Posted by: bachtiar hakim | May 17, 2008

Evolusi Kuping dan Keping


Evolusi Kuping dan Keping

“Kok bisa suka sama ginian?”

Pertanyaan yang lumrah buat saya dan temen-teman setiap kali berada di kostan. Ada apakah gerangan? Selalu saja teman-teman bilang bahwa nuansa kamar saya berbeda sejak pindah ke daerah Cisaladah. Teman-teman lama baik di Asrama Poma maupun Pondok Kindah pasti tidak heran lagi bila menjumpai lukisan-lukisan dan perabotan bernuansa etnik di kamar saya. Sensasi visual masih sama dirasakan meskipun tata letak dan luas kamar berbeda.

Sebenarnya ini lebih kepada masalah aneh – tidak aneh, percaya – tidak percaya, kampungan atau kotaan dalam diri saya. Tetapi Sebelumnya mohon agar tidak melabeli saya dengan bayangan metafisik akibat penggunaan kata “percaya tidak percaya”. Jangan pula men-stereotipkan kata “evolusi” dengan Teori Evolusi Darwin karena bentuk kuping saya belum mirip gajah. Lebih baik labelkan saja saya dengan gelar “S.Ikom” pada tahun 2009 nanti!

“Amin,” harap saya

Kenyataannya di kamar (bukan di lapangan lho), sudah dua tahun terakhir ini saya begitu menggandrungi musik-musik etnik. Kuping dan hati saya merasa tenteram bila disuguhi alunan nada pedalaman yang eksotis. Bahkan bisa seharian tidak beralih ke musik pop yang saat ini digandrungi banyak orang. Buka-bukaan saja, dahulu kuping saya selalu ditutup rapat-rapat ketika mendengar lagu campursari ataupun pop sunda. Nama Darso, Doel Sumbang atau Didi Kempot sudah pasti masuk dalam blacklist.

Sekarang, bila ada lantunan lagu-lagu Pop Sunda dan Pop Jawa saya sudah mulai sedikit membuka kuping meskipun belum bisa jatuh hati. Bolehlah untuk yang nge-pop tadi masih belum suka tetapi dengan label etnik yang lain gendang telinga saya bisa mendadak luluh. Soalnya, musik etnik juga memiliki ragam jenis.

Pokoknya jangan ragukan komitmen saya untuk mendengarkan alunan degung, kecapi, suling sampai gending. Alunan musik tersebut bagi saya seperti panggilan alam. Paduan alat-alat musik tradisional yang terbuat dari bahan-bahan alam dan suara-suara duotonis nan syahdu mengajak kita merenungi adanya sebuah kearifan lokal. Acuan yang bagus bagi kita untuk berjalan dan berpijak di tanah yang diinjak ini. Bagi musik seperti degung unsur hiburan bukanlah fungsi utama.

Khasanah musik etnik saya mulai terbuka lagi ketika mendengar album dari Balawan, Simakdialog dan Tohpati. Musik etnik yang mereka tawarkan sedikit berbeda rasanya. Ada rasa Jazz dan Rock dalam musik etnik yang mereka bawakan. Itulah keunikan yang menurut saya adalah hidangan sangat lezat dan penuh citarasa.

Bagi para pakar etnomusikologi, musik percampuran atau perkawinan itu sering disebut sebagai world music. Menurut beberapa penggemar musik progressive rock kadang mereka menyebutnya Folk Rock. Beda lagi dengan sebagaian pecinta jazz yang menyebutnya sebai etnik Jazz. Ada juga yang bilang aliran etnik Fusion dan istilah terakhir ini yang sering saya gunakan.

Etnik Fusion. Itulah selera bermusik saya dalam dua tahun belakangan ini. Lagi lagi selera ini tergolong aneh. Soalnya musik ini terkadang hanya dapat dinikmati saat saya berada di kamar kostan. Entah mengapa etnik fusion ini jarang saya temui di alam bebas (tempat-tempat keramaian umum maksudnya).

Seperti saat saya berada di dalam bus. Dalam contoh ini pastinya kondektur bus tanpa meminta izin penumpang dahulu langsung saja menyetel lagu-lagu Dangdut Etnik masa kini. Walaupun sama-sama etnik tapi saya kurang suka lagu tanpa menyertakan instrument asli dari alat musik tradisional. Bila kondisinya seperti itu saya hanya pasrah. Tentunya, tidak sampai menutup kuping.

Lagi-lagi ini soal urusan label. Sejak dahulu, saya tidak pernah mau bilang bahwa musik seperti itu kampungan. Masalahnya, gawat juga saat yang lain memakai label baik dan buruk. Bagi saya jangan lah bawa-bawa nama “kampung” untuk menilai negatif orang.

Ini lebih karena saya ingin melepaskan penilaian makna kata “kampungan” dari poros estetikanya. Saya ikut usul Derrida saja bahwa sudah saatnya kita mencoret kata yang maknanya sudah kacau di mata masyarakat. Dalam konteks kekinian, kita harus membongkarnya dan membangun ulang makna kata itu. Masalahnya gawat juga saat yang lain memakai nilai (baik dan buruk). Bagi saya jangan bawa-bawa nama “kampung” untuk menilai negatif orang.

“Nanti Pak Kades ataupun Kuwu-nya bisa marah!”

Gampang saja saya bilang alasannya saat itu saya bilang penolakan telinga dan penjiwaan. “I`ts about soul, men!!

Gampang Kan!

Epolusi Keping

Kini, kalau teman-teman main ke kostan saya mereka mulai bisa mengerti mengapa saya begitu menggandrungi musik etnik fusion. Lumayan banyak sekali koleksi di Hardisk komputer, kaset dan CD. Walaupun ada yang asli tapi masih bercokol juga koleksi-koleksi hasil membajak atauapun mengunduh di dunia maya.

Bukan bajakan atau asli yang saya pikirkan waktu awal menggandrungi musik etnik fusion. Saya lebih banyak mencari-cari siapa teman yang mau bertukar koleksi dan informasi. Dari dulu sampai sekarang saya hanya memiliki empat relasi yang “nyambung”.

Selain sulit mencari teman sharing, saya mengalami kesulitan mencari koleksi yang mumpuni dalam bentuk digital. Seperti saat saya ingin mencari Album band Guruh Gipsy pada tahun 1978 misalnya. Lagu-lagu dari grup Band yang tergolong pioner dalam genre etnik fusion itu tidak ada dalam bentuk CD. Saya menemukannya kasetnya di penjual kaset 2nd di Jalan Dewi Sartika, Bandung. Bermaksud membeli, namun apa daya kualitas suara kaset itu sangatlah buruk. Saya pun mengurungkan niat meskipun si penjual menurut saya sangat bodoh karena menawarkan kaset langka itu hanya dengan sepuluh ribu rupiah.

Gagal sudah rencana untuk mendapatkan kaset-kaset langka karena kebanyakan yang dijual di emperan kualitas suaranya nya memang cenderung sudah buruk. Anehnya, jodoh saya dengan kaset Guruh Gipsy sepertinya tidak lari kemana-mana. Ketika saya iseng mencari koleksi-koleksi musik etnik fusion di internet justru saya menemukan album guruh gipsy di situs Multiply.

Saat ini memang ada kecenderungan untuk mentransfer kaset-kaset usang ke dalam format digital. Saya sangat setuju dengan cara mereka ini. Sudah saatnya keping berevolusi tanpa meninggalkan goresan-goresan sejarah di dalamnya. Agaknya pun bagi musik-musik produksi lama, kesadaran akan hak cipta bisa sedikit diabaikan demi melestarian akar tradisi musik. Apalagi musik-musik etnik fusion yang dahulu sampai kini belum banyak dilirik orang Indonesia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: