Posted by: bachtiar hakim | November 8, 2009

Bali 1- Ihwal Kedatangan


Ihwal Kedatangan

25 September 2009

Terminal Ubung sudah menyingsing di depan mata. Bersamaan dengan sinar matahari pagi yang sudah menyengat meskipun baru pukul setengah tujuh. Sejak bus tiga perempat singgah di perlintasan kota Tabanan, aku sudah diingatkan oleh celah-celah  langit bahwa  matahari di Bali memang bersinar lebih dari 12 jam sehari – seperti yang sering dibicarakan orang.

Sungguh penantian yang lumayan lama untuk sebuah perjalanan yang hanya sekitar  1200 kilometer. Dua hari dua malam perjalanan menggunakan kereta api menyatukan jasadku dengan debu bercampur keringat. Jiwaku makin tak menentu terpengaruh oleh ratusan macam orang di kereta, pergantian bahasa di tiap stasiun, obrolan-obrolan politik yang ujung-ujungnya agama, jejalan makanan khas daerah yang dijajakan di tiap-tiap stasiun kota, sampai cerita-cerita dari penumpang sepuh tentang daerah-daerah mistik di sepanjang jalur rel.

Aktor utama dalam suasana yang khas di kereta api ekonomi tetaplah satu, pedagang. Dari mulai sebutan Mijon, Mikson, Mizon, sampai Mison,  kuping ini  sudah kebal terhadap teriakan para penjaja minuman kemasan. Belum lagi, penjaja lanting dan bakpia yang logatnya terdengar mendayu-dayu seakan  tersirat ketidakseriusan dalam berdagang.   Sepertinya, kereta api ekonomi lebih cocok dibilang pasar berjalan.  Untungnya, kereta api cuma ada di Pulau Jawa,   pulau dengan segala hingar bingarnya intrik-intrik kekuasaan memusat.   Say Goodbay to Banyuwangi, selamat tinggal Pulau Jawa.

Berubahlah sedikit demi sedikit saat menyebrangkan kaki melewati Selat Bali dengan ongkos feri hanya 5900 rupiah saja. Selain penampakkan fisik, batin juga ikut merasakan perbedaan dalam ketenangan dan pancaran aura. Anda mau percaya atau tidak, tapi setiap orang punya pengalaman spiritual yang berbeda-beda.

Bau dupa sungguh menyengat tapi cukup nikmat untuk dilalap saat Gapura besar berdiri di batas dermaga kedatangan kapal. Sudah terlalu larut malam untuk berdiam diri di pelabuhan yang terlihat sepi. Daripada mati gaya berdiri, lebih baik duduk manis menunggu bus di Terminal Gilimanuk, sekitar 100 meter keluar pelabuhan.

—–

Tidak perlu angkutan massal seperti bus AKAP di Jawa. Angkutan di Terminal Gilimanuk yang ada hanya  sekadar bus-bus  tiga perempat, sisanya mini bus-mini bus berukuran lebih kecil.  Angkutan kecil dan itupun perlu menunggu waktu lebih dari setengah jam di terminal sebelum penumpang penuh dan berangkat. Kalau pada dini hari seperti yang kualami, butuh waktu dua jam untuk menunggu.  Entah, mengapa  mobilitas penduduk bali menggunakan angkutan ini minim?

Bus berangkat pukul setengah tiga pagi menerobos keheningan kawasan Taman Nasional Bali Barat yang katanya cukup rawan bagi sepeda motor untuk melintas. Kisah-kisah bajing luncat dari  Jawa berlaku juga di sini, tetapi pelaku dan modus operandinya hampir sama. Menurut orang-orang Bali, kebanyakan maling yang tertangkap polisi dan terpublikasi di media kalo bukan pendatang dari Jawa, Madura, pastilah dari daerah Timur, seperti Lombok, flores,dsb.

Tidak perlu jalan besar seperti lintas pantai utara dari Jakarta hingga Surabaya. Jalan-jalan di Bali , kecuali yang berada di pusat kota kabupaten mirip dengan jalur selatan di Jawa. Medannya berliku-liku, naik turun, plus bonus trek lurus dengan lebar jalan sempit. Jalannya kecil tapi mulusnya bukan main dan dilengkapi rambu-rambu jalan yang banyak.

Keluar hutan, bus mampir sebentar di Terminal Negara, Kabupaten Jembrana  untuk mengangkut pedagang Banten dan barang dagangannya. Ruangan yang tidak terisi penuh jadi sumpek terasa dengan aroma cat-cat yang memoles banten menjadi cantik dan pastinya siap jual. Kabupaten Jembrana dan garis kelok-kelokan  pantainya yang membujur siap membuat badan oleng ke kanan-kiri. Supir bus nampaknya sudah  melahap jalan itu beratus-ratus kali, sehingga tenang-tenang saja.

Gemerlap lampu-lampu kota Negara seakan memudar mengiringi kedipan mataku yang makin melambat. Negara hingga kota  Tabanan  kulewati dengan mimpi. Maksudku tertidur pulas. Selama satu setengah jam  perjalanan itu, bahuku dibangunkan oleh banyaknya penumpang yang naik, seiring menyingsinya fajar. Bau dupa terasa makin menyengat saat supir bus menyalakan dupa di canang yang berada di atas kemudinya. Orang Bali memang penuh dengan laku spiritual, kesanku.

Benar saja seperti paragraf pertama tulisan ini, semakin menuju Denpasar jantungku makin berdegup penuh ketidakpastian. Ini adalah akhir perjalanan dalam arti jarak tempuh. Aku harus diam untuk mencari titik aman, melakoni perjalanan baru menghabiskan waktu untuk berkarya dan merintis kehidupan baru di kota ini selama tiga sampai empat bulan.

Bali - lebih indah di kalbu daripada di mata


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: