Posted by: bachtiar hakim | July 26, 2008

Pedih dan Kapar


Pedih dan Kapar
Pedih dan Kapar

Pedih dan Kapar

(bukan Padi dan Kapas)

Sejujurnya, siapa yang mau merasakan pedih dan kapar?

Dua minggu terakhir ini saya merasakan kedua hal tersebut. Pedih karena tidak bisa melakukan kegiatan yang seharusnya dan biasanya saya lakukan.  Bayangkan! Untuk mengurus kepentingan pribadi saja sulit. Pedih! Empat hari hanya termangu dalam pesakitan. Saya benar-benar tidak berkutik di kostan. Terbaring lesu mulai pagi hari dengan suhu tubuh yang normal namun terjangkiti gejala super lemas.  Maklum saja bila ingin menyapu lantai saja kesulitan.

Hal yang paling ditunggu adalah sore hari dimana peruntungan saya diuji. Entah mengapa setiap sore hingga malam, suhu tubuh saya selalu naik hingga mencapai tiga puluh sembilan derajat celcius. Sayangnya, penantian keberuntungan ini seperti tak berakhir. Pagi suhunya normal namun  sore naik dan begitulah terus berulang-ulang seakan tiada akhir.

Keroposlah keperkasaan ini saat  teman-teman  saya datang menjenguk ke kostan dan membawakan makanan serta buah-buahan. Semakin senja, saya makin menyadari posisi ini sedang berada “di bawah”.  Namun, masih saja saja saya mengurungkan niat untuk memberitahu orangtua dan sanak saudara terdekat. Saya khawatir apabila memberitahu keluarga bakal membuat suasana menjadi runyam. Apalagi ibu baru menjalani operasi rahim dan lala, adik bungsu saya (6 tahun) terjangkit penyakit campak. Selama ini ibu-lah yang paling terguncang psikisnya bila mendengar anaknya ini jatuh sakit dalam perantauannya.

Dalam kondisi  tersebut, pikiran dan raga ini semakin tidak berdaya ketika menghadapi pemadaman listrik  bergilir di Jatinangor (13/07). Entah mengapa kekhawatiran saya memuncak. Apalagi mulai pagi hingga menjelang malam listrik tetap saja padam. Handphone saya telah  habis baterainya sejak siang. Penerangan menjelang malam pun hanya lilin seadanya. Teman yang biasanya menjenguk sepertinya sibuk bakal menghadapi “malam seribu lilin”.  Mereka tidaklah salah.

Tentu tak ada pilihan selain menghubungi paman saya. Kebetulan domisili dia  paling dekat dan profesinya pun dokter. Dalam pilihan tersebut, hal utama yang ingin saya tekankan adalah membungkam mulut paman tentang sakit saya ini. Pokoknya orang tua saya tidak boleh tahu. Saya juga berfikir bahwa usaha yang harus dilakukan adalah mengontak paman. Setelah mondar-mandir mencari pinjaman  handphone, saya pun berhasil menghubunginya. Namun, percuma saja. malam itu dia ada keperluan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.

Listrik memang kembali mengalir. Namun sendi-sendi kegiatan manusia itu tak berarti ketika malam hari. Saya tetap saja mengalami malam seperti yang sudah-sudah. Kembali panas dan mengigau. Dengan kondisi itu, saya memetuskan untuk langsung tidur sembari menunggu janji paman yang akan memeriksa saya di pagi hari. Seperti biasa saya dinaungi  selimut tebal yang diharapkan dapat memberikan kehangatan. Beruntung, saya bisa tidur pulas malam itu meski harus bolak-balik ke kamar mandi untuk menyetor air seni.

Pagi hari menyongsong. Keringat dingin mengucur deras di balik selimutku. Suhu tubuh saya kembali normal. Senangnya, saat paman mengetuk pintu. Segenap harapan berkumpul di benak saya.Apalagi ia akan mengantar saya untuk tes darah di laboratorium Klinik Padjadjaran. Khawatir akan terjadi hal yang tidak diduga saya mengikuti sarannya untuk membawa beberapa setel pakaian dan alat komunikasi.

Lagi-lagi tipes. Saya cukup kesal ketika melihat hasil test darah yang menunjukkan widal positif. “Pasti saya bakal dirawat, diinfus, disuntik,” pikir saya.

antara tertawa dan terkapar

antara tertawa dan terkapar

Saya pun dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) atas rekomendasi dokter. Benar saja bahwa hasil tes lanjutan  membawa saya pada kondisi harus dirawat inap di klinik hingga sembuh. Perasaan ini agak bimbang. Pada satu sisi, saya senang karena sudah jenuh dengan suasana kostan. Namun, tetap saja saya bingung karena harus menanggun biaya yang pasti membengkak.

Untungnya rawat inap di Klinik Padjadjaran masih terjangkau oleh kocek mahasiswa. Bayangkan, satu hari hanya menghabiskan lima puluh ribu rupiah saja untuk membayar sewa kamar. Fasilitasnya pun  tidak mengecewakan. Itulah yan membauat saya sedikit tersenyum karena serasa dirawat di kelas I. Sendiri, ada TV, sofa, pokoknya tidak mengecewakan lah!

Akhirnya mendekamlah saya selama enam hari di sana. Banyak suka duka yang saya dapatkan. Mungkin dirawat inap boleh sama saja mengundang semut untuk dating. Alhamdulillah, saya memiliki banyak teman yang peduli pada penderitaan ini. Namun, percuma saja bingkisan yang diberikan tidak bias saya nikmati. Tentunya dengan kehadiran mereka saja saya sudah cukup senang.

Melawan Pedih dan Kapar

Persetan dengan kritik siapapun, manusia itu salah satu sifat kodratinya adalah ingin meraih kesenangan duniawi. “Hedonisme” atau apapun istilahnya memang pilihan yang  bermuka dua dalam diri manusia .  Ada yang memandangnya sebagai tujuan dan adapun yang memandangnya sebagai metode.

Ingin berbahagia, tidak ingin susah mungkin adalah pakem pertama dari kesenangan sebagai tujuan.  Prosesnya mungkin tidak linear seperti yang dibayangkan. Peribahasa “hidup itu seperti roda” mungkin paling relevan untuk menggambarkannya. Tetap saja     Boleh dibilang saya pun termasuk golongan ini.

Sekalipun pedih harus tetap dilawan dengan perasaan optimistic. Saya anggap saja ini cobaan bagi saya yang ada hikmahnya. Belakangan ini saya memang terlalu menghambur-hamburkan banyak tenaga untuk jalan-jalan saja. Seharusnya saya lebih bias mengukur kemampuan tubuh ini. Ada baiknya mendengarkan kata-kata orangtua bahwa kita harus lebih banyak memikiran apa konsekuensi dari perbuatan kita.

“Kapar”  asal kata dari “terkapar” menunjukkan sebuah keadaan tidak berdaya dari seorang manusia. Entah apapun bentuknya, manusia pasti akan merasakan posisi di bawah. Saatnya saya menerima kodrat ini karena “jatuh” sejatinya satu paket dengan berdiri. Artinya bila masih diberi kesempatan hidup, senang sejatinya akan saya alami lagi di kemudian hari. Lalu jangan lupa bagaimana  saya harus waspada terhadap keadaan jatuh lagi.

Yach, begitulah hidup. Ada “padi dan kapas” dan “pedih dan kapar”. Sejahtera dan “Melarat”

sehabis sakit langsung "buang sial" di gunung puyuh, sumedang... hahaha

sehabis sakit langsung "buang sial" di gunung puyuh, sumedang... hahaha


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: