Posted by: bachtiar hakim | July 25, 2008

BBM Naik dan “Oknum” Mahasiswa


Antrian Terpanjang di SPBU Jatinangor

Antrian Terpanjang di SPBU Jatinangor

BBM Naik dan “Oknum” Mahasiswa

Entah kenapa? Dalam sebulan ini saya merasa kehidupan di Jatinangor berubah dengan drastis. Banyak aspek yang berubah baik itu yang kasat mata maupun yang tidak. Tentu yang paling mudah dirasakan adalah kenaikan harga makanan dan ongkos angkutan umum termasuk ojek naik. Yang tidak kasat mata adalah sikap mahasiswa yang menurut saya makin kurang ajar dan apatis (semoga ini perasaan saya saja).

Saya ingat ketika itu hari Jumat (23/05) Saya berangkat ke Bandung menggunakan sepeda motor dan rencananya pada malam hari akan berangkat ke Pantai Sambolo, Banten untuk mengikuti acara Malam Keakraban (Makar) Jurnalistik Unpad. Kebetulan bensin motor “blacky” saya sangat pas-pasan. Pikir saya daripada mengisi bensin di Bandung dengan resiko mogok di jalan , lebih baik di Jatinangor saja.

Dan menataplah si Blacky ke Pom bensin. Belum juga berbelok laju si Blacky tertahan di luar area SPBU. Alangkah kagetnya saya melihat pemandangan yang langka di SPBU Jatinangor (samping Puri Khatulistiwa). Beberapa jam menjelang pengumuman kenaikan harga BBM, puluhan pengguna kendaraan bermotor sudah berjejer.

Jujur saja, baru kali ini saat melihat antrean sepanjang itu di SPBU Jatinangor. “Woww,” padahal jam di Handphone saya masih menunjukkan pukul empat sore sedangkan pengumumannya sekitar pukul sembilan malam nanti.

Saya hanya bisa legowo saja. Menatapi satu persatu kendaraan sembari memperkirakan kapan saya akan dapat giliran pengisian.

Wah, ternyata sudah setengah jam dan saya belum sampai juga ke tempat pengisian. Pantas saja motor saya tidak maju-maju. Setelah diperhatikan, ternyata banyak “oknum” yang menyalip antrian panjang.

Oknum Mahasiswa

Coba perhatikan ada "oknum" menyebalkan yang menyalip antrian
Coba perhatikan ada “oknum” menyebalkan yang menyalip antrian

“Kok bisa, beberapa pengendara motor menerobos antrian?” tanya saya dalam hati.

Wah… Ternyata kejadiannya serupa dengan pemandangan yang sering saya saksikan di Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Pelakunya juga bukan tukang ojek ataupun warga kampung sini (wakamsi) tetapi mahasiswa. Saya beryakinan bahwa mereka berstatus mahasiswa setelah melihat penampilan dan gaya bicaranya yang menggunakan bahasa Indonesia gaul.

(Maaf) bila saya salah menduga. Mungkin anda juga bisa dengan mudah membandingkan penampilan dan tingkah polah mahasiswa dan pemuda kampung sini (pakamsi).

“Cerdik juga cara mereka”, pikir saya.

Mahasiswa yang posisinya masih di belakang kebetulan melihat temannya sudah mengantri di depan. Entah apa yang ada di pikirannya lalu mereka langsung merangsek ke samping temannya itu. Kemudian mereka terlihat melakukan speak-speak, cengengesan, sampai tiba-tiba sudah diberi ruang kosong di belakang rekannya itu. Berbeda dengan kejadian di ATM, “Oknum” mahasiswa – saya sebut oknum karena mahasiswa seharusnya tidak melakukan perbuatan licik itu – pada antrian SPBU itu laki-laki.

Yah, ini mah udah nepotisme kecil-kecilan di kampus”

Saya cukup menyesalkan perbuatan mahasiswa yang memalukan itu dilakukan di ruang-ruang publik, tempat yang seharusnya menjadi lahan subur untuk mempraktekan ilmu dan pola pikirnya. Semoga yang kecewa bukan hanya saya saja. Anda bisa membayangkan perasaan yang timbul bila dicurangi seperti ini.

Kadang-kadang, bila ada nyali (biasanya sih nyali ini tiba-tiba membesar kalau melihat ada mahasiswi yang mengeluhkan perbuatan oknum mahasiswa tersebut. Ingin rasanya membantu menyuarakannya. Sok jadi “pahlawan” gitu hehe… ) ingin rasanya menegur oknum itu.

“Maaf… yang dibelakang udah ngantri dari tadi,” tegur saya yang biasanya (hampir pasti) diikuti oleh teguran susulan dari mahasiswa lain yang mengeluh.

Umpan balik dari oknum itu biasanya menoleh dan berfikir sejenak. Kebanyakan sih menindaklanjuti dengan beranjak dari tempat rekannya. Itu pun karena rekannya yang sudah mengantri menasehatinya untuk berpindah ke belakang.

Bila tidak sempat menegur dengan kata-kata halus biasanya saya hanya berdehem. Nah, kalau deheman biasanya hanya ditanggapi dengan tolehan saja. Saya berasumsi bahwa perbuatan itu melibatkan kesadaran mereka. Mereka sebenarnya ngeh kalau di belakang ada yang mengeluhkan.

Nah, bila terguran halus tidak ditanggapi, ingin rasanya saya menegur mereka dengan cacian “Cantik-cantik kelakuan bajingan. Nyalip bukannya nutup muka malah cengengesan gak jelas. Gak punya kemaluan.” Namun, hal itu belum pernah saya lakukan karena saya tidak punya cukup nyali.

Berbeda dengan kejadian rutin di ATM, pada kejadian di SPBU, saya spontan berteriak “bangsat, ngantri dong!”. Sepertinya rasa kesal bercampur baur dengan suasana yang makin riuh.. Untungnya seorang bapak di depan saya ikut membantu. Dengan jari telunjuknya, ia lebih berani mencaci maki oknum mahasiswa tersebut.

“Mahasiswa teu boga konxxx,” tegur bapak itu.

Saya hanya bisa tertawa saja melihat ekspresi oknum mahasiswa yang dicaci maki itu.

———————————————————————

Fenomena ini bisa juga digunakan untuk materi Iklan Layanan Masyarakat dalam Lomba Kampanye Anti Korupsi yang setiap tahun diadakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tertarik?

Apakah perilaku mahasiswa sudah sedemikian buruknya? komentarnya dong!


Responses

  1. Yah, mungkin generasi orang tuanya yang sudah lebih ‘liberal’ lagi, wallahualam…
    Oya, Kang kalo ada rencana kegiatan dicantumin juga dung,,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: