Posted by: bachtiar hakim | October 15, 2008

Gede ( 2.958 mdpl ) & Pangrango (3019 mdpl) Revisited


Gede ( 2.958 mdpl ) & Pangrango (3019 mdpl)

Revisited

Kali ini misi penyegaran setelah lebaran perlu segera terwujudkan. Pikiran yang telah jernih setelah bermaaf ria tidaklah cukup. Layaknya mesin dengan pelumas, tulang-tulang dan otot-otot yang melempem selama bulan ramadhan harus ditempa lagi demi kebugaran fisik dalam beraktivitas. Deru nafas yang mengiringi detak jantung saatnya dipacu. Harapan esok lebih baik terpampang di depan mata. Seiring semangat mengerek jiwa dan raga untuk bergerak.

Dari berbagai rencana perjalanan, hadirlah gunung Gede dan Pangrango sebagai pilihan. Pilihan yang bakal mengobati juga kerinduan saya setelah hampir tiga bulan tak muncak lagi. Tak apa melakukan perjalanan menuju tempat yang sama apalagi dua perjumpaan awal dengan Gede-Pangrango sangatlah berkesan bagiku. Pastinya momentum ini akan menjadi sebuah napak tilas atau revisited yang bakal dinanti.

Awalnya dua belas rekan tertarik mengikuti perjalanan menuju gunung yang terletak di perbatasan kabupaten Cianjur, Bogor, dan Sukabumi ini. Sayangnya, beberapa saat sebelum keberangkatan ternyata hanya sepuluh yang jadi ikut. Walau jumlahnya berkurang tapi niat mereka muncak tidaklah luntur. Niat itu dibuktikan juga dengan keikhlasan membawa peralatan dan perbekalan yang boleh dibilang lebih dari cukup.

Rekan seperjalanan saya kali ini semuanya berasal dari jurusan Jurnalistik Fikom Unpad angkatan 2004. mereka yang ikut ; Abo, Damar, Praga, Gungun, Opik, Sesti, Heru, Ganjar, dan Auzan.

Seperti apa serunya perjalanan kali ini…

Jatinangor – cibodas

Janji bertemu di cileunyi sebenarnya pukul empat tapi saya tiba pukul setengah enam karena kesulitan mencari pinjaman tenda. Setelah semua berkumpul, kami menunggu bus yang menjanjikan tempat duduk dan bagasi. Sialnya, keinginan itu tak kunjung terwujud. Hamper semua bus menuju cianjur penuh sesak oleh pembalik (pemudik yang kembali ke tanah rantauannya). Akhirnya, setelah menunggu sekitar satu jam kami berangkat dari Cileunyi pukul 18.30 dengan menumpang bus “Doa Ibu” jurusan Garut-Jakarta. Biaya perjalanan untuk sampai ke Cibodas sebesar 15 ribu rupiah.

Terpaksa namun tiada pilihan lain. Sesaknya bus oleh pembalik membuat beberapa rekan harus rela berdiri. Namun, dengan janji kondektur bus untuk menjamin tempat duduk, mereka akhirnya sedikit bisa bernafas lega. Tak lama setelah bus keluar dari tol padalarang penumpang banyak juga yang turun. Ruang di bus semakin lengang lagi ketika bus memasuki kawasan kota cianjur.

Daripada diam di bus mending keluar mencari udara segar. Padatnya penumpang bus di saat arus balik membuat kenyamanan kami sebagai penumpang sedikit terusik. Untungnya bus "Doa Ibu" yang kami naiki singgah sejenak di Cianjur. Huh... leganya saat bisa menghirup udara segar lagi
Daripada diam di bus mending keluar mencari udara segar. Padatnya penumpang bus di saat arus balik membuat kenyamanan kami sebagai penumpang sedikit terusik. Untungnya bus

Dari titik-titik lokasi di mana pembalik turun ada hal yang bisa saya tangkap. Pertama, ternyata populernya Jalan tol cipularang sebagai akses tercepat menuju Jakarta tidak serta merta mematikan jalur puncak. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi jalur Bandung-Cikampek lewat Plered yang sekarang sangat sepi. Kedua, masih banyak orang yang memilih kota selain Jakarta sebagai tujuan perantauannya. Berarti dalam hal ini Cianjur dan Bogor masih mampu menjanjikan penghidupan yang layak.

Kembali ke perjalanan menuju Cibodas. Kami tiba di pertigaan Cimacan, Cianjur pukul sepuluh malam. Keluar dari bus, perbedaan suhu lumayan terasa. Sambil menunggu rekan-rekan lain mengatur isi ransel , saya menyempatkan diri untuk makan malam di sana. Lumayan mahal juga ternyata harga makanan di sana. Seporsi nasi goreng di rumah makan yang terbilang kecil dihargai delapan ribu rupiah.

Angkutan umum berjejeran dengan rapi di pertigaan tersebut. Tidak perlu khawatir kehabisan angkutan karena waktu operasinya 24 jam. Kami bergerak menuju Cibodas dengan menyewa angkutan dengan tarif empat ribu rupiah.

Cibodas – Kandang Badak

Rencana pendakian malam kami gagal. Petugas pendakian memberikan kami izin mendaki pukul setengah empat pagi. Tidak ada pilihan lain selain menginap di ruangan yang terdapat di pos pendakian Cibodas sembari menunggu pagi
Rencana pendakian malam kami gagal. Petugas pendakian memberikan kami izin mendaki pukul setengah empat pagi. Tidak ada pilihan lain selain menginap di ruangan yang terdapat di pos pendakian Cibodas sembari menunggu pagi


Responses

  1. kamana atuh ‘sindikat pemuda luntang-lantung’ teh? katanya mau tukeran cerita n kesan ke gede pangrango. ah,wajib setor cerita ato kesan klo mampir ksini!

  2. Weh Bach, ga mau kalah sama si Abo? haha.. saya tadinya mau bikin catetan perjalanan juga tapi ga punya blog ey, males bikinnya. he. okelah, bulan depan mau pada ke papandayan. ikut lagi ya bach!

  3. logisteam melapor…

  4. siap… laporan diterima

  5. wah… aq aja yg tinggal di Cipanas (kota sebelum Cimacan 2 km) blm pernah naik Gunung Gede & Pangrango, br nyampe curug cibeureum.. habisnya byk cerita mistis penduduk sini yg mmbuat “takut” naik gunung gede… hehehehe.. kapan2 klo naik lg, ajak2 atuh, jgn lupa juga mampir ke rumah saya…

  6. wow keren ya jd pengen ke gede lg nie


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: