Posted by: bachtiar hakim | May 29, 2009

Potret Sebuah Petak Dalam Labirin Produksi Informasi (Pengalaman Magang)


Potret Sebuah Petak Dalam Labirin Produksi  Informasi

(Pengalaman Magang)


Sebut saja medianya  dengan nama  MEDOI. Pada sebuah siang di awal bulan Mei, saya disuruh oleh Staf HRD untuk menghadap pak Aad (bukan nama sebenarnya), wakil kordinator Divisi Redaksi MEDOI. Dengan setelan pakaian yang masih terasa asing – lebih terlihat sebagai seorang salesman dengan celana bahan hitam dan kemeja putih –  saya diberitahu ruangannya.

“Wah, mau dites menulis nih,” pikir saya.

Kebetulan Roni, rekan satu jurusan yang Praktek Kuliah Lapangan (PKL) di media yang sama pernah bercerita mengenai proses penempatan wartawan magang. Salahsatunya, calon wartawan magang akan diuji kemampuan menulisnya. Dalam waktu yang ditentukan, kita harus menyelesaikan sebuah berita.

Lengkap dengan atribut tanpa pengenal, saya memasuki ruangan lobi tiga yang suhu udaranya sangat bersahabat meski hanya buatan– pastinya tidak seperti di luar sana.. Kedatangan saya rupanya belum dipahami oleh resepsionis. Terlihat berulangkali resepsionis menelepon beberapa pihak untuk memastikan kebenaran identitas saya,   sebelum akhirnya memberikan kartu tanda pengenal dengan tulisan hurup besarnya “TAMU”.

Sebagai tamu,  saya diantar penjaga sampai menaiki anak tangga pertama. Tangga menuju ruangan redaksi itu sepertinya biasa. Namun, menjadi luar biasa saat saya melihat seorang presenter berita Retro TV (bukan nama sebenarnya)  menuruninya. Meskipun nge-fans, saya pasang sikap cuek saja saat berpapasan dengannya.  Kartu “TAMU” yang melekat di ujung kerah kemeja, membuat  saya kurang pede untuk menyapanya. Ingat! Saya bukan karyawan.

Rasa cuek itu hilang selepas anak tangga terakhir, Hmm… Mendadak saya menjadi gugup saat melangkah masuk ruang redaksi MEDOI untuk pertama kali. Petak-petak serupa permainan labirin hadir di hadapan saya. Tiap petak berukuran sekitar empat meter persegi beserta komputernya merupakan  potret tradisi sebuah pasar di era informasi. Tidak terlihat lagi jasad mesin ketik  seonggok pun.

Meskipun tidak semua kursi ditempati empunya, namun tumpukan buku, catatan, tas kecil, dan sederetan kartu nama mampu menyiratkan kegiatan  jurnalisme yang tak berhenti berdetak  dalam dua puluh empat jam.

Sensor Gosip! Suara perbincangan antar karyawan tersaingi oleh suara TV berukuran cukup besar di tiap penjuru ruangan yang disetel keras-keras. Singkat saja, kesan pertama saya terhadap penghuni ruangan ini adalah “dingin”, sedingin semprotan kabut yang digelontorkan  penyelaras udara (AC). Penghuninya asyik dengan urusannya masing-masing sehingga tak ada yang bertanya maksud kedatangan saya tetapi sebaliknya hanya memandang dengan “tanda tanya”.

Semuanya memandang sambil lalu, kecuali dia, Siapa lagi kalau bukan pria berparas seperti Albert Einstein yang duduk di barisan petak terdepan. Saat saya melangkah masuk, ia mengubah posisi badannya  menjadi  berdiri untuk menarik perhatian saya.  Benar saja, mata saya beralih dari puluhan petak-petak menuju ke padanya. Hal yang tak diduga, ia  memanggil nama saya. Ternyata, dia lah pak Aad yang saya cari.

Sambil tersenyum ia mempersilahkan saya untuk duduk. Heran juga caranya memerlakukan tamu.  Layaknya tuan rumah hendak menyapa tamu yang penting, ia memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Sikapnya itulah yang membuat tangan saya tidak gemetar lagi.

Namun, dia bukan tukang basa-basi. Sederet pertanyaan diberikan kepada saya. Sorot matanya  mulai dengan teduh menatap kearah saya. Berikut pula daun telinga yang sedikit  dicondongkan ke tempat di mana saya duduk, mengesankan ajakan untuk berdialog.  Ia mendengarkan kata-kata saya dengan antusias. Pokoknya jauh dari kesan interogasi dan wawancara, seperti yang saya duga sebelumnya.

“Kamu tinggal di mana? Punya saudara di dekat sini enggak?,” tanya pak Aa

Kami jadi ngobrol cukup banyak tentang jurusan tempat saya kuliah setelah ia menanyakan : “Kamu kenal pak ini? Kamu kenal bu ini?”

Tak terasa pembicaraan menjadi tergiring oleh beberapa penilaian pribadinya terhadap saya. Dia bilang bahwa  saya orang yang suka jalan-jalan dan mencari petualangan. Siapa yang tidak terhasut oleh pancingannya. Beberapa pengalaman naked traveling ke luar Jawa pun keluar juga dari mulut saya.

Ternyata ia tertarik pada cerita tadi. Lantas, ia memberitahu tentang salah satu rubrik di media ini yang tidak lepas dari jalan-jalan. Cukup lama, ia menjelaskan bilamana wartawan magang biasanya diberi pekerjaan tersebut. Lalu, dengan mimik yang berubah sedikit serius, tiba-tiba  ia juga menanyakan soal pengalaman menulis di media massa. Jawaban saya pun tidak jauh melenceng dari beberapa karya feature perjalanan.

Meski terus mengalir, tetapi dering telepon vintage di mejanya yang penuh kartu nama beberapa kali memotong komunikasi kami. Saya tahu bahwa pekerjaannya sebagai wakil pemimpin redaksi tidak mudah. Beberapa kali ia memanggil redaktur untuk menanyakan kelengkapan beberapa penggalan  peristiwa yang masuk ke mejanya.

Namun, selama setengah jam saya berada di kursinya, saya belum pernah mendengar kata kotor maupun nada meninggi keluar dari mulutnya. Walaupun isi pesannya tetap menyuruh bawahannya untuk mondar mandir kesana-kemari, komposisi pengemasannya sangatlah pas. Wartawan yang dipanggilnya dengan sebuah nickname yang lucu hanya manggut-manggut, lantas kembali lagi ke mejanya sebelum akhirnya keluar ruangan.

“Ah, karena masih jauh dari deadline”, pikir saya.

Saya pun kadang ikut menanggapi interaksi dirinya dengan bawahannya. Ia menjelaskannya dengan pembeberan  tentang rules of work di sini secara singkat. Ada tiga tenggat waktu bagi wartawan, yakni deadline pertama pada pukul 16, deadline kedua pada pukul 19, dan deadline terakhir pada pukul 22.

Hampir setengahjam, kami bercakap-cakap dan tibalah saat yang menentukan. Ia memertanyakan ketertarikan saya terhadap desk di MEDOI. Saya bilang bahwa ingin bisa mencicipi dua atau tiga desk sekaligus karena  ingin mendapatkan banyak pengalaman. Sayangnya, ia menyadarkan saya bahwa peserta magang di sini sulit untuk dapat me- rolling desknya.

Akhirnya, jidatnya yang lebar  dengan otomatis menentukan  minat yang paling cocok bagi saya . Ia langsung mengantar saya ke petak Pak Mamat, tempat di mana desk “Megangpol” dikomandoinya. Saya pun disulap jadi wartawan magang yang akan menjelajahi keunikan  jalan-jalan di Jakarta. Jalanan adalah bahan liputan saya, berikut tempat-tempat menarik di dalamnya.

“Kau bisa mulai senin. Jangan lupa  bawa kamera sendiri!” tutup Pak Mamat


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: