Posted by: bachtiar hakim | March 22, 2008

Libur dan Mati Suri


    Saya agak kesal juga tinggal di Jatinnagor beberapa hari ini. Gerbang Unpad sepi, jalan raya sepi, kampus sepi, Jatos sepi. Tak seperti biasanya, Jatinangor seakan hanya dilewati angkot-angkot hampir berpenumpang kosong. Beberapa rumah makan malah menutup rapat-rapat pagar kiosnya dan ikut pulang. Sebenarnya saya hanya ingin bertanya mengapa Jatinangor terlihat seperti kota pendatang tanpa penduduk asli?

Kenyataannya, fenomena libur cuti bersama yang berlangsung dari tanggal 21 -24 Maret 2008 tak hanya membuat sepi jalanan di kota-kota besar.  Kesunyian ini juga melanda Jatinangor, sebuah kota kecil  di sebelah  timur Bandung. Jujur saja, Jatinangor kurang pantas apabila hanya disebut sebuah kecamatan karena secara administratif dan finansial mampu mengeksistensikan diri sebagai kecamatan paling potensial di Kab. Sumedeang.

Soal-menyoal libur, sebenarnya tidak hanya pada libur kali ini saja jatinangor sunyi. Libur kuliah, libur alih semester, sampai libur panjang hari raya memiliki kontribusi yang kadarnya berbeda terhadap kelangsungan hidup Jatinangor. Libur cuti bersama kali ini misalnya. Penduduk asli yang menggantungkan hidup dari aktivitas mahasiswa terpaksa harus menghitung ulang keingiannnya untuk tetap menjalankan aktivitas usahanya. Harus menghitung karena kalau memaksa bukan untung yang diraih tapi buntung.

Saya mencoba melihat contohnya dari sisi terdekat, yaitu tukang ojek. Saya mencoba membayangkan berapa yang didapatkan dari pekerjaan itu bila penumpang saja sangat sedikit.  kadang hati terasa trenyuh bila pikiran saya mencoba menelanjangi kehidupan ojek bersama anak istrinya.

Contoh yang agak gede, saya ambil Jatinnagor Town Square (Jatos).  Isu miring bahwa pemasukan sebagian besar kios/gerai di Jatos sebenarnya tidak sebanding dengan pengeluarannya nampak tidak bisa dipungkiri. Bahaya juga bila biaya operasional yang diperkirakan cukup tinggi, animo pengunjung tidak tinggi. inipun bila kita belum memakai asumsi bahwa tingginya animo pengunjung pusat perbelanjaan ini belum tentu tingginya daya beli, maka kita dapat membayangkan sebenarnya pusat keramaian baru ini tinggal menunggu ajalnya saja.

Fakta di atas memang subyektif dan terkesan menggeneralisir. Saya  hanya membayangkan bila pengunjung itu saya bersama teman-teman mahasiswa yang sering saya tanya “ngapain sih ke Jatos”. Saya ber-khusnodzon yang baik saja  terhadap keadaan finansial Jatos yang sebenarnya… Tapi hati saya tidak bisa mengelak. Saya merasa sangat trenyuh juga melihat wajah-wajah pegawai-pegawai toko yang terlihat  “bete” saat sayalihat tokonya tidak dikunjungi orang.


Responses

  1. kalo kata saya sih, pendatanglah dalang yang menjadikan penduduk asli kaum yang termarginalkan. saya suka mikir jalan pintas aja. kenapa orang2 lebih memilih menjual tanah/sawah/ladang mereka dan membeli motor untuk menjadi tukang ojek?? kenapa jatos dikasi ijin buat di buka di jatinangor?? jujur, saya butuh 21. tapi juga ga bakal mati klo gada bioskop

  2. salam kenal..numpang komen…ya juga yah..jatinangor emang sepi banget kalo pas liburan..pernah saya terperangkap dalam kondisi seperti itu..ckckck..nyari makan aja susah!!
    mampir ke blog saya yah kang… = )

  3. @ Dina : Saya senada dengan Dina. Tapi harus ditelisik lebih lanjut alasan mengapa orang jatinangor punya pilihan seperti yg anda sebutkan. Tentunya tidak hanya bisa ditelusuri lewat hukum sebab-akibat. Masalah alasan bioskop diizinin, mekanisme pasar lah yang berbicara…

    @didiidid : okeh, mampir daaahh… sukur2 bisa kopdar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: