Posted by: bachtiar hakim | June 5, 2008

Jurnalisme Sastra – Septiawan Santana


Rangkuman

“Jurnalisme Sastra”

Penulis Septiawan Santana Kurnia

Jurnalisme Baru dan Jurnalisme Sastra

Di Amerika istilah new jurnalism muncul ketika doktor American Studies dari Yale University, Thomas Kennerly Wolfe Jr. membaca tulisan Gay Talese tentang Joe Louis seorang petinju lapuk di majalah Esquire (1962). Dari sini Wolfe yang merasa terkesan dengan gaya tulisannya itu menemukan bahwa sistem jurnalisme baru telah lahir, dimana teknik reportase dan gaya pelaporannya yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat narasi lama. Kemudian Wolfe mulai mencoba observasi dan mempraktekkannya, bahkan ia mengaplikasikannya didalam gaya penulisan novel.

Mulanya penulisan laporan dengan gaya sastra digunakan untuk menandingi atau mengungguli daya piket kecepatan penyampaian dan media audio visual yang diwakili oleh Televisi dan Radio. Dalam karya sastra ini yang dibutuhkan adalah kedalaman informasi yang lebih dibandingkan pelaporan biasa. Sebab, dalam pekerjan new journalism ada peliputan yang digarap diluar kebiasaan reporter koran atau penulis nonfiksi, yakni :mengamati seluruh suasana, meluaskan dialog, memakai sudut pandang dan mencari bentuk monolog interior yang bisa dipakai.

Menurut kalangan akademisi Amerika, secara umum eksplorasi kerja para jurnalis baru itu dapat didefinisikan dalam empat bentuk pengembangan, yaitu : (1) menggambaran kegiatan jurnalistik yang bertujuanmenciptakan opini publik dengan penekanan obyektivitas pers untuk mewujudkan fungsi watch dog (penjaga moral) dari the fourth estate (pilar keempat) setelah trias politica, (2) memetakan upaya jurnalisme yang mengkhusukan target pembacanya, (3) penggunaan metode ilmiah dalam teknik reportase dan mengadopsi langkah-langkah penelitian yang disyaratkan oleh dunia akademis kedalam teknik pencarian berita, dan (4) membuat berita dengan sajian berita yang sejenis kreasi sastra yang dikemas jadi gaya baru dalam penulisan nonfiksi.

Fedler seorang komunikolog mengamati perkembangan diatas, dimana ia membagi jurnalisme baru ke dalam empat pengertian, yakni :

1. Advocacy Journalism

2. Alternative Journalism

3. Precision Journalism

4. Literary Journalism

Pelaporan Jurnalisme Sastra

Penulisan baru didalam sistem Jurnalistik baru adalah menulis feature. Wolfe seorang ilmuwan yang menjadi inspirator dalam new journalism kala itu sedang merasa frustasi dengan gaya penulisan lama. Menurutnya penulisan itu tak dapat mengakomodir kemampuannya untuk mempertunjukkan kembali atsmosfer fakta lingkungan.

Kisah yang diangkat dalam feature bersifat kemanusiaan, panjang, cukup lengkap, dan kerap menyembunyikan pengalaman sentimental orang-orang biasa yang terlibat dalam suatu tragedi atau peristiwa luar biasa. Dengan tema human interest yang diangkat, para penulis feature dapat memperlihatkan kemampuan mengolah berita dan mendramatisasi kisah-kisah kemanusiaan dengan kata-katanya. Isi tulisan mengeksplorasi minat pembaca pada manusia lain dan mengingatkannya untuk berbagi pengalaman kemanusiaan.

Dalam feature, Aktualitas “waktu” bukan sebuah elemen utama yang di biasa diberlakukan pada setiap pemakai hard news. Ketekunan memungut hal-hal spesifik ketika berada di lokasi observasi juga menjadi aspek penting dalam membuat suatu feature.

Karya jurnalisme sastra juga bisa menjadi bacaan mirip novel. Dalam jurnalisme sastra, kekuatan novel tercampur ke dalam gaya menulis jurnalisme sastra yang (sebagai karya nonfiksi) tidak kalah mutunya dibandingkan sebuah novel.

  1. Dimulai dari feature

Feature adalah kategori lain penulis koran yang saat itu mengedepankan model pemberitaan hard news ia ditempatkan di bagian berita ringan dan dimasukkan dalam daftar item berita yang tak diburu-buru. Berita yang diangkat bertema kemanusiaan, panjang, cukup lengkap, dan kerap menyembunyikan pengalaman sentimentil orang-orang biasa yang terlibat dalam suatu tragedi atau peristiwa luar biasa. Dalam agenda reportase itulah, dalam banyak kasus, ia memberi seseorang keleluasaan ruang untuk menulis.

Penulisan feature menjalin banyak kejadian dan komentar tokoh-tokoh menjadi sebuah cerita. Umumnya tulisan diawali dengan pembuka kisah tidak langsung, diikuti sebuah insiden atau anekdot yang mewakili tema pokok. Tubuh tulisan berisi insiden-insiden lanjutan, sejumlah kutipan dan pokok berita. Bagian penutup meringkas kembali seluruh materi atau memasukkan klimaks.

  1. Seperti novel

Like a Novel”, demikian Wolfe memberi judul bagian kedua pendahuluan didalam bukunya. Novel memang mempengaruhi kemunculan jurnalisme baru (sastra), tapi bukan sekedar penjiplakan semata.

Jurnalisme sastra, secara konsep dan dalam banyak segi memang membawa kebaruan. Kebaruan itu diawali dengan pencampuran fakta dan fiksi. Pembaca dibuat merasa membaca kisah fiksi yang berbumbu fakta. Hal itu karena sajian peliputannya kadang-kadang menampilkan tokoh-tokoh yang riil. Bahkan dalam contoh yang paling ekstrem, pembaca tidak tahu lagi yang mana yang fiksi yang mana yang fakta. Pada diri tokoh yang diberitakan, penulis jurnalisme sastra dengan sengaja mengkompilasikan banyak karakter yang ia temui saat meliput sehingga laporan mereka terasa dramatis dan diceritakan dalam tempo penceritaan yang cepat.

Empat alat Jurnalisme Sastra

1. Penyusunan Adegan

Laporan disusun menggunakan teknik bercerita adegan demi adegan, atau suasana demi suasana. Teknik pengisahan suasana demi suasana, membuat pembaca larut dalam kejadian yang tengah dilaporkan jurnalis baru. Untuk melaporkan suatu berita secara lengkap, kerja jurnalis harus lebih dari sekedar melaporkan fakta-fakta dan menyusunnya secara kronologis. Mereka harus melakukan pengamatan melebihi reporter biasa.

2. Dialog

Setiap orang pasti akan “berkata” atau “menyampaikan sesuatu”, dan apa yang dikatakannya bisa bernilai “berita”. Dengan teknik “dialog” ini, jurnalis sastra coba menjelaskan peristiwa yang hendak dilaporkannya. Bagaimana yang terjadi, itu yang disampaikan. Melalui percakapan pula, disiratkan karakter para pelaku yang terlibat, sekaligus diterangkan mengapa suatu peristiwa terjadi. Melalui dialog, jurnalis mencoba memancing rasa keingintahuan pembaca.

3. Sudut Pandang Orang Ketiga

Dengan alat ini, jurnalis baru tidak hanya pelapor, ia bahkan kerap menjadi tokoh berita. Ia bisa menjadi orang disekitar tokoh, karena ia harus berperan menjadi pelapor yang tahu jalannya berita. Sudut pandang bisa didapat dari orang yang diajak berdialog. Dalam pelaporan jenis ini, sudut pandang tidak hanya satu tetapi bisa sampai tiga. Orang ketiga bisa jadi tokoh utama dalam berita, tetapi bisa juga sebagai orang yang berada di sekitar kejadian dan tengah melaporkan hasil pengamatan jurnalistik.

4. Mencatat Detail

Semua hal dicatat dengan terperinci; yaitu perilaku, adat istiadat kebiasaan, gaya hidup, pakaian, dekorasi rumah, perjalanan wisata, makanan dan lain-lain. Jurnalisme diharuskan untuk lebih meriilkan realitas peristiwa-berita dan dengan kesungguhan menampilkan kenyataan yang murni dalam pelbagai segi..

Perkembangan Jurnalisme Sastra

Fedler mencatat ada 4 bentuk turunan new journalism:

1. Advocacy journalism yang mengilustrasikan tujuan penciptaan opini publik, melanjutkan peran watch dog (pengawas)dari fungsi the four estate of the press.

2. Alternative journalism yang menspesialisasikan target minat pembaca, seperti jurnal profesi

3. Precision journalism yang menggunakan metode ilmiah sebagai alat reportase

4. Literary journalism yang menggunakan kreasi sastra dalam penulisan laporan secara non fiksi

Pada perkembangannya kemudian kata Litetary journalism menggantikan istilah new jornalism. Jurnalis seperti Newfield percaya bahwa new journalism sebenarnya hanya perbedaaan gaya menulis. Paham ini sudah ada sejak lama seperti yellow journalism yang muncul pada tahun 1890-an. Tak heran bila kemudian banyak kritikus mengecam new journalism yang dianggap mengembalikan keburukan masa lalu. Mereka menyebutnya an era of bias, hal ini karena new journalism melahirkan jurnalis yang terlalu subyektif dan melebih-lebihkan individualisme wartawan dalam mengambil sudut pandang ruang-waktu terhadap suatu peristiwa.

Pada tahun 1984, para jurnalis sastra memperkuat karakteristik jurnalisme sastra yang dikembangkan Tom Wolfe pada tahun 1970-an. Para jurnalis sastra memasukkan reportase immersion, akurasi, suara, struktur, tanggung jawab, dan representasi simbolik. Para penulis menambahkan daftar keterlibatan pribadi dan kreativitas artistik pada materi mereka. Sejumlah elemen lain juga ditemukan yakni: proses pencarian akses, simbolisme fakta, strategi-strategi riset, dan teknik-teknik yang juga dimiliki oleh fiksi dan etnografi.

Elemen jurnalisme sastra menurut Farid Gaban

  1. Akurasi, membuat penulis kredibel.
  2. Keterlibatan, memadu reporter untuk menyajikan detail yang merupakan kunci untuk menggugah emosi pembaca.
  3. Struktur, tulisan harus mampu menggelar suasana, merancang irama dan memberikan impact yang kuat kepada pembaca.
  4. Suara, dalam artian posisi penulis dalam tulisan tersebut.
  5. Tanggung jawab, penulis harus mampu menampilkan nilai pertanggung jawaban.
  6. Simbolisme, setiap fakta yang kecil sekalipun merupakan gagasan yang sengaja disusun karena terkait makna yang lebih dalam.

Aturan Jurnalisme Sastra

1. Riset mendalam dan melibatkan diri dengan subjek

Jurnalisme sastra membutuhkan waktu yang lama dalam melakukan reportase. Oleh sebab itu data yang ada lebih akurat dan mendalam. Selain itu para jurnalis sastra harus lebih mendekatkan diri kepada sumber agar data yang ada semakin akurat. Jurnalis juga harus mempunyai kepekaan yng tinggi terhadap perilaku sumber.

2. Jujur kepada pembaca dan sumber berita

Pembaca merupakan hakim yang tidak boleh dibohongi penulis.oleh karena itu, jurnalis harus menjaga hubungan baik dengan pembaca dan sumber berita.

a. Hubungan penulis dengan pembaca

Penulis tidak boleh dengan sengaja mengkombinasi atau memperbaiki adegan demi adegan, mengagregasi karakter, memoles kutipan, atau mengubah keaslian materi liputan mereka. Ini yang membedakan mereka dengan penulis fiksi.

b. Hubungan penulis dengan sumber berita

Ini menyangkut cara mencari dan menjaga kepercayaan narasumber terhadap penulis. Penulis harus tetap bisa memperoleh informasi yang otentik berdasarkan kesepakatan dengan para narasumber seperti mitra bisnis, atau teman dekat.

3. Fokus pada peristiwa rutin

Untuk memudahkan penulis memperoleh bahan maka biasanya mereka mencarinya di tempat yang dapat dikunjungi.

4. Menyajikan tulisan yang akrab-informal-manusiawi

Penulis harus menulis secara akrab, tulus ironis, keliru, penuh penilaian dan manusiawi.namun tetap tanpa opini pribadi. Karena apa yang disajikan kepada pembaca adalah fakta.

5. Gaya penulisan yang sederhana dan memikat

Penulisan sederhana dan memikat diperlukan untuk membuat pembaca tidak hanya melihat tetapi juga merasakan peristiwa.

6. Sudut pandang yang langsung menyapa pembaca

Penulis tidak memposisikan diri secara statis.

7. Menggabungkan narasi primer dan narasi simpangan

Penulis menggabungkan antara kisah utama dengan kisah pendukung yang akan melengkapi laporan.

Jurnalisme Naratif

Suatu teknik pelaporan yang menyajikan beritanya dengan cara berkisah. Jurnalisme ini mempunyai nilai dramatis yang kuat dan tingkat keterlibatan yang tinggi. Pekerjaan naratif bukan hanya menyampaikan apa yang terjadi tapi menuntut kemampuan mengisahkan, drama, konflik. Naratif mengubah rumus 5W+ 1H.

Menurut Kramer, pelaporan naratif akan tercapai jika tercapai kesepahaman antara editor dan reporter dalam :

1. Penggunaan teknik naratif

2. Proses reportase untuk laporan

3. Siapa yang menulis dan menyunting.

Jurnalisme naratif mampu mengungkap kepekaan wartawan dengan kebutuhan msyarakat akan momen kemanusiaaan. Jurnalisme ini juga membuka kontak personal wartawan dengan pembaca secara pribadi.

Jurnalisme Sastra di Indonesia

Di Indonesia, gaya penyajian sastra dalam penulisan jurnalisme dipelopori oleh majalah Tempo. Pada tahun 1970-an, majalah ini tampil menyegarkan dunia jurnalistik di Indonesia.

1. Fenomena puisi

Di berbagai majalah dan Koran, eksperimen puitik sengaja dibuat untuk kepentingan sajian rubik-rubik tertentu. Salah satunya catatan pinggir di majalah Tempo.

2. Mengapa sastra?

Menurut Seno Gumira Ajidarma ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila jurnalisme berbicara dengan fakta, sastra berbicara dengan kebenaran.

3. Bahasa kekuasaan

Bahasa menjadi sarana untuk membuat sajian informasi beritanya menarik dan sekaligus berhasil menembus birokrasi bahasa Negara yang menyembunyikan kebenaran.

4. Mengapa puisi?

Bahasa puisi merupakan bahasa yang bebas dari dari manipulasi dan pemalsuan arti. Bahasanya jujur, tulus, dan tertuju padfa kehendak untuk memurnikan arti kata-kata, menjadi sebuah pilihan bagi jurnalis. Dengan bahasa ini jurnalis dapat menghindari bahasa yang klise, ruwet, takut-takut, penuh indoktrinasi, dan terbirokrasi.

Feature Sebagai Medium

Penulisan feature menjadi sarana bagi jurnalis untuk mengembangkan gaya penulisan berita yang mengupas human interest, dan penulisan opini sebagai sarana untuk memikat pembaca.

  1. Nilai artistik feature

Kisah berita (news story) memiliki nilai arstistik pengisahan yang kuat ketika penulisnya memasukan detail-detail pemaparan, setting, dan action. Pembaca jadi merasa seperti berada dalam ruang observasi dan bisa secara langsung mengamati peristiwa yang sedang terjadi.

  1. Struktur feature

Unsur-unsur tulisan berdasarkan Nelson: judul, pembuka, dan penutup. Sedangkan pendekatan yang dipilih adalah pendekatan kronologis dan pendekatan psikologis.

Ø Judul

Untuk mengembangkan kreativitas yang seluas-luasnya, sastra menyumbangkan aspek-aspek berikut:

1. Ritme,

2. Humor,

3. Kreativitas.

Ø Pembuka (Lead)

Ø Tubuh

Ø Penutup

Teknik penulisan feature memerlukan ending karena dua sebab:

1. Feature tidak tergantung pada deadline sedangkan kerangkanya menentang piramida terbalik.

2. Prinsip dasar penulisan feature ialah bercerita.

George Fox Mott menyebut tiga bentuk penutup feature:

a. merupakan ringkasan fakta-fakta penting dari keseluruhan feature

b. merupakan klimaks dari keseluruhan fakta berita

c. merupakan potongan balik atau kilas balik yang dengan kata-kata berbeda mengulang hal-hal penting dan mengingatkan pembaca sekaligus mengakhiri tulisan.

Peran-peran Feature

1. Feature sebagai jembatan

Feature timbul dari dorongan perasaan suka atau tidak suka; emosi manusiawi; yang tergerak terhadap apa yang mereka minati, perhatikan dan pikirkan untuk disampaikan demi kepentingan khalayak ramai.

2. Feature sebagai news story

News feature berbeda dengan news story, karena keleluasaan dan kedalaman cakupan materinya disajikan bukan sekadar untuk memenuhi syarat nilai berita.

3. Feature sebagai artikel,

Artikel berbeda dengan news story kalau artikel adalah tulisan yang memuat opini dan tidak dibatasi oleh rincian peristiwa faktual, sedangkan news story adalah pemberitaan peristiwa faktual yang tak boleh dibiaskan dengan masukan opini

4. Feature sebagai esai

a. Tiga aspek esai

Ø Pemaknaan

Ø Organisasi

Ø Gya

b. Posisi esai, esai mempunyai tempat tersendiri karena kebanyakan sastrawan yang mereflesikan pandangannya dalam bentuk esai.

c. Lima kategori esai berdasarkan topiknya :

Ø Informasi

Ø Opini

Ø Interpretif

Ø Inspiratif

Ø Humor

About these ads

Responses

  1. terima kasih

  2. contoh beritanya gimana???

    • cari sendiri lah… masak aku tulis contohnya juga… wkwk.. selamat mengerjakan..

  3. http://jurnalistiksastra.blogspot.com

    itu beberapa contoh hasil belajar jurnalistik sastra kami. silahkan membaca.
    ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: