Posted by: bachtiar hakim | March 30, 2008

Perbincangan “Uang” dan “Uang” Lagi… Katanya sih Keluhan Calon Jurnalis


Pemadaman aliran listrik di Jatinangor yang begitu sering akhir-akhir ini memang membuatku sangat kesal. Tapi di kamarku, gelap sudah biasa. Apalagi bila ada teman untuk diajak berdiskusi. Hanya penerangan lilin saja sudah cukup membuat suasana  perbincangan mengalir. Kalaupun tak ada lilin, bara api dari rokok saja sudah cukup untuk membuat dua pasang mata dan telinga saling berinteraksi.

“Bachtiar… kita ini orang-orang gila yach?”, tanya Kono alias Yulputra membuka pembicaraan yang agak serius setelah sebelumnya ngobrol ngalor-ngidul.

Dia menanyakan pada saya kenapa orang-orang yang masuk jurusan jurnalistik Unpad itu aneh-aneh. Saya cuma bisa ketawa seraya membalikan pertanyaannya dengan enteng.

“emang elo sama gua gak aneh apa?,” tanya saya kembali

Maksud Kono menyampaikan pertanyaan itu adalah untuk coba-coba menerapkan hasil perbincangan kami yang sudah berlangsung sekitar dua jam sebelum padam listrik. Perbincangan malam itu memang lumayan kental. Sekental kopi Lampung yang kami seduh dengan air panas seadanya. Seadanya juga mulai ngegosip sampe ngomongin yang serius-serius. Nah, mulai dari yang agak serius ini kita mulai berandai-andai. Andai kita ngomong hal tersebut di depan orang yang pemikirannya dan tindakannya kita kritik. Kata kono, pasti kita sudah dibilang “orang gila” kalo kita mengkritik langsung pemikiran orang itu di depan jidatnya.

Ngakak juga kalo liat tulisan feature tentang kisah seleb gagal yang dimuat di Harian Kompas Hari minggu tadi. Mulai seru lagi pas masuk ke puisi-puisi yang dimuat di kompas. Pembicaraan mengalir jadi ke arah budaya dan sastra. Lumayanlah, kita jadi ngomongin   peribahasa  dan keberadaanya sebagai  pedoman  kearifan lokal.

eh, Tiba-tiba si Roni, anak 2004 nyelonong masuk ke kamer gw. Dia baru pulang dari tempat kerjanya di Majalah ——– (Maaf disensor namanya) yang bermarkas di Bandung. Kebetulan dia baru dua minggu bekerja sebagai kontributor di majalah berbanderol lima belas ribu rupiah per eksemplar tersebut. Seperti biasa ekspresi lelah tidak terlihat di wajah wong Solo itu, karena dia memiliki aura sebagai ikon seleb (hahahahahahaha)

Tapi aneh juga ketika dia langsung melempar tas dan menyebut kata “anjing”. Bahaya pikirku. Pasti Roni sedang ada masalah. Saat ini kamarku masih gelap gulita dan bertambahnya satu orang ini membuat suasana makin tidak jelas.

“Kenapa lu, ron?” tanyaku

“Bangsat, sial kerjaan gua kagak dihargai,” jawab Roni dengan kesal.

Dia lalu bercerita bahwa dengan pengorbanan yang lumayan tinggi untuk membuat  tulisan tentang kebudayaan  Atlantis, ternyata hasilnya masih jauh dari ekspektasinya. Bukan karena tulisan itu terlalu dangkal dan kurang bisa memenuhi kaidah-kaidah bahasa jurnalistik. Kekecewaannya itu akibat hasil kerja keras dan keseriusannya  mewawancarai para ahli geologi dan mencari sumber-sumber sekunder dari buku dan media online itu ternyata dianggap terlalu idealis.

“Kalo di kampus gw itu biasa ngerjain tulisan yang mendalam seperti ini,” cerita Roni pada pemimpin redakturnya

Kekecewaannya berawal ketika redaktur   memotong tulisan yang lumayan mendalam tersebut dari empat halaman menjadi dua halaman saja. Dengan penghargaan “prestasi” yang dianggapnya tidak ia dapatkan dari media tersebut, ia pun terpaksa harus lebih dalam menggaruk-garuk kepalanya. Belumk lagi, ia dipaksa tidak percaya ketika diberitahu bahwa honornya yang sebesar lima puluh ribu rupiah tidak dibayar kontan.

“Cuma Dibayar Lima Puluh Ribu?” Tanya Roni dalam hatinya

(di depan redaktur dia tidak mengeluh, namun di depan kita,  roni baru bersedia membuka kartunya)

Ia tidak  percaya saat membandingkan pendapatannya itu dengan biaya yang sudah dikeluarkannya  untuk membuat tulisan tersebut. Menurutnya, untuk meliput dan mewawancarai narasumber ia sudah mengeluarkan biaya operasional lebih dari upah yag dioterima. Ibaratnya, kalo dia ingin merokok. bukan rokok yang didapat tapi puntungnya saja… hahaha.

Dari keluh kesahnya, perbincangan pun menghangat. Arahnya bergeser ke tema baru yaitu masa depan  mahasiswa jurusan Jurnalistik Unpad.

Awalnya, Kita cuma bisa saling melempar pertanyaan “lulus kuliah masih niat gak lu jadi wartawan?”

Kono menjawab  dengan tegas bahwa dia tidak mau menjadi wartawan. Ia pun membeberkan cita-citanya membuka usaha makanan di Bogor

Saya berbeda dengan Kono. Saya ingin menjadi wartawan hanya untuk mengambil pelajaran tentang bisnis media massa saja . Kalau sudah tiga sampai lima tahun saya ingin mendirikan  perusahaan media massa sendiri.

Satu lagi Roni yang tersisa hanya cengengesan saja. Mungkin dia masih belum bisa menenrima kejadian sore tadi.

Menurut saya, sudah seharusnya saat ini perusahaan media massa menghargai profesi wartawan yang berkualitas dengan pendapatan yang setimpal. Menanggapi perusahaan media massa papan atas yang cenderung mencari pekerja dari institut jurnalistik yang didirikannya, saya hanya mengacungi jempol. Mereka berfikiran cerdas untuk mendapatkan pekerja yang bagus sesuai skill, karakter dan kultur perusahaan .

Untuk rekan-rekan sesama  mahasiswa Jurnalistik Unpad saya hanya ingin bilang “Semangat teman-teman!!! Kalau anda yang ingin jadi jurnalis, jangan pernah ragu untuk menjadi jurnalis yang handal… Karena ini profesi yang sangat mulia”

Untuk pengambil keputusan di jurusan Jurnalistik Unpad saya hanya berpesan agar mahasiswa jangan terlalu dibebani dengan beban kuliah yang padat. Saya agak kasihan  juga melihat kebanyakan adik kelas saya yang mengeluh akibat sulit untuk bisa “aktif”      ( benar-benar aktif ikut organisasi, tidak untuk sekedar penambah daftar pengalaman di  CV saja)  di organisasi intra kampus/luar kampus yang sebenarnya dapat mendukung  minatnya di bidang jurnalistik.  Kalo  saya sih  santai-santai aja… hahaha… lulus lama juga.

Menyikapi fenomena kesenjangan  antara materi kuliah di kampus yang identik dengan hal “ideal” dan kenyataan yang seringkali bertolak belakang, seharusnya jurusan menambah daftar nama praktisi media sebagai pengajar. Selain itu, untuk bisa menerapkan konsep-konsep yang ideal di dunia praktis media massa,   kurikulum wirausaha di bidang media massa sudah seharusnya diberikan di bangku kuliah. Dengan menjadi pekerja di sebuah perusahaan media ,  belum tentu kita bisa menerapkan pola pikir dan karakter ideal yang sudah diajarkan di bangku kuliah.

Semoga  kesenjangan yang dialami rekan saya tadi bisa dikurangi.

Hidup jurnalis…. jurnalistik!!!

K1A03051


Responses

  1. OwH,,oWh,,oWh. . . . .
    Iyea , , q jg pnGen bgT terjUn ke dunIanya jurnaListIk. . .
    N sePertInya hal itU snGt mEmbuTuHkan wawasan yG lebiH Luas. . .
    MeskI q msh duDuk di bAngku SmA,, v bidanG jurnalis emang dc q minatin bgt sejak q smP. . .
    Moga z ntar q bisa gaBunG di bidanG tUe. . .
    AmiEn yeA. . . !!🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: