Posted by: bachtiar hakim | April 27, 2008

Pesan Buat “Fitna” yang lain


Pesan Fitna Buat “Fitna” yang lain

Belum luput ingatan dunia tentang publikasi karikatur Nabi Muhammad secara besar-besaran di beberapa media massa Eropa, kini khalayak disuguhi lagi gambar yang sama dalam tayangan layar lebar. Geert Wilder menempatkan sosok pria bersorban yang sedang membawa bom (disimbolkan oleh media barat sebagai Nabi Muhammad) sebagai hidangan pembuka (opening) dalam film Fitna.

Saya beruntung bisa menonton meskipun Film Fitna dilarang peredarannya oleh Pemerintah Indonesia. Situs Youtube sebagai media sharing video menyediakannya dalam terjemahan bahasa Belanda dan Inggris. Setelah tersimpan di hardisk saya, banyak sekali teman di Jatinangor yang menyalin (copy) Film ini. Rata-rata dari mereka penasaran ingin menonton langsung akibat maraknya pemberitaan di media massa dan cerita dosen dalam perkuliahan di kampus.

Setelah saya dan teman-teman menonton Film ini, kebetulan ada acara yang nyambung dengan Fitna di layar kaca menjelang tengah malam. Kontroversi Film ini memang sempat diperbincangkan di SCTV lewat diskusi yang menghadirkan Azyumardi Azra dan Frans Magnis Suseno. Saya kira bagus ada dialog antar-agama dan lintas agama daripada saling fitnah apalagi gontok-gontokan. Saat ini, perspektif dengan metode Cross-Over relevan sekali dalam memecahkan kontroversi agar tidak memicu konflik yang berujung bentrok fisik maupun perang dingin.

Bila saya cermati, dampak (Effect) film ini sangatlah besar. Hal ini yang membuat peredaran Fitna sampai masuk dalam tataran kebijakan pemerintah sebuah negara. Ada yang melarang peredaran (Indonesia salah satunya) dan sebaliknya yaitu tetap memperbolehkan karena pertimbangan hak kebebasan berpendapat dan memperoleh informasi. Secara umum, sentimen kondisi keberagamaan masyarakat di sebuah negara masih digunakan pemerintahnya sebagai pertimbangan kebijakan.

Nah, pada kesempatan ini saya mencoba menganalisis film Fitna dari aspek bentuk serta isi pesannya. Dalam mencermati bentuknya, saya menggunakan berbagai buku dan literatur ilmiah tentang Film Pendek dan Dokumenter agar kondisi yang objektif tetap terjaga.

Hal yang sulit bagi saya adalah menganalisis isi/pesannya. Saya merasa belum cukup bisa membongkar pesannya secara ilmiah sampai akar-akarnya. Kebingungan dalam pemaknaan terasa memusingkan kepala saat saya berusaha membongkar-membangun kembali (dekonstruksi) makna yang entitasnya jamak. Saya kira para pemikir teori kritis lebih bisa berkontribusi dalam melengkapi tulisan ini. Saya sebut analisis saya sebagai analisis lotek (campur aduk, masih mentah, namun tetap enak dinikmati oleh segmen yang menggemarinya)

Analisis Bentuk

Film berdurasi tujuh belas menit ini mengambil tema kiprah umat islam dalam mendistribusikan ideologi dan perilakunya kepada dunia internasional (Wilder menyebutnya sebagai islamisasi).

Fitna terkategorikan sebagai film pendek. Durasinya. Menurut kritikus Film Derek Hill, “film pendek” adalah film yang memiliki masa putar di bawah 50 menit, tidak dibatasi oleh bentuknya, tidak pula oleh jenisnya, tidak pula oleh formatnya, berwarna atau monokrom. (Gatot Prakosa, “Film Pinggiran” : 40).

Dari sudut cara pengemasan (packaging), Film ini tergolong Film Dokumenter. Robert Breson truth pada dua pengertian. Pertama, sesuatu yang mengandung kebodohan, flat atau datar, dan membosankan, yang nampak pada mata menjadi tampak jelek untuk diperhatikan. Pengertian keduanya adalah keindahan sebagai kenyataan yang mulia.

Dalam pandangan klasik, Film dokementer juga dicirikan oleh penegasan-penegasan lewat narasi sehingga ada penggandaan dalam penegasan. Pandangan ini yang juga dianut di Indonesia, terus bertahan sampai tahun 1970-an. (Gatot Prakosa, “Film Pinggiran” : 134).

Alur ceritanya sebenarnya tidaklah baru dalam dunia film dokumenter. Biasanya ada snapshot berupa berita/opini yang dikutip dari media massa lalu munculah sequence (video) .

Analisis Isi Pesan

Politisi sayap kanan Belanda ini mampu menjadikan Fitna sebagai film dokumenter yang murni propagandis. Memang sering kita lihat ada kecenderungan film komersial (box office) saat ini menyiratkan pesan propagandis secara terang-terangan. Namun, dalam hal ini propaganda bukanlah tujuan utama.

Fitna memang berbeda dengan suguhan di layar lebar, dalam Fitna Wilder mengangkat isu agama sebagai tema sentralnya. Tak salah jika Film Fitna memang mengundang banyak kontroversi. Tidak hanya umat muslim yang terhenyak dengan kemunculan film ini tetapi juga masyarakat dunia yang cinta perdamaian.

Jujur saja, saya tidak begitu terkejut ketika menonton Film Fitna. Mungkin ini akibat saya telah membaca berbagai tulisan berupa kritik dan cacian terhadap film ini di Koran dan Majalah. Secara garis besar Fitna memuat sejumlah dokumentasi aksi teror dan brutalisme yang dilakukan kaum muslim terhadap non-muslim (baca : kafir)

Namun, ada beberapa kelemahan film Fitna, yaitu :

1. Kontekstualitas ayat Al-Quran :

Geert Wilder tidak mencantumkan nama penafsir ayat Al`quran yang ia sadur. Padahal Alquran di dunia sendiri sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Isinya pun telah ditafsirkan oleh banyak penafsir. Hail tafsiran Alquran yang sama saja dapat membuat banyak intrepretasi apalagi jumlah tafsiran yang banyak . Dalam cuplikan film yang memuat ayat-ayat Alquran sudah jelas bahwa Wilder telah sampai pada tahap penafsiran.

2. Kontekstualitas fakta-fakta yang didokumentasikan

Foto-foto, video, dan cuplikan penerbitan media massa cetak yang menggambarkan kekerasan tidak dibingkai (frame) secara utuh lewat penampilan peristiwa yang berlangsung sebelum dan sesudahnya. Jadi, Kita tidak bisa bilang bahwa orang memegang pedang adalah pembunuh dan mau membunuh. pasti ada sebab dan akibat (motif) seseorang memegang pedang. Pondasi film ini terbilang rapuh. Terlalu banyaknya pemuatan fakta justru membunuh “inti pesan film ini”.

3. Kontekstualitas opini dan argumennya

Bagi saya , opini utama “stop islamisation” dalam Film Fitna yang dikemukakan Wilder tidak berlandaskan pada argumen yang utuh. Apa yang diharapkan jika argumennya adalah fakta-fakta yang tidak dibingkai (frame) dengan sempurna. celakanya, ia menjadikan juga ayat al`quran yang notabene berbeda konteks sebagai alasan pembenaran atau argumen “stop islamisation” (ini ditampilkan dengan adegan perobekan alquran). Bila Wilder penganut Kristiani dan ingin mengambil argumen dari kitab suci, janganlah mengutip dari alqur`an. Tetapi kutiplah dari Kitab yang dianutnya.

Sekedar Pesan untuk Fitna-Fitna yang Lain:

pesan ditimbal balik oleh pesan

propaganda hadapilah dengan counter propaganda


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: