Posted by: bachtiar hakim | July 7, 2008

Hormat Saya Buat Korps Bapak!!


Ternyata, sejengkel-jengkelnya saya sama polisi, hati saya akhirnya luluh juga. Memang, selama ini penampakkan polisi yang saya lihat tak lain berwujud bopeng. Bayangkan saja kalau dalam satu hari saya menghabiskan waktu empat jam di jalan raya. Sudah berapa polisi yang dijumpai. Sayangnya, dari sebagian besar yang nampak oleh saya hanyalah aksi-aksi tilang-menilang.

Pandangan saya sempat berubah 360 derajat ketika menemui seorang polisi bernama Syaifuddin di Polres Sumedang. Kejadiannya diceritakan sebagai berikut. Waktu itu saya dan Cakri, teman saya sedang dalam perjalanan pulang dari Kuningan menuju ke Jatinangor menggunakan sepeda motor Honda Kirana . Kebetulan, uang yang masih nyangkut kantong sejak awal perjalanan tinggal 11 ribu rupiah.

Kalau boleh dibilang nekad… yach… nekad… masalahnya jarak dari Kuningan menuju Jatinangor sekitar 120 kilometer. Dengan sisa uang sebelas ribu tentunya hanya mampu untuk mengisi tangki tidak sampai dua liter. Dengan hitung-hitungan super irit saja, motor saya perbandingannya 1 liter : 60 km. Sayang sekali, perhitungan itu tidak akan masuk logika jika menelusuri trek Kuningan – Jatinangor yang naik-turun dan berliku-liku.

Bencana yang dikhawatirkan itu pun akhirnya datang. Ketika kami sampai di Kota Sumedang, jarum penunjuk bensin sudah mentok ke hurup “E” alias Empty. Karena duit saya cuma seribu perak, mau gimana lagi? Terpaksa saya harus mengorbankan barang untuk dijual atau digadaikan. Malah, saya kepikiran untuk menjadi tukang ojek dadakan gara-gara melihat ibu-ibu berjalan sebdiri.

Tapi saya ingat pesan bapak saya bahwa kalau mengalami kesulitan uang datang saja ke kantor polisi untuk meminjam uang dengan jaminan Kartu identitas. Waduh… karena menjadi tukang ojek dadakan urung dilakukan, saya akhirnya memberanikan diri ke kantor polisi. Di depan Pos Jaga Polres Sumedang yang lumayan ramai. cakri turun duluan dan saya tidak mengerti entah mengapa ia membawa bungkusan makanan yang diberikan saudara saya di pesawahan, Kuningan.

Gokiiilll… Setelah bacot-bacot gak jelas, ternyata Cakri mau menukarkan nasi bungkus itu kepada polisi berperawakan gagah yang sedang bertugas di depan pos jaga. Saya hanya kaget saja ketika mendengar percakapan mereka :

Cakri : “Pak, mau minta tolong”

Pak polisi : “Ada apa de?”

Cakri & Bach : ” saya mau pulang ke daerah Jatinangor, tapi bensin saya habis, saya bisa pinjem duit ga pak?”

Pak Polisi : “Wah, saya gak punya dek”

Bach : ” Lima ribuuuu aja pak, buat beli bensin aja biar nyampe Jatinnagor, toloong pak..”
pak Polisi : ” ohh… kalo segitu sih saya ada, dikirain mau pinjem duit banyak”

Sembari merogoh dompet dan mencari pecahan uang kertas lima ribuan, cakri datang menghampiri polisi dan menyodorkan bungkusan makanan kepada pak polisi.

Cakri : “Ini pak, makanannya buat bapak aja”

Pak polisi tidak menemukan uang kertas pecahan lima ribu rupiah lantas ia menyodorkan pecahan uang berwarna merah yang tak lain bernominal sepuluh ribu rupiah.

Pak Polisi : “ini de, ambil aja! saya nggak ada uang lima ribuan”

Melihat uang kertas berwarna merah itu, kami saling berpandangan kebingungan. Untungnya Cakri mengambil inisiatif untuk mengambil itu walau masih didahului oleh omongan-omongan bullshit.

Cakri : “Gak kelebihan nih, Pak?

Sambil tersenyum penuh antusias, pak polisi menganggukkan kepala

pak Polisi : ” Udah, ambil aja, hati-hati di jalan yach, semoga sukses!!”

Akhirnya kita pulang dengan kantong terisi lagi setidaknya untuk memberi makan motor tuaku agar dapat melaju sampai Jatinnagor.

Selama perjalanan pulang melewati perbatasan Kota Sumedang, Saya sering berfikir bahwa tidak semua polisi itu busuk. Malah karena terlalu sering memeikirkannya, saya sempat mengulang-ulang pernyataan polisi itu baik… polisi itu baik…

Dari situ saya mulai lebih objektif untuk menilai moralitas polisi… saya juga mulai memasukkan unsur perasaan daripada sekadar pandangan mata yang seringkali salah persepsi.

“saya berikan hormat buat korps bapak (dan ibu) polisi tentunya dan semoga mentalitas polisi di hari depan menjadi lebih menampakkan banyak sisi cerahnya”

Meskipun sudah telat, saya ingin mengucapkan “SELAMAT HARI BHAYANGKARA ke-62”

SELAMAT BERTUGAS


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: