Posted by: bachtiar hakim | June 2, 2008

Reportase Investigasi, Menelisik Lorong Gelap – Dadi Sumaatmadja


Judul Buku : Reportase Investigasi, Menelisik Lorong Gelap

Penulis : Dadi Sumaatmadja

* Rangkuman :

Prolog

Di masa lalu, pemerintah kerap mengkhawatirkan pemberitaan media massa. Alasannya sederhana, media massa dapat merubah dan menciptakan opini di masyarakat luas. Celakanya, umumnya wartawan ketika itu, dianggap hanya membesar-besarkan kekurangan pemerintahan dan pemberitaannya tidak faktual – hanya berdasarkan isu yang belum dicek kebenarannya. Walaupun harus diakui, pemerintah masih banyak memiliki kekurangan.

Disisi lain, sejujurnya pemerintah sangat membutuhkan media massa untuk mensosialisasikan kepentingannya. Apalagi ketika itu pemerintah tengah getol berupaya menciptakan situasi yang aman, agar aktivitas pembangunan berjalan lancar. Sudomo mengistilahkan kondisi dimasa orde baru itu, sebagai: “ada pers repot, tak ada pers juga repot”.

Saat Sudomo menjabat sebagai Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), ada kebijakan yang diambilnya – dan tidak populer – saat meletus peristiwa Malari. Kebijakan yang diambilnya, yaitu membekukan penerbitan media massa. Diantaranya, harian Kompas dan Sinar Harapan. Menurutnya, kebijakan yang diambilnya ini adalah pendekatan kekuatan sebagai persuasif, persuasif sebagai kekuatan. Sudomo menilai, situasi keamanan pasca peristiwa Malari masih belum stabil. Sementara pemberitaan media massa, menurutnya, tidak mendukung terciptanya situasi yang lebih baik. Sebaliknya, pemberitaan pers malah terkesan memanaskan situasi. Saat itu Sudomo mengakui tengah menghadapi masalah dilematis seperti yang telah ditulis diatas tadi: “ada pers repot, tak ada pers juga repot”. Maka dari itu, kebijakan pembekuan surat kabar tersebut diambil olehnya.

Lebih jauh, menurutnya, dasar kebijakan pelarangan terbit itu adalah represif untuk preventif. Sebab pers memiliki peran menghasut, maka harus ditertibkan tanpa harus melalui pengadilan. Inilah pengertian represif untuk preventif. Pertimbangan lainnya, masyarakat belum memiliki wawasan yang baik secara merata. Disisi lain, tingkat intelektualitas masyarakat pers-nya juga belum merata. Ada wartawan lulusan sarjana, tetapi banyak juga yang hanya tamat SMA, bahkan ada yang cuma mengecap bangku sekolah dasar. Karena itu, tak heran kalau banyak wartawan yang asal menulis dan tidak melakukan check and rechek atas informasi awal yang diperolehnya.

Kendati demikian, kebijakan pemerintahan ketika itu, hanya sebatas pelarangan terbit dalam jangka waktu tertentu, tidak dengan cara menutup penerbitan persnya. Bahkan secara umum, dalam periode 1974 hingga tahun 1993, pemerintah cukup memberikan keleluasaan kepada wartawan.

Tekanan terhadap media massa lebih terasa pada tahun 1993 hingga tahun 1998. Pada periode itu, tekanan terhadap pers disebabkan kebijakan Harmoko yang ketika itu menjabat Menteri Penerangan. Di masa Harmoko pula, tahun 1994, dilakukan pemberangusan terhadap Majalah Tempo, Editor dan Tabloid Detik. Jangan lupa, Harmoko adalah orang pers juga.

Kebijakan pemberangusan Majalah Berita Tempo, Majalah Berita Editor dan Tabloid Detik, tahun 1994, dilakukan langsung oleh menteri penerangan. Menurut Sudomo, ada dua latarbelakang, mengapa pembredelan itu sampai terjadi.

Pertama, kantor Menko Polkam tidak berfungsi. Semestinya kalau berfungsi, sebelum kebijakan itu dikeluarkan terlebih dahulu dibahas rapat menteri di jajaran polkam. Kedua, persoalan visi orang yang mengambil keputusan itu. Muncul masalah dan tidak dapat dikendalikan. Akhirnya diputuskan mengambil kebijakan represif.

Kebijakan pemberangusan ketiga media massa itu, sangat erat kaitannya dengan konteks kondisi politik ketika itu. Di masa itu, Harmoko selain sebagai Menteri Penerangan, juga menjabat Ketua Umum Golkar. Golkar terobsesi ingin menang mutlak, mendapatkan 75 persen perolehan suara dalam Pemilu.

Jadi sebenarnya, kebijakan pemberedelan itu tidak pernah datang Pak Harto, melainkan dari menteri yang bersangkutan. Yang bertanggungjawab dalam pemberedelan ini adalah Menko Polkam dan Menpen ketika itu. Sementara sidang kabinet hanya dilaporkan saja. Biasanya dalam sidang kabinet, presiden hanya mengatakan, “Yah, oke, supaya mengambil langkah-langkah lebih lanjut.”

Lalu, lain persoalan tentang pers menurut Sudomo. Ia menulis merasa dekat dengan wartawan, tetapi ia juga pernah dibuat semena-mena oleh mereka. Perlakuan ini diperolehnya saat kasus korupsi Golden Key Group dengan tersangka Edy Tanzil sedang hangat-hangatnya. Menurutnya, wartawan bukan menulis kasus (korupsi Golden Key Group), tetapi memiliki target sendiri. Targetnya, mereka ingin menjatuhkan dirinya.

Padahal dalam kasus ini, menurutnya, ia hanya berperan memberi referensi kepada Edy Tanzil. Pemberian referensi ini sudah diatur dalam undang-undang perbangkan nomor 12, yang secara garis besar mengatakan, “jika seseorang akan mengajukan kredit ke bank, maka membutuhkan surat referensi.”

Itu artinya, jika ada referensi tidak serta merta bank langsung mengucurkan dananya. Soal pemberian kredit juga ada aturan mainnya sendiri dan diatur secara hukum.

Tetapi, menurut Sudomo, pers seolah menutup mata. Ia melihat, pers ingin menghantam dirinya, karena ia pernah mengeluarkan kebijakan pembekuan penerbitan beberapa media massa di tahun 1974.

Menurutnya, begitulah pers. Jika seorang pejabat tersandung skandal atau suatu kasus, mereka senang. Mereka langsung mem-blow up tanpa melakukan checking. Normal memang. Tetapi yang ia kritik, wartawan tidak pernah menjelaskan duduk persoalan dari kasusnya itu sendiri.

Jejak Langkah

Buku ini jauh dari pemaparan teori-teori, amat tidak ilmiah. Buku ini hanya mengisahkan proses pencarian Dadi Sumaatmadja dan beberapa jurnalis dalam memahami investigative reporting atau reportasi investigasi. Terlebih buku ini amat subjektif.

Subjektif, karena motivasi menulis buku ini pun sangat subyektif. Berawal dari kegelisahan mencari dan tidak menemukan referensi teoritis maupun praktis seputar reportase investigasi. Hal itu mengusik Dadi untuk memberanikan diri menuturkan berbagai pengalamannya selama beberapa tahun menekuni reportase investigatif.

Menurut Dadi, boleh jadi, banyak kawan jurnalis lainnya lebih lama menekuni dunia ini ketimbang dirinya. Bisa jadi, banyak junior atau senior-nya yang telah menghasilkan karya investigasi yang luar biasa. Tetapi yang membuat dirinya gelisah, hingga detik ini, ia tak pernah menjumpai sebuah buku yang membahas reportase investigasi. Celakanya, tak seorang reporter investigasi pun yang mau berbagi cerita mengenai pengalamannya selama menekuni dunia itu.

Awal Langkah

Suatu hari, di akhir 1997, senior Dadi, Masduki Baldawi, mengajaknya bergabung dengan sebuah majalah baru, dwimingguan Tajuk. Di majalah baru itu, Masduki menawarinya untuk memegang rubrik Investigasi. Ketika Masduki menyebutkan label rubrik itu, dirinya sungguh terkejut. Terkejut, karena, menurut Dadi, hal ini merupakan tantangan besar baginya.

Rubrik investigasi itu akan disajikan setiap edisi. Tiap dua minggu sekali. sebuah pekerjaan besar yang amat menantang. Menantang, sebab manajemen Tajuk sudah menetapkan policy, bahwa rubrik Investigasi tidak akan menyentuh isu-isu klise. Isu-isu seputar pelacuran dan masalah-masalah sosial harus dihindari. Isu semacam itu dinilai lebih banyak memberikan guidance yang kurang mendidik bagi para pembaca.

Dadi tidak memperdulikan kebijakan itu. Ia lebih tertarik kepada palagan reportase investigasinya, ketimbang harus bertele-tele memperdebatkan kebijakan itu. Walaupun kebijakan redaksi seperti itu sesungguhnya masih bisa diperdebatkan. Masalah-masalah sosial dan susila tidak harus menjadi picisan. Selama cara penyajian dan sudut pandang tulisan tepat, kesan murahan dapat dihindari.

Kelamin Tajuk: James Bond

Tajuk diidentikkan layaknya agen legendaris asal Inggris di dunia layar lebar: James Bond. James Bond adalah sosok hero yang selalu main di tingkat atas, elegan, penuh percaya diri, penuh pesona dan playboy (“buaye” – Muhammad Ashari). Penampilannya flamboyan dan glamour. Ia jago berkelahi, banyak akal dan selalu menang.

Dengan sosok seperti itu, Tajuk dirancang. Sebagai majalah baru, Tajuk didesain dengan tiga pilar utama: Berita, Investigasi dan Infotainment. Menurut Dadi, Tajuk adalah sebuah majalah berita dan investigasi yang serius dan elegan, namun kaya dengan nuansa hiburan dan seni. Juga, wanita. Seperti Bond-lah.

Membentuk Tim Investigasi

Dua reporter sudah disiapkan untuk memperkuat tim investigasi. Mereka adalah Hartono dan Sulton Mufit. Dadi terkejut mendengar nama itu, karena ia belum mengenal mereka. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Pertama, reporter yang ada memang masih terbatas. Kedua, ia tidak punya jago lain. Dan ketiga, secara etis tidaklah beralasan untuk menolaknya.

Ganjalan terutama adalah karena Dadi belum mengenal lebih jauh kedua reporter ini. Padahal, menurut hematnya, sebuah tim investigasi akan tangguh bila satu sama lain saling mendukung dengan ‘kekuatan’ yang hampir merata. Punya karakter dan visi. Dan, yang lebih penting, bisa bekerja sama dalam sebuah tim dengan tuntutan kerja yang amat keras. Sembari semuanya berproses, Dadi meminta kepada Masduki agar diberi sedikit waktu untuk mencari anggota tim lainnya. Anggota yang, sedikitnya, menyukai bidang reportase investigasi. Bisa bekerjasama. Dan, yang terpenting, orang itu tergolong: tipe fighter.

Mengapa tipe fighter? Sebab tuntutan Tajuk amat obsesif. Ingin menerbitkan reportase investigasi setiap edisi, dua pekan sekali. Dalam tempo 14 hari, kita harus menemukan sebuah item investigasi dan menggarapnya dengan tuntutan ideal. Dengan selera seperti ini, mau tidak mau, harus bekerja cepat, ulet dan harus fight setiap hari. Tuntuan itu hanya bisa dijawab oleh orang yang punya drive tinggi.

Kebetulan, sesama redaktur di Tajuk, Nanang Junaedi, menyodorkan nama Ibnu Antok. Dari informasi yang Dadi peroleh, Antok adalah jurnalis muda tipe fighter. Dia pekerja keras, ulet, kepercayaan dirinya tinggi dan masih muda. Nama Antok pun ia ajukan kepada Masduki. Diterima.

Tim yang ia pimpin kini diperkuat tiga reporter: Hartono, Sulton Mufit dan Ibnu Antok. Rupanya, satu orang saja tidak cukup untuk memulai kerja tim. Ada satu hal yang belum banyak diketahui. Yakni, apa sebenarnya reportase investigasi itu, bagaimana penjabaran dan pola operasinya di lapangan.

Dalam kepala mereka, laporan investigasi itu adalah membuat berita secara lengkap dan rinci. Kalau bisa, dilengkapi dengan dokumen pendukung. Sesederhana itukah? Diskusi tentang wajah investigasi, berikut tuntutan investigasi ala Tajuk, memang sempat menyita banyak waktu di masa awal.

Kendati secara garis besar disimpulkan bahwa investigasi menyangkut masalah yang belum terungkap, dalam banyak hal, awal Tajuk belum begitu mendalami reportase investigatif.

Seperti air mengalir. Pada awalnya, gerak kerja tim amat lamban. Sekian lama di lapangan, harus diakui, cara kerja tim masih amburadul. Utamanya, dalam penelusuran masalah. Tim belum punya pola dan sistem kerja, begitu pula strategi. Liputan tim masih lebih banyak digerakkan oleh naluri. Target hanya terpusat kepada dokumen. Dalam penelusuran, tim hanya berupaya menjawab semua hal yang belum jelas dari persoalan yang dihadapi.

Satu-satunya andalan hanyalah insting dan manuver di lapangan. Tidak jarang, tim bekerja berdasarkan perkembangan masalah di lapangan. Bila ada pertanyaan dari kasus yang tengah diungkap, maka kami putuskan untuk menjawabnya dengan penelusuran.

Bahan yang sudah diperoleh kemudian dituangkan dalam bingkai cerita secara rinci. Itulah sementara yang kami yakini sebagai sebuah berita investigasi.

Hari demi hari, energi tim semakin terasa terkuras. Tim investigasi tidak cukup Ia dan Antok. Perlu ada suntikan serdadu baru. Manajemen Tajuk setuju. Antok menyodorkan sebuah nama: Wahyuana. Ia pernah bekerja sebagai wartawan tabloid Peron. Sebelum menekuni dunia jurnalistik, beberapa tahun ia bergelut sebagai aktivis LSM.

Namun ada satu ganjalan. Saat Antok menyodorkan namanya. Dia belum menyelesaikan kuliahnya. Manajemen Tajuk awalnya agak keberatan dengan latar belakang pendidikan Wahyuana. Seperti media besar lainnya, wartawan harus berpendidikan minimal sarjana.

Dadi menyodorkan argumentasi kepada manajemen Tajuk. Toh, menurutnya, Ibnu Antok – yang terbukti tangguh dan dipuji banyak teman pers lainnya – bukan pula seorang sarjana. Ia hanya lulusan SLTA. Dengan argumentasi seperti itu, juga garansi dari Dadi, bahwa Wahyuana dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya, manajemen Tajuk membuka pintu baginya.

Selang sebulan, anggota tim bertambah satu lagi. Ia adalah Rahmat Yunianto. Rahmat adalah mantan wartawan Majalah Berita Mingguan Tiras, tempat Dadi bekerja sebelum pindah ke Tajuk.

Tim kini diperkuat empat orang. Menurut Dadi, tim ini adalah yang paling ideal. Pekerja keras, drive tinggi, militan, tangguh di lapangan. Setiap orang saling mengisi, saling menjaga dan terbuka satu sama lain.

Pada masa awal tim ini bekerja, setiap diskusi, Wahyuana dan Rahmat tidak banyak berperan. Pembahasan masih banyak didominasi Dadi dan Ibnu Antok. Ini tidak sehat jika terus berlanjut.

Untuk mengubah itu, akhirnya, ia menerapkan sistem baru. siapa yang menguasai permasalahan suatu kasus, maka dialah yang menjadi project officer atau PO. Dia memimpin rapat, memimpin diskusi. Mau tak mau, ketika Wahyuana atau Rachmat bertindak sebagai PO, mereka memimpin rapat dan memaparkan persoalan yang akan diangkat.

Dadi selalu mengatakan kepada mereka, jadilah investigator yang baik. Ia harus sombong dalam tanda petik. Punya kepercayaan diri tinggi, serta selalu tenang dalam berbagai kondisi. Terbukti cara itu efektif. hanya dalam hitungan pekan, Wahyuana dan Rachmat sudah mulai rajin bicara.

Kendati begitu, mesti diakui, cara kerja tim kami masih amat serabutan pada masa-masa awal. Ini lantaran tim masih belum menemukan pola investigasi yang tepat. Sembari berjalan, kami mencari bentuk format dan model selidikan yang efektif dan efisien. Karenanya, setiap bertemu intel, serse atau informan, Dadi selalu menanyakan tentang cara kerja mereka.

Satu hal yang khas tentang cara kerja mereka: ketajaman ingatan untuk mengingat hal-hal yang penting. Ketajaman ingatan sangat berguna bagi reporter investigasi. Terutama, ketika melakukan penyamaran. Karena pada saat itu, kita tidak dapat mengeluarkan buku catatan dari saku, apalagi tape recorder. Satu-satunya andalan adalah daya ingat.

Selain itu, ada hal lain yang berguna untuk reportase investigasi. Yakni, maping. Maping adalah pemaparan masalah dengan cara yang lebih sederhana. Caranya, dengan membuat peta persoalan dalam bentuk gambar. Semacam gambar sebuah pohon. Apa yang belum diketahui dilewati dan diberi tanda tanya. Sampai kemudian terbentuk sebuah ‘pohon masalah’ yang gamblang, mulai dari akar sampai pucuk tertinggi dari pohon itu.

Tanda tanya itulah yang perlu diselidiki dan dicari jawabannya. Setelah semua semua tanda tanya dijawab, maka amat mudah dan transparan sekali bagi kita untuk melihat sebuah bangunan pohon masalah secara utuh. Dari gambaran masalah yang sudah jelas, kita membuat laporan atau tulisan secara rinci dan lengkap.

Komitmen adalah pegangan sebuah tim investigasi. Ada sejumlah ‘garis’ yang mesti dipatuhi anggota tim dan tidak boleh dilanggar. Pertama, setiap anggota harus membeberkan secara transparan semua temuan yang diperolehnya dilapangan. Tidak terkecuali, termasuk informasi yang oleh sumber dinyatakan off the record.

Kedua, sikap yang keras untuk menolak segala bentuk iming-iming dari semua narasumber. Baik berupa amplop maupun berbagai bentuk hadiah barang. Jika ada yang melanggar, maka sangsinya amat jelas: pemecatan.

Pada akhirnya, yang terlibat dalam tim investigasi umumnya orang-orang yang memiliki bakat tertentu dalam hal penyelidikan. Karena tidak semua reporter memiliki bakat seperti itu. Reporter selidikan tidak murni sebagai seorang jurnalis. Dia adalah gabungan antara seorang jurnalis dan seorang petualang: tidak mudah putus asa, selalu ingin tahu. Dan yang terpenting, dia adalah seorang penyidik.

Sepotong Sejarah Investigasi

Reportase investigasi sudah lama populer di dunia pers. Usianya bahkan sama tuanya dengan keberadaan media massa itu sendiri.

Istilah reportase investigasi populer belakangan ini. Sebelum itu, ada dikenal istilah muckcracking journalism, yang populer sekitar tahun 1902-1912.

Istilah tersebut kian populer, setelah tokoh pers dunia: Josep Pulitzer berseteru dengan Presiden Amerika Serikat, Theodore Roosevelt. Ketika itu, Pulitzer – pendiri the Columbia University School of Journalism – membongkar kasus suap dalam pembelian tanah untuk Kanal Panama, yang diduga berkaitan dengan Roosevelt.

Pulitzer wafat tahun 1911, pada usia 64 tahun. Namanya diabadikan sebagai penghargaan karya jurnalistik paling prestisius bagi jurnalis berprestasi di dunia.

Reportase investigasi berkibar lagi tahun 1974, menyusul munculnya karya investigasi dua wartawan harian The Washington Post yang menghebohkan dunia. Carl Bernstein dan Bob Woodward, demikian nama wartawan itu, berhasil membongkar penyelewengan dana pemilu Partai Demokrat yang menjagokan Richard Nixon sebagai Presiden Amerika Serikat. Demikian monumentalnya, karya mereka diterbitkan dalam buku All The President’s Men, yang kemudian diangkat ke layar lebar.

Karya Bernstein dan Woodward itu pula yang mengilhami didirikannya paguyuban reporter dan editor reportase investigasi terkemuka: Investigative Reporters and Editors Inc (IRE), di Kolombia, Amerika Serikat, tahun 1975.

Sejarah reportase investigasi di Indonesia cukup muram dan panjang. Selama dua masa kepemimpinan nasional, baik di masa Orde Lama dan Orde Baru, reportase investigasi lebih banyak dipandang penguasa sebagai buah terlarang. Lebih-lebih, bila laporan selidikan menyangkut masalah politik dan ekonomi, yang terkait dengan kepentingan dan policy orang yang berkuasa.

Serupa tapi tak Sama

Pembaca seringkali merasa kesulitan membedakan antara in-depth reporting dan reportase investigasi. Untuk jelasnya, penting diketahui, bahwa berita di media massa dapat dipilah menjadi tiga jenis. Yakni: reportase investigasi, pelaporan mendalam dan berita langsung.

Reportase investigasi adalah suatu bentuk pencarian berita dengan cara penelusuran. Ia sangat mengandalkan bukti-bukti material, baik berupa dokumen maupun dari kesaksian. Dokumen dimaksud berupa data-data faktual yang menggambarkan terjadinya suatu masalah yang tengah diselidiki. Sementara kesaksian berupa pengakuan dari sumber berita, yang terlibat secara langsung dalam perkara yang diselidiki.

Reportase investigasi memiliki beberapa ciri, antara lain: jumlah paragraf, struktur dalam penulisan, aktualitas dan gaya bahasa yang disampaikan teramat bebas.

Lain halnya dengan pelaporan mendalam. Ciri menonjol dari berita jenis ini, beritanya tidak basi lantaran tidak mengikuti berita yang sedang hangat. Jumlah paragraf berkisar antara 10 sampai 25 paragraf. Bentuk penulisannya seperti piramida: diawali dari hal-hal ringan, kemudian diikuti dengan bagian penting cerita pada bagian tengah dan akhir tulisan.

Kriteria tersebut sangat bertolak belakang dengan berita langsung atau straight news. Jumlah paragraf berita langsung biasanya, antara 3 sampai 10 paragraf. Struktur atau susunan penulisannya berbentuk piramida terbalik: informasi paling penting ditaruh di awal tulisan, sedangkan informasi penguat dan penjelas disampaikan kemudian.

Kata investigatif sebenarnya berasal dari bahasa Latin: vestigium yang artinya jejak kaki. Sedang kata reporting berasal dari bahasa Latin: reportare, yaitu membawa sesuatu dari suatu tempat. Paul N. Williams, menerjemahkan vestigium dengan menganalogikan wartawan yang memburu berita siang malam untuk mendapatkan predator. Williams, dalam hal ini, menganalogikan wartawan sebagai pemburu. Si reporter mengikuti jejak langkah sang predator ke mana pun pergi: memanjat pohon, mengamati ada apa di balik bebatuan, untuk mendapatkan tanda keberadaan predator.

Dadi memandang, reportase investigasi sebagai metodologi pencarian berita secara mendalam, mendetail dan tuntas, serta seluruh data yang disajikan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Oleh karena itu, bukti material adalah suatu keharusan untuk diperoleh.

Sedangkan berita berkedalaman adalah satu jenis penulisan berita yang ditulis secara mendalam. Berita berkedalaman tidak menuntut fakta yang detil. Biasanya, berita berkedalaman tidak dibuat untuk membongkar suatu masalah. Teknik menyamar, karenanya, amat jarang digunakan.

Reportase investigasi adalah sebuah metode jurnalistik dengan cara penelisikan atau penyelidikan. Gunanya, untuk mengungkap informasi yang tersembunyi dan ditutup-tutupi, baik yang dilakukan individu maupun institusi pemerintah dan swasta. Kekuatan metode ini terletak pada: “getting the facts and getting them right”.

Karenanya, ciri utama dari reportase investigasi adalah kasusnya masih tersembunyi. Masih misterius. Penelisikan diperlukan karena kasus yang masuk kriteria investigasi ibarat sebuah gunung es yang berdiri di tengah lautan. Yang tampak hanya sebagian kecil puncaknya, sementara batang tubuhnya tenggelam tak terlihat di bawah samudera. Semua itu mesti dibuka dengan serangkaian data dan fakta yang sahih dan valid. Fakta yang sudah teruji, setelah disaring sedemikian rupa di lapangan.

Ciri lain dari reportase investigasi adalah membutuhkan waktu lumayan panjang untuk sampai pada titik akhir pengungkapan. Mulai dari penemuan masalah, pemetaan masalah, terjun ke lapangan hingga penulisan akhir sebelum naik cetak. Banyaknya waktu dan tenaga, lantaran kasus investigasi berada ‘di bawah permukaan’ alias belum banyak diketahui publik. Informasi yang digali bukanlah kisah rutin yang sudah terbuka di depan publik.

Menulis hasil investigasi menjadi tulisan ‘siap baca’ pun memerlukan waktu tersendiri. Karena banyak data dan fakta, berikut hubungan satu sama lain, yang perlu diselaraskan.

Kebijakan beberapa media yang menerbitkan hasil investigasi secara berkala – umumnya setiap minggu – terlalu obsesif. Karena tidak mungkin menghasilkan sebuah liputan ivestigasi yang baik dan ideal dalam kurun waktu sesingkat itu. Idealnya, reportase investigasi diterbitkan secara insidental. Ia baru muncul apabila sebuah hasil investigasi sudah dirasakan memadai dan memenuhi syarat.

Karena membutuhkan waktu, maka idealnya reportase investigasi dikerjakan sebuah tim dengan anggota yang memadai. Luasnya skala masalah, banyaknya sumber, aneka kendala – semuanya membutuhkan konsentrasi dan penangan tersendiri – hanya dapat diselesaikan dengan baik oleh sebuah tim yang secara kuantitas dan kualitas memenuhi syarat.

Godaan untuk memanipulasi pada penulisan laporan investigasi, sungguh sangat terbuka. Ia bagaikan magnit besar yang siap menyedot para reporter investigasi untuk melakukan tindakan tak terpuji. Apalagi kesempatan untuk mengakali tulisan kesempatan untuk mengakali tulisan sangat mudah, yakni dengan meminjam kata teramat sakti nan kramat, “Menurut sebuah sumber yang sangat dipercaya…,” Atau, “menurut seorang pejabat di instansi anu yang enggan disebut namanya…” dan beberapa trik lainnya.

Membuat laporan investigasi haruslah amat berhati-hati dan berdasarkan kepada data dan fakta, tanpa pernah melibatkan emosi dan subyektif di dalamnya. Para reporter investigasi hanya membeberkan fakta-fakta.

Ciri lain dari reportase investigasi adalah kedetilan dalam penulisan berita. Selain berguna utnuk mencerahkan publik, cara seperti ini juga penting untuk menghindari salah tafsir – terutama dari pihak yang terkait dengan tulisan kita.

Penggambaran secara mendetil acapkali membutuhkan laporan yang panjang. Untuk itu, tulisan dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama tulisan, yang menggambarkan suasana makro dari kasus yang kita angkat, dipaparkan pada bagian pertama. Pada bagian berikutnya, fokus tulisan lebih bersifat mikro.

Informasi yang mendetil dan lengkap ini tentu saja amat bermanfaat bagi pembuat kebijakan. Yakni, mereka atau institusi yang membawahi kasus yang kita garap. Dengan mengetahui penyimpangan dari hasil investigasi kita, bolehlah kita berharap, pembuat kebijakan mengambil tindakan.

Ciri lainnya adalah mengungkap penyimpangan dan penyelewengan secara total. Spirit ini tidak boleh diterjemahkan secara bebas. Misalnya, kita memngungkap sesuatu hanya lantaran ada tendensi: dengan penuh amarah, dendam kesumat dan sinisme. Karena siapapun obyek investigasi, kita tetap menempati posisi yang berjarak – baik dengan obyek maupun subyek masalah. Filosofinya, mengungkap sebuah persoalan secara total hingga tuntas. Meneliti kebijakan, membongkar penyimpangan, guna diketahui secara luas oleh publik.

Oleh karena mengungkap penyimpangan dan penyelewengan sebuah kasus, maka hasil dari reportase investigasi idealnya harus bertampak kepada perubahan. Dengan membaca, diharapkan pihak yang terkait dengan obyek yang diinvestigasi, ikut tergugah. Lalu, tergerak untuk mengatasi persoalan yang tengah terjadi.

Dengan demikian, ciri lain reportase investigasi adalah adanya spirit bahwa hasil investigasi ini akan berdampak bagi publik umumnya. Kita boleh berharap, bahwa dari sana akan terjadi perubahan yang cukup mendasar – sebagai koreksi total terhadap penyimpangan sebelumnya. Kalaupun tidak ada kebijakan baru, sedikitnya, penyimpangan yang sama tidak terulang lagi di masa mendatang.

Dampak reportase investigasi sudah harus dipikirkan sejak pertama kali kasus yang akan diinvestigasi digodok. Ini diulang kembali sesaat sebelum hasil investigasi disiarkan kepada publik. Langkah tersebut penting dilakukan, untuk melihat celah gugatan yang mungkin timbul setelah hasil investigasi dipublikasikan.

Ciri berikut reportase investigasi adalah ketegasan dalam menentukan target liputan. Jangan sekali-kali terpengaruh hal-hal subyektif. Saya punya pengalaman kurang baik dalam menentukan target investigasi. I

Sebagaimana berita umumnya, reportase investigasi memiliki criteria. Sebuah kasus terkadang merangkum semua kriteria yang ada. Kadang pula hanya mengandung satu atau beberapa kriteria. Kriteria dimaksud adalah eksklusifitas, kontroversial, berdampak luas, unsur ketokohan yang kuat dan berskala besar.

Saatnya Terjun ke Lapangan

Seorang wartawan, pertama sekali, diukur dari kemampuannya bekerja di lapangan. Seorang wartawan tidak mengenal istilah :pensiun turun ke lapangan, meskipun sudah menjadi pemimpin redaksi sekali pun. Ada beberapa tahapan yang mesti dilewati setiap wartawan agar dapat menghsilkan investigasi yang memenuhi standar:

1 Menangkap Informasi Awal

Informasi awal biasanya diperoleh dari jaringan atau lobi yang sudah dibangun atau dibina. Kadang juga dokumen didapatkan dengan cara pencurian, tapi cara seperti ini sebaiknya diurungkan. Lebih baik dengan cara mmbujuk si relasi atau membeli dokumen tersebut. Bermodalkan informasi awal kita mulai merancang sebuah investigasi.

2 Data sekunder

Data sekunder adalah data hasil riset tentang isu yang tengah kita garap itu. Sumbernya bisa lewat media yang pernah menulis masalah tersebut, atau sumber-sumber ‘tak resmi’ yang bekerja di seputar isu tadi.

Sambil mengumpulkan data sekunder, kita bisa memperkuat informasi awal dengan mengontak nara sumber pendukung yang mengerti isu tersebut. Lewat sumber pendukung kita sekaligus mengecek kebenaran info yang kita terima dari tangan pertama. Semakin banyak sumber pendukung semakin baik.

3 Perlu Riset Sekunder

Langkah yang paling mudah dan efisien adalah mengakses internet. Lalu ke perpustakaan jika kurang. Riset literatur sangat penting untuk mengetahui fenomena kasus serupa yang pernah terjadi sebelumnya. Dari sana, kita bisa membandingkan modus operandi dan juga kaitannya dengan berbagai persoalan lainnya.

4 Saatnya Menggambar Pohon

Setelah permasalahan dipahami baru kita melakukan maping atau pemetaan persoalan. Inilah ajang melakukan eveluasi dan saling melengkapi informasi dari semua orang dalam tim investigasi. Harus dilakukan secara detil sekali.

Persoalan kasus yag akan digarap akan digambarkan seperti sebuah pohon. Isinya apa yang menjadi pokok permasalahan, siapa saja yag terlibat, hubungan mereka satu sama lain. Akan terlihat apa yang sudah jelas dan bagian mana yang masih bolong dalam pohon tersebut. Pemetaan dilakukan dengan berdiskusi dan berdebat, agar ‘pohon masalah’ menjadi semakin transparan. Kita bisa mempertajam fokus dan target yang dituju, agar tidak melebar kemana-mana. Karena tidak jarang, begitu peta digelar, akan muncul hal-hal baru yang saling mengait.

5 Pohon Rindang Tempat Bertanya

Semakin rindang kita membuat ‘pohon masalah’, semakin lengkap pengetahuan kita atas persoalan. Beberapa maanfaat pohon tersebut antara lain

3 Lebih memudahkan kita memahami persoalan

4 Sangat membantu di saat kita akan menulis persoalan tersebut.

5 Kita dapat melihat celah kelemahan kita dari hasil investigasi kita bila dipublikasikan. Sehingga kita sudah dapat memprediksi dan mengantisipasi jika individu atau institusi yang merasa dirugikan atas tulisan kita melayangkan somasi.

6 Sebagai penuntun dalam proses investigasi

7 Sebagai faktor paling menentukan ketika mengambil keputusan.

8 Insting, Asumsi, dan Hipotesa

Hipotesa dibuat berdasarkan analisis sementara terhadap informasi di lapangan, dokumen-dokumen yang diperoleh, serta riset komparasi terhadap data sekunder dan studi literatur.

Asumsi dan hipotesa bisa dibangun dengan insting. Dgan insting, tingkat kehati-hatian kita terhadap pemberi dokumen menjadi lebih tinggi.

Saatnya Terjun ke Lapangan

Penelisikan dimuali. Semua anggota tim turun, bekerja sesuai pembagian kerja yang ditentukan saat maping. Ada dua jenis fakta yag harus dikejar, yaitu ’fakta material’ dan ’saksi kunci’.

Fakta material adalah dokumen tertulis yang bertalian erat dengan kasus. Misalnya kuitansi, memo dinas, nota pribadi, dsb. Sedangkan, saksi kunci berupa kesaksian dari sumber berita. Orang yang disebut saksi kunci atau sumber utama adalah mereka yang tahu secara langsung tentang kasus tersebut. Mereka terlibat dalam masalah. Bisa satu orang, bisa juga lebih.Saksi kunci menempati posisi terpenting, karena melalui mereka kita dapat mengembangkan dan memperlaus laporan, menagkap pemetaan secara menyeluruh juga siapa-siapa saja yang terlibat dalam masalah itu.

Jangan Lupa Observasi

Ada beberapa cara untuk membuat hasil observasi yang baik, salah satunya melalui undercover dan berperan sebagai pengamat yang baik terhadap situasi yang tengah berkembang. Kesabaran dan kejelian adalah kuncinya.

Kembali ke Titik Nol

Dengan segepok fakta yang kita peroleh, kita tidak boleh langsung menelannya tanpa diuji lebih lanjut. Kita perlu memriksa ulang dengan kembali mengurut pada informasi awal. Jika tidak ada perubahan, maka hasil reportase investigasi dianggap oke. Artinya siap disajikan dalam bentuk tulisan.

Merapikan Dokumen

Organisasi file sangat penting, terutama bila dikemudian hari muncul gugatan dari pihak yang merasa dirugikan dengan berita yang diangkat.

Kita bisa menyusun file berdasarkan kronologis, spesifikasi masalah dan kasus. File harus disimpan di tempat yang menurut kita sangat aman. Ini sangat penting jika di kemudian hari ada pihakyang merasa dirugikan dengan berita kita.

Menulis Hasil Investigasi

Setelah semuanya lengkap, barulah melangkah pada tahapan berikutnya: menulis hasil liputan.

Agar tulisan terarah dan mendetil, semua anggota tim kembali bertemu. Materi pembicaraan dipusatkan pada pembagian tulisan, sistematika, angle tulisan, dan deskripsi.

Masalah utama kasus ditempatkan sebagai tulisan utama. Bagian ini menggambarkan suasana makro dari kasus yang kita investigasi. Publik akan tahu secara global masalah yang kita sajikan: apa terjadi, siapa pelakunya, kapan dan di mana, bagaimana kejadiannya dan mengapa sampai hal itu berlangsung.

Hal-hal yang lebih mikro, yang menjelaskan secara lebih mendetil mengenai suatu kasus, dituangkan dalam tulisan lainnya. Bila dipandang perlu, saksi kunci yang jadi pelaku utama dari masalah yang disorot ditampilkan. Kecuali memberikan hak jawab padanya, ini penting publik untuk mengetahui apa yang melatari si dia berpikir dan bertindak.

Dokumen penting, baik memo atau kuitansi, juga data lainnya, perlu dituangkan – sebagai bukti otentik suatu kejadian.

Saat menulis kita kembali membolak-balik hasil riset dan checking smeua fakta, sebagai langkah kehati-hatian dan kesempurnaan dari hasil penelisikan kita.

Memikirkan Dampak Lingkungan

Berdasarkan hasil riset dan temuan di lapangan, kita sesungguhnya sudah mengetahui apa sesungguhnya yang jadi benang merah tulisan, misi dan sasarannya. Juga, yang terpenting: dampak dari tulisan itu.

Sudah seharusnya kita memprediksikan seberapa jauh dampak tulisan tersebut. Utamanya, sejauh mana kemungkinan akan digugat pihak yang dirugikan atas laporan selidikan itu.

Libel Check

Sebelum tulisan diterbitkan, tidak ada salahnya kita kembali melihat-lihat data dan fakta yang sudah diperoleh. Termasuk, kembali membaca tulisan yang sudah dibuat. Inilah yang disebut sebagai libel check atau sebagai upaya menghindari berita-berita fitnah.

Bila menemukan data yang salah dalam tulisan, jangan segan-segan mengubahnya. Akan lebih bijaksana terlambat terbit, ketimbangan menuangkan kesalahan pada media kita. Karena bukan hanya publik yang merasa dibohongi tulisan kita, tetapi juga sejumlah pihak yang disebut-sebut dalam tulisan itu.

Kemapuan Utama Investigator

3 Kemampuan wawancara yang baik

4 Mengenal Karakter Sumber

5 Jadilah Orang yang Dipercaya

6 Menjadi Orang Bodoh

7 Guankan Indera Keenam.

8 Jangan Mudah Percaya

9 Bawalah Buku Catatan dan Alat Bantu

10 Ingatlah Sikap Dasar:

11 Tenacious (ngotot atau bertahan)

12 Determined (tekun dan ulet)

13 Patient

14 Zelaous (bersemangat)

15 Fair

Mengapa Menyamar?

Reportase Investigasi membutuhkan banyak tehnik dan metode di antaranya adalah tehnik penyamaran mengingat urgensinya dalam memaksimalkan hasil investigasi.

Penyamaran bertujuan untuk memperoleh data faktual secara jujur dan akurat. Tehnik dilakukan manakala data dan fakta yang dibutuhkan untuk mengungkap sebuah kasus amat sulit dilakukan dengan cara yang umum.

Dengan tehnik ini, reporter investigasi dapat dengan leluasa memasuki sebuah komunitas tertentu yang berperilaku menyimpang. Misalnya, komunitas penjudi, mafia penyelundupan dan dunia hitam lainnya.

Mengapa menyamar?

1 Kita tidak mungkin memperoleh informasi bila langsung membuka identitas sebagai wartawan.

2 Institusi, individu, atau komunitas yang kita selidiki memang sengaja menutupi masalah yang melilitnya karena yang bersangkutan mungkin akan kehilangan pamor, harta dan lainnya. Dengan menutupi kasusnya, sedikitnya ia terhindar dari kejaran pihak berwajib.

3 banyak sumber yang tahu suatu ketidakberesan, namun takut membukanya ke pers. Ia takut, ‘orang kuat’ di balik sebuah kasus bakal apa saja bagi mereka yang merugikannya.

4 orang yang mengetahui banyak hal super sensitif, umumnya punya hubungan dekat dengan “orang kuat” tersebut jadi enggan memberikan informasi secara terbuka.

5 dengan tehnik penyamaran, kita bisa memperoleh data dan fakta tanpa didramatisir. Sebab, kita melihat, mendengar, dan bahkan menikmati objek yang tengah diselidiki secara langsung.

Be Cool Please!

Salah satu kunci sukses penyamaran adalah selalu berpenampilan rileks dan tenang. Dalam berbagai situasi. Termasuk saat kita terancam. Dadi menyebutnya dengan jurus Tai Chi.

Jurus itu menyerang dengan menggunakn kekuatan lawan. Sifatnya bertahan untuk menyerang. Filosofi dan kekuatan jurus Tai Chi, terletak pada konsentrasi serta ketenangan lahir dan batin. Kuncinya terletak pada ketenangan lahir dan batin. Ketenangan di sini bukan dalam pengertian pasif, tapi dinamis. Dan itu butuh waktu. Pengalaman.

Ketenangan itu sangat dibutuhkan pada saat kita diundang oleh salah satu ”orang kuat” yang erat kaitannya dengan objek berita kita. Karena undangan olehnya sering diterima dengan tidak terduga.

Membuka Tabir Diri

Ada saatnya juga kita harus bisa memilih antara membuka jati diri kita atau tetap menyamar. Karena sebuah keputusan itu dapat sangat berpengaruh terhadap sebuah hasil investigasi. Keputusan yang tepat adalah sebuah bagian dari manuver dan adaptasi yang dilakukan berdasarkan mobilitas di lapangan.

Teknik Kamikaze

Ada juga teknik penyamaran yang nekad. Teknik ini dilakukan pada situasi tertentu, dengan penuh rencana dan perhitungan yang matang. Namun, harus dilakoni dengan ekstra dingin.

Tehnik ini adalah tehnik yang sedemikian nekad, atau biasa disebut sebagai tehnik bunuh diri. Kenapa? Karena tehnik dilakukan secara frontal. Bila sang investigator ingin mengabadikan sebuah pertemuan penting maka harus dilakukan penyamaran.

Cara pertama adalah dengan menampilkan diri serapi mungkin. Pakian harus formal. Usahakan datang tepat waktu. Karena saat orang penting datang, si investigator itu harus bergegas memasuki ruangan dan bergegas mengambil foto. Selepas mengambil foto, segera dengan tenang undur diri.

Teknik Serangan Fajar

Teknik ini bisa diterapkan ketika kita akan mencuri sebuah dokumen di ruangan seorang sumber penting. seperti teknik kamikaze, kita pun harus berpenampilan meyakinkan.

Kembangkan Jaringan

Sungguh banyak masalah yang bisa menjadi bahan investigasi. Baik yang terjadi di lingkungan pemerintahan, legislatif dan yudikatif. Begitu pula di lingkungan swasta, organisasi massa, lembaga swadaya masyarakat, dunia hiburan dan lain-lain.

Namun tidak jarang wartawan kekosongan bahan. Jurnalis menyebutnya, ‘mati angin’. Ada satu kiat untuk menghindari penyakit ‘mati angin’ ini. Yaitu, membangun jaringan atau networking ke semua penjuru.

Bersahabat dengan angka

Jika kita mau melihat data-data dan angka-angka statistik yang dingin dan beku, kita dapat menemukan kisah tragis yang melilit seorang, sekelompok atau sebagian masyarakat. Sering terjadi fenomena dan gejala menyimpang yang ditemukan dari data dan angka tersebut. Misalnya, kita dapat mencari data statistik tentang tingkat kemiskinan, kesehatan, pendidikan sam pai kematian di lembaga-lembaga terkait.

Orang kecil, berita besar

Jangan pernah meremehkan seorang narasumber berita, sekalipun secara status sosiologis ia berasal dari kalangan bawah atau seorang dengan profesi tidak terpandang. Karena, informasi bisa datang dari mana saja, kapan saja dan di mana saja. Bahkan sesungguhnya lazimnya wartawan investigasi mendapat informasi detil dari seorang office boy, asisten rumah tangga, supir, pelayan restoan, dsb.

Yin dan Yang

Tak ada satu pun yang bersifat mutlak di dunia ini. Semua mempunyai dikotomi masing-masing. Ada orang baik, ada pula orang jahat. Situasi itu juga berlaku dalam memandang sebuah berita berikut narasumbernya. Wartawan investigasi memang tidak mudah untuk mendapatkan informasi. Mereka sering kali mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan materi hanya sekedar untuk menunggu narsumbernya datang dan me-lobby agar ia mau buka mulut.

Mencari musuh dalam selimut

Istilah mencari musuh dalam selimut di sini bukan melulu diartikan secara harfiah. Dalam banyak hal, sering kali berita besar diperoleh dari orang-orang yang dikenal sebagai musuh orang yang menjadi target kita. Maksudnya, target/sasaran kita pasti mempunyai pihak oposisi, maka itu kita juga harus meminta keterangan yang mendalam dari orang tersebut. Ini sebagai bentuk cover both side, cek dan ricek atau devil advocate seorang wartawan.

Orang kedua atau ketiga

Sumber informasi penting juga bisa didapat dati orang kepercayaan target atau sasaran kita. Biasanya informasi dari mulut mereka masuk kategori A1 alias sangat akurat.

Lalu lintas informasi

Terkadang sebuah informasi yang kita peroleh dari seseorang tidak jarang berujung pada transaksi materi/ uang. Maksudnya adalah, ada sebagian orang-orang yang memang bersedia membuka mulut untuk menjual informasinya. Bahkan orang-orang seperti demikian sudah mempunyai rencana, settingan dan scenario tersendiri untuk mencapai tujuannya ataupu. Memanfaatkan wartawan untuk menyisipkan pesan pribadinya dalam informasi itu. Dalam hal ini, wartawan investigasi harus sangat hati-hati menyaring informasi yang masuk.

Berkawan dengan bandit

Dalam reportase investigasi, penunggangan kepentingan mejadi hal yang lumrah. Banyak narasumber yang ingin memasukkan pesan untuk kepentingan prbadi atau golongannya. Tinggal bagaimana wartawan/reporter dapat mengendalikannya. Pada saat-saat itulah nilai-nilai kejurnalistikan seorang wartawan/reporter investigasi sedang diuji. Karena dalam mengungkap kebenaran, seorang reporter akan kewalahan untuk membatasi diri untuk menerima informasi. Informasi dari seorang bandit/penjahatpu dapat dijadikan bahan, selama kita yakin bahwa itu akurat.

Informasi A 1

Informasi A-1 adalah istilah bagi informasi yang sangat layak dipercaya. Informasi A-1 setidaknya harus memenuhi dua syarat, yang pertama: sumber informasi itu harus dapat dipercaya. Artinya sang narasumber harus jelas identitasnya, profesia dan latar belakangnya, serta hubungannya dengan target/sasaran berita. Kedua: informasi dari tersebut memang faktual. Kita dapat menguji fakta tadi dengan melakukan cek silang terhadap beberapa pihak terkait dengan masalah yang kita garap.

Jaring Laba-laba

Semua sumber sesungguhnya bisa menjadi bagian dari jaringan informasi. Jaringan itu amat penting bagi wartawan investigasi. Jaringan informasi (networking/ link) tersebut bagaikan tombol-tombol yang dapat segera diakses manakala terjadi peristiwa besar. Sebaiknya, wartawan/reporter invetigasi tidak hanya berhubungan baik pada saat ada butuhnya kepada narasumber tersebut, tapi juga memelihara hubungan baik pada waktu-waktu biasa, agar narasumber itu tetap bersedia membantu kita memberikan informasi yang berharga.

Taatilah Nilai dan Norma

Pelaporan investigasi memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang harus dipatuhi. Secara garis besar, inilah nilai dan norma yang patut dipegang oleh setiap orang yang berniat terjun ke dunia ini.

Mencari Binatang Melata

Maksud dari binatang melata adalah narasumber. ‘binatang melata’ tidak perlu diburu dengan semangat penuh kebencian dan dirasuki dendam kesumat. Di mata reporter investigasi, suatu kejahatan tidak perlu dibasuh kebencian. Pers ditujukan untuk menyiarkan atau menularkan nilai-nilai luhur manusia.

Meninju tanpa Meng-KO

Laporan investigasi mesti ditulis dengan cara yang ‘dingin’, tanpa emosi untuk mengumbar kebencian. Tidak perlu menggunakan kata-kata sarkas. Biasakan diri kita bersikap objektif dan membuang jauh-jauh cara pandang subjektif. Dengan demikian, hati nurani terpelihara untuk semata menjungjug tinggi kepentingan publik.

Menggonggong demi Ketentraman

Reportase investigasi seperti seekor anjing penjaga yang siap menyalak begitu nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres di sekitarnya. Ia menjadi alat sosial kontrol yang sehat dan konstruktif bagi semua kalangan.

Profesional dan Independen

Para investigator haruslah menjadi orang yang independen. Dia terlepas dari berbagai kepentingan apapun, agar tetap bisa terus mengasah hatinya. Menempatkan dirinya sebagai milik masyarakat. Kebenaran menurutnya adalah kebenaran yang berlaku secara universal.

Siapa Bertanggungjawab

Setiap mengangkat kasus dalam reportase investigasi, kita sebaiknya memfokuskan diri kepada pertanggungjawaban lembaga atau individu yang merugikan khalayak luas. Nilai-nilai seperti itu penting dicermati, karena terget dari pelaporan investigasi adalah terjadinya perubahan.

Menuju Kepada Perubahan

Keyakinan akan kekuatan media sebagai katalisator perubahan, pataut ditanamkan pada diri wartawan. Dengan sepengetahuan kita, ataupun tidak sama sekali, laporan selidikan akan senantiasa menimbulkan efek perubahan.

Jalan Menuju Kebenaran

Dalam hal ini, kita harus sejujurnya membeberkan hasil investigasi ulang tersebut. Kalau memang hasil re-investigasi menunjukkan berita yang sudah dilansir itu sesuai dengan kenyataan, maka tidak ada jalan lain: kita mempertanggungjawabkan laporan itu. Di depan pengadilan sekalipun.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: