Posted by: bachtiar hakim | March 28, 2008

Festival Malang Tempo Doeloe : Malang Seribu Malam


Festival Malang Tempo Doeloe

Malang Seribu Malam

Foto : Bachtiar Hakim

Tak jauh dari Museum Brawijaya, sabtu sore (06/05/07) ini saya melihat sebuah keramaian yang luar biasa di kota Malang. Banyak sekali pejalan kaki berduyun-duyun menyusuri trotoar jalan yang terbilang cukup lebar. Tak ketinggalan sepeda-sepeda ontel dikayuh secara berjamaah. Serempak dengan penampilan oldschool alias jadul, mereka menyapa setiap mata yang tertegun dengan kepalan tangan layaknya Bung Tomo. Saya jadi teringat lagi pada film Soerabaja 1945 (10 november) yang terpaksa ditonton karena paksaan guru SD. Kembali ke Jaman Dulu (Jadul) memang menjadi semacam dress code bagi setiap pengunjung Acara Malang Tempo Doeloe.

Jalan kaki atau menggunakan kendaraan sebenarnya masalah pilihan saja. Pastinya, mereka berjalan menggerumuti “sajian” di titik yang sama. Bapak saya bercerita kalau antusiasme warga Malang sangat tinggi apabila ada acara bertema kebudayaan. Apalagi jika acaranya besar dan ada unsur hiburannya seperti terpampang di spanduk dan bendera Festival Malang Tempo Doeloe yang berjejeran sepanjang Jalan Ijen. Mas Iwan, supir bapak saya menambahkan kalau festival ini baru pertama kali digelar di Kota Malang.

“Kenapa harus pake embel-embel “Tempo Doeloe” segala?” tanya saya kepada Mas Iwan.

Entah kenapa jawaban Wong Malang ini belum memuaskan saya. Ia hanya menyebut kata “bagus” dan berulang kali kata “sejarah” keluar dari mulutnya yang dibarengi senyum sungging. Karuan bapak saya dengan sok tahu ikut menimpali jawabannya. Bermaksud nimbrung tapi jawaban bapak juga kurang memuaskan. Ia malah mengaitkan festival ini dengan ulang tahun kota Malang.

Soal sejarah kota Malang, saya memang hanya punya sedikit gambaran. Dalam benak saya hanya terbayang sosok Suikerplanteers atau para tuan perkebunan tebu Malang seperti yang diceritakan dalam buku Potret Bandung Tempo Doeloe. Mereka yang gagah parlente dengan tongkat di tangan ketika keluar dari mobil-mobil bermesin uap mengunjungi perkebunan kopi di Bandung untuk berstudi banding.

Lagi-lagi pertanian dan perkebunan. Kesuburan kota Malang memang tidak perlu diragukan lagi punya andil besar terhadap perkembangan kota ini dari dulu hingga kini. Seniman “Tongkat Kayu” Gombloh tidak perlu risau lagi jika ada orang yang mengkritik syair lagunya. Gimana tidak subur kalau setiap hari ada pupuk gratis yang jatuh dari langit. Gelontoran abu vulkanis dari Gunung Semeru tentu jadi berkah tersendiri meskipun bikin genteng rumah dan buah apel Malang jadi berkarat.

Entah apakah karena saya terlalu sering bertanya, bapak saya tiba-tiba menyuruh mas Iwan untuk berhenti di depan sebuah gapura. Tepat di bawahnya ada bedeng yang dibuat dadakan menjadi loket. Dua portal di sisi kiri dan kanan hanya dibuka setengahnya saja. Itu membuat kendaraan beroda empat tak bisa masuk ke dalam. Terpaksalah mobil yang kami tumpangi diparkir di pinggir jalan. Ketika deru mesin mobil telah dimatikan barulah bapak bilang kalau ia ingin mengajak saya menonton langsung Festival Malang tempo Doeloe.

Festival dalam festival

Ternyata stereotip saya terhadap orang Malang ada benarnya juga. Kecintaan orang Malang pada tradisinya entah karena sekedar ikut-ikutan atau memang meniatkan diri begitu besar. Daya apresiasinya dapat dibuktikan lewat acara ini.

Papan-papan reklame berukuran raksasa yang memampang sejarah panjang Kota Malang berdiri di sepanjang jalan Festival. Banyak yang ingin mengabadikan dirinya di depan foto Jalan Ijen pada zaman kolonial Belanda. Unik juga hasilnya dan sepertinya komposisi backgroundnya tidak bakal mereka dapatkan bila berfotodi fotobox. Papan-papan itu memang memampang foto-foto bersejarah yang dikumpulkan dari berbagai sumber organisasi maupun pribadi. Untuk semakin memperjelas citra foto tersebut, data-data statistik tentang wilayah, penduduk, ekonomi, pariwisata ikut dipampang.

Pada siang hari, stand-stand memang agak sepi pengunjung. Beberapa panggung kesenian terlihat kosong.Keramaian hanya terlihat di stand-stand yang menjual makanan , souvenir dan barang-barang antik. Kerumunan massa sesekali berpindah ketika ada pagelaran musik dadakan yang diadakan oleh para musisi jalanan. Cuaca memang cukup terik. Pantas saja, penjual es Dawet dan tuak mampu menyedot rupiah dari para pengunjung.

Cukup lelah kaki ini. Saya menghabiskan waktu bersama bapak saya dan Hamyana – kakak angkat menyusuri stand-stand yang sangat unik. akhirnya saya merebahkan diri di sebuah mobil Fiat tua yang usianya hampir menandingi usia bapak saya. Mobil tersebut dipajang secara berjejeran dengan kendaraan tua lainnya. Tak sempat saya mencicipi kesegaran tuak alias lahang – dalam bahasa sunda karena bapak saya langsung mengajak pulang.

Malam Seribu Malang

Tapi bukan saya, jika langsung puas dengan kunjungan hanya setengah jam ke Festival Malang Tempo Doeloe. Malam harinya saya bertekad untuk mengunjungi acara yang menginjak hari terakhir tsb. Dalam benak saya terfikir akan banyaknya kesenian tradisonal yang menjadi acara puncak sekaligus penutup.


Responses

  1. Thanks liputannya, membuat aku bisa membayangkan bagaimana suasana my lovely hometown saat festival ini. Sayang banget fesival ini baru ada pada saat aku sudah merantau.

  2. aduh… saya juga kanget sama malang… kapan ya kesana lagi?

  3. keren jg, gua pengen liat. .
    emg tuh acara diadain tiap bln apa brow?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: