Posted by: bachtiar hakim | April 27, 2008

Green Festival : Merayakan Hijau Dalam Ranjau


Merayakan Hijau Dalam Ranjau

Kicauanku tentang Festival Hijau (Green Festival)

Jakarta, 20 April 2008

Kaget juga saat pertama kali menginjakkan kaki di pintu masuk. Lantai tiba-tiba retak oleh jejakkan kaki saya.

“Baru liat lantai kayak gini,” celetuk saya sembari menirukan dialog sebuah iklan produk susu kemasan sachet di teve.

Secara bersamaan terdengar suara “kreeek…kreeek” Suaranya sangat mirip suara knalpot sepeda motor dua taks saat dinyalakan dengan menginjak tuas starternya. Ngaberebet, stilah orang sunda untuk menyebut bunyi-bunyian staccato seperti ini.

Lucu juga melihat tingkah anak-anak kecil berlari maju mundur di lantai yang mereka kira mainan ini. Jangankan anak kecil, orang dewasa pun terpancing untuk menjejakkan kakinya lebih dari satu kali. Petugas yang mengamati gerak-gerik pengunjung di lantai itu lebih tampak seperti badut daripada seorang satpam yang angker. Ia sepertinya tertawa puas melihat ekspresi pengunjung yang merasa aneh. Untungnya ia memberi sedikit penjelasan.

Ternyata ini suara gunung es yang retak. Sensasi audio-visual saya makin diperjelas lagi dengan tampilnya peristiwa mencairnya es-es raksasa di Benua Antartika di layar lebar yang terletak tidak jauh dari pintu masuk. Unik juga cara panitia penyelenggara acara ini menggerakkan antusiasme pengunjung,

Benar saja, pintu masuk arena yang mengambil lokasi di Lapangan Parkir Timur Senayan hari minggu itu tampak padat dijejali ribuan pasang kaki dan mata. Bukan balapan motor yang biasa jadi tontonan. Memang asap kebul dan suara-suara aneh yang menjadi daya tarik kawasan Parkir Timur di malam hari tidak berubah. Bedanya asap dan suara bising yang keluar adalah bagian dari simulasi acara Green Festival.

Simulasi mencairnya es di kutub selatan itu mulai membuka wacana saya tentang fenomena pemanasan global dalam acara yang sudah berlangsung dari hari jumat (18/04) tsb. Masalah produksi asap kendaraan bermotor yang berlebihan pastinya masuk dalam bahasan acara yang melibatkan kepanjangan tangan pemerintah lewat Kementrian Energi dan Kementerian Lingkungan Hidup ini. Tema ini memang sedang santer dibicarakan di Indonesia terutama setelah KTT Perubahan Iklim di Nusa Dua, Bali. Istilah “global” menyapa setiap pengunjung lewat kerangka globe (bola dunia) dari besi yang berputar di pintu masuk.

Saya berangkat sepagi mungkin dari Bandung agar tidak ketinggalan hari terakhir penyelenggaraan Green Festival. Hebat juga peran koran Kompas dalam mempromosikan acara ini. Hampir setiap hari saya melihat logo Green Festival di Halaman 14 harian ini selama tiga bulan terakhir. Tulisan dan foto mengenai teknologi dan gaya hidup “hijau” yang aplikatif itulah yang menarik minat saya untuk datang ke acara ini.

Beruntung sekali Rizaldi, adik kelas saya di Jurnalistik Unpad ternyata sedang berada di Jakarta. Kebetulan nanda, sohib saya tidak jadi ikut menonton. Sebaliknya, Ical-sapaan akrab Rizaldi justru tertarik dengan ajakan spontan saya. Bertemulah kita di halaman Parkir Timur yang disemarakkan oleh bendera Green Festival dan Pameran Krida Nusantara. Hari minggu siang itu cuaca Jakarta agak mendung dan hawanya panas ngungkeb – istilah bahasa sunda untuk menjelaskan sesuatu hawa yang terperangkap.

Ketika bertemu di bawah gerbang, entah kenapa spontan saja kita langsung mengeluhkan soal cuaca Jakarta yang sangat berbeda dengan Bandung. Wajahku basah oleh keringat dan segera mencari tempat yang sejuk. Melihat ada pendingin ruangan di dalam, saya langsung membujuk ical masuk ke dalam. Sembari mengobrol, saya dan Rizaldi masuk lagi ke bagian dalam arena festival.

Sepanjang penelusuran, banyak sekali poster-poster kartun terpampang di dinding koridor. Gambar-gambarnya eye-catching, setali dengan pesan kata yang mudah dimengerti orang awam sekalipun. Kebetulan pengunjung acara yang disponsori Pertamina, Metro TV, Kompas, dan Panasonic ini berasal dari segala usia dan kebanyakan datang bersama keluarga.

“Di poster ngajak berhemat AC tapi kok disini AC dinyalakan terus menerus,” keluh Ical ketika merasakan suasana ruangan yang cukup dingin di shelter “ruang kerja”.

Peralatan AC memang mudah ditemukan di setiap ruangan festival. Setelah membaca display iklan Pertamina, AC tersebut ternyata ramah lingkungan juga. Peralatan ini tidak menggunakan freon dan sebaliknya menggunakan bahan yang bersahabat. Namun, hal ini sudah tidak asing lagi mengingat sudah banyak produk AC ramah lingkungan beredar di pasar..

Bukan AC yang unik tapi konsep ruangan dalam festival ini. Masing-masing ruangan disusun mengikuti nama ruangan-ruangan yang ada di rumah. Ada Ruang Tamu, Dapur, Ruang Kerja, Kamar Mandi, Garasi dan seterusnya. Setiap ruangan memiliki karakteristik yang berbeda-beda sesuai namanya. Di ruang kerja tentunya ada buku begitupun dengan ruangan kamar mandi yang menyediakan jamban. Tapi jangan berharap kita bisa boker – bahasa gaul untuk buang air besar – di situ. Semuanya hanya pajangan.

Pajangan yang paling kreatif disini adalah kerajinan dari plastik-plastik sisa produk consumer goods. Jamban saja ditutupi tirai plastik daur ulang. Green Festival mengingatkan kita akan dampak buruk penggunaan produk berbahan plastik (termasuk kantong plastik) dan kertas tisu. Mereka menyarankan alternatif baru produk plastik yang dari tepung singkong. Kampanye penggunaan kertas daur ulang selalu diingatkan hampir di tiap ruangan

Begitulah sepanjang lintasan ruangan tersebut, saya juga melihat kata bio bertebaran di mana-mana. Ada teknologi biopori untuk mencegah banjir, biodiesel untuk mengurangi polusi, bioproduk yang katanya ramah lingkungan. Lalu ada Bio-toilet yang membuat saya penasaran.

“Akhirnya,” ungkap saya dengan puas ketika panitia yang menjaga stand Bio toilet menyadari rasa keingintahuan saya. Ia menjelaskan panjang lebar tentang bio-toilet. Teknologi ini solutif secara komunal, fungsi, dan hasil. Bayangkan, dengan menaburkan serbuk kayu dalam septic-tank dan menyalurkan gas buangannya lewat sebuah pipa bisa membuat kotoran manusia menjadi pupuk.

Pada bagian terakhir ada Ruangan Garasi menguak mata saya tentang kendaraan-kendaraan yang menggunakan sumber energi alrenatif. Ada mobil dan motor yang dirancang dapat menggunakan bahan bakar gas sekaligus biodiesel. Sepeda tidak kalah bersaing sebagai solusi penghematan bahan bakar dan pencegah polusi.

Setelah keluar dari arena simulasi pengunjung disambut oleh stand bazar dan panggung hiburan. Di sini kita dapat membeli produk-produk ramah lingkungan. Perusahaan besar dan kecil bercampur baur sebagai pengisi bazar. Penjaga stand kecil yang kebanyakan ibu-ibu menjajakan tas dari limbah plastik produk consumer goods, buku-buku tentang lingkungan hidup, sampai kaus kampanye lingkungan hidup. Tentunya, sponsor utama acara seperti Pertamina, dkk mendapat jatah ruangan yang lebih besar dari mereka.

Di arena ini, Saya dan Ical juga sempat membeli kantung plastik yang terbuat dari tepung maizena. Produk ini tergolong mahal sebagai kantong plastik tetapi murah untuk dijadikan oleh-oleh. Unik juga

Hijau Dalam Ranjau

Festival ini tidak sekedar mengingatkan kita tentang fenomena Pemanasan Global atau Global Warming. Lebih jauh lagi mengajak kita menerapkan gaya hidup hijau. Saat ini, gaya hidup hijau diyakini mampu menjadi solusi yang paling relevan dalam menyelamatkan bumi yang mulai hancur akibat ulah manusia yang mengeksploitasi alam secara berlebihan.

Menyinggung eksploitasi besar-besaran, saya ingin mengkritik perusahaan-perusahaan raksasa dari negara maju yang melebarkan sayap produksinya di negara berkembang. Saya mencatat ada dua perusahaan berkategori itu yang tampil sebagai sponsor dalam acara ini. Dalam kegiatannya di Indonesia, saat ini saya melihat banyak diantara perusahaan asing itu yang mulai melabeli produknya dengan kata “hijau”. Contohnya mudah kita temukan di iklan media massa. Mereka juga berlomba menciptakan gaya hidup hijau, baik itu dalam tataran program pemasaran (marketing) ataupun program hubungan masyarakat (PR) .

Seperti kita ketahui, gaya hidup berkaitan dengan pola produksi dan konsumsi seseorang yang berkesinambungan. cara dan Pola produksi yang dipakai perusahaan-perusahaan bernafaskan kapitalisme yang memproduksi produk berlabel “hijau”saat ini masih menggunakan model lama. Mereka tetap menggunakan teknologi model lama, menggunakan tenaga-tenaga buruh murah, mengeksploitasi berlebihan sumber daya alam suatu daerah, dan pola pikir yang sama.

Di sisi lain, dalam pola-pola konsumsi tentu pasti melibatkan proses pemenuhan kebutuhan lewat pemilihan terhadap produk-produk tertentu. Perusahaan akan berlomba-lomba menjual produk “hijau” mereka. Siapakah yang akan merebut hati pasar yang diperluas (lintas negara) tersebut? Seberapa besar produk hijau mereka akan dikenal dalam masyarakat?

Dari pertanyaan itulah tumbuh konsep Green Marketing. Baru-baru ini saya juga sempat berdiskusi dengan Nei, teman se-fakultas yang baru saja merampungkan skripsi bertema pemasaran hijau tsb. Menurutnya, konsep marketing ini berbeda karakter dengan pemasaran yan konvensional. Green marketing tidak bisa dipungkiri berperan dalam membentuk pola konsumsi “Green Consumerism”.

Menurut Smith, Green Consumerism didefinisikan sebagai “ the use of individual consumer preference to promote less enviromentally damaging products and services“. Yang menarik dari definisi ini adalah bahwa green consumerism muncul dari kesadaran dan pembentukan preferensi konsumen individual terhadap produk yang ingin dikonsumsinya. Green consumerism muncul dari kesadaran yang muncul dari setiap individu. Selanjutnya, produk yang diinginkan bukan yang benar-benar “hijau”, namun cukup yang sedikit berkurang tingkat kerusakan yang dapat ditimbulkannya.

Bentukan inilah yang yang dikhawatirkan bisa membawa hijau menjadi ranjau. Konsumen memang tidak bersalah tetapi bisa jadi terkecoh oleh jebakan-jebakan pemasaran (saya sebut ranjau) dari perusahaan tersebut. Jujur saja, saya agak heran melihat beberapa sponsor acara ini (tidak saya sebutkan) ternyata pernah diajukan ke pengadilan akibat terlibat kasus pengrusakan lingkungan di beberapa negara. Hal ini terkait oleh beberapa fenomena Greenwash yang terkuak akhir-akhir ini.

Dikutip dari wikipedia, Greenwash adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tindakan perusahaan, pemerintah atau organisasi lainnya yang mengiklankan praktik lingkungan yang baik tetapi bertindak sebaliknya dalam menjalankan kegiatan usaha . Istilah tersebut juga digunakan ketika jumlah sumberdaya perusahaan yang digunakan untuk beriklan lebih besar daripada yang digunakan untuk melakukan tindakan nyata. Hal tersebut dapat dilihat dari perusahaan yang mengubah kemasan atau merek agar terlihat lebih ramah lingkungan (sosial maupun alam). Greenwash biasanya dilakukan oleh perusahaan yang mengeksplorasi Sumber Daya Alam/penambangan.

Sebuah contoh yang menarik, Baru-baru ini, Danone-AQUA (catatan : perusahaan tidak ikut Green Festival) yang diproduksi oleh PT. Aqua Golden Mississipi Tbk meluncurkan program 1L untuk 10L. Program “Satu untuk Sepuluh” adalah inisiatif sosial AQUA yang ditujukan terutama untuk membantu meningkatkan kesejahteraan anak-anak melalui pengadaan air bersih dan penyuluhan hidup sehat. Untuk setiap 1 liter botol AQUA ukuran 600 ml dan 1500 ml berlabel khusus yang terjual pada bulan Juli hingga September 2007, AQUA akan menyediakan 10 liter air bersih kepada komunitas di daerah Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai tahap awal. Untuk menyukseskan program tersebut, AQUA membuat iklan di media dengan gencar dan merubah label pada kemasan 600mL dan 1,5L. Tidak ketinggalan, untuk lebih meyakinkan konsumen, jumlah kemasan khusus yang terjual akan diaudit oleh KAP Haryanto Sahari dan Rekan (PWC Indonesia).

Kerusakan areal mata air Babakan Pari (salah satu dari 10 areal tambang air AQUA) dapat dijadikan contoh. Pada awalnya air yang dieksploitasi oleh Aqua adalah air permukaan, yaitu air yang keluar secara langsung dari mata air tanpa dibor. Namun pada tahun 1994, Aqua mulai mengeksploitasi air bawah tanah dengan cara menggali jalur air dengan mesin bor bertekanan tinggi.

Sejak air di mata air Kubang disedot secara besar-besaran oleh Aqua, banyak perubahan yang dirasakan oleh warga sekitar. Yang paling terasa adalah menurunnya kualitas dan kuantitas sumber daya air di desa, dan ini berdampak buruk pada kehidupan warga desa itu sendiri. Penurunan daya dukung air ini tampak dari mulai munculnya masalah-masalah terkait dengan pemanfaatan sumber daya air di tingkat komunitas sejak sumber mata air Kubang dikuasai oleh Aqua.

Salah satu masalahnya adalah kurangnya ketersediaan air bersih untuk konsumsi rumah tangga sehari-hari termasuk air untuk minum, memasak, mencuci, mandi dan lain-lain. Masalah ini dapat dilihat dari keadaan-keadaan sumur-sumur milik warga yang menjadi sumber pemenuhan akan kebutuhan air bersih sehari-hari. Sekarang, tinggi muka air sumur milik kebanyakan warga maksimal hanya tinggal sejengkal saja atau sekitar 15 cm. Bahkan beberapa sumur sudah menjadi kering samasekali. Padahal sebelum Aqua menguasai air di sana, tinggi muka air sumur biasanya mencapai 1-2 meter.

Dulu, hanya dengan menggali sumur sedalam 8-10 meter saja, kebutuhan air bersih untuk sehari-hari sudah sangat terpenuhi. Sekarang, warga perlu menggali sampai lebih dari 15-17 meter untuk mendapatkan air bersih. Dulu, warga tidak memerlukan mesin pompa untuk menyedot air untuk keluar dari tanah, sekarang dalam sekali sedot menggunakan mesin pompa, air hanya mampu mencukupi 1 bak air saja dan setelah itu sumurnya langsung kering. Bahkan pada beberapa kampung, apabila dalam sebulan saja hujan tidak turun, sumur menjadi kering sama sekali. Padahal dulu, saat musim kemarau memasuki bulan ke-6 pun tidak membuat air sumur menjadi kering. (sumber :www.apokalips.org)

Jadi, mulai dari sekarang marilah kita mengadopsi gaya hidup hijau sembari mengkritisi pelabelan kata “hijau” pada setiap produk yang akan kita konsumsi. Mari Rayakan Hijau !

::Busana Daur Ulang::

Peragaan Busana Dari Sisa Limbah Chip Elektronik dan Sisa Kemasan Teh Celup

::Selamatkan Burung Kutilang !::

Jubing Kristianto meramaikan panggung hiburan “Green Festival” dengan lagu-lagu daerah yang diaransemen dan ditampilkan dengan konsep solo gitar. Salahsatu lagu yang dilantunkan berjudul “Burung Kutilang” Selain Jubing, tampil juga White Shoes And The Couple Company

::Kamar Ramah Lingkungan::

Di Ruang Tengah “Green Festival” yang berkonsep hijau. Jendela dan penggunaan bahan-bahan yang ramah lingkungan adalah fokus utama

:: Cuaca Semakin Aneh ::

Sepanjang Koridor Arena Green Festival, banyak sekali terpampang poster dan artWork yang mengajak pengunjung berfikir mengenai fenomena pemanasan global

“Maaf kalo saya agak narsis,habis gak ada model lain buat di foto… hahaha”


Responses

  1. Mas, boleh kan saya kutip artikelnya buat bahan siaran saya di Green FM 89,2 tanggal 18 Mei 2008 ini. Habis bagus banget sihhh…

  2. Maaf apa boleh saya kutip artikelnya juga untuk di
    http://galleryfang.com/forum/viewtopic.php?p=412#412
    thank you.

  3. silakan saja kalau mau mengutip bagian2 y pnting. tp mohon jangan memplagiasi seluruh isi tulisan dan disebarkan mentah2.. cukup cantumkan alamat blog sy sj. senang bs mmbntu anda..

  4. http://galleryfang.com/forum/viewtopic.php?p=499#499
    sudah saya link ke alamat blognya. Terimakasih yah mau sharing

  5. Tanggal 9 Agustus ada GreenFest lho di Bandung!!! Yuk mari dateng

  6. mas bachtiar saya andjar mahasiswa MM UGM sedang mengerjakan thesis ttg green marketing. dari artikel di atas mas menyebutkan klo ada teman mas bachtiar yang telah menyelesaikan sripsi dengan tema green marketing juga. klo boleh tau alamat email dari teman mas bachtiar yang bernama nei apa ya mas?
    saya ingin mencari tau konsep ttg green marketing.
    thx before…

  7. Iya tapi dia buatnya dalam bentuk skripsi lho, bukan tesis. ok. saya kirim lewat alamat e-mail mas aja yah… sukses tesisnya!

  8. mohon maaf mas bachtiar…tdk masalah apakah itu skripsi atau thesis karena yg lagi saya butuhkan adalah segala informasi terkait green marketing. dan sejauh mana sikap masyarakat indonesia terhadap kampanye green marketing mas..
    oh iya klo dikirim soft copy-nya lewat email yang beralamatkan di : andjar.rangga@gmail.com
    thanks for the respond…saya tunggu mas..

  9. mas,, kalau saya,, mau nulis skripsi tentang green supply chain management. tadinya, mau ambil contoh kasus di AQUA. tapi ternyata, AQUA ngga punya supplier. dia bikin kemasan dan semua-muanya sendiri. jadi, saya ga jadi pakai AQUA untuk studi kasusnya. ada rekomendasi ngga,, perusahaan yang nerapin green supply chain management di Indonesia?? makasih sebelumnya..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: