Posted by: bachtiar hakim | May 30, 2009

Makam Tak Bernisan dan Fetisisme


Makam Tak Bernisan dan Fetisisme


Tanpa aksara dan angka yang menunjukkan sebuah jatidiri. Tiada juga papan apalagi batu nisan dari pualam yang terlihat  pada tempat peristirahatan si empunya. Sementara satu-satunya petunjuk bagi keluarga dan kerabat hanyalah batang pohon semboja yang warnanya kian abu.

Terakhir, saat saya mengunjunginya setahun silam, sungguh tak terduga, rantingnya sudah menjulur dengan cepat . Menebar ke segala penjuru dengan daun yang makin lebat.

Sepintas sungguh menyedihkan.   Apalagi tanah berwarna kemerah-merahan terlihat amblas di kedua penjuru petak berukuran tak lebih dari 2 x 1 cm itu. Tidak seperti kuburan biasanya, tanah yang biasanya terlihat menggunduk di atas jasad, kini benar-benar sudah rata dengan tanah di sekelilingnya. Pikir saya mengapa makam kakek Nitidisastra – biasa dipanggil Embah Niti oleh keluarga-  ditelantarkan begitu saja. Padahal anak cucunya sudah banyak yang sukses.

Agak miris bila membandingkan makam beliau yang meninggalkan dunia pada bulan Februari 2004 itu dengan   makam saudara-saudaranya yang bertahtakan batu berundak-undak ataupun hiasan porselen. Boleh dibilang keluarga besar Surakrama-Aswi cukup terpandang di Desa Bojongsari, Kecamatan Losari, Kab. Brebes, Jawa Tengah.

Namun  apa mau dikata. Ini adalah wasiat  terakhir beliau. Dimakamkan tanpa nama dan nisan di kawasan pemakaman keluarga besarnya. Nampaknya, ia sudah cukup berbahagia dapat bersanding dengan makam istrinya yang letaknya  kurang dari lima meter saja.  Kalau anda melihatnya, serupa pula kondisi makam nenek saya tersebut dengannya. Sungguh sederhana. Nyaris tak mengisyaratkan sebuah makam yang lazim dijumpai.

Rasa penasaran saya tidak bisa dibendung lagi. Bertanya kepada para tetua di dalam keluarga kami, menjadi pilihan yang tepat daripada asal menafsirkan. Alih-alih mengetahui siapa yang memulai tradisi itu di keluarga kami, dapat ditelusuri pula dasar pemikirannya. Saya yakin Embah Niti tidak asal berwasiat, apalagi istrinya yang telah mendahului juga diperlakukan serupa dengan wasiatnya itu.

Salah satu orang yang paling dituakan adalah Uwak Susilo.  Kebetulan, ia sering mengantar saya beserta keluarga berziarah ke makam Embah. Pada sebuah kesempatan di hari lebaran, akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya. Ternyata, jawabannya cukup singkat. Menurutnya, Embah Niti ingin ikut memurnikan ajaran agama islam dari tradisi yang menyimpang.

Begitupun dengan tradisi tahlilan, peringatan tujuh hari, empat puluh hari, dan  peringatan haul yang tidak pernah diadakan. Mendoakan almarhum, lanjut Uwak bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Hmm, tapi saya tidak mau masuk lebih jauh pada hal-hal di atas (mungkin akan dibahas pada lain kesempatan). Saya ingin lebih  memberi perhatian  terhadap fenomena makam tak bernisan.

Setelah bertanya kembali, Uwak pun mengaitkan pemurnian agama islam dari terpaan  kebudayaan primitif-hindu-budha yang tidak sesuai dengan islam yang dipelajarinya. Maklum, percampuran yang dianggapnya menyimpang ini berkembang pesat di hampir seluruh pelosok desa-desa di Jawa. Ia pun mereferensikan salah satu tokoh yang berperan sentral dalam ajaran pemurnian, yakni K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Namun, saya tertarik untuk mengkaji dasar pemurnian tersebut berdasarkan teori-teori yang pernah dipelajari. Teori yang pernah dan masih relevan dikaitkan salah satunya fetisisme.

Makam dan Fetisime

Gejala-gejala fetisisme sebenarnya sudah nampak sejak manusia belum memasuki zaman sejarah, termasuk di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Sayangnya, penjelasan ilmiah tentang fetisisme baru bisa kita temukan dalam buku yang ditulis C. de Brosses pada tahun 1760. Judulnya : Du culte des Dieux fetiches, ou parallele de l‘anciene religion de l`Egypt aves la  religion actualle de la Negrite (Kultus Dewa Fetis, atau Kesejajaran Religi Mesir Kuno dengan Religi yang Aktual dari Bangsa Negrito).

Dalam buku yang dijadikan salah satu sumber acuan buku Religi Suku Murba itu, fetisisme dijelaskan secara terminologis. Kata fetisisme berasal dari kata Latin factitius yang berarti: dibuat dengan tangan. Adapun secara etimologis, fetisisme berarti pemujaan benda-benda (buatan manusia) yang diisi dengan kekuatan gaib. Kekuatan gaib yang dimaksud ialah kekuatan yang berada di luar kemampuan ruhani manusia. Lebih jauh, kekuatan itu bisa mendatangkan kebahagian sekaligus bencana bagi manusia.

Nah, makam dalam konteks fetisisme bisa diartikan  sebagai fetis atau benda yang dianggap dapat memiliki kekuatan gaib. Mudahnya, kalau kita melihat ada orang yang meminta sesuatu kepada makam berarti ia percaya bahwa makam memiliki kekuatan tertentu yang dianggap bisa memengaruhi kehidupannya.

Makam sendiri sebagai fetis, jenisnya terus menyesuaikan dengan zaman. Makam dalam bentuk sarkofagus (keranda), dolmen, menhir, punden berundak-undak, arca batu sendiri telah ada sejak zaman neolitikum (zaman batu muda). Untuk melihat lebih jelas bentuknya, silahkan lihat di sini.  Pada zaman kerajaan Hindu-Budha di nusantara, bentuknya mengarah kepada arca dan candi.

Lalu, pada zaman agama Islam masuk nusantara, bentuknya merupakan gabungan dari zaman neolitikum, zaman hindu budha, dan kebudayaan Arab. Ada yang  dikelilingi batu terpahat, tanpa pahatan, maupun tanpa batu dengan tambahan terletak pada  batu nisan, seperti yang diketemukan pada makam  Fatimah Binti Maemun di Gresik.      Kini, bentuk makam di Indonesia makin beragam tetapi masih menyertakan unsur gabungan dari ketiga era  tadi plus sentuhan tangan manusia modern dan bantuan mesin. Saya sendiri tidak hapal variasinya sekarang.

Marilah kita kembali pada makam sebagai fetis. De Brosses cenderung menganggap fetis ini sebagai benda pujaan yang tertua. Pandangannya ini diikuti banyak orang dalam jangka waktu yang agak lama.

Lantas, pertanyaannya,  siapakah yang dianggap memiliki kekuatan gaib ?

E.B. Taylor merevisi konsep fetisisme  ini dalam teori animisme pada tahun 1873.   Menurut Taylor, animisme adalah suatu kepercayaan mengenai adanya roh-roh dan makhluk-makhluk halus yang mendiami alam semesta ini.

Ada keyakinan pokok dalam teori animisme ini yang relevan untuk membahas pemujaan terhadap makam. Keyakinan yang dimaksud yakni adanya jiwa pada setiap makhluk yang dapat terus berada, sekalipun makhluk itu sudah mati atau tubuhnya sudah dibinasakan.   Artinya, kekuatan yang dilekatkan pada  makam itu berasal orang yang dikuburkan.

Lagi, pada akhir abad ke-19, teori animisme dianggap tak dapat menerangkan keseluruhan gejala yang nampak pada suku-suku primitif. Orang semakin yakin bahwa ada lebih banyak unsur yang harus diperhatikan, di antaranya yang terpenting adalah kepercayaan adanya daya adikodrati yang berdiri sendiri. Berdasarkan pertimbangan itu lahirlah teori yang disebut teori dinamisme.

Konsep penguasa alam semesta pun telah dibedakan dengan konsep ruh-ruh dalam   teori dinamisme. Namun, teori itu  tetap saja menaruh kepercayaan terhadap adanya kekuatan ruh baik itu ruh nenek moyang maupun orang yang telah meninggal.

Nah, dalam konteks di Indonesia sampai hari ini, ruh-ruh semacam itu masih dianggap memiliki kekuatan bagi manusia. Kalau tidak percaya, silakan  anda mampir ke upacara adat berbagai suku. Tidak usah jauh-jauh, sebenarnya banyak fenomena di sekitar kita yang masih menunjukkan gejala tersebut. Intinya,    makam masih menjadi wahana yang tepat untuk menghantarkan pemujaan terhadapnya.

Rasionaliasi pandangan terhadap makam

Dewasa ini, pemuas kebutuhan fetis  makin bervariasi.  Tidak hanya makam saja tetapi mengikat pada banyak benda yang lain. Namun, masih banyak mereka  yang menganggap makam dan benda pusaka sebagai fetis yang memiliki kekuatan paling besar. Kini, makam orang-orang yang berpengaruh di zamannya sering disalahgunakan sebagai wahana untuk menunaikan fetisisme.

Saya tersadar, saat menuliskan ini betapa seringnya melewati makam. Berangkat dan pulang PKL di Media Indonesia, selalu saja melewati makam TPU Rawa Kopi.  Entah siapa saja yang menjadi ahli kubur di ratusan petak tersebut. Sempat juga beberapa kali berpapasan dengan keranda berisi jenazah.  Pastinya, ada pelajaran  yang membekas dari pengaitan antara makam, jasad,  dan ruh.

Bagi saya, perjalanan spiritual ke makam keluarga sangatlah berarti. Kegiatan berkunjung ke makam, sudah seharusnya dipersepsikan sebagai sarana meminta kepada yang Maha Kuasa agar ruh almarhum mendapat perlakuan yang sebaik-baiknya di alam mereka.  Tak kalah penting, bagi yang hidup, melihat makam dapat mengingatkan kita terhadap adanya kehidupan lain setelah  jasad dan ruh berpisah. Jadi, detik demi detik kehidupan tentunya dapat dijalankan dengan bertanggungjawab.

Ada benarnya juga ajaran pemurnian dari keluarga besar Embah Niti.  Buat apa makam dibuat semewah mungkin bentuknya, bila itu beresiko mendatangkan fetisisme? Nama dari orang yang meninggal dapat terkenang melalui pelajaran dari amal perbuatan semasa hidupnya. Harta dari orang yang meninggal lebih baik dimanfaatkan untuk kepentingan keluarga besar dan masyarakat sesuai wasiat almarhum. Citra dan status keluarga yang ditinggalkan pun tidak akan luntur  hanya dengan makam tanpa porselen, bila citra baik telah ditinggalkan oleh almarhum semasa hidupnya.

Jadi, apalah artinya sebuah nama dalam nisan?

Toh, menurut kepercayaan dalam ajaran pemurnian tersebut, ruh yang  meninggal telah berada dalam alamnya sendiri, yakni alam kubur (barzah).

Wallahualam.


Responses

  1. Saya sangat Setuju pak Bachtiar hakim Nitidisastra dengan fenomena fetisisme di Indonesia ini. Khusus untuk umat Islam di indonesia (khususnya di pulau Jawa), ingatlah pesan dari Sunan KaliJaga. Beliau pernah berucap pada Sunan yang lebih tua sebagai pertanggung jawaban beliau, ” saya berharap, generasi sesudah mereka mampu untuk membersihkan islam dari alkulturisasi budaya yang saya buat”.

  2. begitulah… tapi unsur budaya lokal tetap tidak bisa dihilangkan. Justru kita dapat menyerap nilai-nilai lokal yang sejalan dengan islam

  3. Salam budaya! Bach, saya suka perjalanan2 & tulisan2 kamu. Ada artikel terkait sebagai referensi: http://artshangkala.wordpress.com/2009/05/15/perbedaan-batu-tulis-petilasan-dan-makam/

  4. Fetisisme merupakan gejala yang wajar dalam proses dinamisme budaya, hanya saja fetisisme ini bisa menjadi kekayaan religi di Indonesia. Ketika sebagian masyarakat mengembangkan budaya nisan dalam pemakaman , kita tidak bisa menjastisifikasi mereka itu sebagai orang yang percaya pada fetisisme


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: