan menanyakan apakah fantasinya itu bisa terwujud di Beijing. Norodom terpancing lagi. ia menjelaskan panjang lebar apa yang Beijing berikan kepadanya. Masih belum puas dengan detil cerita, Fallaci membawa pembicaraan ke bidang musik. Pria ini lantas melanjutkan ceritanya bahwa lewat musik pula ia dan beijing juga menghormati “kawan-kawan kita”. Terbukalah rahasia bahwa beijing memiliki kedekatan dengan Korea Utara, Vietnam Utara, Laos, Afrika, dan Arab.
Dari sinilah pembicaraan amkin hangat sampai akihrnya Norodom mau membicarakan sikapnya terhadap orang Amerika. Ia bercerita panjang lebar dan mengkritik Amerika tentang kudeta atas nama agama Kristen. Momentum inilah yang dimanfaatkan Fallaci untuk menyinggungnya dengan pertanyaan tentang keterlibatan Norodom atas kudeta terhadap pemerintahannya sendiri.
Inilah klimaks wawancara tersebut. Norodom mulai panas. Ia mengelak dengan asumsi-asumsi yang masuk akal sebagai alibi. Selanjutnya, wawancara itu semakin menyudutkan posisi Norodom layaknya seorang tersangka. Akhirnya semua penjelasan panjang lebar Norodom itu ditutup dengan pertanyaan kepada pewawancara tentang pendapatnya mengenai apa yang sudah dikatakannya. Fallaci menyudahinya dengan mengatakan bahwa Norodom adalah seorang yang sangat cerdas.

————————————————————————————————————
Wawancara 4 : “Golda Meir”
Terwawancara : Golda Meir
Pewawancara : Oriana Fallaci
Sumber : Buku Oriana Fallaci, Wawancara Dengan Sejarah (hal 98-139)

Rangkuman :
Golda Meir. Dia adalah seseorang yang padanya bergantung nasib jutaan makhluk, yang dapat mengadakan atau meniadakan perdamaian di Timur Tengah, dapat menyelut dan memadaman sumbu dinamit untuk satu konflik dunia. Ia membawa paham zionisme.
Dari sejarah wawancara ini adalah penting mengatakan apa yang tidak diketahui orang. Bukan mengatakan apa yang diketahui tentang Golda Meir. Sebenarnya dia sudah ingin berdamai dengan Israel namun Israel belum mau melakukannya.Golda Meir lahir di Kiev, 1898 dengan nama Golda Mabovitz. Ia besar di Amerika, Milwaukeedan. Di sana ia menikah dengan Morris Meyerson pada 1917. Pada tahun 1918 ia berimigrasi bersama suaminya ke Palestina.
Fallaci telah menjumpainya sebanyak dua kali.Pertemuan pertama terjadi awal Oktober di Yerusalem. Sebelumnya Fallaci telah membina hubungan dengan Meir dengan mengirimkan buku-bukunya tentang Vietnam bersama serangkaian mawar. Sebelum wawancara persiapan yang dilakukan Fallaci adalah mengajaknya berdiskusi tentang masalah-masalah timur tengah. Meir dengan segera terpukau dengan Fallaci, tanpa kesulitan ia meminta Fallaci untuk menemuinya lagi satu seperempat jam. Itulah janjinya untuk diwawancarai.
Pada pertemuan keduanya, tanpa ragu Fallaci menyodorkan pertanyaan utama tentang kapan akan datangnya perdamaian di timur tengah dan akankah perdamaian itu terwujud. Meir agak terkejut dengan pertanyaan itu, lantas ia menerangkan bahwa perang di Timur Tengah akan berlangsung bertahun-tahun. Fallaci menyodorkan pertanyaan berikutnya. Kali ini, ia menanyakan apa yang akan Meir lakukan untuk perdamaian di Timur Tengah. Meir hanya mmpersilahkan Fallaci untuk melihat buku sebanyak lima jilid yang berisi foto-foto dan riwayat hidup tiap serdadu pria dan wanita yang mati di dalam perang.
Pertanyaan selanjutnya dari Fallaci adalah apakah perang antara Israel dan orang-orang Arab akan pecah lagi. Meir menjawab dengan rona ketidakpastian. Menurutnya banyak kendala yang dilematis bahkan bisa membuat banyak pemimpin-peminpin terbunuh seperti yang akan menimpa Sadat. Setelah pertanyaan ini, barulah Fallaci mulai memancing kedekatan hubungan Meir. Apakah Meir lebih mudah berunding dengan sadat ataukah Nasser.
Kontan ia menjawab bahwa Sadat tidak mau berunding dengannya. Sampai akhir jawaban pertanyaan itu, ia tidak membicarakan sama-sekali nama Nasser. Pembicaraan lalu dialihkan Fallaci ke Saddam Hussein. Tetap saja untuk memancing sikap subyektif Meir. Disinilah Meir mulai berhati-hati untuk berkomentar soal saddam. Ia memuji perubahan yang positif pada diri saddam meski pada akhirnya menyinggung pemimpin Irak ini. Yordania tidak luput dari kritiknya dan pada Meir secara terang-terangan mengeluarkan generalisasi yang negatif terhadap orang Arab. Menurutnya, ras ini suka menuntut untuk mengganti dan meminta menyerahkan ini dan itu.
Fallaci berlanjut. Ia menanyakan tentang sikap Meir untuk mempertahankan Yerussalem. Sayangnya, meir hanya mengafirmasi pertanyaan tersebut. Selebihnya ia tidak mau melayani lagi pembicaraan tentang Yerussalem. Masih memancing tentang rencana penguasaan Israel terhadap daerah-daerah Arab, Fallaci mengalihkan pertanyaan ke masalah Pantai Kiri Jordan, Gaza, dataran, Tinggi Golan, Sinai.
Seperti biasanya, fallaci menanyakan kembali hubungan Meir dengan para pemimpin seperti Yasser Arafat, Habash, Orang-orang eropa, dan Jerman. Pembicaraan lalu disambung dengan topik-topik hangat seperti masalah terosrisme Arab, pengungsi palestina dan nasib orang-orang Palestina yang lain. Selain itu Fallaci juga menanyakan tentang keterikatan Meir kepada AS. Pertanyaan ini dijawab tanpa ragu dengan mengatakan kata ”ya”.
Pada akhir pembicaraan, Fallaci lebih ingin mengorek sikap-sikap pribadi Meir terhadap masalah kemanusian. Ia bertanya tentang sikap dan pengalaman langsung Meir terhadap pembunuhan seseorang dan penatapan kematian. Ini yang membuat Meir nyaman bercerita dengan perasaannya dan diikuti dengan komunikasi nonverbal yang bisa membuat Fallaci bisa menerka bagaimana sifat aslinya.

———————————————————————————————————–
Wawancara 5 : “Yasser Arafat”
Terwawancara : Yasser Arafat
Pewawancara : Oriana Fallaci
Sumber : Buku Oriana Fallaci, Wawancara Dengan Sejarah (hal 140-159)

Rangkuman :
Yasser Arafat dikenal sebagai gerilyawan Timur tengah yang paling tersohor. Tentangnya orang begitu banyak berbicara sampai bosan. Dia orang yang paling masyur dan misterius dalam perlawanan Palestina. Tabir kebisuan yang mengelilinginya begitu pekat sehingga patut mempertanyakan apakah itu sebagai kecerdikan untuk menambah publisitas atau hanya untuk menambah mahal harganya.
Mahal mendapat peluang untuk berbicara dengannya. Dia selalu bepergian seperti sebentar ke Kairo, ke Rabat, ke Libanon dan lainnya. Akhirnya kita merasa tidak layak baginya. Kemasyurannya melonjak karena dipopulerkan pers bukan karena perbuatan-perbuatannya.
Dari pembicaraan awal Fallaci dengan Arafat sebelum wawancara, wartawan itu mendapati banyak pikiran-pikiran Arafat. Pemimpin Palestina itu membeberkan kenyataaan bahwa ia sadar betapa biadabnya invasi yang telah terjadi di tanah palestina. Dia merasa hak merekalah untuk memutuskan apa yang ia kehendaki tiap negara Arab termasuk perjanjian perdamaian dengan Israel dan hak kami untuk kembali ke rumah tanpa kompromi.
Wawancara dengan Arafat menurut Fallaci benar-benar berbeda. Ia memerlukan riset khusus dan persiapan yang lebih matang. Ketika waktunya tiba, ia tak menyangka kalau bisa bertemu dengan Arafat. Sebuah ancaman “berani menjamah bosku dan aku akan menembakmu sampai berlubang-lubang. Setelah itu ia bersama seorang penerjemah bahasa dan satu orang juru tulis dipesilahkan menemui Arafat. Wawancara berlangsung 90 menit dan sebgaian besar waktu dihabiskan untuk menerjemahkan jawaban dari bahasa Arab.
Dengan menyebut Abu Ammar (nama asli Yasser), wawancara dimulai. Pertanyaan pertama yang diajukan Fallaci adalah tentang pribadi Yasser yang tidak begitu banyak diketahui orang. Yasser menjawab singkat bahwa ia pejuang yang hina dan menimpali Fallaci dengan pernyataan tentang invasi terhadap negeranya. Kemudian untuk memancing Arafat untuk dapat membuka dirinya, ia menanyakan usia pemimpin tersebut. Dua pertanyaan tentang usia ini tidak dijawab oleh yasser. Ia meminta Fallaci untuk tidak menanyakan masalah pribadi.
Gagal mendapat jawaban yang memuaskan, Fallaci mengalihkan topik ke arah status Arafat sebagai pemimpin perlawanan Palestina. Arafat mengelak bila dirinya disebut pemimpin palestina. Selanjutnya Fallaci lebih banyak menyinggung tentang sikap Arafat terhadap Israel, dasar-dasar perlawanannya, masalah perbatasan, hubungannya dengan beberapa organisasi di palestina sendiri dan para pemimpin Arab, pendapatnya tentang perang dan terhadap perdamaian di Timur Tengah.

————————————————————————————————————
Wawancara 6 : “Hussein”
Terwawancara : Hussein
Pewawancara : Oriana Fallaci
Sumber : Buku Oriana Fallaci, Wawancara Dengan Sejarah (hal 178 – 191)

Rangkuman :
Mendengar nama Hussein, maka Anda terasosiasikan pada percobaaan pembunuhan. Anda menyebut persekongkolan, penembakan dengan pistol, bom-bom dan racun. Orang-orang israel, Mesir, Syria, dan Palestina bersatu menentang dia dalam sebuah persekongkolan yang pada dasarnya sangat mudah.
Fakta yang paling istimewa mengenai Hussein adalah bahwa semakin hidupnya dibahayakan, semakin ia menampilkan dirinya. Kesimpulan yang bisa ditarik adalah Hussein senang akan bahaya fisik.
Hussein brelajar di sebuah coléese Swis dan dibentuk oleh Glubb Pasha, yaitu orang Inggris yang menata tentaranya, darahnya seribu persen Arab; berlumur kelicikan dan liku-liku. Ia tidak suka diwawancarai dan karena itu wawancara yang dilakukan Oriana ini bukannya suatu wawancara yang hebat. Ia menjanjikan empat puluh menit, setelah itu selesai.
Wawancara dengan Hussein dimulai dari pertanyaan tentang pemegang kekuasaan di libanon yang memberikan keputusan tentang keberadaan para fedayyin. Hussein bereaksi dengan menyebut fedayin bersama Palestina tidak perlu diusir dari wilayahnya karena mereka sama-sama berjuang mengembalikan tanah mereka yang diduduki Israel.
Mendengar unkapan Hussein, Fallacy membenturkan jawaban itu dengan kenyataan bahwa fedayin tidak respek terhadap Hussein. Namun, Hussein tetap pada pendiriannya bahwa penyelesaian damai atas masalah ini akan segera tercapai dan pihaknya akan ikut memperjuangkannya. Lalu fallaci menyinggung soal Resolusi DK PBB yang mengakui keberadaan Israel. Pada saat inilah muncul jawaban yang agak berbeda dengan sebelumnya dari Hussein.
Selanjutnya Fallaci menayakan juga hubungan Hussein dengan pemimpin negara-negara Arab lainnya, kesatuan negara Arab, masalah sengketa wilayah kekuasaan, pendapat pribadinya tentang fatalisme, dan perdamaian di Timur Tengah.
Pada akhir wawancara, Fallaci bertanya tentang seberapa besar kegunaan Hussein dalam keadaan Timur Tengah saat itu. Hussen hanya mengeluh bahwa pertanyaan itu sulit untuk dijawab dan sebagai komitmennya ia membulatkan tekadnya untuk siap menghadapi siapa saja yang mencoba mengusirnya.

——————————————————————————————–
Wawancara 7 : “Indira Gandhi”
Terwawancara : Indira Gandhi
Pewawancara : Oriana Fallaci
Sumber : Buku Oriana Fallaci, Wawancara Dengan Sejarah (hal 192-223)

Rangkuman :
Wanita yang luar biasa ini memerintah hampir setengah milyar manusia dan malah menenangkan peperangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan oleh Cina. Orang mengatakan: tidak seorang pun akan berhasil mengusirnya dari takhta, yang direbutnya bagi dirinya atas cara yang demokratis.
Orang mengatakan ia akan terus menjadi perdana menteri India selama dua puluh tahun dan karena beberapa waktu yang lalu ia telah melewati usia lima puluhan, maka ia tetap bisa bertahan sepanjang hidupnya. Dia satu-satunya ratu di zaman kita.Banyak orang menyukainya dengan menyebutnya kuat, berani, berdada lapang, dan genial. Mereka memuji dia karena pikiran waras, keseimbangan, dan kejujurannya.
Fallaci menjumpai Indira Gandhi di kantornya di istana pemerintahan.. Wawancara dengan Indira Gandhi mempunyai satu buntut. Satu riwayat kecil yang punya makna adalah riwayat jatuhnya Indira. Datangnya tiba-tiba, ketika wanita yang menakjubkan itu percaya bahwa ia dapat memaksakan kepribadiannya dalam satu zaman yang tidak dapat membiarkan dirinya bergantung dari satu orang saja.
Maksud awal Fallaci menemui Gandhi adalah mewawancaranya tentang agama. Namun, kenyataannya pembicaraan melebar ke hal-hal yang lebih bersifat pribadi. Pertanyaan pertama yang diajukan Fallaci adalah tentang pandangan orang terhadap gandhi yang dikenal dingin dan beku. Lalu, pembicaraan dialihkan ke arah hubungan politik dan ekonomi antara India dan Bangladeh. Pertanyaan ini ditanggapi positif oleh gandhi.
Berikutnya, fallaci membawa arah wawancara menuju hubungannya dnegan pemimpin-pemimpin dunia, pendapatnya tentang ajaran komunis, masalah hubungan dengan Pakistan, negara tetengganya. Pada akhir wawancara Fallaci meminta pendapatnya mengenai lama atau tidaknya dia tetap akan menjalani tugasnya sebagai pemegang tahta. Indira hanya menjawab bahwa ia akan membuat karya-karya terbaik selama masih diberi kesempatan memimpin.

————————————————————————————————————
Wawancara 8 : “Ali Bhutto”
Terwawancara : Ali Bhutto
Pewawancara : Oriana Fallaci
Sumber : Buku Oriana Fallaci, Wawancara Dengan Sejarah (hal 226-257)

Rangkuman :
Presiden Pakistan Zulfikar Ali Bhutto, ia mengundang Oriana Fallaci untuk mewawancarainya. Seperti halnya Hussein, Bhutto juga dituduh memimpin satu negara yang lahir secara artificial. Ia terjepit oleh jambang besi: Uni Soviet, India, Cina, dan Amerika. Bagi Bhutto, kekuasaan adalah satu nafsu yang lebih menyeret manusia daripada cinta. Dan siapa yang menyukai kekuasaan harus menmpunyai perut yang kuat, dan hidung yang lebih kuat lagi. Bau yang busuk tidak merepotkannya. Wawancara Oriana bersama Bhutto dibuat dalam lima tahap. Selama enam hari Oriana mengikuti Bhutto dalam perjalanan melintasi beberapa provinsi.
Wawancara ini adalah satu mosaik yang terdiri atas lima pembicaraan yang berbeda-beda. Pertama di Rawalpindi pada malam tiba. Kedua, di dalam pesawat yang membawa kami ke Lahore. Yang ketiga di Hala, satu kota orang-orang Sindhi. Yang keempat dan kelima di Karachi. Bhutto adalah orang yang aristokrat, yang muslim yang tidak pernah akan diubah secara mendalam oleh kebudayaan barat mana pun. Bukan kebetulan ia mempunyai dua orang istri.
Dalam wawancara ia memberikan penjelasan dan pernyataan, sambil menyerang Indira Gandhi, Mujib Rahman, Yahya Khan tanpa ampun. Zulfikar Ali Bhutto begitu ngotot untuk menemui Oriana Fallaci karena menurutnya Oriana satu-satunya wartawan yang telah menulis kebenaran mengenai Mujib Rahman. Artikel Oriana sangat menyenangkan baginya. Lalu karena….itulah, Bhutto kurang senang membaca tulisan Oriana, bahwa Bhutto sedikit ikut terlibat dalam pembantaian bulan Maret di Dacca.

————————————————————————————————————
Wawancara : “Willy Brandt”
Terwawancara : Willy Brandt
Pewawancara : Oriana Fallaci
Sumber : Buku Oriana Fallaci, Wawancara Dengan Sejarah (hal 258 – 286)

Rangkuman :
Sejarahlah yang akan menetapkan sejauh mana willy brandt seorang negarawan yang besar dan seorang tokoh agung, akan tetapi sudah pasti bahwa selaku pemimpin dialah satu-satunya tokoh Eropa Barat yang besar sesudah perang. Bertahun-tahun dia memimpin Jerman Baru, yaitu satu Jerman yang tidak lagi menimbulkan kebencian atau ketakutan tetapi sebaliknya, merangsang iri hati negara-negara lain.
Jasanya yang paling besar adalah bahwa kata Jerman tidak berarti Hitler. Dia menentang Hitler dari usia empat belas tahun. Ia menulis melawan orang-orang Nazi dan satu hal yang tidak dapat dibantah: begitu banyak yang dikritik pada Willy Brandt satu-satunya kepala pemerintahan yang sudah lebih bermanfaat bagi kaum buruh Jerman daripada begitu banyak Utopia. Dan hal itu tidak meniadakan kebebasan.
Dalam pemuja terhadap kebebasan, bertumbuhlah orang ini –yang sering tidak dicintai tetapi selalu dihormati, –menjadi wartawan, penulis wali kota Berlin dan Kanselir, dan ia selalu mengambil sikap. Willy Brandt satu-satunya kepala pemerintahan yang sudah mengungkapkan diri dengan kejelasan yang sama dengan kekuatan yang sama menentang kolonel-kolonel Yunani dan pejabat-pejabat Soviet yang memasukkan orang-orang tidak berpikir seperti mereka ke dalam rumah gila.
Ia lahir pada tanggal 18 Desember 1913 di kota Lubek. Wawancara Oriana Fallaci dengan Willy berlangsung dalam dua tahapan di kantornya sebagai Kanselir Republik, yaitu pada Selasa 28 Agustus dan Senin 3 September 1973. Nama Willy Brandt mulai dia pakai awal tahun 1933 sebelum meninggalkan Jerman dan sesudah kaum Nazi berkuasa. Itu merupakan ”nama perang”.
Wawancara fallaci dimulai dengan pertanyaan mengenai identitas asli Brandt. Narasumber itu langsung memberikannya sebuah identitas singkat. Berikutnya, sembari menyinggung masalahnya yang mau menerima dirinya menjadi warhga negara Norwegia.
Pertanyaan selanjutnya berkisar masalah kewarganegaraan, nasionalisme, hubungannya dengan negara lain seperti Austria, Polandia, dan Israel, perkembangan kawasan Eropa sebagai sebuah usaha kompromi antar negaranya. Pada akhir wawancara Brandt berbalik bertanya kepada Fallaci tentang Petani dan Arak tetapi fallaci tidak berkomentar apapun dan mengakhiri pembicaraan dengan mengucapkan salam perpisahan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: