Posted by: bachtiar hakim | April 1, 2008

Pangalengan dan Jeritan Hati Pengala Jukut


Tiada Susu, Rumput pun Jadi

cimg2449.jpg

Palay susu a….”. Kawasan Pangalengan identik dengan susu

(Foto :Bachtiar Hakim)

Embun dan kabut tebal tampak menyelimuti pagi di kawasan Pangalengan. Dari kejauhan tampak sayup-sayup kicau burung bercampur dengan deru bising puluhan truk pengangkut susu yang mulai beroperasi. Kebetulan, rabu (14/11) suhu di daerah bagian selatan Kabupaten Bandung itu sekitar dua belas derajat celsius. Namun, dinginnya pagi itu seakan tak mampu menghalangi hentakan kaki Ude (36) bersama ratusan “pangala jukut” untuk memulai peruntungannya

.

Berbeda dengan lazimnya kegiatan penduduk di pusat keramaian Kecamatan Pangalengan, tujuan langkah pria bernama lengkap Ude Karyadi ini bukan pergi ke peternakan sapi. Ia pergi ke ladang-ladang rumput yang kadang lokasinya cukup jauh dari rumah biliknya yang terletak di pinggir Situ Cileunca. Berbekal arit, wadah dari bambu, dan pikulan, pria bertubuh kurus ini berjalan tanpa tujuan yang pasti.

Gerak-gerik matanya mulai mengamati satu persatu kondisi ladang di Dusun Cinangsih Wetan, persinggahan pertamanya Hijau dan lebatnya rumput berarti harapan buat mantan karyawan PT. Asifik yang di-PHK tiga tahun lalu tersebut. Beruntung, walaupun matahari tak bersinar cerah, ia mendapati sebuah ladang yang masih menyimpan banyak rumput gajah. Keberadaan rumput yang lazim digunakan sebagai pakan sapi perah inilah yang setidaknya selalu diharapkan suami Iing dan ayah dua anak agar asap dapur tetap mengepul .

Pangala jukut, sebutan bagi para buruh lepas yang bekerja mencari rumput gajah untuk memasok kebutuhan pakan sapi perah.

“Leres abdi mah panginten sami sareng kuli, damelna kieu wae (Bahasa Indonesia: betul saya mungkin sama dengan kuli, kerjanya begini-begini saja),” ujar pria yang mengaku tidak lancar berbahasa Indonesia sembari memperlihatkan hasil sabitannya.

Ude tidak sendirian. Di ladang itu ada dua rekannya, Atep Taryana (22) dan Muslimin (47) yang berprofesi sama dengannya. Persaingan ketat yang biasa terlihat pada dunia kerja di kota-kota besar nampaknya tidak terlihat saat mereka bekerja. Canda dan tawa diselingi merokok pada saat istirahat menghiasi kegiatan mereka. Atep dan Uu –sapaan akrab Muslimin yang kebetulan berasal dari dusun yang sama dengan Ude, menganggap bahwa pekerjaan ngala jukut –Bahasa Indonesia : mengambil rumputlebih mengasyikkan bila dikerjakan bersama-sama.

Ngarembug, angkat, milarian kebon, ngala jukut, mikul jukut, setor ka peternak, teras kenging artos (Bahasa Indonesia : Bertemu membicarakan tujuan, berangkat, mencari kebun, memikul rumput, setor ke peternak, terus dapat uang),” papar Ude yang langsung diamini oleh kedua rekannya.

Waktu berlalu dengan cepat. Pukul dua siang, satu, dua, tiga kilogram rumput hasil ditimbang di Koperasi Peternak Besar Sapi (KPBS) Pangalengan. Hari ini, Ude mendapat sekitar 30 kg rumput gajah. Dari hasil ngala jukut tersebut,ia mendapatkan bayaran senilai tujuh ribu lima ratus rupiah. Atep yang lebih muda dan bertenaga mendapatkan hasil lebih banyak. Pria yang tidak lulus SD ini menerima sembilan ribu rupiah. Uu yang merasa kondisi fisiknya menurun setelah dua tangannya patah akibat kecelakaan dua tahun lalu hanya mendapat upah empat ribu rupiah.

cimg2448.jpg Rumput Gajah sedang di-“ala” Pak Ilin (Foto : Bach)

Rumput gajah memang selalu dibutuhkan oleh para peternak sapi. Mulai dari usaha peternakan skala kecil yang dikelola oleh perorangan dan keluarga, koperasi besar seperti KPBS Pangalengan sampai perusahaan besar seperti PT. Alba Pangalengan menggunakannya sebagai pakan utama selain pakan buatan. Tanpa rumput gajah, pakan buatan merk RC yang harganya 42.000 rupiah per karung tidak akan cukup untuk mengasupi kebutuhan gizi sapi perah yang setiap hari diperas susunya. Biasanya setiap kilogram rumput gajah ini dihargai dua ratus lima puluh rupiah.

Permintaan akan rumput gajah yang kontinu dari peternak inilah yang membuat Ude,dkk selalu membawa hasil sepulangnya dari KPBS Pangalengan. Namun, hasil yang didapatkan ini jumlahnya tidak menentu. Saat ditanya mengenai rincian pendapatan selama seminggu ini, mereka tidak ingat berapa setiap harinya. Tidak adanya catatan pemasukan-pengeluaran membuat jumlah pendapatan sulit dihitung. Namun, bila dijumlah, setiap bulan mereka mengaku bisa mendapatkan rata-rata sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah. Itupun jumlah yang paling besar.

Upami keur sae mah tiasa kenging sapuluh rebu tapi upami apes dua rebu ge geus untung (Bahasa Indonesia : kalo lagi mujur bisa dapat sepuluh ribu rupiah tapi kalo lagi sedang tidak beruntung mendapat dua ribu rupiah saja sudah untung,” ujar Uu yang sudah dua tahun menekuni pekerjaan ini.

Serba Kekurangan

Dengan mengantongi empat lembar uang seribu rupiah, Uu kembali ke rumah dengan membawa hasil jerih payahnya. Pendapatan itu langsung disetor ke istri mereka untuk dibelikan kebutuhan sehari-hari.

”Hasil kerja akang hari ini hanya cukup untuk membeli tiga butir telur dan seperempat kilo gula,” keluh Icih, istri Uu dengan bahasa Indonesia yang lancar.

Namun, minimnya penghasilan suaminya itu masih disyukuri olehnya. Tanpa hidangan lezat sore itu, ia mengaku masih beruntung karena rumah miliknya yang sangat sederhana masih bisa melindungi dari guyuran hujan. Televisi, satu-satunya sarana hiburan yang baru bisa terbeli dari dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) pemerintah yang direkap pada bulan Agustus, dibiarkan menyala sebagai pelepas waktu senggang bagi seluruh anggota keluarga yang kebetulan sedang berkumpul.

Dengan pekerjaan dan kondisi fisiknya kurang memadai, Uu mengaku kesulitan untuk memperbaiki kualitas hidup keluarganya. Pikiran terberat yang membebaninya ialah bagaimana menanggung biaya pendidikan ketiga anaknya yang dua diantaranya sudah bersekolah di tingkat menengah pertama. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dirasa kurang membantu karena tetap saja ia harus memberi uang saku minimal dua ribu rupiah per hari untuk setiap anaknya.

Bila dihitung dari total uang saku minimal yang diberikan kepada tiga orang anaknya saja setiap bulannya, pria yang dulu mengaku pernah memiliki sapi ini harus mengeluarkan kocek sebesar 180 ribu rupiah.

”artos kangge pidahareun tiasa dietang sesana ku aa (Bahasa Indonesia : uang untuk makan sehari-hari bisa dihitung sisanya oleh anda),” cerita Uu sembari mempersilahkan penulis untuk menghitung sendiri jumlahnya.

Untuk memenuhi kebutuhan lain seperti pembayaran tagihan listrik, ia terpaksa melakukan tindakan ilegal. Me-nyantol atau mencuri listrik dari kabel saluran PLN sudah dilakukannya sejak lama. Pelanggaran ini pula dilakukan oleh Ude yang rumahnya berada tepat di bawah kabel PLN.

Dengan jumlah pendapatan dan biaya hidup yang hampir sama dengan Uu, kondisi bapak dua anak ini lebih mengenaskan. Sejak tujuh tahun lalu, keluarganya terpaksa menumpang tinggal di lahan milik PLN karena tidak punya tanah sendiri. Terkadang, mereka pun harus berpuasa makan lauk pauk.

Pokona abdi mah serba kakirangan (Bahasa Indonesia : Pokoknya saya serba kekurangan), ” keluh pria yang berkeinginan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri untuk memperbaiki nasibnya.

Untuk menutupinya, Ude terdorong untuk bekerja pada malam hari sebagai buruh angkut sayuran Kol. Dari kegiatan sambilan yang dilakukannya setiap hari ini, Ude bisa mendapat tambahan penghasilan sekitar seratus ribu rupiah per bulannya.

Dari segi pengeluaran, Atep bernasib lebih baik. Statusnya yang belum menikah membuat ia masih bisa menyisihkan minimal dua ribu rupiah per hari. Tenaganya pun masih kuat untuk bekerja sambilan sebagai kuli bangunan.

Atep, Uu, Ude beruntung masih mendapat jatah beras Raskin dan dana BLT dari pemerintah untuk membantu mengurangi penderitaanya. Mereka adalah pemegang kartu Keluarga Miskin (Gakin) yang terdaftar di RW 3, Desa Pulosari.

Ilin (57) , ketua RW 3, Desa Pulosari, Kecamatan Pangalengan mengatakan bahwa pekerjaan ngala jukut sudah menjadi pekerjaan yang mau tidak mau harus dilakoni sebagian besar penduduk Desa Pulosari dan sekitarnya.

”Saya sendiri sering ngala jukut tapi bedanya rumput itu untuk ternak saya sendiri,” papar pria yang memiliki dua ekor sapi perah dan empat ekor domba.

Pekerjaan ngala jukut ini memang kerap dilakukan sendiri oleh peternak sendiri untuk mengisi waktu luang ataupun menghemat pengeluaran usahanya. Bedanya dengan pangala jukut tanpa sapi, kesejahteraan mereka lebih terjamin karena memiliki hasil produksi susu dari sapi peliharannya.

Ilin menambahkan, saat ini di desanya lebih banyak yang bekerja sebagai sebagai pangala jukut yang tidak memiliki sapi perah. Begitupun di desa lain selain pusat keramaian Pangalengan. Artinya, di Pangalengan banyak orang yang sangat menggantungkan hidup dari ketersediaan rumput, kemauan bekerja kasar dan juga permintaan dari peternak ataupun koperasi.

”lihat saja pas musim kemarau ketika jukut makin jarang ataupun ketika sakit mereka pasti kewalahan karena kurang pemasukan,” cerita pria yang mendapatkan gaji, tunjangan kesejahteraan dan kesehatan, dan asuransi sapi dari rutinitas memasok susu ke KPBS Pangalengan ini.

Ia berharap agar pangala jukut yang tidak memiliki sapi minimal dapat merasakan sarana kesehatan dan bantuan kredit dari pemerintah. Bantuan ini dapat meringankan beban kehidupan para buruh lepas yang sangat berkontribusi pada peningkatan produksi susu di Pangalengan.

Menurut data Pemerintahan Kabupaten Bandung tahun 2006 yang dikutip dari situs www.pikiran-rakyat.com. Kecamatan Pangalengan berada di posisi nomor dua dalam daftar jumlah keluarga miskin terbanyak di Kab. Bandung. Kecamatan Baleendah terbanyak dengan 20.027 Kepala Keluarga (KK), Pengalengan dengan 17.364 KK dan disusul oleh Rancaekek (13.019 KK), Soreang (13.812 KK) serta Majalaya (17.148 KK).

Artinya, keluarga miskin itu sebagian besar berada di basis ekonomi pertanian, kawasan perkebunan dan hutan (produksi dan konservasi) yang berada di bagian selatan Bandung.

Menanggapi permasalahan kemiskinan yang menghinggapi para pangala jukut ini, Prof. Dr. Kusnaka Adimihardja pakar kemiskinan dan budaya Universitas Padjadjaran memberikan beberapa alternatif solusi. Pertama, mereka bisa diberikan pendidikan keterampilan dan penyuluhan agar dapat berkreasi dengan membuat produk susu olahan. Kedua, membentuk wadah dalam bentuk koperasi pangala jukut yang mampu memberikan kepastian penghasilan dan kesejahteraan bagi anggotanya.

”Pekerjaan ini tidak bisa dihilangkan karena bagaimanapun tetap dibutuhkan sebagai bagian dari proses industri susu di Pangalengan,” lanjut Kusnaka.

Mereka memang tetap dibutuhkan di kawasan Pangalengan sebagai buruh lepas. Namun, saat matahari tenggelam dan dingin menyelemuti kembali kawasan Pangalengan, tidak ada pekerjaan lagi bagi mereka. Praktis, roda industri susu di pangalengan harus berhenti sejenak menunggu datangnya pagi yang ”cerah”. Sayangnya, Ude dan sesama pengala jukut lainnya tidak merasakannya setiap pagi.



Responses

  1. Ada yang punya info no telpnya PT. Alba Pengalengan ? Thanks.

    • waduh… saya nggak punya nomernya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: