Posted by: bachtiar hakim | February 27, 2009

Menikmati Keliaran Pantai Pulau Lombok di Musim Penghujan



st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Menikmati Keliaran  Pantai Pulau Lombok di Musim Penghujan

Hari 1

Setelah cukup tegang melewati terpaan ombak liar di tengah lautan selat Lombok,  kapal yang saya tumpangi merapat  di Pelabuhan Lembar, Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kebetulan, siang itu (04/02) cuaca lumayan bersahabat meskipun awan hujan menggantung tebal di atas kepala saya. Pulau Lombok, terutama pantainya di musim penghujan memang terkenal menyimpan keindahan sekaligus misteri. Namun, hal itulah yang dicari oleh para wisatawan domestik maupun mancanegara yang suka tantangan.

Saya juga ikut tertantang dalam perjalanan yang kedua kalinya ke pulau ini. Tentu saja untuk membuktikan pameo bahwa   pantai-pantai di pulau Lombok lebih indah dan liar daripada Bali. Berbekal kamera dan buku panduan, saya akan  berkeliling pulau yang dijuluki The Sister of Bali ini.

***

Meski tidak seramai  musim kemarau dan pergantian tahun,  antusiasme pengunjung Pulau Lombok pada puncak musim hujan ini  tetaplah tinggi. Mereka seakan tak peduli oleh himbauan BMG untuk menunda  perjalanan lewat laut dan udara. Buktinya, keramaian  itu terlihat di  Pelabuhan Lembar. Begitupun dengan tingkat hunian di  hotel-hotelnya yang masih tinggi.

Ketika kali pertama menginjak daratan Lombok, saya agak terkejut ketika melihat beberapa turis datang hanya menenteng  papan selancar dan tas kecil. Sekilas mereka terselip    di antara  kerumunan besar wisatawan yang terlihat  sibuk membawa  koper-koper besar. Tujuan berwisata ke  Pulau  Lombok memang berbeda-beda.

Para backpacker itu  datang ke Lombok hanya untuk  bermalam satu atau dua hari.  Kebanyakan dari mereka   adalah para wisatawan yang sedang berlibur di Pulau Bali. Baginya, membawa papan selancar saja sudah cukup karena mereka penasaran dengan image suasana pantai di Lombok yang katanya lebih indah, liar, dan  sepi daripada di Bali.

Berbeda dengan mereka, banyak juga yang menjadikan lombok sebagai tujuan utama wisata, tersmasuk saya.  Mereka ingin stay lebih lama untuk menikmati beragam obyek wisata sekaligus menyelami beragam kehidupan yang unik di sana. Selain keindahan pantainya, lombok memang menyimpan potensi wisata lain seperti gunung, kesenian, desa adat, hiburan malam, dan gili-gili (pulau-pulau kecil – dalam bahasa setempat) di sekitarnya.

Meski tujuan berwisata di Lombok berbeda-beda, tetapi ada hal yang sama.  Tujuan pertama di Pulau Lombok pastilah kota Mataram. Kota ini menjadi persinggahan segala tujuan wisata. Mataram dikenal sangat  representatif untuk stay dan titik acuan untuk bepergian. Sarana akomodasi, transportasi, dan konsumsi tersedia lengkap di sini. Sambutan masyarakatnya yang didominasi suku Sasak dan suku Bali juga begitu hangat.

Perjalanan saya menuju Mataram menggunakan public transportation berupa mobil colt ditempuh  dengan waktu paling lama satu jam.  Sepanjang perjalanan terlihat hamparan perbukitan hijau dan sawah-sawah yang menguning. Pemandangan yang hijau seperti ini jarang sekali bisa disaksikan pada musim kemarau.

Banyak juga objek wisata di pinggir jalan seperti  kios-kios yang membuat dan menjual tembikar. Saya juga sering sekali berpapasan dengan Cidomo – kepanjangan dari Cikar Dokar Mobil- di jalan. Kendaraan tradisional yang digerakkan oleh tenaga kuda tersebut mirip dokar atau delman atau andong tetapi rodanya menggunakan ban mobil.

Pukul tiga, saya tiba di kota Mataram. Saya ganti angkutan Taxi yang  langsung mengantar  check in hotel di  Cakranegara, kawasan yang dekat dengan pusat kota.  Hotel di kota Mataram sangatlah banyak jumlahnya. Fasilitas dan  tarifnya juga beragam. Mulai dari kelas lima puluh ribu sampai lima juta rupiah. Tinggal pilih!

***

Malam pertama di Pulau Lombok, saya habiskan dengan wisata kuliner.  Hidangan ayam Taliwang – ayam yang dipotong pada saat usianya masih muda –  sangatlah menggoda,  berikut pelecing sebagai salad-nya. Hot-nya hidangan tersebut dilengkapi dengan sajian minuman Tuak Lombok yang menyegarkan. Sayangnya, minuman tradisional dari buah aren ini memang agak sulit ditemukan di pasaran.

“Minuman ini bagus untuk kesehatan,” kata seorang  guide lokal yang sepanjang malam itu menemani saya minum tuak.

Saat minum, ia  tak henti-hentinya bercerita tentang keindahan pantai-pantai di Pulau Lombok. Sungguh! Saya jadi tidak sabar menunggu esok hari untuk membuktikan  ceritanya tentang pantai-pantai yang katanya indah nan liar itu.

Hari 2

Antara Senggigi dan Gili Trawangan

Ketika terbangun, saya cukup kaget. Langit sudah cukup terang walaupun baru pukul enam pagi. Sensasi Lombok di musim penghujan  memang unik. Pagi hari terasa agak panas. Makin siang, matahari kian   terik bersinar tetapi anehnya  justru  terasa makin   adem karena angin bertiup sangat kencang. Nah, pada sore hari, hujan biasanya  turun.

Fenomena itulah yang membuat saya bergegas untuk berkeliling ke pantai-pantai di Pulau Lombok sepagi mungkin. Memang, rutinitas dan suasana pantai di musim hujan berbeda dengan musim  kemarau.  Pada musim kemarau, pagi dan siang hari biasanya pantai sepi pengunjung.

Saat itu, wisatawan biasanya mulai tumpah di pantai  menjelang sore hari.           Mulai pukul dua atau tiga mereka mulai asyik ber-sunbathing, diving, dan bermain olahraga air. Sorenya makin  ramai saja.  Kita    dapat menikmati pesona sunset. Selanjutnya, giliran pencinta selancar (surfing)  memulai aksinya pada saat angin bertiup kencang dan air mulai  pasang menjelang malam.

Menikmati ombak Pantai Senggigi

“Takut tidak bisa menikmati keindahan pantai karena hujan”. Begitulah alasan saya berangkat pukul setengah sembilan menuju Pantai Senggigi, pantai terdekat dengan kota Mataram. Mudah saja berkunjung ke sana karena bisa dicapai menggunakan angkutan  umum maupun taxi.  Atau, kalau mau lebih puas berjalan-jalan   seperti saya, anda  dapat menyewa sepeda motor dengan tarif 30 sampai 50 ribu rupiah per hari.

Jangan khawatir tersesat! Petunjuk jalan ke Senggigi sangatlah jelas. Hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai kawasan wisata Senggigi yang letaknya sekitar  12 km  ke arah barat laut kota Mataram.  Aroma pantainya pun sudah bisa tercium sejak medan jalan mulai  dipenuhi  kelokan dan pemandangan sapi-sapi lombok yang berkeliaran.

Ketika lautan mulai terbuka bebas, barulah mulai terdapat  banyak  hotel, resort,  diskotik, dan bar. Tidak sulit untuk memilih tempat singgah yang cocok dengan selera karena banyak papan iklan yang bisa anda cermati di kanan kiri jalan. Hiburan di tempat-tempat ini juga dapat dinikmati siang-malam. Senggigi bagi saya layak disebut kota di pinggir pantai. Wajar, bila Pantai Senggigi menjadi  pantai yang paling ramai dikunjungi wisatawan  di Lombok.

Baru singgah sejenak di tepian jalan, saya sudah dihibur  oleh suara deburan ombak yang pecah oleh karang. Hmm…  saya jadi  tertarik untuk mendekati pantainya.  Benar saja, saat melangkahkan kaki ke pesisir pantainya, saya seperti merasakan suasana Pantai Kuta Bali disini. Pesisir pantainya benar-benar beralaskan  pasir putih yang.lembut dan   terhampar  hampir sepanjang 10 km.

Tergoda merasakan  ombaknya? Sungguh sayang, bila anda  ke Senggigi cuma  untuk bermain basah-basahan saja. Banyak pengalaman baru yang bisa dicoba karena   pantai  ini menyajikan wisata pantai yang komplit. Kegiatan  yang dapat dilakukan disini, di antaranya :  berenang, bermain kano, menyelam (diving), snorkeling, bermain speed boat, berselancar (surfing) atau pun sekedar berjemur (sunbathing) dan menikmati pemandangan.

Pada waktu musim hujan, ombak di  Senggigi cukup besar. Bagi  pecinta olahraga selancar, Senggigi di musim hujan dianggap lebih menantang daripada Kuta Bali. Selain karena ombaknya, gairah mereka juga terpuaskan karena suasana pantai yang lebih  sepi dan bersih. Artinya, papan selancar bisa lebih enak diarahkan.

Adapun bagi yang sekedar ingin  menikmati pemandangan pantai, cobalah menaiki cidomo. Kusir akan mengantar anda berkeliling pantai. Dan bila masih  penasaran juga dengan tepi lautnya, kita dapat  menyewa perahu-perahu bercadik. Nah,  di perahu itulah rasa  penasaran saya terjawab.  Saat  ombak agak tenang, dari atas perahu itu saya dapat melihat  rangkaian terumbu karang yang indah. Amazing for diving or snorkeling!

Tapi jangan  puas dulu!  Sudah sekomplit apapun wisata di pantai Senggigi  belumlah lengkap bila tidak mengunjungi Pasar Seni dan Pura Batu Bolong. Di pasar Seni, banyak terdapat toko cinderamata. Mereka menawarkan barang-barang kerajinan khas Lombok seperti kain tenun, lukisan, kerajinan tangan, perhiasan mutiara dan lain-lain.

Di kawasan pantai ini juga terdapat sebuah  bangunan yang sakral yakni Pura Batu Bolong. Tempat peribadatan ini dibangun di atas karang yang terletak persis di tepi pantai. Uniknya, bagian bawah karang itu berlubang sehingga menyerupai gua. Saat saya memasukinya,  pecahan ombak langsung menyapa. Buzz… dan selendang yang saya kenakan  untuk masuk pura pun basah.

Lalu, saya mencoba naik tangga menuju bagian paling tinggi dari bangunan ini. Wow! Lekukan pantai Senggigi ternyata dapat terlihat jelas dari atas.  Om Komang, guide saya, mengajari  cara  membedakan bagian pantai  yang dangkal maupun yang dalam. Kalau cuaca cerah, ia juga bilang bahwa kita   bisa menerawang  Gunung Agung di Pulau Bali.

Menyusuri pantai-pantai perawan di Lombok Utara

“Ini (Senggigi-Red) belum seberapa,” kata Om Komang sambil mengisyaratkan tangan untuk segera pergi. Ia akan mengajak saya berjalan-jalan ke arah utara. Menurutnya, banyak pantai lain yang lebih indah dan liar daripada Senggigi. Mendengarnya cerita itu, saya  langsung tertarik  untuk membuktikannya.

Saya menyusuri jalan di tepian Senggigi menggunakan sepeda motor.  Kebetulan, jalan raya untuk mengitari  Pulau lombok dari barat ke utara selalu berdampingan dengan tepian laut.  Namun, jangan salah! Semakin ke utara, medan jalan yang dilalui kian berat. Meski jalannya mulus an lebar tapi belokannya disertai tanjakan dan turunan yang landai.

Untungnya, keamanan di jalan menuju pantai  sebelah utara  ini lebih terjamin daripada ke pantai sebelah selatan yang sebenarnya memiliki potensi sama baiknya. Di sebelah selatan lombok, nama Pantai Kuta Lombok dan Pantai Tanjung Aan menjadi primadona. Sayangnya, pemberitaan tentang Lombok Selatan seringkali berkesan negatif.  Banyak kabar burung yang beredar bahwa  sambutan penduduk lokal di sana belum sepenuhnya baik. Akibatnya, wisatawan  jarang yang berkunjung ke sana kecuali jika ada acara tradisi tertentu, seperti Festival  Nyale. Nyale populer sebagai  perayaan  keluarnya rombongan jutaan cacing dari laut yang hanya terjadi setahun sekali. Biasanya hari nyale jatuh pada pertengahan bulan Februari saat musim hujan memasuki puncaknya.

Asik mengobrol panjang lebar dengan Om Komang soal pantai di Lombok selain Senggigi, tak terasa Senggigi sendiri sudah tak terlihat lagi. Baru menyusuri jalan kurang dari sepuluh  kilometer, saya berganti  disuguhi pemandangan bukit hijau plus pantai yang sangat indah berbalut pasir putih. Pohon kelapa masih sangat rimbun tumbuh di garis pantainya.  Ketika ditanya nama pantainya, Om Komang hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak tahu nama pantai karena memang belum punya nama.

“Orang biasa menyebut pantai seperti ini dengan nama pantai perawan,” kata pria yang sehari-hari bekerja di The Anindita Resort ini.

Meski sangat indah,  virgin beach ini belum banyak dikunjungi wisatawan. Hanya peselancar profesional dan penyelam (diver) yang tertarik mengunjunginya karena ombak dan pesona bawah lautnya  yang masih  liar.  Wisatawan lain kebanyakan hanya memandang dari atas saja. Padahal, kalau menjejakkan kaki di tepiannya dan beruntung, kita  bisa mendapati telur penyu di pantai ini.

Sepanjang garis pantai ini, jumlah hotel dan resort mulai berkurang drastis. Bangunan mereka juga tidak terletak di tepi pantai melainkan  di tepian bukit. Posisi itulah yang memungkinkan kita dapat menikmati keindahannya dari atas. Sayangnya, belum banyak pengunjung menepi ke pantai ini karena keselamatan wisata belum terjamin.

Sekitar tujuh  kilometer dari pantai perawan, barulah terdapat pantai yang sudah terkelola. Pantai Sire namanya. Meski, pasirnya sama putih,  pantai ini lebih  dibilang pantai  wisata hiburan rakyat. Biasanya upacara  tradisional melarung aneka sesajen dan pesta laut bagi penduduk di wilayah Lombok sebelah barat laut diadakan di sini. Adapula hiburan rakyat seperti pementasan musik dangdut cukup sering digelar.

Hari mulai siang. Saya meninggalkan Pantai Sire untuk menelusuri pantai-pantai lainnya di sebelah utara. Hmm… benar saja. Saya menemukan lagi pantai-pantai perawan  dengan tebing-tebing yang curam. Lagi-lagi pasirnya putih. Pantai ini sama sekali tidak

ada yang mengelola.

Berikutnya, tidak jauh dari pantai itu, terdapat pantai yang jaraknya hanya belasan meter dari jalan raya.  Di sisi pantai yang dinamakan Montong Pal itu  terdapat beberapa bangunan berdinding kayu dan beratap alang-alang. Tapi sayangnya, bangunan itu tidak berpenghuni. Bangunan itu biasa disebut bangsal atau rumah tradisional suku Sasak. Nah, kalau kita ingin melihat lebih dekat  perkampungan yang dipadati bangsal dan penduduknya, kita bisa berkunjung ke Kampung Adat Segenter yang letaknya kira-kira 20 kilometer ke arah utara.

Namun, yang menjadi fokus perhatian saya kala  itu hanyalah gugusan pulau di seberang.  Melihat ke laut lepas, saya melihat hamparan tiga pulau kecil yang indah. Itulah Gili-gili yang namanya telah tersohor di dunia.

Menyeberang Ke Gili-gili

Untuk menyebrang ke ketiga pulau itu, saya harus mencapai  Pelabuhan Bangsal terlebih dahulu.  Barulah dari pelabuhan kecil ini, perjalanan ke Gili Air, Gili Meno, dan  Gili Trawangan dapat ditempuh menggunakan public boat maupun rent boat. Bila hendak naik public boat, pihak pelabuhan sudah menyediakan jadwal yang tetap. Artinya, kita tidak bisa memilih waktu penyeberangan sesuka hati.

Hal ini berbeda dengan rent boat yang harganya bisa sepuluh kali lipat public. Kita dapat menikmati penyebrangan dengan waktu yang kita tentukan dan penumpang yang ditentukan pula. Kapal juga akan segera menjemput kita bila hendak pulang.

Apapun wahana untuk mencapai gili-gili tersebut, waktu tempuhnya tidak akan lebih dari setengah jam. Gili Trawangan, pulau yang terjauh dari Pelabuhan Bangsal  merupakan pulau yang paling banyak dikunjungi orang. Di pulau ini, berdiri puluhan hotel, resor, bar, maupun kios-kios kecil. Kapal-kapal wisata yang elite pun biasanya melemparkan jangkar di pantainya yang berpasir putih.

Saya sendiri tertarik untuk mengunjungi Gili Trawangan karena mendengar cerita tentang pesta-pesta malam yang heboh di sana. Bersama puluhan wisatawan lokal, saya berangkat menggunakan public boat. Pulau pertama yang saya lewati adalah Gili Air. Terlihat roda kehidupan wisatanya tidak terlalu ramai. Hanya beberapa wisatawan saja yang terlihat di pantai. Begitupun dengan Gili Meno, pulau berikutnya yang saya lewati. Namun, patut diakui bahwa  kedua pulau ini  lebih  indah dibandingkan Gili Trawangan yang ramai.

Benar saja dalam waktu kurang dari setengah  jam, perahu  merapat  pelabuhan Gili Trawangan. Turun dari kapal, saya berjumpa sebuah persimpangan yang unik. Ternyata, arah ke kiri merupakan pusat kehidupan malam Gili Trawangan dan kanan menjadi pusat kehidupan siang. Hiruk pikuk kehidupan Gili Trawanagan bisa terlihat dari para wisatawan yang tak henti berlalu lalang. Ada yang menaiki sepeda sewaan, naik cidomo, ataupun berjalan kaki saja.

Nah. karena saya tertarik dengan kehidupan malamnya, akhirnya saya berbelok ke kiri. Sayangnya, bukan keramaian yang saya jumpai pada sore itu  melainkan bar-bar yang sepi pengunjung. Akhirnya saya tahu bahwa mereka mulai ramai dikunjungi di atas pukul tujuh malam.  Tepat yang terlihat agak  ramai hanyalah Blue Marlin dan Samasama Bar.

Saya pun memutar balik ke arah kiri. Namun, sebelum menuju ke sana, saya mengunjungi information centre. Di tempat inilah saya mendapatkan informasi tentang Gili Trawangan yang lengkap.

Pulau ini ternyata terkenal sebagai surganya pecinta Diving dan Snorkeling.  Warna air pantainya yang hijau kebiruan berpadu dengan pemandangan dasar lautnya.  Terdapat   beribu jenis ikan hias dan karang biru di sini. Untungnya, untuk mencicipi kegiatan bawah laut itu, sangatlah mudah. Siapapun bisa mencobanya.

Peralatan diving dan snorkeling seperti kacang goreng di Pulau ini.  Mulai dari lapak kios kecil serupa pedagang kaki lima sampai bar besar  seperti Blue Marlin pun menyediakan paket-paket diving.  Kalau kita ingin belajar diving dari A sampai Z,  pilihlah paket di tempat-tempat yang menyediakan kolam renang. Kita akan terlebih dahulu dibekali latihan menyelam di kolam-kolam renang sebelum terjun ke bawah laut. Instrukturnya pun sudah berpengalaman.

Nah, bagi yang sudah ahli, tinggal sewa peralatan di kios-kios kecil lalu menyewa boat untuk mengantar ke lepas pantai.Biaya paket-paket itu pun masih terjangkau untuk ukuran kocek orang  Indonesia karena tarifnya dibedakan dengan turis asing.

Setelah lelah menyelam di siang hari , janganlah lupa mampir ke tepi pantainya untuk tidur sambil ber-sunbathing. Kalau tidak mau berjemur, besenang-senanglah menikmati siang di sebebelah timur pulau dengan sajian makanan yang khas. Ada menu-menu internasional mauypun lokal sekalipun. Menu siang yang populer disantap adalah sajian mushroom yang disajikan dalam berbagai cara.

Begitulah rutinitas wisatawan di pulau ini. Mereka menikmati siang dengan tidur berjemur untuk menikmati night party semalam suntuk.  Musik party-nyatinggal pilih? Dari Reggae sampai House Music pun ada.

Hmmm… Kehidupan siang dan malam sangatlah berkesan disini. Dan  ketika hari memasuki malam, saran saya, persiapkanlah diri anda masuk dalam surga dunia di Gili Trawangan.   Penasaran?

Enam malam di lombok pada musim penghujan ini sangat berkesan. Saya pun menatap cahaya lombok dari lepas pantai pada malam terakhir. Beruntung, cuaca malam itu cerah dan lampu-lampunya sungguh menakjubkan!  Dalam kegelapan itu, saya jadi penasaran dengan musim kemaraunya.

Tertarik  Mengunjungi Pulau Lombok?

Menuju ke sana

Alternatif 1 :

Pesawat jurusan Medan – Jakarta/ Medan- Surabaya (Call) lanjut

Jakarta – Mataram / Surabaya Mataram (Call)

Alternatif 2 :

Bus jurusan Medan-Jakarta (call) lanjut

Jakarta-Mataram (call)

Alternatif 3 :

Kereta Api  KA Argo Bromo Anggrek jurusan Jakarta-Surabaya lnjt

(Rp. 220.000 eksekutif)

KA Mutiara Timur jurusan Surabaya- Banyuwangi lnjt

(Rp. 80.000 eksekutif)

Bus Terusan KA Mutiara Timur . Jurusan BanyuwangiDenpasar lnjt

(Rp. 70.000 AC eksekutif)

Bus Jurusan Denpasar – Mataram (Rp. 120.000 AC eksekutif)

Alternatif 4 :

Kereta Api KA Kertajaya jurusan Jakarta – Surabaya lanjut

(Rp 43.500 kelas ekonomi)

Kereta Api Sri Tanjung jurusan Surabaya – Banyuwangi lanjut

(Rp 19.500 kelas ekonomi)

Kapal penyebrangan pelabuhan KetapangGilimanuk (Bali) lanjut

(Rp 5.700)

Bus Umum jurusan GilimanukPelabuhan Padang Bai lanjut

(Rp. 45.000 ekonomi)

Kapal penyebrangan Padang Bai (Bali)Lembar (Lombok) lanjut

( Rp 31.000 )

Angkutan Umum jurusan Lembar – Mataram

(Rp 10.000)

Informasi :

DINAS PARIWISATA SENI & BUDAYA

(DEPT. CULTURE & TOURISM)

Jl. Singosari 2 Mataram Lombok

Tel: (62) 370 632723

MATARAM INTERNATIONAL AIRPORT

Jl. Laksda Adisucipto no. 1 Mataram Lombok

Tel: (62) 370 637538

LOCAL GUIDE

081803626673 (komang)

Baca Juga :

Tulisan saya di Tabloid Aplaus The Lifestyle berjudul “Melancong Ke Gili Trawangan


Responses

  1. Bach, banyak duit lo ya… Jalan-jalan mulu dah. Tapi iri bet dah gw! Pengen bisa jalan2 gt. Kpn yak? Menyenangkan banget kayaknya…

  2. wah… kata siapa? duit gw mah terbatas… tapi selalu ada cara u/ jalan2

  3. gila bung bachtiar, banyak jalan-jalan
    sekarang di mana bach?masih di bali?
    kapan ke melati lagi?, cerita-cerita lagi dong

    • masih di bali ampe awal januari… pastinya cerita2. tenang ajah. Weii. tun baruan di Bali dong!!! seru tuh!

    • udah balik ke melati, kok….. ical dong yang maen ke melati. oleh2nya paling cerita aja..

  4. Kalau ingin info tentang lombok, coba aja klik http://www.inside-lombok.com

    • terima kasih atas tambahan referensinya… semoga berguna buat yang lain

  5. Jeg sante donk bli

  6. Jeg sante donk bli…
    Mai melali ke Bali…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: