Posted by: bachtiar hakim | June 19, 2008

Pemadam Listrik Negara (PLN)


Pemadam Listrik Negara (PLN)

Jatinangor, 19 Juni 2008

Pemecahan Rekor Pemadaman Listrik dan Pemecahan Rekor Pembelian Lilin di Jatinangor

Pemecahan Rekor Pemadaman Listrik Terlama dan Pemecahan Rekor Jumlah Pembelian Lilin di Jatinangor

M.o.l.o.r. Hari memang sudah tidak pagi lagi. Kira-kira pukul setengah tujuh lebih lima belas, rasa kantuk terasa mencengkram tubuh ini. Cukup enak untuk tetap tidak beranjak dari kasur karena pekerjaan rutin membersihkan kamar sudah dilakukan malam harinya. Tapi sial memang pagi itu. Saya cukup menyesal karena melewatkan pertandingan seru antara Perancis Melawan Italia.

Hal yang terfikir untuk dilakukan hanyalah mematikan komputer yang masih melantunkan lagu-lagu Bossanova Jawa. Kebetulan, saya terbiasa untuk tidur dengan bantuan tembang-tembang tersebut. Sayangnya, irama-irama mellow itu tidak cocok untuk menyemarakkan kamar di pagi hari.

Baru saja beranjak dari kasur untuk mematikan komputer, lagu itu tiba-tiba mati dengan sendirinya. “Waduh, pasti mati lampu lagi, ” pikir saya. Ternyata dugaan itu tepat karena saya bisa menerjemahkan teriakan teman sebelah kamar saya yang berisi kata-kata kotor.

Jatinangor keur aliran,” kata kebanyakan penduduk asli Jatinangor yang saya tanya.

Jatinangor kena pemadaman bergilir dari pusat, “ kata petugas PLN Tanjungsari yang bertugas melayani keluhan dari pengguna jasa PLN via telepon.

Jatinangor mati lampu,” kata kebanyakan rekan mahasiswa

Apapun bahasanya, itulah yang sering saya alami setengah bulan belakangan ini. Lagi-lagi pemadaman dan pasti lumpuh. Wajar saja bila saya menstigmakan pemadaman dengan kelumpuhan. Masalahnya, frekuensi pemadaman kali ini tergolong sering dan temponya sangat lama.

Jujur saja, selama lima tahun tinggal di Jatinangor, baru kali ini saya mengalami pemadaman listrik yang benar-benar fenomenal. Maksud dari kata yang digaris miring itu merujuk pada besarnya dampak yang ditimbulkan.

Bagi pengelola usaha jasa fotokopi seperti Dikdik, pemadaman aliran listrik berarti pemadaman aliran uang perusahaannya, Dalam keadaan normal dan ramai, dalam satu jam, ia mengaku bisa mengantongi minimal lima lembar uang sepuluh ribu dari dokumen yang digandakannya. Saat listrik padam, kertas-kertas dokumen tersebut tentunya tidak akan berganti menjadi kertas-kertas uang..

Seperti nasib kertas dan mesin yang diandalkannya, pegawai kios fotokopi Parahyangan itu hanya bisa tergolek lesu. Baginya, hendak tutup terasa sungkan tetapi mau tetap buka juga malas. Kini, ia hanya mengandalkan pemasukan dari penjualan alat-alat tulis. Itupun keuntungannya tidak cukup untuk makan siang tiga orang rekannya sesama pekerja.

Bagaimana dengan nasib para pelanggannya yang kebanyakan mahasiswa? Saya cukup terharu melihat perjuangan rekan-rekan mahasiswa Fakultas Kedokteran yang menyalin tumpukan bahan-bahan kuliah dari dosennya dengan tulisan tangan. Setelah disalin, entah mereka mengolah tulisan itu dengan apa. Rasanya, dari sepuluh orang mahasiswa di Unpad, saya jamin paling banyak hanya satu orang yang masih memiliki mesin ketik.

Bersejarah, memang. Sepengalaman saya, baru kali ini tugas matakuliah Juve diundur deadline pengumpulannya karena alasan padam listrik. Akibat saking besarnya tekanan saat itu, sampai-sampai ada teman yang mengirimkan hasil tugasnya beserta hardisk-nya ke kampus. Busyet.. Mungkin ia senasib dengan mahasiswa yang bertemu dengan dosen pembimbing skripsi tanpa membawa revisi terbaru skripsinya. Alasannya lagi-lagi mati lampu. Harap maklum saja

Pemadaman menyerang juga mahasiswa Unpad yang sedang dihadapkan pada Ujian Akhir Semester (UAS)

Pemadaman menyerang juga mahasiswa Unpad yang sedang dihadapkan pada Ujian Akhir Semester (UAS)

Begitulah akibatnya. Pengumpulan tugas menjadi mulur. Tapi dampak yang paling bagi mahasiswa signifikan tentunya terganggunya kegiatan perkuliahan dan administrasi. Saya nilai Unpad secara keseluruhan belum siap mengantisipasi pemadaman ini. Buktinya masih ada beberapa fakultas yang listriknya padam. Sialnya bukan hanya di tempat kuliah saja, fasilitas Anjungan Tunai Mandiri pun ikut tak berfungsi. Dalam hal ini, saya cemburu dengan mega-genset yang telah lama dimiliki STPDN.

Bagi orang yang sedang sakit parah dan membutuhkan pengobatan intensif, tentu pemadaman adalah bencana. Bagimana tidak? Di Jatinnagor, listrik Puskesmas dan Kantor Kecamatan padam.

Momentum perenungan

Pada zaman sekarang, listrik sudah menjadi bahan bakar nomor dua bagi manusia. Pertama, tentunya masih kebutuhan makan dan minum. Bukan keanehan lagi bila manusia kelimpungan bila tidak ada listrik. Pemadaman bergilir yang marak akhir-akhir ini tentu berpengaruh signifikan terhadap mobilitas manusia.

Pertanyaannya, dapatkah manusia modern hidup tanpa listrik?

Sebagai catatan saja, pemadaman ini bukan hanya dirasakan warga Jatinangor saja melainkan hampir seluruh penduduk Jawa dan Bali. Alasan PLN sih karena beban penggunaan listrik oleh masyrakat tidak mampu dipenuhi oleh Pembangkit-pembangkitnya. Sudah sepuluh tahun terakhir ini tidak ada penambahan kapasitas produksi listrik akibat nihilnya pembangunan pembangkit listrik yang baru. Sementara itu kondisi di lapangan, pemakai listrik setiap tahun selalu bertambah. Akibatnya, tentu saja pasokan listrik dari PLN selalu tidak cukup.

Kekurangan PLN adalah tiadanya insan-insan handal di bidang Hubungan Masyarakat (Humas) yang mampu menjembatani organisasi dan masyarakat sebagai konsumen. Citra PLN saat ini benar-benar jatuh di masyarakat dan bila kondisinya masih tetap sama tentu akan ambruk. Apa susahnya berhubungan dengan masyarakat dan mengkomunikasikan keadaan yang sesungguhnya terjadi ?

Saya sebagai konsumen listrik kadang agak menyesal. Betapa banyak listrik yang kita gunakan dengan sia-sia. Salah satunya untuk bermain game, mendengarkan musik non stop, sampai menghambur-hamburkan lampu penerangan. Padahal bila kita mau menengok ke belakang ketika zaman Babeh Gue, lampu ceplik saja bisa tetap memberikan cahaya kehidupan. Tugas babeh sebagai mahasiswa tidak terganggu sama sekali.

Pemadaman ini bisa dijadikan sentilan bagi kita yang cenderung maunya serba praktis, instan, dan menggampang segala sesuatu. Dulu ketika mudik ke kampong kakek, saya masih mengalami masa-masa perjuangan mendapatkan listrik. Untuk menonton TV di malam hari, saya harus mengayuh sepeda sekitar tiga kilometer untuk menyetrum aki. Saat itu, rasanya saya sangat menghayati acara-acara TV dan karena ketersediaan sumber energi, pemakaian TV pun dibatasi untuk program yang favorit dan dianggap penting saja.

Ini adalah cambuk bagi generasi yang tiba-tiba saja tinggal pencet sana sini untuk mendapatkan segalanya. Perlu proses untuk menikmati sesuatu. Pola pikir dan cara-cara bersosialisasi semoga saja sedikit demi sedikit berubah. Bagaimana komunikasi tatap muka sebagai cara berinteraksi kembali mendapat tempat ketimbang lewat handphone. Bagaimana kita harus merasakan perjuangan membaca di atas lampu ceplik (tempel) sebelum dapat menikmati sorotan lampu-lampu pijar.

Semoga kita dapat lebih menghargai apa yang telah tersedia saat ini!

Munculnya kegiatan insidental

Ketika magrib tiba, banyak sekali yang berkumpul di gerbang dan mengumpat PLN. Kegiatan kongkow semacam ini mungkin merupakan pelarian dari kondisi padamnya listrik. Sayangnya, tidak ada acara yang terkordinir. Bila dikelola dengan baik momentum « listrik padam » dapat mengajak kita menuju cara-cara perenungan yang unik.

Tanpa penerangan, tanpa pemakaian teknologi yang berarti, apakah kita ini sedang terbelenggu?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: