Posted by: bachtiar hakim | February 2, 2010

Pelajaran Dari Bali – Wisata Dibalik Wisata


Wisata Ngalor-Ngidul

“Visit Indonesia Year 2009”

(slogan pemerintah kita untuk membangkitkan sektor pariwisata)

“JOGJA – Wisata Jogja / Yogyakarta

jogja atau yogyakarta adalah daerah tujuan wisata utama di pulau jawa – indonesia. yogyes.com menyediakan informasi lengkap tentang obyek wisata, hotel, …

Obyek Wisata – Hotel 100rb – Hotel Melati – Wisata Kuliner”

(kutipan dari hasil pencarian paling atas untuk kata kunci “wisata” di situs http://www.google.co.id)

“Wisata Kuliner”

(Nama acara televisi di sebuah stasiun televisi swasta)

“Info Wisata/ Tours Information… Book Here, Guide available”

(pesan iklan yang terpampang di papan-papan sepanjang pantai Kuta)

Informasi tersebut secara tidak sadar menjejali pikiran saya hampir setiap merencanakan “mau ke mana, mau ke situ”. Perkara soal wisata memang  sangat menarik diperbincangkan dan sudah dianggap sebagai hiburan di media massa. Bila anda awam sekalipun tentang sebuah obyek wisata, saat ini cukup banyak   referensi yang bisa dicari.

Tak dipungkiri, perkara mengadakan kegiatan wisata memang semakin dipermudah dengan teknologi komunikasi, transportasi, dsb. Artinya, selalu ada cara untuk berpergian ke tempat jauh sekalipun.   Sumber daya manusia yang kompeten cuap-cuap tentang wisata pun banyak, apalagi sekarang banyak berjamuran Sekolah Pariwisata.

Sebaliknya, saya sangat jarang menemukan tulisan atau tayangan yang membahas secara mendalam tentang konsep dasar wisata dengan berbagai sudut pandang tertentu. Mungkin hanya akan membuang-buang waktu untuk dan merusak kesenangan yang sepantasnya diperoleh dari kegiatan ini . Tulisan ini mungkin sebagian kecil saja dan kurang mendalam, tetapi boleh diambil lah sisi positifnya.  Tidak ada maksud juga meledek pihak-pihak tertentu lewat dialog-dialog yang disajikan di sini.

Pandangan Tentang Wisata

Kadang saya heran, kenapa seringkali “mike-mike” atau “darling-darling”- panggilan akrab buat turis asing mau berkenalan lebih jauh dengan orang Indonesia dan bahkan membuat hubungan pertemanan yang akrab. Ternyata, jawaban dari “Mike” asal Australia yang bernama Stuart ini mampu memuaskan saya. Intinya kata Stuart, Ada banyak cara dan tujuan orang berwisata.

Hasil pertemuan dengan bule di sore ini meneruskan jawaban dari pertemuan saya dengan seorang perantau dari Madura yang bertemu di Pasar Badung/Kumbasari, Denpasar  pada pagi harinya.  Sebut saja orang itu dengan “Pak Tua”. Tujuan kami kebetulan sama yakni ingin mencari makanan nasi campur di pasar.

Kita berdua berbicara tentang  Bali, wisata,  masalah pekerjaan, sampai feminisme. Perbincangan yang tidak terduga itu mulai menghangat saat saya menanyakannya tentang apa yang saya lihat di Pasar Badung. Di pasar ini, kebetulan saya menyaksikan betapa perkasanya perempuan Bali (mungkin akan saya bahas di tulisan lain).

Namun, sesuai niat saya hari ini : .. wisata.. wisata… wisata… Ia mampu memberikan  pandangan baru tentang wisata kepada saya. Dari mulai hal yang terkecil saja, yakni kata “wisata”. Sederhana saja, Pak Tua ini menanyakan saya tentang arti kata wisata itu kepada saya. Lantas ia menyuruh saya membandingkan fenomena wisata yang sering kita jumpai dengan asal katanya. Saya hanya bercerita tentang pengalaman wisata saya saja.

“Anda masih belum tau banyak tentang wisata,”  kata bapak itu seraya mengambil alih pembicaraan dengan membahas asal kata wisata versinya.

Apakah ini juga wisata?

Ngintip Makna “Wisata”

Saya berusaha mencari tahu akar kata “wisata” untuk membuktikan kebenaran omongan pak Tua tersebut.  Langkah pertama  yang paling gampang tentunya cari di mesin pencari Google. Sialnya, beberapa kali kata kunci “wisata india”, “arti  wisata”, “asal-usul kata wisata”, “filosofi wisata”,  “wisata sansekerta”, “wisata visatha” tidak membuahkan hasil yang berarti.

Lalu, saya iseng mencari dengan moda pencarian blog dan menggunakan kata kunci “etimologi wisata kawi kuno”.  Nah.. akhirnya nongol juga di sebuah situs blog http://isnoe82.blogspot.com/2009/03/wisata-religi-antara-tantangan-dan.html . Hmm… mungkin Inilah fungsinya blog, di mana informasi yang tidak bisa didapatkan dari situs-situs mainstream bisa didapatkan di sini.

Menurut situs tersebut, Kata “wisata” berasal dari akar kata bahasa sansekerta “VIS” juga yang berarti menempatkan, masuk, pergi ke dalam, duduk. Kata “VIS” juga berarti: tempat tinggal, rumah (wisma). Dari akar kata “VIS” berkembang menjadi “vicata” (bahasa kawi/Jawa Kuno “Wisata”) yang berarti: bepergian untuk mencari hiburan tamasya.

Yang sangat menarik, kata “visit” bahasa inggris yang berarti: mengunjungi/kunjungan, diduga berasal dari kata yang sama “vis” dalam bahasa sansekerta. Sedangkan kata “tamasya” berasal dari bahasa Arab: tamasyasya – yatamasyasya – tamamsysyian, yang berarti; berjalan-jalan.

Kata “pariwisa” berarti: pergi berkeliling. (Catatan: “paripurna” dari “pari” dan “purna” (selesai, penuh): “paripurna” berarti selesai dengan bulat (selesai sama sekali) atau penuh secara bulat (lengkap).[1] Selain kata “turis” dan “turisme” yang berasal dari kata “tour” (inggris) yang berarti perjalanan (keliling).

Demikianlah dari segi etimologi kata “wisata”,”pariwisata”,”visit”,”tamasya” dan “turis/turisme”, semuanya mengandung makna yang kurang lebih sama, yaitu pergi, berkunjung, berjalan, berkeliling…

“wisata” itu sendiri semula bersifat netral, bahkan cenderung positif. sedangkan mengutip WIKIPEDIA kata “pariwisata” berarti:“Pariwisata atau turisme adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk rekreasi atau liburan, dan juga persiapan yang dilakukan untuk aktivitas ini. Seorang wisatawan atau turis adalah seseorang yang melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 km (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi, merupakan definisi oleh Organisasi Pariwisata Dunia.

Tujuan Berwisata

Nyambung dengan pemikiran si “Mike”, sebenarnya sudah berulang kali saya ingin menuangkan apa yang saya pikirkan tentang wisata. Hal itu dirasakan cukup perlu agar dpat lebih mendapatkan lagi arti setiap langkah perjalanan. Jalannya, yakni berusaha mencari-cari pertanyaan untuk menjawab berbagai sudut pandang orang yang berbeda-beda dalam memaknai wisata.

Jujur saja, awalnya pemikiran ini timbul karena merasa sebal akibat sering dianggap sepele oleh orang lain apabila ingin merencanakan perjalanan wisata.  Meskipun dari awal sudah bilang tujuannya tidak murni wisata saja (misalnya : wisata sambil bekerja, wisata sambil penelitian, wisata sambil menyelesaikan urusan tertentu), tetap saja ujung-ujungnya dibilang “terserah kamu lah” .

Mungkin juga anda juga pernah merasakan pengalaman seperti percakapan berikut ini :

A : Saya ingin mendaki Gunung Semeru…

B : Ngapain mau daki gunung harus jauh-jauh ke Malang, daki aja Gunung Geulis (di Sumedang). Kan dekat…

A : Saya pengen makan Soto Betawi di Kampung Budaya Betawi, Setu Babakan..

B : Ngapain ke sana? di Bandung juga ada RM. Betawi. Buang-buang duit aja.

A : Saya ingin pergi ke Flores untuk menikmati keindahan Danau Kelimutu…

C : Ngapain ke sana? Lihat aja di televisi atau lihat fotonya di internet. kan ada..

A : Saya pengen tau masyarakat Baduy Dalam…

D : Ada buku tentang baduy kan? Kalo mau, tanya-tanya aja ama budayawan atau ikut diskusi mereka aja. Kan gak ribet.

A : Saya pengen ke Kebun Binatang ?

F : lah, waktu kecil kan udah pernah ke sana. Ngapain ke sana lagi?

A : Saya pengen jalan-jalan ke Jogja. Mau ikut gak?

E : Sama siapa aja?

A : sekarang sih masih belum ada teman

E : ngapain pergi sendirian?  kan gak rame…

Jadi, bermula dari cari-cari alasan yang logis dan jujur untuk menjawab pertanyaan itu saya menemukan banyak definisi tentang wisata yang bersumber dari cara pandang masing-masing.  Sekarang, sebelum anda menyinggung orang dengan pertanyaan sinisme yang akan harus mengerti bahwa wisata bukan sekedar menikmati fenomena fisik saja melainkan ada dimensi mental yang ada di dalamnya. Wisata bukan sekedar perjalanan bersama-sama tetapi juga dapat dilakukan seorang diri. Wisata bukan tanpa tujuan, kecuali bagi mereka yang terjebak dalam mitos-mitos di bawah ini.

Mitos seputar wisata

Nah, sekedar untuk bahan obrolan santai di tulisan  ini, ada beberapa mitos tentang wisata yang saya dapatkan dari pengalaman pribadi. Hmm… Gimana kalau kita bahas bersama-sama. Mungkin, teman-teman punya pengalaman yang berbeda. Juga, kalau anda butuh teks-teks yang berkaitan  mitos ini, silahkan cari di buku (kebanyakan novel-novel dan buku-buku bergenre how to), juga di tayangan televisi tentang perjalanan wisata yang menjamur dalam lima tahun belakangan, berita khas dan iklan-iklan di media cetak,  serta Internet.

Berikut mitos-mitosnya yang sering saya temukan:

“Wisata berarti bersenang-senang”

“Wisata berarti berkunjung ke tempat yang jauh atau terpencil”

Wisata berarti pergi berpasangan atau berkelompok”

“Wisata berarti berjalan-jalan”

“Wisata berarti membeli oleh-oleh / cinderamata”

“Orang yang sering berwisata berarti banyak uang, banyak waktu luang”

“Sektor Pariwisata adalah sumber pemasukan bagi negara”

“Aksi Teror dapat merusak industri pariwisata”

“……………………………………………………..” (silahkan tambahkan kalo ada ide baru)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: