Posted by: bachtiar hakim | October 25, 2008

Siluet Kemarau


Siluet Kemarau

Terimalah ruhku sebagai yang awam. Terlahir sebagai burung kemarin petang. Tertegun lepas melihat dinding semayamku yang terbelah. Membahana sekeras halilintar tangisku. Menyebar ke empat penjuru mata angin. Tiada mampu usikan membungkamku. Siapapun yang bilang ku tlah lantang berkicau di kemunculanku. Dialah yang berdusta pada kenyataan. Tiada yang kan menggurui kodratku sebagai ketidaktahuan.

Pantaslah ku tergolek dalam sarang belukar. Kulakukan sunyi sebagai bukti ketidaktahuanku. Begitupun sosok lain dalam ruang perjamuan pertama itu. Dialah entah inangku, saudaraku, karibku, atau dirimu kuanggap semua hitam. Tidakkah kau sadari betapa pastinya kebutaanku. Betapa ketiadaan sadarku.

Tapi ku takkan menolak takdirku sebagai buta. Sungguh sayang. Kisah butaku harus terhenti sebagai ceritera dari mulutku. Sungguh. Ku tak ingat berapa kali dunia telah berganti hari saat itu. Hitamlah jua siapakah kau yang menyapaku pada perjamuan itu. Entahlah, mencoba mengenang saat terlahir buta memang bukti ketololanku.

Aku adalah tiada satu makhluk pun mampu bercerita tentang pengalamannya terlahir. Terlahir melihatmu seperti jelaga hitam saja. Siapapun kau yang melihatku, bantulah ku berceritera. Bantulah aku berbahasa. Keluarkanlah suaramu. Sertakanlah perasaanmu. Timpalilah hitam pandanganku dengan seberkas cahaya. Jadikanlah ceritaku tentangmu murni sebuah siluet.

***

Ini sebuah kisah pertengahan April dua ribu delapan. Saat itulah langit negeriku dalam awal kemarau. Sungguh menawan hati. Langit terhampar sebiru telur angsa. Saat itulah mentari datang membuka mataku. Mengelupas selaput-selaput halus yang menghimpit kelopak mata. Teriknya menjadikannya terbelalak

Aku keliru. Ternyata ku tak terlahir sebagai burung. Aku hanyalah seekor kucing biasa yang nyatanya memang buta saat terlahir. Sayang. Bukanlah jilatan lembut sesama kucing yang menyambut pandangan pertamaku pada dunia baru tapi patukan ular. Ku tertuduh karena terlalu berisik mengeong. Lalu begitu erat ku dibelit sehingga pandanganku hanyalah warna kulit ular saja. Kadang kuakui cukup beruntung dalam keadaan itu. Aku selamat dari teriknya kemarau.

Saat itu kiri, kanan, dan bawah adalah sisi yang suram. Dunia luar hanyalah terlihat di atasnya. Lantas aku belajar menenggak. Kutahu betapa susahnya seekor kucing dapat menenggak. Tapi tak sengaja seekor monyet perantauan dari negeri Medan mengajariku. Ia selalu terlihat berkeliaran di atas pohon. Ku mengamati betapa liarnya dia bergelantungan siang malam. Membiasakanku mendongak ke atas.

Bahagia sekali bisa melihat ke atas meski harus bertentangan dengan terik matahari. Di atas pulalah aku terbiasa melihat makhluk berupa paduan hitam bercampur putih, kadang abu-abu. Hanya hitungan hari saja aku berhasil meloncat dari belitan. Berpindah dari pohon ke pohon bersama guru bergelantunganku.

Hingga suatu hari aku terpana pada salah satu siluet. Lekuk batas warna hitamnya tak bisa dilupakan. Guratan hitam itu selalu muncul saban jumat. ”Ya..” Kau berada di atas dan di atas. Gedung lima. Kuingat pukul satu saat matahari bersinar saking teriknya. Kau selalu muncul pada saat itu. Sebagai siluet.

Sebulan kemudian barulah menyadari betapa senangnya bisa memandang garismu dari segara penjuru. Apalagi saat kita terjebak menuju tujuan yang sama. Kala haluanmu berubah seketika aku pun berganti peran. Seekor kucing itu tiba-tiba berubah seberani ular saat siluetmu datang. Lantas jadi kucing lagi menjadi saat mengamatimu tepian garis hitammu secara diam-diam. Kadang berubah menjadi monyet yang mengacuhkan gerak gerikmu.

Sampai akhirnya…

semusim berlalu

***

Burung, kucing, monyet, ular, entah kamuflase apa lagi? Ku selalu berganti peran untuk tidak melihatmu sebagai hitam. Aku hanya ingin menjadikan dirimu siluet di mataku. Hanya itulah yang bisa kutangkap darimu sejak awal sampai kini penghujung kemarau. Entah mengapa dirimu menghitam lagi dan lagi kadang abu-abu dan putih lagi Bukankah semua siluet adalah ketegasan.

Namun…

Sungguh kuperhatikan…

Kau siluet yang terindah…

Satu dua tiga hari lalu pancaroba dimulai. Aku khawatir keindahan itu kan lepas dari mataku. Tiada siluet ketika mendung. Semua terlanjur menjadi hitam. Terhempas angin kencang. Tertusuk hujan deras. Dan terbenam dalam genangan.

Izinkan aku berhenti dalam permainan kamuflase ini. Kan kulakoni peran sebagai mentari kecil saja dalam mendung itu.. Lagi dan lagi berusaha semampuku melindungi mu dari hitam. Lantas, kemarau datang lagi. Tenang. kau tetap menjadi siluet.

Kutahu..

Kau adalah siluet terindahku yang tak kenal musim.


Responses

  1. buset !!!!!!!! siluet…. SILET kaliiii. kan tajem tuh? jadi siletnya merek apa? Agak kaleman kamu bach sekjarang bahasanya. masih bisa gw tebak nihhhh. gw butuh tul;isan lu dulu yag metafornya agak cabulll. tubuh wanita itu lebih baik daripada metafor binatangggg…. tau deh takut nyinggung orang!!!!!!!!!! damai YYYY

  2. baba… ituh tulisan kebagusan aq ga ngerti…
    ada monyet sakti amat bisa jadi uler, jadi kucing buta n berharap jadi burung…
    huuuuhuhu
    jadi pandangi saja siluet itu…g perlu di dieketin tar kalow kena cahaya tsjem setajem sileeeeeeeeeettt heheheheh

  3. .. seorang sniper rusia bernama ‘vasiliy’ mampu membunuh puluhan panglima jerman dari jarak jauh.matanya tajam.penampilannya dingin. ia pahlawan rusia yang misterius. cukup satu peluru vasiliy buatmu!

  4. di shoutmix-ku kamu nulis:
    Maksud luw, bilang “tai lho” di blog gw apaan? gw pengen mengklarifikasi aja! slmkenal

    Astaghfirullah,, kapan aku ngasih komen kayak gitu???
    jujur, ini juga baru pertama kalinya aku berkunjung ke blog ini.
    klarifikasi: Maap, bukan aku yang nulis itu!!!

    btw, tulisannya bagus,mas.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: