Posted by: bachtiar hakim | October 12, 2008

Menunggu Tokoh Jurnalisme Indonesia di Layar Lebar


Tiba-tiba saja melejit sosok Andrea Hirata. Novelis muda kelahiran Pulau Belitong ini mampu menyihir isi kepala rakyat ini lewat Tetralogi “Laskar Pelangi”-nya. Seperti meledaknya popularitas J.K. Rowling lewat novel “Harry Potter”, dalam beberapa tahun ke depan, saya ramalkan nama Andrea bahkan akan lebih populer daripada nama-nama dalam daftar Calon Anggota Legislatif (Caleg) yang akan saling bersaing dalam Pesta Pemilu 2009 nanti.

Larisnya buku “Laskar Pelangi” (buku pertama dalam Tetralogi Laskar) membuat Mira Lesmana dari Miles Production tertarik untuk mengangkatnya ke layer lebar. Didampingi Sutradara Riri Riza, Mira berusaha mempertahankan kualitas pesan dalam film yang diberi judul sama dengan bukunya tersebut. Isi film itu apa lagi kalau bukan alter ego kisah masa kecil Andrea Hirata, si penulis.

Sekarang sudah bukan rahasia umum, kalau film semi-biografi ternyata bisa laris manis di Indonesia. Film berjudul “Gie” garapan Miles Production bolehlah jadi acuan film semi-biografi yang bertemakan “tokoh berpengaruh” di era industri film yang sedang bangkit dari kuburnya pada akhir tahun 90-an. Kini, film Laskar Pelangi yang diputar serentak di bioskop diyakini bakal mampu mengalahkan popularitas seniornya tsb.

Kok kenapa kisah masa kecil Andrea yang terangkat ke layer lebar? Apakah karena ia seorang tokoh yang ternama? Tidak juga. Andrea melejit karena kisahnya mampu menginspirasi banyak orang. Kepopuleran andrea sebenarnya merupakan efek dari karyanya itu.

Sebenarnya, banyak tokoh yang bisa dijadikan panutan di negeri ini. Mereka juga tidak tiba-tiba muncul sebagai tokoh. Perjuangan dan dedikasi terhadap bidang yang ditekuninya merupakan bibit yang menumbuhkan banyak pengaruh. Selanjutnya, status tokoh legenda atau pentolan tersematkan sebagai buah kematangan perjalanan mereka.

Diantara tokoh-tokoh tersebut terdapat perjalanan seorang yang inspirasional di bidang jurnalisme. Sebut saja PK. Ojong, R.H Siregar, Mochtar Lubis, dll ( selengkapnya lihat saja di http://www.tokohindonesia.com/profesi/wartawan/index.shtml ). Seperti kita ketahui, Sesuatu yang pertama kali muncul dan memberikan pengaruh selalu diidentikkan kata “klasik” (klasik berarti bagus). Begitupun mereka memiliki andil masing-masing terhadap perkembangan kegiatan jurnalisme di negeri ini di masanya.

PK Ojong

PK Ojong

Lalu apakah kisah-kisah mereka menarik untuk difilmkan ?

Menurut saya dunia jurnalistik adalah dunia yang dinamis dan penuh tantangan. Jurnalis berperan besar terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat. Ini berkaitan erat juga dengan sejarah bangsa Indonesia. Kisah–kisahnya nyata perjalanan jurnalistik para tokoh itu pun saya yakini mampu menginspirasi banyak orang. Sayangnya, kisah mereka belum banyak yang dimuat di media massa cetak maupun elektronik apalagi film. Hingga kini perjalanan mereka hanya bisa disimak dalam buku biografi maupun memoar yang persebarannya kurang luas. Tengok saja salah satu contoh buku, yakni “P.K. Ojong: Hidup sederhana, Berpikir Mulia (2001)” yang bercerita tentrang perjalanan PK Ojong.

Ke depan, dengan hadirnya film diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi para jurnalis dan kalangan media massa di Indonesia untuk berkarya lebih baik bagi kepentingan publik, sekaligus sebagai upaya untuk terus merawat citra profesi wartawan agar tetap bermartabat di tengah masyarakat tempat mereka bekerja. Secara implisit, semoga berbagai perilaku menyimpang di bidang jurnalistme yang masih menghantui era kebebasan pers di negeri kita ini bisa diluruskan.

Bila menengok ke negara lain, sudah banyak film-film bertema jurnalisme. All The President’s Men menampilkan kegigihan dan keberanian jurnalis dalam mengungkapkan kecurangan Presiden AS untuk mempertahankan kekuasaannya, sedangkan Shattered Glass menceritakan perilaku wartawan yang memburu berita eksklusif serta terobsesi meraih penghargaan hingga ia terjerumus ke dalam aktivitas membuat berita palsu.

Ada pun Capote menceritakan kesabaran, perjuangan dan keberanian wartawan selama enam tahun untuk membongkar pembantaian terhadap sebuah keluarga di Texas, AS.
Semoga ada produser Indonesia yang tertarik memfilmkan jurnalisme


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: