Posted by: bachtiar hakim | November 21, 2008

Konser Harmoni Sampah – Nada-Nada Sampah Nan Indah


Konser Harmoni Sampah

Nada-Nada Sampah

“Dong, pangnyieunkeun alat anu suarana jiga lalat!”
(Dong, Tolong bikinkan alat yang suaranya seperti lalat- dalam Bahasa Indonesia- )

Begitulah cuplikan dialog antara Harry Rusli semasa hidupnya dengan Dodong Kodir yang menjadi epilog pembuka konser musik “Harmoni Sampah” di Selasar Sunaryo Art Space (19/11).

Dodong bercerita bahwa suatu hari Almarhum Harry Rusli pernah datang ke rumahnya untuk memesan alat musik yang bunyinya seperti lalat. Sebagai seniman kampus, Dodong tertantang dengan ajakan seniman “jalanan” itu. Berhari-hari ia berfikir keras untuk menemukan bahan-bahan yang berbunyi lalat.

“Ternyata jawabannya ada di bak sampah,” ujar Dodong sembari memperagakan bunyi alat musik bersuara lalat yang terbuat dari plastik bekas pembungkus belanjaan istrinya.

Bagi peraih nominasi best coreography dalam World Music Festival 2008 di Yunani, alat musik “sampah” bukanlah “sampah” dalam artian sebenarnya melainkan sebatas bahan. Semenjijikan apapun rupanya, sampah tetap bisa dijadikan bahan untuk membuat alat musik. Dari tangan, ratusan alat musik baru telah dilahirkan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung. Sampah pula yang mengilhami istilah baru dalam musiknya seperti kunci Z minor.

Menurutnya, nama kunci-kunci (rhythm) baru itu sebatas gurauan saja. Alat musik sampahnya tetap mengacu pada pakem-pakem dalam alat-alat musik tradisional maupun modern. Nama aneh itu tak lain usaha Dodong untuk mencitrakan bahwa kreativitas dapat menembus tradisi tanpa harus saling membunuh.

“Kesenian sunda sendiri banyak lahir dari kreativitas yang hasilnya terkadang dipandang miring oleh orang lain,” kata pemimpin grup Lungsuran Daur yang mendalami kesenian gamelan sejak tahun 70-an ini .
Mengenai kreativitas dalam waditra, ia mencontohkan gitar Alpedo yang tak lain kepanjangan dari alat petik dodong. Walaupun bahannya berasal dari puing-puing ranjang yang ditemukan di selokan, suaranya tetaplah nada sunda. Suara Alpedo bersandar pada laras slendro.

Adapula hasil kreatif dodong yang lain bernama Bassdong- kepanjangan dari Bass Dodong- sebagai instrumen bas. Lalu, ada Jirame – akronim dari hiji rame-rame- sebagai instrumen drum set dan Bagidong – singkatan dari bekas gitar dodong- sebagai alat musik gesek yang bahannya dari sampah gitar.

Alat-alat tersebut mengikuti laras-laras dalam waditra sehingga tidak sulit untuk menggabungkannya dengan gamelan sekalipun.
.

Berikut foto-foto Dodong dalam konser Harmoni Sampah
(“terima kasih kang atas tiket undangannya”)


Responses

  1. nuhan Kang ah….kana resepon. insya allha pami aya pagelaran deui dikontak-kontak.

  2. sami-sami kang yudi… salam kanggo kang dodong, kang den buleng, kang tatoz, sareng kang ricky. Edan lah kolaborasina… diantos lah ku abdi albumna. Nanti, saya beli skalian minta tanda tangannya… hehe

  3. hai haii..saya lg mencari-cari data ttg Lungsuran Daun,dan berhentilah di sini..heheheh

    kalo boleh nih,,bisa mnta kontak kang Dodong ga yah?saya tertarik banget nih sama kegiatan beliau,untuk saya liput..

    thanks before..

    • add facebook saya aja : “Bachtiar Hakim Nitidisastra” . Nanti saya kirim via messages. follow me too, at http://www.twitter.com/bachtiarhakim . tnx


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: