Posted by: bachtiar hakim | August 12, 2009

Menyelamatkan Sejarah Kota Bogor Lewat Foto



Pameran Foto “Menapak Identitas”

Menyelamatkan Sejarah Kota Bogor Lewat Foto

Beruntung, Saskia (14) masih bisa menyaksikan cuplikan sebuah suasana De Grote Postweg atau Jalan Raya Pos yang melintasi Handels Straat –kini Jalan Suryakencana- pada masa seratus lima puluh tahun yang lalu.

Meski hanya bisa meratapi deretan bangunan-bangunan tua lewat foto, matanya hampir tak berkedip. Bingkai demi bingkai dipandanginya dalam pameran foto yang bertajuk Menapak Identitas Kota Bogor (04/06). Kebetulan, pada hari sebelumnya, kota Bogor merayakan ulang tahunnya yang ke-527.

“Kok sekarang ruwet yah, kayaknya lebih enak tinggal di (Bogor) zaman dulu,” papar siswi kelas satu pada sebuah SMP negeri di Bogor ini seraya membandingkannya dengan situasi Jalan Suryakencana masa kini.

Penggalian fakta perubahan kota Bogor dari masa ke masa itulah yang menjadi misi utama Komunitas Kampoeng Bogor (KKB) sebagai penyelenggara acara. Hasil perbandingan diharapkan bisa menjadi bahan acuan pembangunan Bogor di masa depan. Pada acara yang diadakan di Lantai 3 Botani Square sejak awal Juni ini, KKB memasang ratusan foto Bogor tempo dulu yang sudah direproduksi.

Lewat acara yang menjadi bagian dari agenda perayaan Hari Jadi Bogor Ke-527 ini, pengunjung bebas mengekspresikan perasaannya terhadap berbagai tempat di kota Bogor. Berbagai kesan terhadap foto dapat langsung diungkapkan dengan mengisi buku pesan. Sebagai ajang menggalang dukungan, KKB pun menyediakan pendaftaran untuk menjadi simpatisan.

. Untuk menambah wawasan pengunjung, pihak penyelenggara menyediakan buletin sejarah singkat kota bogor. Terdapat pula beraneka merchandise berupa kaus, pin, sampai pernak-pernik yang tentunya mengampanyekan kepedulian masyarakat terhadap kota Bogor.

“Tujuan awalnya pameran ini memang untuk menggugah perhatian masyarakat Bogor,” ujar Ido, Koordinator KKB.

Selain dilaksanakan di mall, lanjut pria bernama lengkap Ridho Muhammad ini, pameran foto juga dilaksanakan di berbagai ruang publik untuk menjaring semua kalangan. Pada awal bulan Mei misalnya, pihaknya mengadakan acara di Perumahan Yasmin dan Kebun Raya Bogor. Adapun beberapa tempat lainnya akan disinggahi hingga akhir Juni.

KKB memilih menampilkan sejarah Bogor lewat foto karena kegiatannya difokuskan pada penggalian informasi perbandingan ruang Kota Bogor. Foto sendiri akan diolah dan disebarkan dalam bentuk pameran foto, situs, bulletin, maupun merchandise. Pengkajian bidang lainnya, seperti sejarah bahasa daerah Bogor tidak digeluti karena belum menjadi fokus kegiatan KKB. Selain itu, menurut Ido, foto lebih mudah untuk diapresiasi oleh awam sekalipun.

“Orang biasanya malas membaca buku,” ujarnya seraya melemparkan senyum ke arah pengunjung yang memadati stand bulletin.

Uthie, Koordinator Humas KKB mengakui bahwa pihaknya mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan terkait acara pameran Foto ini. Ada beberapa orang yang menitipkan barang-barang kuno miliknya untuk dipajang. Bahkan beberapa pengusaha, akademisi, pemerintah, seniman, dan budayawan ada yang mendaftar jadi simpatisan dan donatur.

Kesulitan Mencari Foto

Di balik kesuksesan KKB menyelenggarakan acara ini, ternyata ditemukan fakta yang menyedihkan. Dokumentasi sejarah, terutama foto tentang kota Bogor, tidaklah banyak. Jarang sekali ada catatan sejarah. Kalaupun ada hanyalah penuturan lisan dari tokoh-tokoh masyarakat saja.

Hal ini diakui sendiri oleh Ido. Menurutnya, selalu saja ada hambatan untuk merintis pengumpulan dokumentasi sejarah kota Bogor. Kadang dari sebuah cerita bisa terdapat beragam versi yang dikemukakan oleh tokoh masyarakat atau sesepuh. Adapun upaya untuk mengumpulkan foto dari arsip Pemerintah Kota Bogor, tidak banyak membuahkan hasil.

Keluhan ini juga diamini Uthie. Sejak dua tahun lalu, ia bersama Ido dan delapan orang rekannya mulai merintis riset sejarah kota Bogor. Museum yang diharapkannya mampu menyediakan foto, justru hanya memiliki sedikit koleksi. Padahal, lanjut perempuan berkerudung ini seharusnya dengan teknologi yang canggih, jaringan koleksi antar museum bisa terhubung dengan baik.

Status Bogor sebagai kota penelitian, di mana sebelas tempat penelitian bercokol pun patut dipertanyakan. Pasalnya, riset KKB biasanya terbentur masalah birokrasi yang berbelit-belit

“Harusnya mereka punya banyak dokumentasi yang bisa dibuka,” keluh lulusan Institut Pertanian Bogor ini.

Usaha lain pun ditempuh termasuk mencari buku-buku karya penulis lokal. Sayangnya, sedikit sekali buku-buku tentang Bogor berikut foto-fotonya. Meskipun minim foto, Ido merekomendasikan buku Catatan Sejarah Kota Bogor karya Saleh Danasasmita sebagai tulisan mengenai bogor yang cukup komprehensif.

Di tengah kegerahan itu, justru angin segar berhembus dari seberang benua. Menurut Uthie, pihaknya malah mendapatkan foto-foto dari lembaga sejarah di luar negeri. Ia membeberkan nama Universitas Leiden, Museum Tropen di Washington, dan Universitas Amsterdam sebagai penyumbang koleksi terbanyak.

“Ternyata mereka (publik luar negeri) itu gemar mendokumentasikan foto-foto negara lain, ” paparnya.

Sebenarnya orang kita juga punya koleksi, lanjut Uthie, tetapi kebanyakan tidak mau menyimpannya karena trauma dengan pencitraan komunis saat Rezim Orde Baru berkuasa. Akhirnya, mereka lebih memilih untuk membakar foto-foto bersejarah tersebut.

Masalah lain yang awalnya mengganjal, seperti pendanaan sudah bisa diatasi. KKB mengandalkan pemasukan dari penjualan merchandise dan sumbangan dana dari donatur. Usaha untuk bekerjasama dengan berbagai pihak terus dilakukan, termasuk dengan menggandeng pemerintah kota (pemkot) Bogor

Menurut Ido, peran dari pemkot Bogor, dalam hal ini Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) meskipun ada, tetapi belum terlihat menonjol. Hasil dari pendokumentasian sejarah bogor, lanjutnya, baru sebatas dijadikan data saja. Adapun upaya pemkot sampai tahap melestarikan belumlah dilakukan secara maksimal.

Begitupun masalah dana untuk mengadakan acara seperti ini, Ido mengakui tidak mengharapkan kucuran dari Pemkot karena keterbatasan anggaran instansi tersebut . Namun, ia mengakui bahwa pihak Pemkot sangat berperan dalam pengikutsertaan KKB dan perizinan pada pameran-pameran sejarah dan budaya.

Foto dan harapan

Bagaimanapun klasiknya, potret lukisan masa lalu tidak mungkin bisa diulang lagi pada masa kini. Hal ini dikatakan Ido. Baginya, lebih realistis untuk merujuk impiannya tentang Bogor masa kini pada kata “Kampoeng”.

“Kampoeng” di sini berarti sebuah wilayah dengan keindahan alamnya yang masih terjaga. Ridha menambahkan, dalam kampung, hubungan masyarakat juga bisa erat dengan penjunjungan tinggi pada nilai tolong menolong, saling berbagi. Begitupun dengan hubungan masyarakat yang dekat dengan pemerintahannya sehingga setiap pembangunan akan dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.

“Enggak mungkin lah merubah jalan aspal kembali menjadi jalan tanah seperti zaman dulu,” canda pria berusia dua puluh tujuh tahun ini.

Menurutnya, pameran foto ini diharapkan bisa menggugah orang untuk menciptakan suasana Bogor sesuai namanya. Buitenzorg sendiri berarti tempat peristirahatan yang damai dan lepas dari keruwetan. Begitulah Gubernur Jendral Baron Van Imhoff menggambarkan kota bersejarah ini.

“Minimal Bogor tetap indah dan nyaman, ” ujarnya seraya memerlihatkan tulisan yang mengungkapkan kekaguman terhadap keindahan Bogor dari Alfred R. Wallacea dalam bukunya yang terkenal The Malay Archipelago dan McMillian lewat a Journey To Java.

Kesan dan pesan lainnya diungkapkan Samson (44), salah satu pengunjung.. Bagi pria yang belum genap sepuluh tahun menghuni Bogor ini, pameran foto memberi kesan yang mendalam terhadap kota Bogor

“Paling tidak lewat pameran ini, penataan artistik pada bangunan-bangunan lama tidak berubah,“ harapnya.

Bachtiar Hakim

(dimuat di Media Indonesia edisi rabu, 10 Juni 2009)


Responses

  1. keren bgt…
    kak add aQ y,,

    • gimana kalo kamu yg add aku ajah… Facebook : “bachtiar Hakim Nitidisastra”, twitter : “www.twitter.com/bachtiarhakim”
      Salam kenal


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: