Posted by: bachtiar hakim | January 3, 2009

2 Hari, 1 Hati, 3 Doa, 1 Cinta, 1 Kutukan


2 Hari, 1 Hati, 3 Doa, 1 Cinta,

1 Kutukan

(Renungan 1 Sura dan 1 Januari)

Tiga puluh Dzulhijjah 1929 atau dua puluh sembilan Desember 2008.  Selepas isya, obor-obor bambu itu sedikit demi sedikit melalap semesta hitam. Kawasan Jatinangor yang sedang sepi akibat ditinggal mudik oleh sebagian penghuninya  tergetar oleh iringan shalawat dan tilawah yang riuh menggema.

Pemandangan jalan dari Jatiroke hingga kantor Kecamatan Jatinangor bagai aliran sungai cahaya. Tua -muda, pria-wanita larut dalam kegembiraan pawai malam 1 Sura. Tak lupa, doa bersama menjadi penutupnya.

Seperti biasa, acara ini sudah menjadi tradisi bagi warga Jatinangor, Kab. Sumedang  untuk menyambut tahun baru hijriah yang jatuh pada esoknya. Padahal, tiada spanduk ataupun ajakan dari organisasi maupun pemerintah kecamatan untuk mengerahkan massa. Adalah warga dalam lingkup RW dan RT  yang tergerak oleh niat bersama untuk memeriahkan pawai  se-unik mungkin.

Ngiringan pawai satu Sura wae lah,” kata ibu kost kepada saya sambil menutup jendela warungnya dan bergegas mengikuti rombongan RW 7.

Mengapa masayarakat Sunda menamakannya Sura (dalam bahasa sunda dilafalkan dengan huruf ”a” sedangkan jawa “o”)? Bukankah 1 Sura merupakan tradisi masyarakat Jawa?

Bila ditelisik, ternyata tradisi yang dilakukan masyarakat sunda itu masih ada hubungannya dengan ajaran Sultan Agung, raja Mataram Islam.  Ketika sebagian besar tatar Pasundan dikuasai oleh kerajaan Mataram, Sultan Agung memasukkan beberapa tradisi jawa dalam kebudayaan Sunda.

Sultan Agung  menulis dalam Serat Sastra Gending bahwa  “Sura” berasal dari kata su yang berarti baik dan pangrasa atau rahsa yang bermakna rasa antara manusia dan Tuhannya. Oleh karena itu.  memperingati 1 Sura berarti kita melakukan refleksi diri, keprihatinan, dan rasa syukur kepada Tuhan.

Sebagian besar masyarakat Jawa mengadakan laku batin dengan berbagai manifestasinya, seperti puasa, njamasi pusaka, dan nyepi. Selain itu, berbagai lelaku yang intinya menyelaraskan diri dengan alam sebagai bentuk rasa sukur dijalankan mereka.

Mendaki gunung secara massal adalah contoh yang sering kita lihat. Mereka mengadakan tumpengan bersama kuncen gunung  lalu mendaki bersama tanpa mengenal kalangan dan  usia.

1 Sura Oke, 1 Januari Oke

Dua hari kemudian, tiga puluh satu Desember. Suara letupan mercon ataupun  kembang api dan tiupan terompet membahana di berbagai  penjuru bumi.  Entah di pusat keramaian kota maupun di pinggiran-pinggiran, tak sulit untuk menjumpainya. Tak ayal lagi, keduanya telah menjadi simbol global untuk merayakan Tahun Baru (New Year), seperti setiap negara  di dunia ini menandakan tanggal 1 Januari sebagai Tahun Baru Masehi.

Banyak cara lain untuk merayakannya tahun baru masehi. Ada yang merayakannya bersama rekan-rekan dan  keluarga  ataupun berdiam seorang diri.   Ada yang merayakannya di tempat umum maupun di tempat yang privat. Ada pula  yang merayakannya dengan hura-hura maupun yang sederhana. Namun, tujuan  yang hakiki dari perayaan ini  tetaplah sama.

Orang sering bilang make a wish atau buatlah harapan. Tujuan merayakan Tahun Baru  tak lain membuat perubahan yang positif dengan “tahun” sebagai standar waktu acuannya.  Idealnya,  make a wish itu biasanya didahului dengan introspeksi terhadap diri, yakni memperbandingkan antara hal yang menjadi harapan tahun lalu dan hal yang sudah tercapai, barulah “membuat harapan”.

Keinginannya tentu, harapan-harapan kita akan tercapai pada tahun yang akan dijalani. Adapun dengan memakai acuan kualitas hidup dan tahun, tahun ini diharapkan akan lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya.  Begitulah kurang lebih intinya.

Saya rasa introspeksi dan make a wish atau apapun bahasanya tidak berlaku untuk Tahun Baru Masehi saja, melainkan Tahun Baru Hijriah, Tahun Baru Saka, dll.  Artinya, tahun baru adalah fenomena yang universal bagi pemeluk agama apapun.  Hanya masalah cara merayakan yang terikat oleh agama masing-masing.

Namun, tak jarang, orang  mengkritik bahwa perubahan tidak harus digaungkan pada pergantian tahun melainkan tiap hari bahkan tiap detik  Tidak masalah. Nyatanya, memang, tanpa disadari maupun disadari, manusia melakukan perubahan dari waktu ke waktu  Nah, momentum tahun baru ini digunakan untuk mempermudah perefleksiannya saja apalagi bila dilakukan bersama-sama orang yang kita cintai dan waktu yang libur pula.

Satu Hati

“Ups”.  Namun, saya diberitahu oleh seorang bapak di daerah Gang Mawar bahwa merayakan Tahun Baru Masehi itu haram hukumnya karena tahun baru bagi umat Islam hanya ada satu. Tentu saja, Tahun baru Hijriah.

Saya hanya menunduk seraya merenungkan pernyataan si bapak itu tanpa segera menjawabnya. Lalu tak lama,  saya melontarkan jawaban yang kelihatannya membuat perasaaannya sedikit tersinggung. Jawabannya sebenarnya singkat, yakni menanyakan balik kepada  si bapak  “Pak, kenapa  Allah nyiptain matahari dan bulan?”

Mendengar pertanyaan dengan nada meninggi dari saya, lantas si Bapak membalas dengan jawaban yang agak menyakitkan dan tidak menyambung dengan pertanyaan. “Kamu bisanya cari alasan saja, di mana-mana orang islam mah tahun barunya satu muharaman, makanya baca quran dong,” kata si bapak tanpa menjelaskan ayat dan surat apa yang menyatakan  bahwa 1 muharram  adalah tahun baru islam.

Memang segalanya akan terasa kacau jika terjadi debat kusir. Saya mengalah saja dan lantas membeli makanan di warungnya. Sewaktu makan, saya benar-benar tidak sabar untuk mencari penggalan ayat-ayat tentang tahun baru Islam menggunakan software Holy Quran dan Hadist.

Nyatanya, 1 Muharram sebagai hari besar memang tidak tersirat  dalam al-Quran.  Saya pun coba meng-googling dan memilah informasi yang paling holistik.  Dari sebuah situs blog, ditemukanlah beberapa penggalan sejarahnya. Nyatanya, penetapan kalender islam dilakukan oleh para pemimpin setelah Rasulullah SAW wafat.

Dalam kitab Tarikh Umam Wal Muluk yang  ditulis oleh Muhammad bin Jarir At Thobari diterangkan bahwa musyawarah untuk menetapkan kalender islam  dipimpin oleh Khalifah Umar Bin Khathab. Beliau  memilih tahun Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah sebagai awal kalender Islam. Lalu,  kalender Islam tersebut dinamakan Tahun Hijriyah. Bila dihubungkan dengan kalender masehi, tahun Hijriyah mulai diberlakukan bertepatan pada tahun 640 Masehi.

Pada tahun  ini,   rentang waktu antara keduanya sangat  berdekatan. Saya beruntung bisa mengalaminya. Mungkin peristiwa ini bakal terjadi sekali seumur hidup saya. Ingin sekali merayakan keduanya dengan satu hati dengan semangat perdamaian dan persatuan.

Dan tercurahlah perasaan tsb. lewat syair ini :

Bukalah mata!

Mari kita rayakan

Rayakan keduanya

Mengapa masih ada yang menghinakan salah satunya

Yang Maha Bercahaya …

Yang  ciptakan rembulan

Yang ciptakan mentari

Yang ciptakan bintang

Begitu alami. begitu sempurna

Jika tiada salah satunya, manusia kehilangan segalanya

Bukankah itu jadi tanda-tanda yang nyata bagi manusia

Sungguh tiada kuasa manusia untuk meniadakan salah satunya

Bulan dan matahari memang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pada zaman kekaisaran Romawi, Julius Caesar menggunakan matahari sebagai dasar perhitungan kalender masehi. Setelah itu, bulan ditandakan sebagai acuan perhitungan sistem kalender Hijriah.  Singkatnya, perputaran bulan mengelilingi bumi digunakan sebagai standar hijriah sedangkan revolusi alias perputaran bumi mengelilingi matahari dijadikan pegangan masehi.

Pergerakan, perputaran, benar sekali ! Seperti jarum jam mengitari angka-angka.   Dari situlah terfikir, mengapa harus ada detik, menit, jam, hari, bulan, tahun di dunia ini. Adalah waktu yang Tuhan ciptakan seperti termaktum dalam Surat An-Naas agar makhluknya senantiasa ingat akan kehidupannya di dunia ini (dan untuk menuju akhirat tentunya).

–0—0—0—

Tiga Doa

Atas waktu yang telah diciptakan-Nya, syukur patut dipanjatkan kepada Sang Penghembus Ruh bahwa aku masih bernafas hingga detik ini. Bahwa aku selalu diberinya sesuatu untuk difikirkan.   Bahwa aku selalu diberinya tujuan untuk bergerak. Bahwa aku selalu diberinya harapan untuk didoakan. Bahwa aku selalu diberinya semesta untuk dicintai.   Doa pertama saya adalah hal-hal di atas tetap bisa saya alami tahun ini.

Harapan dan doa  menjadi dua hal yang tidak terpisahkan. Doa menjadi medium komunikasi antara khalik  dan hambanya yang pesannya berisi  permintaan agar harapan hambanya  tercapai dengan Izin-Nya.   Sungguh,  banyak sekali harapan yang ingin dipanjatkan manusia. Namun, tetap saja harapan tanpa usaha hanyalah khayalan saja.

Secara khusus harapan pada tahun ini, saya ingin agar saya mendapatkan kemandirian yang lebih baik lagi dalam hal finansial. Adapun harapan untuk menyelesaikan studi bisa dirampungkan pada  akhir tahun ini. Ketiga, saya berharap akan ada momentum kemahasiswaan yang berkesan untuk ditinggalkan. Salah satu yang paling dekat adalah pendirian komunitas Bike To  Unpad dan Forum Silaturahmi Pemuda Mahasiswa dan Penduduk Jatinangor.

Semoga doa saya terkabul pada tahun ini.

Dan tetntunya satu kutukan buat pemerintah Israel


Responses

  1. sAiAnK…..

    uRanG tEh kNgEn sAma aKanG…

    mAaF…
    aKhuw bLum bSa bCa sMua’nA..

    yAnG jeLaz akHuw sAiAAAnnKK baNgEd sAma kAmU….

  2. Lam kenal akang ti Sumedang… sair yang bagus.. sae lah.. Menurut saiah perayaan tahun baru baik hijriah maupun masehi g begitu jadi masalah, asalkan perayaannya itu yang ga salah, ikuti rambu yang ada. Seperti halnya kita merayakan 17 Agustus.. saiah ga pernah paham, apa yang diperoleh dari ketiganya. Cuma rasa syukur dalam hati masih bisa menjalani hidup ini. Tapi satu hal yang saya suka dari perayaan tahun baru adalah saat saya bisa memulai hari dari alam, memulainya dengan melihat sunrice dari puncak-puncak gunung, menuruni siang harinya dan melanjutkan perjalanan hari-hari berikutnya…. hehe..

    • da.. kedahna emang kitu…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: