Posted by: bachtiar hakim | March 23, 2008

Pejuang Bambu Dari Citali


Arsip Tabloid dJatinangor edisi XII/TahunVI/ Februari 2004

Pejuang Bambu Dari Citali

Oleh : Bachtiar Hakim dan Hani

Pukul 03.00 dinihari, Jatinangor masih mati. Mahasiswa yang menghidupi diri di siang hari sebagian besar telah larut dalam mimpi. Tak ada kemacetan. Jalanan hanya digetarkan kejaran truk besar dan bus berkecepatan tinggi. Entah malam yang ke berapa bagi Kahna, seorang penjual bambu, “ berpuasa” menikmati mimpi.

Mulai pukul satu dini hari, biasanya, Kahna dan dua temannya meninggalkan Desa Citali, kecamatan Pamulihan, Sumedang. Dengan berjalan kaki, bambu dibawa di atas gerobaknya menuju Pasar Dangdeur, Rancaekek, Bandung untuk dijual. Ratusan kilometer ia jalani demi sebuah rupiah untuk menghidupi keluarganya. Selama empat jam ia tempuh menembus kegelapan malam. Hanya lampu tempel yang menjadi penerang jalan Kahna. Struktur jalan yang berkelok dan bergelombang tak menyurutkan semangatnya.

Membawa segerobak bambu berukuran panjang 8 meter dan berat 51 kg bukanlah perkara gampang. Dulu, ketika pertama kali membawa bambu, Kahna masih sulit menyeimbangkan gerobaknya. Seringkali jalannya oleng. Oleh karena itu, gerobak harus tetap tegak dan terjaga keseimbangannya agar tidak berjatuhan. Belum lagi jika jalanan yang dilalui sedikit menanjak, tenaga ekstra pun harus dikeluarkan.

Jalanan yang menurun tentu membutuhkan ketahanan untuk mengerem. Itu pun masih ditambah resiko kecelakan yang mungkin terjadi akibat tertabrak bus dan truk-truk besar.

Kahna mengenang sembilan tahun lalu jetika terjadi kecelakaan yang menyebabkan tewasnya kedua teman Kahna, yakni Iyang dan Edi. Mereka langsung tewas ketika tertabrak truk yang bermuatan batu-batu besa r.

“Saat itu, supir yang membawa kendaraan tersebut sedang mengantuk dan di depannya ada dua orang pedagang bambu yang sedang berjalan,” ceritanya kepada dJ saat melintas di depan Gerbang Unpad bebrapa waktu lalu.

Kahna sadar, bahwa resiko pekerjaan ini sangat berat. Begitupun dengan upayanya mencari sesuap nasi harus dilakukannya dengan usaha dan kerja keras yang maksimal. Karenanya, ia tak pernah mengeluh dan dijalani dengan sabar.

“Yah… saya mah berhati-hati saja mudah mudahan nggak terjadi kecelakaan,” ujar pria bertubuh kurus ini.

Dinginnya malam tak lagi menjadi soal bagi Kahna. Sehelai jaket atau baju hangat sekalipun tak pernah ia kenakan. Menurutnya memakai jaket hanya akan menimbulkan rasa gerah saja.

Hasil tidak menentu

Berapa pendapatannya dari menjual bambu ini? Dalam sekali jalan, biasanya ia membawa 17 bambu. Harga bambu kecil atau sedang per batangnya lima ribu rupiah. Bambu besar dengan berat lima kilogram dijual Kahna dengan harga duapuluh ribu rupiah. Kalau lagi laku, ia bisa meraup keuntungan sebesar 40 ribu rupiah, setelah dipotong uang makan, sewa gerobak, dan setoran kepada majikannya sebesar 35 ribu rupiah. Bila dagangannya tidak laris, maka ia harus berpuasa makan demi anak istri.

Meski sering mengeluh akibat penghasilan yang tidak menentu, berkat usaha dan kerja kerasnya ia dapat menghidupi istri dan ketiga anaknya. Kini anak-anaknya telah berkeluarga dan mempunyai anak. Walaupun penghasilannya tak seberapa, Kahna mengaku tak ingin mengganti pekerjaannya.

“Saya mah enggak punya modal buat usaha baru, jadi bambu lagi bambu lagi,” tutur kakek dengan lima orang cucu ini.

Ujer (40), teman Kahna yang lain, punya pandangan berbeda. Menurutnya, ia akan segera mengganti pekerjaannya sebagai tukang bambu jika ada pekerjaan lain yang bisa dilakukannya. Namun sayang, ia tak punya keterampilan lain. Berdagang bambu dilakukannya karena terpaksa.

“Mau kerja jadi buruh saja susahnya bukan main,” keluh Ujer yang tinggal di kampung Babakan Loa, Desa Citali, Sumedang. Padahal Ujer harus bisa mencukupi kebutuhan hidup istri dan tiga anaknya. Anak pertamanya, Vahyudin (19) kini menganggur. Anak kedua, Sumarni (10) masih sekolah SD, dan anak bungsunya Ade Sutisna yang masih berusia tiga bulan. Rumahnya masih bilik beralas tanah berlapis bambu. Kehidupan teman-temannya pun tak jauh berbeda dengan dirinya.

Menurut Dede Mulyana, Staf Umum Desa Citali, Desanya memang banyak dihuni oleh para pedagang bambu.

“Jumlah mereka enam orang, dua orang menjadi agen atau penunggu di kebun sedangkan yang lain hanya mengambilnya saja,” tuturnya.

Dalam buku Pantauan Masyarakat Desa Citali, pedagang bambu termasuk penduduk yang pekerjaanya tak menentu. Jumlahnya mencapai 768 orang. Menanm bambu, diakui Dede, memang yang paling gampang dibandingkan dengan menanam tanaman lain.

“Bambu hanya ditancapkan saja dan tidak perlu diurus, sampai lima tahun, namun memang waktu tumbuhnya lama hingga memakan waktu sampai lima tahun, “ jelasnya.

Lahan bambu di Desa Citali membentang hingga 4,3 hektar. Ian Munirat, Ketua Badan Perwakilan Desa menimpali bahwa Desa Citali merupakan daerah berpotensi rendah. Saat ini, jumlah keluarga pra-sejahtera jumlahnya mencapai 62 kepala keluarga.

Saat senja mulai merayap, tiba waktunya untuk pulang. Letih dan lelah tersasa sudah/. Kini saatnya untuk kembali pulang ke rumah menemui anak istri. Kahna, Ujer, dan kawan-kawan yang lain hanyalah segelintir masyarakat yang telah merasakan sulitnya mencari sesuap nasi. Mereka sosok pekerja keras yang patut dicontoh.

Jika tekad sudah mantap, tak ada yang tak mungkin dilakukan. Ketegaran hidup harus diraihnya dengan perjuangan, taruhan mimpi ondah pun, bahkan nyawa telah mereka korbankan.

Bachtiar Hakim`03 dan Hani `01


Responses

  1. haiii…
    saya dinda..
    wah, ternyata anda juga tertarik dengan penjual bambu ya..
    saya pun sama dengan anda ni,
    sedang mencoba mengorek kehidupan penjual bambu tsb..
    yaaa, walaupun untuk motivasi tertentu.. hehehhe..
    btw,
    bisa sharing-sharing dong..
    ditunggu reply nya ya…
    thx…

  2. mengorek…. emang sampah mbak…hehehe..
    salam kenal mbak. mending hunting bareng aja ke citali.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: