Posted by: bachtiar hakim | March 31, 2008

Dalam Belaian Gunung Geulis


Geulis-ku Dalam Belaian Gunung Geulis

 

mataku  meronta-ronta

melihat lampu penuh warna

kutahu malam itu panggilan derita

kala kujumpa sirna

 

kusengaja…

dengan langkah sekonyong-konyong

berhasil menjauh dari dentingan jam

tepat sebelas dua puluh

 

alangkah bahagianya kala jemari ini mulai tersentak

tertusuk halimun yang kuciptakan sendiri

tiada sinariku kecuali padang seadanya

ku terus berjalan mengikuti detak jantungku

 

di jatiroke seorang diri

kutembus ladang jagung

satu dua tiga hisap rokok

empat lima enam tegukan dahaga

gigitan duri semak belukar tak kurasa

 

dan sampai juga pada suatu ketika

bunuh diri yang indah dalam kesendirian

di puncak gunung yang malam itu bisa kupeluk

hanya itu caraku menghempaskan perasaanku

meski isakan tak tertahan

 

dalam desiran angin malam

dalam keterpurukan

muramnya titian kerja

pun suramnya sang jelita

ku berteriak lantang menyebut namamu

 

dalam kesunyian gunung geulis

di dekat dua pohon beringin yang eksotis

terdengar suara dentuman seng yang dironta angin

dari rumah penjaga makam yang tak dihuni

hanya gumamku  yang paling bersenandung

 

geulisku…

seandainya kau tahu

kau gadis jawa impianku

 

geulisku …

seandainya kau tahu

kau mentari hariku

 

geulisku …

seandainya kau tahu

sungguh satu dalam pinta dan cinta

 

tapi geulisku…

sudah kuduga

kandas sudah jejak cinta

dan aku tak bisa menjadi halimunmu

snada kau tak mengharapku jadi halimunmu

 

sesaat kurindukan…

kilas pertemuan

saat dua tatap mata berjumpa di desa kita

kau yang sederhana dalam kata

begitu bersahaja

 

kuingat…

saat kau duduk manis di belakangku

saat kita pandangi pematang sawah

saat dua insan lintasi jembatan cincin

saat kau lepas tawamu atas celotehku

 

saat nyata berubah

kau menjadi lamunan sepiku

menjadi bumbu senandung kala rindu

menjadi gelombang amarah dalam keputusasaan

menjadi penenang dalam doa

 

asa itu tlah sirna, puan…

aku harus tetap melangkah

mengejar cita-cita luhurku

melupakanmu dalam kedamaian

 

harus kulakukan!!!

 

gadis jawaku…

bersemayamlah kau dalam halimun

dalam kedamaian gunung geulis yang merindukan hijau

semoga hembusanmu menemukan idaman

 

dan tiba  saatnya ku singsingkan langkah

meninggalkan haru dan menjemput baru

kan kuberitahu pinta terakhirku…

tetaplah jadi teman baikku…

 

tuhanlah yang tahu niat kita

tuhanlah yang tahu perasaan kita

tuhanlah yang tahu ikhlas kita

 tuhanlah yang tahu takdir kita

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: