Posted by: bachtiar hakim | July 2, 2008

Kapan-kapan Lulus


LULUS?

Ketika mengisi KRS Semester Pendek di samping Gedung 1 Fikom, saya agak takjub. “Form” Semester di lembaran kontrak kuliah itu harus saya isi dengan angka sebelas. Saya tersenyum kecut karena tak dapat disangkal lagi jumlah semester yang telah ditempuh tsb menembus dua digit. Beberapa anak angkatan 2007 yang duduk di samping saya agak terbengong bengong melihat angkatan yang saya isi. Mungkin, kalo dibandingkan responsnya sama ketika dahulu saya melihat anak-anak angkatan 99 di kampus.

Tampang yang semakin menua memang tidak bisa membohongi. Status angkatan sepuh disematkan secara tak langsung oleh kampus. Tak terasa sudah lima tahun, saya berkutat di kampus yang banyak semakin banyak berubah tersebut. Begitupun otomatis sama dengan lamanya tinggal di Jatinangor. Melihat angka lima saya jadi ingat pesta Pemilihan Umum. itu bisa menertawakan diri sendiri. Bayangkan, saya kuliah di zaman dengan tiga presiden yang berbeda. Dari era Megawati, Pak Beye, sampai entahlah hasilnya 2009 nanti.

Bu Novi, Ketua SBA sampai bosan dan greget melihat wajah saya. “Ihhh, kamu the masih aja ada di kampus, jig buru lulus! Bosen ibu ningalina! ”

Saya balas sindiran itu “hayu atuh bu, bantuin dipermudah biar cepat lulus, jangan dipersulit”

Kalo boleh mengakui, saya agak malu juga bila ditanya kenapa belum lulus? Orangtua sering sekali mennayakan “kapan lulus” setiap kali saya pulang. Begitupun saudara dan kerabat-kerabat. Saya jawab dengan enteng saja “Lha wong belum job training, seminar apalagi skripsi, mana bisa lulus.”

Semua bisa bilang lulus itu kewajiban. Namun mengapa tidak ada dari pihak kampus yang bertanya kepada mahasiswa yang asal lulus cepat “Mengapa lulus cepat-cepat?” Mungkin kalau ada pertanyaan seperti itu, saya agak terhibur juga karena serasa mendapat “keadilan”.

Ironisnya, saya menjadi miris juga mendengar percakapan di internal SBA Fikom. Mereka mempermasalahkan perbandingan antara mahasiswa yang lulus dan yang baru masuk Menurut mereka laju kelulusan mahasiswa Fikom sangatlah rendah. Saya cuma bisa bercanda tanya saja dalam percakapan itu “Suruh siapa memborong mahasiswa baru, bu?”

Sudah tentu membludaknya mahasiswa di Fikom menimbulkan baby boom generasi komunikasi. Kalau semua berfikiran lulus lama seperti saya, bisa dibayangkan betapa sesaknya kampus Fikom Unpad. Begitupun setelah mereka lulus. Cetakan bergelar S.Ikom semakin menumpuk saja di Indonesia. Masalah penyerapan lulusan, seperti itu belum jadi agenda serius bagi kampus.

Mari kita ngomong-ngomong soal kata LULUS. Kalo boleh menelisik kata “lulus” dalam konteks dunia perkuliahan, lulus adalah salah satu tahapan dari proses kuliah. Letaknya memang di akhir tapi jangan samakan lulus sebagai hasil dari kuliah . Lulus kuliah bagi kebanyakan orang awam diartikan selesainya sebuah tahapan hidup dalam mencari ilmu dan saatnya mencari peruntungan di dunia kerja. Lulus bagi orang tua sering diartikan akhir dari usaha mereka membiayai kehidupan anaknya. Bagi saya sendiri lulus kuliah berarti saatnya terjun bebas ke dunia penerapan yang nyata.

Meloncat, masuk ke dalam air, bertahan di dalamnya dengan mental dan fisik yang kita punyai, dan bukan sekedar belajar berenang lagi. Bagi yang tidak bisa berenang, saya bisa bilang hasil lulus kuliahnya belum bisa dipertanggungjawabkan. “Aduh.. mungkin perbandingan lulus dan berenang tidak nyambung”. Maksud saya sih lulus tidak bisa dipandang secara akademis saja. Lebih dari itu mahasiswa harus mencapai pada tahapan intelektual, cara berfikir, emosi tertentu yang sesuai dengan usia dan tuntutan zamannya.

Paradigma orang tentang Lulusan S1 berubah tiap zaman. Bapak saya bercerita dulu di zamannya beliau (1980-an), orang yang lulus S1 banyak dicari orang. Dicari untuk dipekerjakan di perusahaan maupun dicari-cari tante-tante untuk dijadikan calon suami/istri yang membanggakan bagi anak-anaknya di hari depan. Sampai akhir tahun 80-an lulusan S1 menjadi semacam status ekslusif.

Kalo dibandingkan dengan sekarang tentu jauh berbeda. Kini, lulusan S1 mungkin dipandang sebelah mata saja. Melihat banyaknya orang yang dengan gampangnya meraih title S ini S itu, citra lulusan S1 mengalami penurunan. Belum lagi berita-berita mengenai Sarjana S1 yang sering menghiasi pemberitaan di koran-koran semakin menstigmakan S1 sebagai Sampah no. 1 (terbaik).

Dengan kenyataan seperti itulah, saya harus melewati tahap LULUS ini. Pertanyaannya “Kapan Lulus, mas?


Responses

  1. ga usah sedih gitu x,,, emang d pikir2 mah pzt strez kalo blm luluz2,,, mending kalo jurusan kita tehknik,,, secara kita cuma anak fikom yang malas sehingga telat luluz,,, sama z x,,, kadang gw jg stez ngisi KRS di deket gedung 4 fikom unpad jatinangor,,,

    lu pernah diajar ma pa pramono ga,,, dosen psikom,,, dia bilang kita itu sebagau manusia harus strez biar bisa termotivasi,,, hahaha,,, lebih baik kita yang telat luluz x dibanding anak2 yang luluz duluan tp skill nya mah mana tau,,,

    hahahaha,,, tenang masih ada gw,,

  2. waduh… makin lama aja kayaknya sayah lulus. tadi saiah seminar di-resign ma jurusan gara-gara belon ngambil kapsel… sebbeeeelll!!!

  3. luluz kn cma sbuah kta yang bisa buat smua hal indah,,,,
    Tapi kta LULUS juga tdk bisa qta anggp enteng
    bwt aq saat ini LULUS adlh kta yang sangat q impikn..
    dan aq akn berusaha bwt dpetn kata2 LULUS…
    dngan harapan dan doa,.,
    dengan semangat..
    yang selalu kau sematkan di stiap hari2q..

    wez lah.,kta2 sok puitisq wez entek..
    poko’e qt kudu oleh kata LULUS titik…

    mUcH lOuPhE 4 u.,bEiBh..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: