Posted by: bachtiar hakim | May 27, 2009

Parodi Profesi Wartawan – Ilmu Kebal dan Pantangan Bogem-Amplop-Makanan


Parodi Profesi Wartawan

Ilmu Kebal dan  Pantangan Bogem-Amplop-Makanan


Banyak orang awam sering mengidentikkan profesi wartawan dengan kekebalan. Baik ilmu kebal Tilang, kebal air alias jarang mandi, maupun kebal tidur karena sering begadang. Ternyata, membahas apa saja kekebalan berikut pantangan wartawan sama sulitnya dengan menjelaskan terlebih dahulu bahwa ia wartawan spesies apa.


Sayangnya, sebelum masuk lebih jauh ke dunia “ilmu hitam wartawan” terdapat syarat. Anda harus puasa  mengutuk wartawan selama baca tulisan ini. Kedua, tulisan parodi ini wajib dibaca dari awal sampai akhir.

Oke… Buka-bukaan saja. Psttt… Tak dipungkiri “ilmu kebal” seperti di atas  memang benar adanya  dan pernah dipertunjukkan oleh wartawan. Mereka melakukannya, entah dalam kondisi terdesak maupun sudah diniatkan.

Namun, tahukah anda? sekebal-kebalnya wartawan, ia tidak kebal bogem mentah. Mungkin karena “mahar susuk”-nya bukan pelor baja tetapi cuma biji kopi yang tahan 3-5 jam saja. Lagi, wartawan juga tidak punya tameng fisik, kecuali usahanya untuk membuat tampilannya menjadi sangar, lengkap dengan kartu pers teruntai di leher.

Pantas,  selalu ada saja cerita wartawan spesies tertentu yang “menangis” gara-gara dibogem seorang artis yang  merasa dibuntuti terus gerak-geriknya. Pantangan ilmu kebal  bagi wartawan spesies itu memang dibogem. Gara-gara bogem, ia akan kehilangan bahan gunjingannya hari itu yang berarti sebagai karyawan . Sebaliknya,  ia akan menjadi menjadi pergunjingan yang dipublikasikan di program medianya sendiri.

Beda lagi dengan wartawan spesies tertentu yang kena bogem. Selain namanya akan menjadi berita yang menghias headline pada banyak surat kabar, ia akan didukung oleh hampir seluruh rekan se-profesinya. Nasibnya itu akan benar-benar  diperjuangkan.  Pantangan ilmu kebal bagi wartawan spesies itu memang dibogem tetapi gara-gara bogem biasanya namanya akan harum di seantero pelosok negeri tempatnya bekerja.

Cerita tentang nasib “wartawan” yang berlawanan dengan citra kekebalan itu memang tinggi rating-nya untuk dibicarakan. Saya yang ingin berkecimpung di dunia ini juga tak ingin ketinggalan membahas kabar burung ini. Menanggapi masalah kekebalan wartawan, saya  meniru pernyataan seorang tokoh komunikasi yang bilang “30 persen stereotip yang anda katakan itu benar”

Nah, hebatnya, makin ke sini, masyarakat juga makin obyektif. Mereka pun mulai menyoroti masalah kebobrokan wartawan dan tentu saja kebenaran identitasnya. Bukan rahasia umum, kalau ada stereotip bahwa wartawan itu kebal juga dalam menahan sogokan alias suka terima amplop.

***

Amplop vs Makanan Gratis

Seperti koboy yang tiba-tiba menemukan kuda berpelana untuk pengembaraannya. Sama halnya, ketika “orang penting” melihat wartawan hadir di acara mereka.  Wartawan menjadi tamu istimewa yang harus dijamu.  Meskipun saya tidak paham sejarah kapan dan mengapa orang Indonesia membudayakan amplop untuk membungkus sesuatu. Jelasnya, saya sangat yakin, amplop itu ada isinya. Apalagi kalau bukan “rupiah”.

Amplop jadi dasar pemikiran bagi mereka yang haus pemberitaan dan kekuasaan  untuk mengadakan “konferensi pers injury time”. Jumlah nominal uangnya biasanya ditentukan oleh kemampuan si pemesan berita  itu dan tinggi-rendahnya efek berita itu.

Nah, bagi anda yang pernah berderma kepada wartawan, mungkin akan tutup mulut bahwa pernah menyantuni “kuli tinta” ini. Dermawan ini sepertinya tak mau ambil pusing karena memang tidak ada niat apapun selain memberi meskipun ada embel-embel sebagai ucapan terima kasih karena namanya secara tidak sengaja nampang di media.

Namun, tanya pula pemikiran mereka yang pernah ditipu atau diperas amplopnya oleh orang yang mengaku sebagai wartawan. Sebenarnya saya juga yakin bahwa  wartawan beneran pun ada saja yang melakukan pemerasan. Masuk akal kan kalau mereka  tidak akan mau tertipu dua kali oleh wartawan.  Bogem mungkin menjadi pelampiasan jika bertemu lagi. Apalagi main hakim sendiri masih menjadi tradisi sekaligus tontonan yang menarik di masyarakat.

Sebagai wartawan yang baru magang, saya kena imbas dari stereotip tersebut. Sakit juga rasanya setelah beberapa kali disangka ingin mencari amplop. Entah karena setelan pakaian hitam-putih saya yang mengesankan salesman atau kepala saya yang botak seperti residivis. Mengapa jadinya orang-orang itu yang mewawancarai sekaligus menginterogasi saya.

Wah, siapa sebenarnya yang jadi wartawan? Masyarakat atau orang yang membuat berita? Terserah anda mau menjawab apa.  Nggak apa-apalah asal masyarakat jadi pintar dan tahu bahwa amplop itu adalah pantangan berikutnya bagi wartawan. Toh, berita itu kan fungsinya mendidik juga.

Dari kepintaran masyarakat itu juga, beberapa kali saya belajar menghindari pantangan amplop itu. Salah satunya dengan meyakinkan bahwa media saya tidak menerima amplop. Nah, tapi ada cara yang lebih kejam lagi yakni ketika disuruh berhenti berimajinasi tentang berapa jumlah uang yang ada dalam amplop.

Ah! tetapi sulit… sulit…“

Biasanya setelah menolak amplop dan keluar bersama rekan wartawan lainnya dari ruangan, saya akan mendekati wartawan yang terima amplop dan bertanya “dapat berapa sih?“

Sebenarnya ada hal yang lebih kodrati. Wartawan juga butuh MAKAN. Jadi,apakah meminta makanan kepada  narasumber yang akan diliput itu diperbolehkan? Gampang saja jawabnya : Tidak ! Karena wartawan pantang mengaku sebagai pengemis.

Bagaimana kalau keadaan berkata sebaliknya? Narasumber berniat memberikan makanan secara cuma-cuma kepada kita. Maklum, namanya orang magang, saya takut keputusan sepihak yang dapat memberi kesan buruk terhadap nama institusi yang dibawa.  Saya dapat jawabannya ketika menanyakan hal tersebut pada redaktur.

“Boleh, “ jawabnya.  Karena bukan pantangan, saya pun memakannya dengan lahap.

Jadi, masih (mau) bilang wartawan kebal pantangan?

———————————————————————————————————–

* Tentu saja, paparan tulisan parodi  ini lebih banyak merujuk pada pengalaman dan pemaknaan saya sebagai wartawan kampus, wartawan magang, wartawan pesanan alias kontributor, dan yang tak kalah pentingnya pelajaran tentang wartawan di bangku kuliah.  Namanya pengalaman, pasti berbeda-beda. Semoga dapat dilihat benang merahnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: