Posted by: bachtiar hakim | September 6, 2009

Bertahan Hidup ala Ipah, Si Penunggu Manglayang


Bertahan Hidup ala  Ipah, Si Penunggu Manglayang


Kawasan Wisata  Barubeureum-Gunung Manglayang menyimpan beragam potensi yang belum dikelola secara serius oleh Perum Perhutani. Warga yang melihat ada potensi yang belum termanfaatkan berupaya memanfaatkan sejumlah peluang. Mereka menganggap  peluang semakin terbuka lebar untuk menggarap lahan tidur menjadi lahan aktif yang dapat menghasilkan uang. Tidak hanya sektor pertanian dan  perkebunan, usaha mikro pun dilirik. Apalagi lumayan banyak yang mengunjungi Kawasan Wisata Gunung Manglayang.

Ipah dan Kedainya

Salahsatu warga yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut ialah Ipah.   Mendiami salah satu sudut desa yang paling sepi, Ipah dan keluarganya berusaha memanfaatkan sebidang lahan kosong di ujung jalan batu Kiara Payung – Barubeureum. Dengan modal yang pas-pasan, ia dibantu suaminya membangun sebuah rumah panggung khas Manglayang  dengan luas sekitar 50 meter persegi.

Di rumah semi-panggung itulah, roda kehidupan keluarga mereka  dijalankan. Selain sebagai tempat bernaung dari panas dan hujan,  di bagian depan bangunan itu, ia  juga membuka usaha kedai makanan. Cukup dengan membuka  sebuah jendela berukuran besar yang terbuat dari bilik tanpa teralis, orang sudah tahu bahwa kedainya dapat melayani kebutuhan makan para pengunjung sejak pagi hari hingga malam menjelang.

Ketika masuk ke dalam ruangan, suasananya mirip kedai Bubur Kacang Ijo (BKI) yang mudah ditemui di jalanan-jalanan Jawa Barat. Kursi panjang yang terbuat dari sebilah panjang kayu kamper dan bambu sebagai alas duduk dan meja yang memanjang mengesankan suasana kedai kudapan khas Sunda itu. Hidangan yang disajikan bergaya prasmanan juga dapat langsung dinikmati oleh pengunjung. Menurut Ipah, ia tidak begitu peduli mengenai konsep pengaturan ruangan tempat usahanya itu .

Hal yang terpenting menurut Ipah ialah membuat kedainya selalu dalam keadaan bersih dan tidak apek. Selain itu, intensitas cahaya dalam ruangan juga selalu dijaganya. Meskipun sampai kini belum ada listrik, ia  rela membeli minyak tanah dengan 9 ribu rupiah untuk sekedar untuk penerangan di sore dan malam hari

Saat musim libur tiba, kedainya bisa buka selama dua puluh empat jam. Meskipun kedainya sering mendadak gelap dan tutup di malam hari karena alasan keterbatasan tenaga penunggunya dan penghematan sumber energi, pendaki yang sering singgah sudah tahu bahwa kedai tersebut tidak tutup. Mereka tinggal mengetuk pintu saja dan kedai terang kembali.

Berada di Dusun 4 yang masih masuk Desa Sindangsari, Kecamatan Sukasari, ia tidak sendirian dalam  menjalankan usaha kedai. Ada dua rekannya yang mencoba peruntungannya dengan membuka kedai makanan di sebelah kedai Bu  Ipah. Menurut Ipah, letaknya yang saling bersebelahan, lantas tidak membuat persaingan antara ketiganya memanas. Justru, dengan adanya kedai selain milik Bu Ipah, kawasan itu menjadi tempat tujuan wisata.

Pendaki lewat jalur Barubeureum yang kebanyakan berasal dari Bandung, Sumedang, dan Subang hampir pasti singgah di kawasan tersebut. Berbagai makanan dan minuman yang mudah disajikan seperti mie, kopi, teh,  rokok, aneka kudapan hasil menggoreng, dan menu makanan Sunda yang sederhana   menjadi barang dagangannya.  Bagi Ipah, ia memilih menghidangkan makanan dan minuman yang  siap saji sebagai untuk mengantisipasi resiko basi. Makan seperti Mie juga  dianggap tidak rumit penyajiannya.

Usaha yang dirintis sejak tahun 1996 itu  hingga kini masih dapat dijumpai. Mulai pukul setengah enam, Bu Ipah, sapaan akrab dari para pendaki yang rutin mengunjungi kedainya sudah memulai aktivitasnya.  Bagi Ibu  dari empat anak dan nenek dari empat orang cucu ini, pilihan untuk hidup dengan menjalankan  usaha ini tidak dapat terelakkan. Penghasilan dari Pak Amin, suaminya yang bekerja sebagai peternak kambing saja tidak mencukupi. Penghasilan sebagai peternak hanya datang ketika musim panen ternak yang terjadi sekitar setahun sekali.

Sampai akhirnya, pasangan suami-istri itu memutuskan untuk  bekerja di tempat berbeda meskipun masih di desa yang sama. Ipah yang punya keterampilan memasak membuka kedai sedangkan suaminya tetap sebagai peternak kambing. Sebelum menekuni pekerjaan barunya ini, wanita asal Ciamis tersebut menghabiskan waktu untuk mengurus keluarga dan hewan ternaknya. Oleh suaminya, ia ditugasi untuk mencari rumput untuk pakan ternak.

Dari pekerjaan menyabit rumput itulah ia terfikir untuk membuka usaha sambilan. Awalnya, ia mengaku  hanya melayani kebutuhan makan dan minum (kopi) beberapa rekan sesama  pencari rumput. Karena sudah mulai dikenal di kalangan pencari rumput , akhirnya ia memberanikan diri membuka usaha kedai kecil-kecilan.

Tak disangka olehnya, kedai kecil yang didirikan di ujung jalan batu  itu menjadi tempat singgah para penyabit rumput, peladang, tengkulak, dan peternak. Hingga akhirnya  transaksi jual beli rumput pun sering dilakukan di sana. Tempat itu dalam beberapa tahun semakin santer akibat dikunjungi tukang ojek yang mengantar tengkulak.

Sebelum kedainya berdiri, tidak banyak pendaki Gunung Manglayang yang melewati jalur Kiara Payung-Barubeureum.  Mereka biasanya lebih memiih jalur Batukuda, Cileunyi, Kab. Bandung  akibat ramainya kawasan wisata situs Batukuda. Dalam sepuluh tahun terakhir, menurut pengakuan Ipeh,  jalur Kiara Payung-Barubeureum semakin ramai akibat adanya tempat persinggahan miliknya.

Adanya kunjungan wisata yang biasanya ramai di akhir pekan maupun hari libur itulah yang membuat Ipah mengajak dua tetangganya untuk mendirikan kedai.  Hasilnya, menurut perempuan yang sewaktu kecil mengidamkan pekerjaan sebagai pegawai ini, orang sudah tahu bahwa di Barubeuruem terdapat pos bayangan yang bisa dimanfaatkan untuk mengisi perbekalan dan    menginap.

”Kalau ada kunjungan dari bawah pas hari sabtu minggu saya bisa dapat 300 ribu rupiah selama dua hari sedangkan kalau lagi sepi biasanya dapat uang 30 ribu rupiah,” tutur perempuan yang pernah merasakan bangku SD sampai kelas 5 ini.

Namun sejumlah nominal yang dikemukakannya di atas mengundang pertanyaan, termasuk baginya  sendiri. Jumlah di atas adalah pendapatan kotor yang diterimanya. Ipah yang selalu ditemani anak bungsu laki-lakinya  dalam  berjualan ini tidak tahu berapa keuntungan bersihnya. Apalagi ketika ditanya mengenai pendapatan bersih secara harian ataupun bulanan dan masalah balik modal.  Ia tidak mempunyai atau melakukan pencatatan ihwal pemasukan dan pengeluaran usahanya.

Ia hanya berfikir dengan melihat sisa uang yang ada di lacinya hari itu. Jika uang yang tersisa sekitar 10 ribu rupiah misalnya, maka ia dapat berfikir dengan cepat bahwa lima ribu  rupiah akan dibawanya pulang dan sisanya akan diputar kembali untuk membeli bahan makanan. Ia tidak berusaha untuk mengetahui apakah benar pendapatan kotornya hari itu sebesar 10 ribu rupiah. Begitupun, Ia tidak pernah mencatat berapa yang dikeluarkannya dalam satu hari, meskipun ia sadar bahwa ada pengeluaran untuk jajan anaknya, biaya menyewa ojek untuk belanja di Pasar Tanjungsari, dan pengeluaran lainnya.

Artinya, kalau yang tersisa di lacinya sebesar 10 ribu rupiah bisa jadi pendapatan kotornya mencapai 50 ribu rupiah dan sisanya dikeluarkan secara tidak tercatat untuk memenuhi dengan segera kebutuhan keluarganya.  Manajemen keuangan dengan model itulah yang membuatnya kadang merasa heran.

”Perasaan hari ini yang beli banyak tapi kok masih kurang buat beli lauk di rumah,” papar penggemar Sinetron Melati Untuk Marvel ini  dengan Bahasa Indonesia yang fasih.

Saat mengalami kebingungan tersebut biasanya perasaan itu diupayakan untuk dilupakan dengan segera. Bagi Ipah, perkara besar kecilnya rejeki yang diterimanya itu urusan Allah. Ia harus bisa bersyukur dengan uang yang ada di lacinya pada hari itu. Lewat usaha kedainya itu, Ipah pun dapat berbesar hati karena telah berhasil menamatkan sekolah ketiga anaknya hingga Sekolah Menengah Umum (SMU). Bagi Ipah, hal itu merupakan prestasi tersendiri.

Namun, tak jarang manajemen yang buruk itu berbuntut pada ketidakcukupan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Misalnya ketika anak bungsunya yang masih duduk di bangku SMP meminta uang jajan sekolah. Untuk menutupi kekurangannya, biasanya ia bekerja sambilan sebagai penyabit rumput yang tumbuh di sekitar warungnya, pekerjaan lamanya. Biasanya, kekekurangan kebutuhan tersebut masih bisa diupayakan   oleh ia dan suaminya.

Kenyataannya, seringkali ketidakcukupan itu tidak hanya menyangkut kebutuhan hidup keluarga  tetapi menimpa keberlangsungan usahanya. Tak jarang, ibu yang ingin semua anaknya segera mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai itu dibuat pusing oleh ketiadaan modal yang bisa diputar untuk membeli bahan-bahan dagangannya. Untuk mengantisipasinya, ia biasanya meminjam uang ke ”Bank Keliling”.

Ia pun lantas bercerita tentang ”Bank Keliling” yang mencari kreditornya sampai ke pelosok desanya.  Menurutnya, setiap hari senin ada ”Bank keliling” yang datang ke tempatnya. Bank tersebut hanyalah sebutan bagi mereka  yang dapat meminjamkan uang dengan bunga sebesar 20 persen dan jangka waktu pengembalian mulai dari 25 hari hingga 6 minggu tanpa jaminan.

Adapun pihak yang dapat memberinya pinjaman adalah organisasi Kaperwat (Perwat = Perusahaan Wanita Tani). Dengan bunga dan syarat yang sama, Kaperwat menawarkan jangka waktu pengembalian yang lebih lama, yakni maksimal satu tahun. Buat Ipah,   perkara meminjam uang dengan bunga adalah hal yang biasa. Apabila penghasilannya tidak cukup untuk melunasi hutang, ia dapat dengan segera memberikan hewan ternaknya kepada kreditor dan perkara selesai.

Justru dari organisasi tersebut, Ipah mengetahui berapa kisaran penghasilannya dalam sebulan. Ia menyebut kisaran pada angka tujuh ratus ribu per bulannya.

Cukup adalah persepsi

Ketika ditanya mengenai kepuasannya terhadap penghasilan yang diraih sekarang, wanita yang gemar membaca harga-harga dari koran sumbangan Masjid Al Mutahhir itu hanya tersenyum. Ketika dipancing dengan harapan-harapan terhadap keluarganya, barulah ia angkat bicara. Baginya, penghasilan ia dan suaminya masih jauh dari harapan.

Ipah tidak pernah berfikir untuk menabung uang hasil jerih payahnya. Luas tanahnya miliknya pun dari dulu tidak pernah bertambah. Setiap ada kelebihan, uangnya dipergunakan untuk menambah hewan ternak peliharannya. Kebetulan, ia dan keluarganya memelihara ayam, kambing dan kelinci. Sebagian besar hasil ternak itu bukan untuk dikonsumsi sendiri melainkan untuk dijual.

Adapun untuk memenuhi kebutuhan pangannya, keluarganya jarang mengonsumsi lauk pauk kecuali ikan yang diternak di kolam samping rumah dan telur serta daging ayam yang     diternaknya. Selebihnya untuk beras, ia harus membelinya di pasar karena kebetuan tidak kebagian jatah beras Raskin. Untuk sayuran, ia  tinggal memetik di lahan tidur milik Perhutani yang disulap oleh suaminya menjadi ladang sayuran.

Kegiatan pengolahan makanan pun masih dilakukan secara tradisional. Meskipun ia telah memiliki kompor gas yang didapatkannya secara cuma-cuma dari pemerintah, ia lebih memilih menggunakan kayu bakar atau suluh. Alasannya,  ia masih takut menggunakan kompor gas. Ia juga berpendapat bahwa suluh dapat dengan mudah dicari di hutan dan ladang-ladang.

Menurut Ipah, kebutuhan papannya sudah terpenuhi dengan bangunan semi-panggung yang bagian luarnya sudah ditembok.  Begitupun dengan kebutuhan sandang. Baginya, kebutuhan sandang keluarganya kuranglah dijadikan prioritas. Ia biasanya berbelanja di Pasar Minggu Unpad untuk mendapatkannya.

Saat ditanya mengenai   kebutuhan tersier, perempuan yang mempunyai langgar pribadi ini memiliki sebuah televisi berukuran 14 inci yang didapatkannya dari menukarkan uang Bantuan Langsung Tunai (BLT). Berbeda dengan televisi yang dianggapnya sebagai kotak hiburan, ia memiliki sebuah radio  yang jarang disetelnya. Menurutnya, ia hanya menyetel radio ketika ingin mendengarkan musik bernuansa Sunda.

Untuk berkomunikasi, Ipah dan keluarganya memiliki sebuah telepon selular model lama yang didapatkannya dari pembeli di kedai yang menggadaikan barangnya karena tidak mampu membayar tunggakan hutang makan. Telepon yang menurutnya belum mahir dioperasikan olehnya itu pun lebih sering digunakan oleh anaknya.

Ipah mengaku ada suka dan dukanya hidup di desa tertinggal seperti Sindangsari. Senangnya, ia tidak perlu membeli berbagai hasil bumi dan sebaliknya agak kecewa karena sulit mencari uang di desa. Ia berharap akan ada pekerjaan yang lebih menghasilkan untuk dirinya dan anak-anaknya di.  Apabila ada pekerjaan yang menghasilkan di kota, ia siap pindah.

Ia berharap masa tuanya bisa diisi dengan bersenang-senang.

”Saya pinginnya enggak ribet, kalau bisa malah pengen bisa jalan-jalan sebulan sekali ke kampung di Ciamis,” tutur wanita yang berharap suatu saat akan ada konglomerat yang mengelola kawasan Barubeureum ini menjadi tempat wisata yang menjanjikan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: