Posted by: bachtiar hakim | August 14, 2008

Fantasi Bersepeda yang Kembali Terulang di Kampus


Let`s Bike to Unpad

Let`s Bike to Unpad

Fantasi Bersepeda yang Kembali Terulang di Kampus

Mengapa saya berfantasi untuk membawa sepeda ke kampus?

Rasanya kenangan masa kecil tentang sepeda tidak bisa saya lupakan. Hati ini riangnya bukan kepalang saat pertama kali dibelikan sepeda oleh Bapak. Tiba- tiba saja sepeda mini sudah nangkring di depan teras sehabis pembagian rapor di SD.

Luar biasa! Bapak menepati janjinya setelah mendapati saya ranking satu di kelas. Pokoknya segala upaya dan doa saya merasa tidak sia-sia. Kenapa kegembiraan saya itu bisa terbeli dengan sepeda?

Waktu itu (sekitar tahun 1992) memiliki sepeda dalam kelompok sepermainan (in group reference) saya boleh dibilang sebuah keharusan. Seperti layaknya Game Watch, Sepeda sudah dianggap mainan utama. Entah apa karena daya belinya yang kurang sehingga kelompok sepermainan saya belum terlalu menggandrungi mainan konsol seperti Nintendo, Sega, dll. Meskipun begitu, patut diakui bahwa saat itu Nintendo telah menjadi permainan paling Most Wanted bagi anak-anak kota. .

Harap maklum saja bila jauh dari mainan tsb, meskipun tinggal di perumahan, saya lebih senang bermain di lapangan dengan anak kampung (sebutan bagi anak yang tinggal di pemukiman padat luar perumahan). Gak pernah mikir tuh alasan bergabungnya. Ikut main aja menuruti apa yang ada di dalam fantasi saya saja. Toh, orang tua pun tidak pernah melarang saya bergaul dengan siapapun.

Simpel saja. Saat itu, banyak sekali permainan anak kampung yang sama dengan dongeng-dongeng yang diceritakan bapak. Mulai dari Mentang Layangan, Cing Jongkok, Cing Baledog, Cing Sumput, Cing Benteng, Cing Batu, Kakaretan, Gula Asin, Ngabarabay, Kokolecian, Adu Cupang, Sorodot Gaplok sampai Catur Jawa. Fantasi bermain saya waktu dulu yah permainan tradisional itu.

Kalau sudah bicara permainan modern, pasti tidak pernah luput dari fantasi bersepeda. Bagaimana asyiknya kebut-kebutan di jalan. Lalu, sensasi melepas kedua tangan ketika menemui turunan. Belum lagi tegangnya saat jemping (sebutan teman-teman main saya untuk sepeda yang roda depannya diangkat setinggi, se-stabil,dan selama mungkin).

Bagaimana tidak terngiang-ngiang. Tiap malam kamar tidak pernah sepi dari cerita bapak. Sambil memijit paha beliau yang lelah sehabis mengajar di kampus, saya sering menanyakan asal-usul pitak (bekas koreng atau luka atau borok) yang ada di kaki bapak. Wah, rupanya dari situlah biasanya cerita tentang pengalaman bersepedanya dimulai.

Jatuh Bangun

Kalau bicara mengenai pitak, saya juga punya. Itu pertamakali membekas karena latihan bersepeda. Selama dua minggu-an, saban sore Mas Her, kakak sepupu saya selalu mengajari. Saya tak ingat berapa kali jatuh di aspal batu. Saksinya adalah koreng dan borok yang kini menjadi pitak

Masalahnya bisa jadi bahan tertawaan bila memiliki sepeda tetapi tak mampu mengendarainya. Saya ingat betul saat pertama kali menuntun sepeda baru ke lapangan. Saya dibilang bencong karena masih menggunakan roda penyeimbang di ban belakang . Setelah kejadian itu saya babak belur latihan agar bisa mengendarai sepeda.

Langlang

Setelah dikhitan (1994), barulah saya mendapat hadiah sepeda gunung (Mountain Bike/MTB) dengan merek Kennex. Senangnya bukan main. Harapannya, jarak tempuh saya yang tadinya hanya radius 2 kilometer, bisa bertambah. Keinginan itu nampaknya bakal terwujud karena dukungan spek. Sepeda tsb sudah dilengkapi Gear Shimano yang memudahkan saya melewati medan yang cukup menanjak. Jok yang tinggi bukan alasan untuk tidak terus menggenjot.

Bila sehat, setiap pulang sekolah saya tidak pernah lupa bersepeda selain main sepakbola. Jarak tempuhnya benar-benar bertambah. Di Era yang belum semua keluarga memiliki alat komunikasi seluler, bagi saya sepeda adalah sarana komunikasi. Bagaimana tidak? Untuk menanyakan tugas saja saya harus mengunjungi rumah teman sekolah. Jaraknya tidak tanggung-tanggung buat anak kecil yang hidup di kota, sekitar lima sampai tujuh kilometer. Sepeda menjadi alat pengantar sekaligus alat bermain.

Wajar bila rata-rata bersepeda bisa menempuh total jarak seratus kilometer meter selama seminggu. Bahkan di usia saya yang belum genap dua belas tahun, saya sudah pernah off-road di Sukamantri, sebuah daerah di kaki Gunung Salak (18 km dari tempat tinggal saya).

Semakin teringat makin membuat saya benar-benar kangen dengan teman-teman bersepeda “gila” di SD. Ada Bram (aku benar-benar kehilangan jejakmu, kawan!) , Deri (sekarang jadi artis dan model) , Faisal (masih kuliah di UI), Rachmat (jadi pedagang baju).

Kapan kita bersepeda lagi!!! Kini aku menumpahkan rasa kangen itu dengan bersepeda di Jatinangor. Alhamdulillah sudah berjalan genap dua minggu. Let`s onthel the bike!!


Responses

  1. Luar biasa!!!!!!!!!!!
    Ditunggu launcing komunitas BIKE TO UNPADnya

  2. Doain aja cpt kebentuk.. Yg msh ngeganjel tuh pemakai sepeda di unpad jtngr masih dikiiit bgt. Yg udah kdata aja masih < 8. Itu seunpad lho.. Dikit bgt khan? Yg penting mah skrg konsisten bw k kmpus n ngajak org yg deket buat mau naek sepeda

  3. woy..
    akyu juga mau bawa speda!!!!

  4. bagus… baguss…. makin rame nih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: