Posted by: bachtiar hakim | August 2, 2008

Gunung Ciremai (3076 mdpl) : Gugusan Akar Berantai (Part 1)


Gunung Ciremai (3076 mdpl) : Gugusan Akar Berantai (Part 1)

Kuningan, 21 Juni 2008

Gunung Ciremai telah lama menjadi ikon Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Hingga kini statusnya masih aktif bertipe strato. Dengan ketinggian 3078 mdpl, Ciremai yang berbentuk kerucut ini terpisah dari gunung-gunung tinggi lainnya. Keunikannya, Ciremai, sama halnya dengan Gunung Slamet merupakan dua gunung di atas 3000 mdpl yang dapat (kalau cuaca bagus) menyuguhkan pemandangan Laut Jawa. Dari pelabuhan Cirebon saja, gunung ini dapat terlihat dengan jelas. Sayangnya, dari Jatinangor tidak terlihat (lagian mana mungkin?)

Nah, untuk membuktikan fakta-fakta tersebut, berangkatlah saya ke Gunung Ciremai. Namun, perjalanan kali ini terlampau nekat. Bermodalkan uang lima puluh ribu rupiah saya berangkat dengan Cakri, rekan yang sama awamnya. Benar-benar duit di kantong dan ATM sudah bokek setelah mendaki Gunung Lawu dan belanja jor-joran di kota Solo. Sebagai catatan, di antara kami belum pernah ada yang mendaki gunung tertinggi di Jawa Barat tsb. Sangat disayangkan memang, beberapa rekan yang pernah ke Ciremai tiba-tiba mengurungkan niat untuk ikut pendakian dengan alasan sibuk.

Dalam kondisi ketidaktahuan itu, saya berharap agar setibanya di Pos lapor pendakian, kami bisa bertemu dan bergabung dengan rombongan lain. Syukur-syukur bisa berbagi makanan karena memang duit kami sudah cekak. Peralatan yang kami bawa sangatlah minim. Saya bahkan hanya membawa daypack berisikan matras, sleeping bag, termos, sarung tangan, kupluk, dan perbekalan seadanya saja. Sudah diprediksi sejak awal bahwa kami akan kekurangan pangan alias kelaparan (hahaha).

Untuk mengirit biaya perjalanan, saya memutuskan untuk menggunakan sepeda motor ke daerah Kuningan. Kalau dihitung pengeluaran untuk bensin memang menggunakan motor sangatlah irit dibandingkan angkutan bus. Namun bagi pendaki gunung non-stop (naik turun tanpa nge-camp) seperti saya dapat diramalkan bahwa stamina pasti akan terkuras sebelum naik.

17.30 Jatinangor (Sumedang) – Linggarjati (Kuningan)

Kami berangkat dari Jatinangor menjelang magrib. Saya bersyukur Cakri dapat hutangan uang seratus ribu rupiah. Tentu, bila digabungkan dengan uang saya, kami dapat mengisi perut lebih lama. Optimis saja meskipun tahu sebenarnya uang seratus lima puluh ribu pun tidak akan cukup untuk kembali ke Jatinnagor. Main ke saudara saya tentunya menjadi agenda besar setelah muncak ke Ciremai. Berharaplah saya akan kemurahan hatinya. Kebetulan dia tinggal di daerah Pasawahan, sekitar kaki gunung Ciremai.

Breeeng… Gas ditancap. Kami melesat meninggalkan Jatinangor menuju arah timur. Menjelang Tanjung Sari, tangki motor diisi dua liter bensin (Rp12.000) dengan harapan cukup sampai Linggarjati. Unfortunately, baru saja menuruni jalur ”tengkorak” Cadas Pangeran, kami sudah mendapat sedikit masalah. Lampu sorot motor saya ternyata mati. Tanpa berfikir panjang, bengkel terdekat langsung dicari. Untungnya masih ada bengkel yang buka pas magrib dan lampu pun diganti.

Sorotan lampu setidaknya membuat perjalanan malam kami yang berjarak tempuh sekitar seratus dua puluh kilometer (+/- 120 km) tsb aman. Habis menikmati gemerlap Kota Sumedang giliran kami disuguhi gelapnya hutan jati yang terbentang mulai dari Kecamatan Paseh hingga Tomo. Tak terasa dalam satu jam, kami sudah memasuki perbatasan Sumedang-Majalengka. Tepatnya di daerah Kadipaten, Kab. Majalengka terdapat percabangan yang arahnya menuju Cirebon dan Kota Majalengka. Bila hendak menuju Kuningan, kita tinggal memilih arah kanan.

Kualitas jalan sangatlah buruk apalagi mau tak mau perjalanan kami harus melewati lampu-lampu terang di tengah keramaian kota Majalengka. Tiada yang unik dari kota Majalengka kecuali pohon mangga yang wajib ditanam di tiap pekarangan rumah. Sebagai kota kecil, Majalengka nampaknya bebas dari kemacetan. Sayangnya, lancarnya perjalanan lagi-lagi terhambat oleh ban motor saya yang bocor.

Susah sekali mencari tempat tambal ban yang buka di malam hari. Sambil mencari tukang tambal ban, saya dan Cakri menyantap sajian Nasi Lengko dan Empal Gentong khas Cirebon di sebuah kedai. Begitulah perjalanan kami molor hingga satu jam. Setelah peluh keringat mendorong motor menuju alun-alun yang ramai, kira-kira sekitar pukul delapan, saya baru menemukan kios tambal ban.

Ditambah urusan menambal ban, perjalanan kian ”ngaret”. Kami baru tancap gas kembali pukul setengah sembilan. Berbekal pengetahuan tentang jalan alternatif dari tukang tambal ban, pada persimpangan terakhir di Kota Majalengka kami tidak memilih arah Kuningan kota melainkan arah menuju Sumber, Kab. Cirebon. Berbelok ke arah kota Kuningan sama saja memutari gunung Ciremai sekaligus menggandakan waktu tempuhnya . Tak ada cara tercepat selain potong kompas menuju Sumber, ibu kota kabupaten Cirebon tersebut.

Meski banyak rumah, entah mengapa jalan jadi begitu sepi dan gelap gulita. Sepertinya daerah yang dilewati tersebut sedang terkena pemadaman bergilir PLN. Di tengah kegelapan itu, ada hikmahnya juga jarum pengukur tangki bensin saya condong ke huruf E alias ”Empty”. Saya jadi khawatir bensin habis di tengah perjalanan. Lagi-lagi beruntung, tidak jauh dari buramnya persimpangan yang memecah Majalengka-Cirebon-Sumber-dan Telaga Remis terdapat SPBU yang terang benderang. Saya mengisi lagi satu setengah liter (Rp 10.000). Lebih dari sekedar terisi dan menemukan cahaya, petugas SPBU juga memberitahu jalan pintas menuju Linggarjati lewat Cisaat.

Sudah lewat pukul sembilan. Saya merasa dikejar-kejar oleh waktu. Meski jalan tidak terlalu mulus, motor dilarikan dengan kecepatan konstan di atas 70 kilometer per jam. Ketika sedang ngebut-ngebutnya dan menyalip sebuah truk yang berhenti, saya dikejutkan oleh jalan yang terputus .dan Ciiitt… tuas rem diinjak sekeras-kerasnya. Saya ternyata berhadapan dengan jembatan yang ambruk.

Adalah warga yang berinisatif menyambungkan jalan tersebut menggunakan bilah-bilah kayu sehingga kami dapat menyebrangi jembatan nahas itu. . Aneh, menurut saya jalan antar kota kok bisa-bisanya luput dari pengawasan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Untungnya, kami tidak terperosok.

Tidak jauh dari jembatan nahas itu, kami menjumpai persimpangan antara arah Sumber dan Mandirancan. Sesuai petunjuk petugas SPBU tadi kami disarankan menghindari arah sumber dan berbelok ke kanan untuk memotong kompas. Benar saja, desa Cisaat yang agak ramai pun dilewati. Mungkin di desa itulah terakhir kalinya kami melihat lampu. Selepas Cisaat, jalan mendadak sepi. Kanan kiri saya hanya ladang, kebun, dan hutan. ”Ini Toang-toang dan kata teman dari Cirebon, toang itu sarangnya begal,” pikir saya dengan perasaan takut bila ada rampok (begal) menghadang.

Sepanjang kurang lebih tujuh kilometer benar saja tiada rumah dan tanda-tanda kehidupan Bahkan, tidak satu kendaraan pun yang kami temui. Hanya kaca spion saja yang terpantul oleh cahaya sebesar pentul jarum dari lampu sorot motor. Itupun jaraknya jauh sekali di belakang saya. Namun, anehnya makin lama cahaya motor itu makin dekat dan mendekat. Sejak itulah rasa parno (Paranoid) saya pada rampok muncul. Sebisa mungkin, motor dilarikan tunggang langgang dengan kecepatan mencapai seratus kilometer per jam. Sialnya, motor di belakang juga tak mau kalau cepat. Saya dan Cakri benar-benar panik waktu motor trb hendak menyalip. Pastinya, saya makin tancap gas lagi.

Huahhh… di depan nampaknya sebuah perkampungan sudah menunggu. Layaknya balap motor, saya sampai menganggap rumah pertama dari kampung itu sebagai. garis Finish. Dan Yeaahhh…. rumah pertama berhasil terlewati. Akhirnya saya bisa menghela nafas dan mengendurkan gas. Entah mengapa ketika suasana jalan makin ramai, motor di belakang saya sudah tidak ada lagi.

Huff, lega,” hati saya berbisik.

Samar-samar dari kejauhan terlihat sosok hewan Macan berukuran raksasa. Tapi itu bukan macan betulan lho… Patung Macan yang terletak di tengah-tengah persimpangan antara Cisaat, Pasawahan, dan Sumber, memang sejak lama dikenal sebagai petanda daerah Mandirancan, Kab. Kuningan. Katanya sih di daerah itu dulunya memang banyak macan berkeliaran.

Yessss! Berarti Linggarjati sudah sangat dekat.

Kondisi jalan kembali mulus dan lebar. Meski menggunakan jaket dobel tetap saja penurunan suhu dari Mandirancan menuju Linggarjati kian terasa. Kini, saya tak takut lagi melewati hutan jati selepas Mandirancan. Saya terlampau asyik mengobrol dengan Cakri tentang sejarah daerah Linggarjati. Dalam buku-buku sejarah, Linggarjati memang sangat fenomenal sebagai tempat perjanjian antara pihak Indonesia dan Belanda. Naskah asli perjanjian itupun masih tersimpan rapi di Gedung Naskah yang bertempat di daerah kaki gunung Ciremai ini.

Memasuki daerah keramaian berkelok-kelok, kami masih ragu apakah ini sudah daerah Linggarjati. Langsung saja Cakri bertanya kepada pejalan kaki tentang Pos pendakian Ciremai. Ternyata dugaan saya benar, Pos sudah tidak jauh dari jalan raya Linggarjati – Jalaksana.

22.00 Pos Pelaporan Linggarjati

Kondisi jalan menuju Pos Linggarjati serupa dengan jalan perumahan. Jalan bernama Ciremai itu terus saja menanjak dan di situlah Pos pendakian Linggarjati berada Jaraknya kira-kira hanya tiga ratus meter dari jalan raya.

Mungkin karena malam semakin larut, suara motor kami mengundang sorot mata penghuni Pos. Dari ruangan teras bilik beralaskan tanah itu, seorang pemuda menyambut kedatangan kami. Tanpa menggunakan seragam jaga, ia menuntun saya untuk memarkir motor. Pekarangannya agak sempit sehingga motor terpaksa diparkir dalam posisi serba tanggung.

Dengan ketinggian 600 mdpl pantas saja udara dingin merasuk tubuh dengan telak saat membuka helm dan jaket. Tanpa basa-basi kami langsung masuk untuk mendaftarkan diri. Pos Linggarjati memang menjadi tempat wajib lapor bagi setiap pendaki yang hendak memuncaki Ciremai.

Proses pendaftarannya sebenarnya tidak susah. Pendaki cukup menyertakan fotokopi KTP atau identitas lain yang masih berlaku serta mengisi buku tamu. Lalu, pengunjung tinggal membayar uang tujuh ribu rupiah per orang sesuai yang tertera pada karcis Perum Perhutani.

Sehabis melengkapi semua persyaratan, Kang Andri, penjaga pos menanyakan waktu keberangkatan kami. Jujur saja, agak bingung menjawabnya. Saya balik menanyakan apakah ada pendaki lain yang akan naik malam ini.

”Ada dari Universitas Tirtayasa Banten mereka bentar lagi mau naik,” jawab pemuda asli Linggarjati ini.

Jawabannya benar-benar memuaskan saya. Nampaknya bakal ada rombongan yang menemani perjalanan dua orang awam Ciremai ini. Sambil menunggu datangnya rombongan tersebut, kami keluar untuk berjalan-jalan sejenak mengamati keadaan sekeliling pos tersebut.

Lama-lama udara dingin membuat rasa kantuk hinggap. Parahnya setelah menempuh perjalanan panjang, badan saya mulai terasa pegal-pegal. Saya ingin sekali beristirahat. Untungnya, tepat di sebelah pos terdapat warung yang menyediakan logistik maupun cinderamata berlabel gunung Ciremai bagi pendaki. Sebenarnya bila hendak bermalam, di belakang bangunan Pos terdapat juga rest area beratapkan genteng.

Hanya dua gelas kopi yang dipesan untuk memecut mata. Maklum saja kami tidak ada anggaran lagi untuk membeli makanan pedas nan menggairahkan. Uang Cakri sudah habis untuk membeli logistik di Jatinangor dan bensin. Yang tersisa tinggal lima puluh ribu di kantong saya. Itupun masih harus membeli empat botol air minum dalam kemasan 1,5 liter (total 9 liter).

Penjaga pos memberitahu bahwa mata air terakhir terdapat di Cibunar (Pos I). Kami hanya geleng-geleng kepala saat membayangkan harus puasa air di jalan. Tidak salah bila ia menyarankan tiap satu orang untuk membawa sepuluh liter air. Tapi bagaimana lagi, uang yang kami miliki hanya cukup membeli kurang dari sepuluh liter air. Itupun harus dibagi dua lagi. Untungnya botol-botol kosong bisa dimanfaatkan untuk diisi di Cibunar. Dari tambahan tersebut diperkirakan setiap kepala mendapat jatah air enam liter.

Persinggahan kami di warung itu, hanya sebentar saja. Belasan orang dengan slayer berwarna orange dan pakaian pendaki datang memenuhi Pos. Rupanya itu rombongan dari Banten yang kami tunggu sejak tadi. Saya langsung menghampiri dengan maksud berkenalan. Perbincangan hangat pun terjadi dengan beberapa anggota.

”Sial,” kataku dalam hati. Obrolan asik dengan salah satu anggota rombongan terputus saat pimpinan mereka mengisyaratkan untuk segera berangkat. Tak ayal saya langsung berbicara dengan pimpinannya seraya mengutarakan keinginan untuk bergabung. Pimpinannya mengisyaratkan tanda setuju. Lantas saya bertukar pikiran dengannya masalah rencana perjalanan.

Apes lagi,” gerutu saya. Rupanya jadwal kami tidak sama. Malam ini mereka tidak berniat untuk melakukan perjalanan pulang-pergi seperti yang saya dan Cakri rencanakan. Sebelumnya, mereka sudah sepakat untuk nge-camp di Cibunar dan melanjutkan perjalanan esok paginya.

Akhirnya kami mengurungkan niat untuk bergabung. Perasaan frustasi pun timbul. Sepertinya kami telah gagal mendaki Ciremai saja. Bagaimana tidak? Di malam ini yang kami butuhkan hanyalah seorang penunjuk jalan dan sayangnya itu tidak berhasil didapatkan. Lebih stres lagi kalau melihat sisa uang kami. Setelah membeli air dan cinderamata, uang kami tinggal dua puluh ribu rupiah. Itupun untuk berdua.

Hendak pulang kembali sungkan tetapi mau naik sangat khawatir tersesat. Kami tertahan sekitar satu jam hanya karena sulit mengambil keputusan. Melihat kebingungan kami, Kang Andri sebenarnya sudah menyarankan untuk memulai pendakian di pagi hari. Menurutnya banyak percabangan akar yang kadang bisa menyesatkan. Tapi masalah pengalaman dan kesiapan mental lah alasan yang paling saya dengarkan darinya. Meski awam bila pengalaman dan mental sudah kuat, pasti akan bisa melaju. Soalnya terkadang ada gangguan tak terduga yang kasat maupun tak kasat mata.

Tapi dipikir lagi ada kendalanya serius untuk naik pagi. Pastinya, kami harus mengeluarkan uang lagi untuk makan. Karena tak mau terlalu lama bingung akhirnya saya bercanda saja dengan Cakri. Kami iseng mengitung jari.

”Jadi… tidak… jadi… tidak… dan jadi,” kami tertawa ketika hasilnya hitung jari ternyata jadi berangkat malam ini.

Dari sekedar iseng-iseng, suasana menjadi cair.

Ah, bodo amat… ayolah kita berangkat aja sekarang… kalo gak sanggup yah ngecamp di Cibunar,” saya dan Cakri berusaha melupakannya semua masalah dan keraguan.

Karena sudah setengah jalan, hal yang terpenting bagi kami ialah meraih tujuan utama, menggapai puncak Ciremai. Walaupun belum pernah mendaki bareng dan tidak tahu keahlian masing-masing, kami saling percaya saja.

Masalah khawatir nyasar, saya meyakinkan ke Cakri bahwa sedikitnya paham masalah teknik navigasi dan jungle survival. Hal yang baru serius dipelajari setelah pernah nyasar tujuh tahun yang lalu. Saya cerita kecelakaan (tersesat) yang menimpa saya di Gunung Salak hingga harus diselamatkan regu patroli PLTPB Kawah Ratu. Sampai-sampai mereka memarahi kami karena tersesat terlalu jauh (kata petugas patroli, rombongan saya tersesat 34 km dari Pos Cangkuang) Cakri pun cerita bahwa ia mantan anggota Sispala. Ia bercerita tentang pengalamannya mendaki Salak, Gede dan Pangrango.

Yakin dan persetan dengan duit! Itulah yang melangkah kaki kami menuju Cibunar. Bekal berharga yang dibawa hanya kertas informasi tentang shelter-shelter dan nomor hape Kang Andri. Jalan menuju Cibunar cukup lebar. Lima ratus meter pertama bahkan masih beraspal batu dan datar. Meski banyak rumah, sayangnya kami tidak berpapasan dengan satu orang pun.

Aspal berujung di sebuah bungalow besar yang disewakan untuk umum. Setelah itu jalan batu dan tanjakan mulai menyapa. Cakri sepertinya masih kelelahan akibat perjalanan motor tadi sehingga kadang tertinggal di belakang. Tak sampai dua puluh menit kami sudah sampai di area kedai dan perkemahan. Anehnya, sudah musim liburan ini tetapi tampaknya tak banyak yang berkunjung ke Cibunar. Sedikit sekali tenda-tenda pleton maupun dome yang saya lihat.

>>>> Bersambung ke “Gunung Ciremai (3076 mdpl) : Gugusan Akar Berantai (Part 1)”


Responses

  1. Kang, mana lanjutannya? Penasaran, hehehe…

  2. Kang masih ditunggu nih, sayang cuma setengah. Biar pulll… hehehe…

    • belum nulis lagi nih.. sori, ham


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: