Posted by: bachtiar hakim | December 2, 2009

Siapa Bilang Banyak Libur (Bali)?


Siapa Bilang Banyak Libur (Bali)?

Penat!

Ini akhir bulan November.  Alamak.  Aku bosan. Bekerja siang dan malam sungguh melelahkan. Bagaikan robot.  Paginya sibuk mencari dan menulis  berita sedangkan malamnya memeluh keringat di sebuah restoran (tidak usah menyebut namanya, daripada kena langgar UU ITE) di kawasan Double Six, Legian.

Praktis waktu istirahat hanya pukul sebelas malam sampai pukul enam pagi. Sampai-sampai, Dina, Arni, dan Koming, teman satu kost-ku rela membukakan pintunya pada tengah malam, sekadar untuk berbincang di depan TV dan memastikan bahwa kamar di sebelahnya tetap berpenghuni. Siapa penghuni kamar yang jarang nongol itu? Siapa lagi kalo bukan aa yang nyunda ini.

Kupaksakan saja kalau akhir pekan ini ingin segera mengajukan libur kerja. Praktek di Bali TV tidak masalah karena memang tiap tanggal merah di kalender libur. Urusan yang cukup ribet hanyalah perizinan libur di restoran. Harus menelepon atau bilang ke kepala service atau HRD dahulu dan memberitahu bahwa dalam satu minggu ini, aku ingin memakai jatah libur yang satu hari pada hari minggu.

Nahlo, bukannya hari minggu memang hari libur?

Libur?

Asyik Libur. Libur? Katanya di Bali banyak hari libur? Benarkah?

Setuju dan tidak setuju. Siapa dulu yang bilang? Saya bertemu dengan banyak teman-teman baru di Bali yang menceritakan pengalamannya tentang libur kerja.

Kalau anda Pegawai Negeri Sipil

Berarti hari Sabtu dan Minggu libur. Yups. Berarti  sama saja lah kayak di provinsi manapun di Indonesia. Dua hari lho dan kalo setiap ada tanggal merah di kalender pasti libur.

Kalau anda Pegawai Perusahaan Swasta selain di Bidang pariwisata (badan hukumnya sudah berstatus CV/ PT)

Rata-rata jatah libur di perusahaan swasta di Bali dalam satu minggu hanya satu hari. Ada yang liburnya serempak pada hari minggu, Ada juga yang diacak ataupun bisa dipesan harinya. Kebanyakan, kalau ada hari besar nasional, karyawannya diliburkan.  Sama saja dong kayak di Jakarta.

Kalau anda Pegawai Perusahaan Swasta di bidang pariwisata (badan hukumnya sudah berstatus CV/PT)

Rata-rata jatah liburnya sama seperti di perusahaan swasta, yakni sekali seminggu. Bedanya, kalau kunjungan wisata sedang ramai seperti rutin terjadi pada akhir pekan (sabtu/minggu) , anda harus siap menambah jam kerja dan tidak bisa libur pada dua hari tersebut (kecuali sakit dan ada keperluan mendesak). Artinya, pilihan waktu libur justru jatuh  pada hari senin sampai jumat. Seringkali bila  peak season maupun liburan panjang yang terjadi dalam bulan-bulan tertentu saja, satu minggu bisa jadi tidak libur dan jatahnya diganti pada bulan-bulan yang lengang. Libur model gini yang agak beda dengan perusahaan-perusahan selain Bali.

Kalau anda Pegawai Perusahaan Swasta di bidang pariwisata (statusnya masih perusahaan perorangan/usaha mikro)

Rata-rata jatah liburnya sama seperti perusahaan pariwisata yang sudah berstatus CV/PT. Bedanya,  di perusahaan ini jam kerjanya kurang teratur dengan pembagian shift yang jarang terjadi. Kalaupun ada pekerjaan di luar jam kerja, si pegawai harus rela berdedikasi lebih pada perusahaan dengan atau tanpa uang bonus.

Kalau anda pegawai harian (daily worker)

Pengandaian seperti di atas hanya berlaku untuk pegawai tetap. Kalau anda menjadi pegawai harian, terserah anda mau libur kapan, tetapi anda tetap harus mengajukan izin terlebih dahulu dan sewaktu-waktu harus siap dipanggil bila ada pekerjaan mendesak. Anda juga harus menerima konsekuensi, mengambil libur berarti tidak dapat penghasilan hari itu dan terlalu banyak libur berarti siap-siap saja menerima surat pemutusan.  Sama kan seperti di luar Bali?

Memang sudah nasib kalau jadi pegawai. “Libur tidak bisa seenaknya!” begitu kata atasan di restoran saat saya mencoba mengambil jatah libur lebih dari ketentuan.  Namun, tidak seperti di perusahaan luar Bali, di sini lebih mudah mengajukan libur tambahan dengan alasan acara keagamaan. Perusahaan pun biasanya sudah menyediakan jatah cuti per tahunnya bagi pegawainya untuk pulang kampung.

Hal ini dilakukan karena dalam setahun, orang Bali bisa belasan bahkan puluhan  kali mengadakan acara ritual keluarga atau di lingkungan banjarnya. Bila pemilik perusahannya merupakan orang Bali asli, kebanyakan tiap ada perayaan hari suci umat Hindu, perusahaannya off dan karyawannya dibiarkan bersembahyang.

Jadi siapa yang paling banyak Libur?

Sebentar dulu. Kalau lihat Bali perbandingan  antara yang menjadi pegawai dan pekerja mandiri ataupun pengusaha di Bali, jumlahnya cukup berimbang.

Pekerja mandiri ini banyak sekali  saya temukan di kota maupun desa. Dibilang santai-santai saja, iya. Namun, dibilang pengangguran juga tidak. Toh, hasil karya mereka ada dan tampak. Berbeda dengan pegawai yang cukup banyak berasal dari luar Bali, para pekerja mandiri ini justru mayoritas orang Bali asli. Mereka ini biasanya pekerja seni yang membuat karya-karya lukisan/patung/uang koin/dan bentuk seni rupa lainnya   untuk dipasok ke galeri maupun pengecer di tempat-tempat wisata.

Selain itu, pekerja mandiri ini  beberapa ditemukan di bale-bale banjar/wantilan saat sedang berlatih drama, tari dan musik yang akan disuguhkan  kepada wisatawan. Pekerja seni model ini juga berseni untuk kalangan masyarakat mereka sendiri meski hanya imbalan makan dan uang saku secukupnya dari dana punia. Sayangnya, pekerjaan mandiri lainnya seperti  penulis di Bali jarang ditemukan.

Ada juga bentuk kemandirian lainnya, seperti pengrajin sarana bakti persembahyangan seperti canang, banten, dan   kue-kue tradisional untuk dijajakan di Pasar maupun mini market. Selain itu, pastinya mereka yang bertani/berladang. Sebenarnya Bali adalah surganya lahan pertanian di mana banyak letusan gunung berapi, air yang masih jernih, dan sistem pengairan yang terpadu lewat subak.

Dan ini juga patut diperhitungkan :  ada pekerja mandiri yang tidak tampak karyanya tapi jelas garapannya. Mereka  adalah guide. Garapannya adalah siapa yang berjalan di belakang mereka. Meskipun ada aturan lokal bahwa guide resmi harus memiliki naungan biro wisata tertentu , tetap saja jumlah yang tidak resmi ini bisa lima kali lipat dibandingkan dengan yang resmi.

Oleh karena para pekerja mandiri ini biasanya asli Bali, mereka tahu kapan mereka harus bekerja dan kapan harus libur.  Kalender Bali biasanya menjadi acuan yang utama dan lingkungan adalah acuan yang kedua dalam hal pemilihan waktu libur. Kalau kalender Bali sudah menanggalkan saat purnama misalnya, maka mereka bisa meliburkan diri pada hari itu dan memilih mempersiapkan sarana bakti sejak pagi  hingga ritual piodalan pada malam harinya. Kalau ada acara karya agung di banjar tempat tinggalnya atau pura, mereka juga akan meninggalkan sejenak pekerjaan aslinya untuk berderma dan ngayah (bekerja sukarela tanpa mengharapkan hasil).

Kebiasaan-kebiasaan lokal di lingkungannya turut juga mempengaruhi pemilihan waktu libur bagi para pekerja mandiri. Saya sering sekali diajak untuk ikut dalam kebiasaan minum arak / tuak di malam hari dan bisa berlanjut sampai pagi kalau memang obrolannya seru.  Tidak aneh lagi bila menjumpai tajen atau sabung ayam di siang/sore hari ataupun judi togel di sore hari . Tidak peduli yang ikut kaya atau miskin, bertempat di kota atau desa. Sama saja.

Sepintas memang kebiasaan buruk, tetapi anda perlu menilai sendiri ke tempat-tempat itu.  Saya sendiri masih bingung dan sedikit sungkan untuk bertanya mengapa mereka rela meliburkan diri untuk kegiatan semacam itu. Pastinya, hal yang saya rasakan kegiatan semacam itu juga membuat persemetonan (persaudaraan) masyarakat Bali sangat kuat.

Terakhir adalah pengusaha. Jumlah orang Bali dan luar bali (terutama Jakarta dan luar negeri ) cukup imbang yang menjadi pengusaha di Bali bisa dikatakan agak seimbang.  Sebenarnya mereka juga pekerja mandiri tetapi biasanya tidak bergerak di hulu (produksi bahan baku). Mereka mengambil nilai lebih dari produk pekerja mandiri ini.  Mereka antara lain pemilik galeri, art shop, hotel, vila, cottages, losmen, restoran, kafe, eksportir-importir, biro wisata, wahana wisata, dsb.

Bagi yang sedang merintis, sama saja porsi kerjanya dan liburnya seperti pekerja mandiri. Barulah yang sudah mapan biasanya santai dan bebas memilih sesuai kondisi perusahannya yang dimiliki berdasakan pemantauannya. Artinya pemilihan waktu libur itu bisa bebas.

Anda Jangan kaget! Karena masih ada satu lagi  golongan yang bisa mengisi hari-harinya dengan libur. Dialah tuan-tuan tanah. Sepintas mereka tidak terlihat berkarya, bahkan terkesan pengangguran. Jangan Aneh kalau  uang terus mengalir ke kantong mereka dengan jual-beli tanah-bangunan  dan sewa tanah-bangunan. Jumlah mereka banyak dan mayoritas siapalagi kalau bukan tuan rumah di tanahnya sendiri alias orang Bali.

Jadi, yang bilang Bali banyak libur,  menurut saya adalah orang Bali sendiri.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: